Mohammad Qosul Umam Ahmad Ubaidillah Fitriana
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mohamed.umam23@mhs.uinjkt.ac.id Ahmadubaidillah.23@mhs.uinjkt.ac.id fitriana@uinjkt.ac.id
Abstract, The concept of al-Ilāh constitutes a fundamental pillar of Islamic monotheism, affirming that Allah alone is the only Being worthy of worship. This understanding is crucial given the persistence of various forms of shirk, both in traditional religious practices and in modern manifestations such as the glorification of wealth, power, and desires. This study aims to examine the meaning of al-Ilāh in the Qur’an, analyze Qur’anic verses that emphasize the oneness of Allah, and identify the primary Qur’anic messages regarding the prohibition of shirk. Employing a qualitative approach through library research, this study uses content analysis of Qur’anic verses related to tawhid and shirk, drawing upon classical tafsir works—including Tafsir Ibn Kathir and Tafsir al-Qurṭubī—alongside contemporary exegeses such as Tafsir al-Miṣbāḥ, al-Munīr, and al-Manār. The findings indicate that key verses of monotheism, including Qur’an 2:163, 43:84, 20:98, and 38:65, consistently affirm Allah as al-Ilāh al-Wāḥid, the One and Only God without partners, while verses prohibiting shirk, such as Qur’an 4:48 and 31:13, emphasize that associating partners with Allah constitutes the gravest form of wrongdoing as it directs worship toward entities devoid of power. The study concludes that the concept of al-Ilāh is not merely a theological doctrine but a comprehensive life principle shaping the spiritual, moral, and behavioral orientation of Muslims, thereby underscoring that the purification of worship to Allah alone is essential for maintaining steadfast faith and protecting against modern forms of shirk. Keywords: Al-Ilāh, Tauhid, Shirk, Qur’anic Exegesis, Oneness of Allah, Ulūhiyyah Abstrak. Konsep al-Ilāh merupakan fondasi utama dalam ajaran tauhid yang menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya Zat yang berhak disembah. Pemahaman ini menjadi penting mengingat masih muncul berbagai bentuk syirik, baik dalam praktik keagamaan tradisional maupun dalam manifestasi modern seperti pengultusan materi, kekuasaan, dan hawa nafsu. Penelitian ini bertujuan mengkaji makna al-Ilāh dalam Al-Qur’an, menelaah ayat-ayat tauhid yang menegaskan keesaan Allah, serta mengidentifikasi pesan-pesan Al-Qur’an terkait larangan syirik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi pustaka dengan analisis isi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tauhid dan syirik, menggunakan rujukan utama dari tafsir klasik—seperti Tafsir Ibn Kathir dan Tafsir al-Qurṭubī—serta tafsir kontemporer seperti Tafsir al-Miṣbāḥ, al-Munīr, dan al-Manār. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat tauhid, termasuk QS. Al-Baqarah: 163, Al-Zukhruf: 84, Thaha: 98, dan Shad: 65, secara konsisten menegaskan Allah sebagai al-Ilāh al-Wāḥid, Tuhan Yang Maha Esa tanpa sekutu, sementara ayat-ayat larangan syirik seperti QS. An-Nisa: 48 dan Luqman: 13 menegaskan bahwa syirik merupakan bentuk kezaliman terbesar karena menempatkan ibadah pada sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan atau kemampuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep al-Ilāh tidak hanya merupakan doktrin teologis, tetapi juga prinsip hidup yang membentuk orientasi spiritual, moral, dan perilaku seorang muslim, sehingga pemurnian ibadah kepada Allah menjadi kunci keteguhan iman sekaligus benteng dari berbagai bentuk kesyirikan modern. Kata Kunci: Al-Ilāh, Tauhid, Syirik, Tafsir Al-Qur’an, Keesaan Allah, Ulūhiyyah. Pendahuluan Keimanan kepada Allah sebagai Al-Ilāh menempati posisi sentral dalam ajaran tauhid dan menjadi fondasi utama seluruh konstruksi akidah Islam. Dari sisi etimologi, istilah Al-Ilāh berarti “sesembahan yang disembah dengan penuh penghambaan,” yang menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya Zat yang berhak menerima seluruh bentuk penyembahan, ketaatan, serta pengagungan manusia. Prinsip teologis ini secara tegas dinyatakan dalam berbagai ayat Al-Qur’an, di antaranya QS. Al-Baqarah: 163 yang berbunyi “Wa ilāhukum ilāhun wāḥid…”, dan diperkuat oleh ayat-ayat lain seperti QS. Az-Zukhruf: 84, QS. Thaha: 98, QS. Shad: 65, dan QS. Ar-Ra’d: 15. Seluruh ayat tersebut, meskipun berbeda dalam redaksi, memiliki substansi yang sama, yaitu penegasan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah di seluruh penjuru alam semesta. Para mufassir klasik seperti Ibnu Katsir dan al-Qurthubi menjelaskan bahwa semua makhluk, baik yang berada di langit maupun di bumi, tunduk sepenuhnya pada kekuasaan Allah tanpa memiliki sekutu sedikit pun. Adapun para penafsir modern—melalui karya seperti Tafsir al-Misbah, Tafsir al-Munir, dan Tafsir al-Manar—memperkaya pemahaman ini dengan pendekatan rasional, moral, dan sosial yang lebih relevan terhadap kondisi kehidupan umat Islam masa kini. Selain menegaskan keesaan Allah, Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras terhadap bahaya mempersekutukan-Nya. Beberapa ayat, seperti QS. An-Nisa: 48 dan 116, menegaskan bahwa perbuatan syirik merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni apabila pelakunya tidak bertaubat sebelum ajal menjemput. Larangan terhadap syirik juga diperkuat dengan kisah para nabi, seperti nasihat Luqman kepada anaknya dalam QS. Luqman: 13 yang menyebut “asy-syirku laẓulmun ‘aẓīm”, yaitu bentuk kezaliman terbesar yang dapat dilakukan manusia. Ayat-ayat lain, seperti QS. Yunus: 104–106 dan QS. Al-Furqan: 2, membantah segala bentuk penyembahan selain kepada Allah, baik berupa berhala, kekuatan gaib, maupun entitas lain yang tidak memiliki kemampuan memberi manfaat maupun mudarat. Secara keseluruhan, ayat-ayat ini menggambarkan konsistensi Al-Qur’an dalam menegakkan kemurnian ibadah kepada Allah sekaligus meniadakan segala bentuk ketuhanan selain-Nya. Penulis menilai bahwa penelitian-penelitian terdahulu masih terbatas pada kajian tauhid dalam Al-Qur’an secara umum, tanpa mengulas secara spesifik aspek keimanan kepada Allah sebagai Al-Ilāh dan relevansinya terhadap konteks kehidupan modern. Kajian tentang konsep Al-Ilāh memiliki urgensi yang besar, tidak hanya untuk memperkokoh landasan teologis umat Islam, tetapi juga dalam menumbuhkan kesadaran spiritual dan moral. Tauhid bukan sekadar pengakuan secara lisan, melainkan prinsip yang mengarahkan seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam ibadah, perilaku etis, maupun pembentukan orientasi hati. Dalam konteks modern, para mufassir kontemporer menyoroti bahwa “berhala” tidak selalu berbentuk patung, melainkan dapat diwujudkan dalam bentuk hawa nafsu, ego, kekuasaan, harta, atau ideologi yang menempati posisi ketuhanan dalam diri manusia. Oleh karena itu, keyakinan terhadap Allah sebagai satu-satunya Al-Ilāh bukan hanya merupakan doktrin teologis, tetapi juga menjadi pedoman moral dan spiritual yang menjaga manusia dari penyimpangan nilai dan perilaku. Berbeda dengan artikel-artikel sebelumnya yang pada umumnya menyoroti persoalan tauhid dari sisi konseptual dan teoretis dalam kerangka teologi Islam, kajian ini menawarkan pendekatan yang lebih integratif dan kontekstual. Penelitian terdahulu sering memisahkan pembahasan antara konsep tawḥīd rubūbiyyah dan ulūhiyyah tanpa menghubungkannya secara langsung dengan realitas sosial dan moral umat Islam kontemporer. Sebaliknya, kajian ini menggabungkan analisis tafsir klasik dan modern guna menafsirkan makna Al-Ilāh tidak hanya dalam konteks teologis, tetapi juga dalam dimensi praksis kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memberikan perspektif baru mengenai relevansi ajaran tauhid di tengah tantangan spiritual modern. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti reinterpretasi makna “berhala” dalam konteks kekinian yakni segala bentuk ketergantungan manusia terhadap ego, materi, atau kekuasaan yang belum banyak dibahas secara mendalam oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Dengan demikian, pembahasan mengenai konsep Al-Ilāh, ayat-ayat tauhid, dan larangan syirik menjadi semakin penting dan kontekstual. Kajian ini diharapkan tidak hanya memperkuat landasan akademik dalam studi tafsir, tetapi juga membentuk kesadaran keagamaan yang lebih reflektif dan mendalam. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap penguatan pemahaman teologis tentang posisi Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa serta menguraikan implikasi nyata dari ajaran tauhid dalam kehidupan individu maupun sosial seorang muslim. Metode penelitian Penelitian dalam artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Sumber utama penelitian ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang keesaan Allah dan larangan mempersekutukan-Nya. Ayat-ayat tersebut dianalisis melalui pendekatan analisis isi (content analysis) menggunakan rujukan utama seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Misbah, Tafsir al-Munir, dan Tafsir al-Manar. Metode ini bertujuan memahami makna al-Ilāh, tauhid uluhiyyah, serta penegasan Al-Qur’an terhadap eksklusivitas ibadah kepada Allah. Analisis dilakukan dengan membandingkan pandangan mufassir klasik dan modern untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif antara pendekatan tekstual, linguistik, rasional, dan kontekstual. Hasil analisis kemudian disintesiskan menjadi kesimpulan yang menggambarkan kedudukan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dalam ajaran Islam Pembahasan Pengertian Al-Ilah Secara etimologis, istilah al-Ilāh (الإله) tersusun dari kata sandang al- (ال) yang berarti “sang/yang”, dan kata ilāh (إله) yang bermakna “sesembahan” atau “yang diibadahi”. Dalam tradisi bahasa Arab klasik, akar katanya terdiri dari huruf hamzah (ء), lām (ل), dan hā’ (هـ) yang seluruhnya menunjuk pada makna at-ta‘abbud (التعبد) yakni penghambaan, ketundukan, dan peribadatan. Karena itu, para ulama bahasa seperti Ibnu Faris menegaskan dalam kitabnya Maqāyīs al-Lughah[1], bahwa makna dasar dari al-ilāh adalah al-ma‘būd (المعبود), yaitu Zat yang disembah secara eksklusif. Ia menyatakan: الْهَمْزَةُ وَاللَّامُ وَالْهَاءُ أَصْلٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ التَّعَبُّدُ. فَالْإِلَهُ اللَّهُ تَعَالَى، وَسُمِّيَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ مَعْبُودٌ “Huruf hamzah, lam, dan ha’ merupakan satu akar makna, yaitu penghambaan. Maka al-Ilāh adalah Allah Ta‘ālā, dan Ia dinamai demikian karena Dia satu-satunya yang disembah.” Makna ini sejalan dengan penegasan Al-Qur’an bahwa Allah merupakan al-Ilāh al-Wāḥid, satu-satunya sesembahan yang benar dan absolut. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya: وَإِلَهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (QS. Al-Baqarah: 163) “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa konsep al-Ilāh bukan hanya sekadar “Tuhan” dalam pengertian filosofis, tetapi “sesembahan yang benar”, yang menjadi tujuan ibadah serta tempat bergantungnya seluruh makhluk. Dengan demikian, Allah disebut sebagai al-Ilāh karena Dialah satu-satunya Zat yang memiliki sifat-sifat keilahian secara mutlak seperti Maha Esa, Maha Menguasai, Maha Bijaksana, serta Maha Mengetahui dan karenanya, seluruh bentuk ibadah wajib diarahkan hanya kepada-Nya. Dalam perspektif akidah Islam, konsep al-Ilāh berkaitan erat dengan tauhid ulūhiyyah, yaitu keyakinan bahwa tiada ibadah yang sah kecuali kepada Allah. Seluruh ayat yang menegakkan tauhid serta menolak syirik pada hakikatnya memperkuat makna al-Ilāh sebagai pusat penghambaan manusia. Oleh sebab itu, memahami Allah sebagai al-Ilāh menjadi fondasi utama bagi keyakinan seorang muslim, karena konsep inilah yang memurnikan ibadah dan menjadikan seseorang tunduk hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk atau kekuatan selain-Nya. Ayat-ayat Tauhid dalam Al-Qur’an
  1. Ayat tentang keesaan Allah
  • Al-Zukhruf ayat 84.
وَهُوَ الَّذِيْ فِى السَّمَاۤءِ اِلٰهٌ وَّ فِى الْاَرْضِ اِلٰهٌۗ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ “Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui” Dalam tafsir ibnu katsir[2] dijelaskan: Dia adalah Tuhan bagi siapa yang di langit, dan Tuhan bagi siapa yang di bumi. Penduduk langit dan bumi semuanya menyembah-Nya, semuanya tunduk kepada-Nya, hina di hadapan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, Allah adalah satu-satunya sesembahan di langit maupun di bumi. Semua makhluk langit (malaikat, jin, bintang, planet, dll.) dan makhluk bumi (manusia, hewan, tumbuhan, dsb.) berada dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada tuhan lain yang berhak disembah. Dan beberapa tafsir seperti al-Qurtubi, al-misbah, al-munir. Memiliki pemahaman yang serupa. Sedangkan, dalam Tafsir Al-Manar (Muhammad Abduh & Rasyid Ridha), Tafsir ini memiliki pandangan yang berbeda. Al-Manar menjelaskan ayat ini dengan menyoroti bahwa tauhid adalah konsep universal yang tidak terbatas pada suatu tempat atau kaum. Ia menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya entitas yang memiliki sifat ketuhanan (ulūhiyyah) di mana pun, baik di langit maupun di bumi. Hal ini membantah keyakinan orang-orang yang mengira bahwa Tuhan di langit berbeda dengan Tuhan di bumi. Al-Manar menekankan bahwa "ilah" (ilah) merujuk pada entitas yang memiliki kekuasaan penuh dan disembah, dan hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan dan hak tersebut.
  • Thoha ayat 98.
اِنَّمَآ اِلٰهُكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا “Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”. Dalam Tafsir Ibnu Katsir[3] dijelaskan: bahwa Musa mengatakan kepada orang-orang Israel bahwa sesungguhnya Tuhan mereka hanyalah Allah, satu-satunya layak disembah, karena semua makhluk bergantung dan menjadi hamba-Nya. Kalimat “وسع كل شيء علماً” (menguasai segala sesuatu dengan ilmu) dijelaskan sebagai i‘rāb tamyīz: menunjukkan bahwa Allah benar-benar mengetahui segala hal. Dibawa pula ayat-ayat lain yang menekankan pengetahuan Allah yang menyeluruh, seperti perhitungan setiap makhluk, tidak luput satu pun dari ilmu-Nya. Jadi, secara garis besar selaras dengan tafsir klasik dan kontemporer mempertegas bahwa hanya Allah yang layak disembah dan Dia Maha Menguasai segala sesuatu dengan ilmu.
  • Al-Anbiya ayat 22
لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ “Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah, Tuhan pemilik ʻArasy, dari apa yang mereka sifatkan.” Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, al-Qurthubi dan mufassir kontemporer seperti dalam al-Mannar, al-Munir dan al-Misbah sama menegaskan bahwa Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) terdapat tuhan-tuhan selain Allah, pasti keduanya telah binasa, sebagaimana firman-Nya: 'Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada tuhan (selain Allah), niscaya masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari mereka pasti akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu' (QS. Al-Mu’minun: 91). Dan di sini Allah berfirman: 'Maka Mahasuci Allah, Rabb Pemilik ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan' , yakni dari apa yang mereka katakan bahwa Allah mempunyai anak atau sekutu. Mahasuci, Mahatinggi, Mahaagung, dan Maha mulia Allah dari segala kedustaan dan kebohongan yang mereka ada-adakan, setinggi-tingginya kesucian".   Ada juga yang mengatakan makna “lafasadatā” adalah: keduanya akan hancur, dan siapa yang ada di dalamnya binasa, karena pertentangan dan perbedaan yang pasti terjadi di antara para sekutu. Firman-Nya: “Maka Mahasuci Allah, Rabb Pemilik ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.” Yakni, Allah mensucikan diri-Nya dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mensucikan-Nya dari adanya sekutu maupun anak.
  1. Ayat yang menegaskan hanya Allah yang layak disembah
  • Al-Hajj ayat 71.
وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ “Mereka menyembah selain Allah, tanpa bukti yang Dia turunkan (tentang kelayakannya untuk disembah) dan yang mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim.” Dalam Tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa, Allah berfirman, memberitahukan tentang orang-orang musyrik yang dalam kejahilan dan kekufuran mereka, menyembah selain Allah, yaitu apa yang tidak Allah turunkan dengan bukti yang jelas. Maksudnya, hujah dan argumen yang jelas, seperti firman-Nya: "Dan barang siapa yang menyembah selain Allah sebagai tuhan yang lain, maka tidak ada bukti baginya, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya, sungguh orang-orang kafir tidak akan beruntung." (QS. Al-Mu’minun: 117). Karena itu, Allah berfirman di sini: "Apa yang tidak Dia turunkan dengan bukti yang jelas, dan apa yang tidak mereka ketahui tentang itu," maksudnya: mereka tidak memiliki ilmu dalam hal-hal yang mereka buat dan mereka tentukan. Itu semua adalah perkara yang mereka terima dari nenek moyang mereka tanpa bukti atau hujah. Dan asalnya adalah apa yang dibisikkan oleh setan kepada mereka dan dihiasi olehnya. Karena itu, Allah mengancam mereka dengan firman-Nya: "Dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun," yaitu, tidak ada yang dapat menolong mereka dari Allah dalam hal apa yang akan menimpa mereka berupa azab dan hukuman.[4] Pada Surah Al-Hajj ayat 71 ini semua tafsir klasik dan kontemporer sama menegaskan bahwa orang-orang musyrik menyembah selain Allah tanpa memiliki dasar wahyu maupun ilmu. Namun, masing-masing memiliki penekanan berbeda: Tafsir al-Munir[5] menjelaskan secara tekstual bahwa syirik adalah kezhaliman tanpa hujah; Tafsir al-Manar menyoroti pentingnya rasionalitas dan dalil dalam beragama, sehingga ayat ini menjadi kritik terhadap praktik keagamaan yang hanya berdasarkan tradisi; sedangkan Tafsir al-Misbah[6] mengaitkannya dengan konteks modern, bahwa manusia juga bisa terjerumus pada “berhala kontemporer” (segala sesuatu yang diagungkan, ditaati secara berlebihan atau dijadikan tempat bergantung selain Allah) dan dalam konteks modern yaitu berhala-berhala baru yang tidak berbentuk patung, tapi bersifat ideologis atau materialistik seperti , kekuasaan, dan hawa nafsu[7] yang sama-sama tidak memiliki dasar wahyu maupun ilmu.
  1. Al -hajj ayat 77.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ۩ “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.” Korelasinya dengan ayat 71 yakni, Ayat ini dimulai dengan seruan kepada orang beriman untuk rukuk, sujud, dan beribadah kepada Allah. Perintah rukuk dan sujud adalah simbol dari ibadah ritual tertinggi dalam Islam, yaitu salat. Setelah itu, Allah menegaskan, “وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ” (sembahlah Tuhanmu), yang bermakna mengarahkan seluruh ketaatan hanya kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya. Dari sini terlihat jelas bahwa ayat tersebut meneguhkan konsep tauhid uluhiyyah yaitu Allah satu-satunya yang berhak disembah. Jadi, meskipun redaksinya berupa perintah praktis (rukuk, sujud, ibadah, dan amal baik), kandungan ayat ini tetap menegaskan bahwa ibadah sejati hanya pantas ditujukan kepada Allah. Perintah rukuk dan sujud hanyalah bentuk konkret dari pengakuan tauhid itu.
  • Shod ayat 65.
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ مُنْذِرٌۖ وَّمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” Tafsir ibnu katsir: يَقُولُ تَعَالَى آمِرًا رَسُولَهُ ﷺ(١) أَنْ يَقُولَ لِلْكَفَّارِ بِاللَّهِ الْمُشْرِكِينَ بِهِ الْمُكَذِّبِينَ لِرَسُولِهِ: إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ(٢) لَسْتُ كَمَا تَزْعُمُونَ ﴿وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾ أَيْ: هُوَ(٣) وَحْدَهُ قَدْ قَهَرَ كل شيء وغلبه[8]   يَقُولُ تَعَالَى آمِرًا رَسُولَهُ ﷺ أَنْ يَقُولَ لِلْكَفَّارِ بِاللَّهِ الْمُشْرِكِينَ بِهِ الْمُكَذِّبِينَ لِرَسُولِهِ: "Allah Ta'ala berfirman, memerintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk mengatakan kepada orang-orang kafir yang menyekutukan Allah, yang mendustakan Rasul-Nya." إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ لَسْتُ كَمَا تَزْعُمُونَ: "Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan, aku tidak seperti yang kalian sangka." perintah dari Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk menegaskan posisinya sebagai pemberi peringatan. Nabi bukan dewa, bukan penguasa, melainkan utusan yang tugasnya memperingatkan umat manusia tentang azab Allah jika mereka terus ingkar. Ini menolak klaim atau anggapan salah yang mungkin dibuat oleh orang-orang kafir tentangnya. ﴿وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾: "Dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Menguasai." Ini adalah inti dari ajaran tauhid. Nabi menegaskan bahwa tidak ada entitas lain yang layak disembah. Hanya Allah, yang memiliki sifat Al-Wahid (Maha Esa) dan Al-Qahhar (Maha Menguasai), yang berhak atas segala ibadah. أَيْ: هُوَ وَحْدَهُ قَدْ قَهَرَ كل شيء وغلبه: "Artinya: Hanya Dia sendiri yang telah menguasai dan mengalahkan segala sesuatu." Ini penafsiran dari kata "Al-Qahhar". Sifat ini menunjukkan bahwa kekuasaan Allah bersifat mutlak dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat menandinginya. Semua berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya. Pada Surah Shad ayat 65, ketiga tafsir kontemporer al-Munir, al-Manar, dan al-Misbah sama menegaskan dua pokok utama: Nabi Muhammad ﷺ hanyalah seorang pemberi peringatan (munzir), dan hanya Allah-lah yang berhak disembah karena Dia Maha Esa (al-Wahid) dan Maha Menguasai (al-Qahhar). Perbedaannya terletak pada penekanan makna. Tafsir al-Munir memaparkannya secara teologis dan tekstual, mirip dengan tafsir klasik seperti Ibnu Katsir dan al-Qurthubi. Tafsir al-Manar menyoroti dimensi dakwah dan rasionalitas, menegaskan bahwa Nabi tidak memiliki kuasa selain menyampaikan risalah, sehingga tidak ada alasan bagi kaum musyrik untuk menuntut bukti di luar tugas kerasulan. Adapun Tafsir al-Misbah[9] memberi penekanan kontekstual dan aplikatif, bahwa tauhid tidak hanya konsep teologis, melainkan harus tercermin dalam kehidupan modern dengan tidak menuhankan selain Allah, seperti materi, kekuasaan, atau ideologi. Dengan demikian, perbedaan utama bukan pada substansi, melainkan pada fokus pendekatan: tekstual (al-Munir), rasional-dakwah (al-Manar), dan aplikatif-kontekstual (al-Misbah).
  • Ar-ra’d ayat 15.
وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّظِلٰلُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ ۩ “Hanya kepada Allahlah siapa saja yang ada di langit dan di bumi bersujud, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa. (Bersujud pula kepada-Nya) bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang hari”. Tafsir ibnu katsir: يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ عَظْمَتِهِ وَسُلْطَانِهِ الَّذِي قَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ، وَدَانَ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ. وَلِهَذَا يسجُد لَهُ كُلُّ شَيْءٍ طَوْعًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، وَكَرْهَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، ﴿وَظِلالُهُمْ بِالْغُدُوِّ﴾ أَيِ: البُكر(١) وَالْآصَالِ، وَهُوَ جَمْعُ أَصِيلٍ وَهُوَ آخِرُ النَّهَارِ[10]، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ﴾  النَّحْلِ: ٤٨ . يُخْبِرُ تَعَالَى عَنْ عَظْمَتِهِ وَسُلْطَانِهِ الَّذِي قَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ، وَدَانَ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ: "Allah Ta'ala mengabarkan tentang keagungan-Nya dan kekuasaan-Nya, yang menguasai segala sesuatu, dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya." mengawali tafsir dengan menjelaskan sifat-sifat Allah yang Maha Agung dan Maha Menguasai (Al-Qahhar). Semua makhluk, tanpa terkecuali, berada di bawah kekuasaan-Nya. وَلِهَذَا يسجُد لَهُ كُلُّ شَيْءٍ طَوْعًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، وَكَرْهَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ: "Oleh karena itu, segala sesuatu bersujud kepada-Nya, baik dengan sukarela dari orang-orang mukmin, maupun dengan terpaksa dari orang-orang musyrik." Ini adalah inti dari ayat tersebut. Sujud di sini memiliki dua makna:
  • Sujud thaw'an (sukarela): Ini adalah sujud dalam bentuk ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Mereka bersujud karena cinta dan ketundukan sepenuh hati kepada Allah.
  • Sujud karhan (terpaksa): Ini adalah sujud dalam bentuk ketundukan ciptaan, seperti orang-orang kafir yang tunduk pada hukum alam yang diciptakan Allah, meskipun mereka tidak menyembah-Nya. Mereka tidak dapat menghindari kekuasaan-Nya.
﴿وَظِلالُهُمْ بِالْغُدُوِّ﴾ أَيِ: البُكر وَالْآصَالِ، وَهُوَ جَمْعُ أَصِيلٍ وَهُوَ آخِرُ النَّهَارِ: "Dan bayangan mereka di waktu pagi (subuh) dan sore (petang), yaitu waktu pagi dan petang." Tafsir ini menjelaskan bahwa sujud tidak hanya dilakukan oleh makhluk hidup, tetapi juga oleh benda mati melalui fenomena bayangan. Bayangan yang memanjang dan memendek di waktu pagi dan sore adalah simbol dari ketundukan seluruh alam pada ketetapan dan kekuasaan Allah. كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ﴾ [النَّحْلِ: ٤٨]: "Sebagaimana firman-Nya Ta'ala: 'Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah, yang bayangannya bergeser ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah dan mereka dalam keadaan hina?' (QS. An-Nahl: 48)." Kutipan ini memperkuat argumen tafsir dengan mengutip ayat lain dari Al-Qur'an, menunjukkan bahwa konsep sujudnya bayangan adalah tema yang berulang dalam Al-Qur'an. Ini menegaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta tunduk pada keagungan dan kekuasaan Allah.
  1. Ayat tentang larangan menyekutukan Allah
  • An-Nisa ayat 48.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا   “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.” Dalam tafsir Ibnu Katsir [11], Allah mengabarkan bahwa Dia ﴿لا يغفر أن يُشرك به﴾, yaitu Dia tidak akan mengampuni seorang hamba yang bertemu dengan-Nya dalam keadaan syirik kepada-Nya. ﴿ويغفر ما دون ذلك﴾, yaitu Dia mengampuni dosa-dosa selain syirik tersebut, ﴿لمن يشاء﴾, yaitu bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Imam Ahmad berkata: "Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah mengabarkan kepada kami Shadaqat bin Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Imran al-Jawni, dari Dia mengampuni dosa-dosa selain syirik tersebut, ﴿لمن يشاء﴾, yaitu bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Yazid bin Babanus, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda: 'Ada tiga jenis catatan di sisi Allah:
  1. Sebuah catatan yang tidak diperhatikan Allah sama sekali,
  2. Sebuah catatan yang tidak akan dibiarkan oleh Allah sedikit pun,
  3. Sebuah catatan yang tidak akan diampuni oleh Allah.[12]
Adapun catatan yang tidak akan diampuni oleh Allah, yaitu syirik kepada Allah, sebagaimana firman Allah: ﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ﴾ [Al-Ma'idah: 72]. Adapun catatan yang tidak diperhatikan oleh Allah, yaitu dosa seseorang terhadap dirinya sendiri dalam hal-hal yang antara dia dan Rabbnya, seperti meninggalkan puasa atau shalat; sesungguhnya Allah mengampuni hal itu jika Dia berkehendak. Adapun catatan yang tidak akan dibiarkan oleh Allah sedikit pun, yaitu dosa antar sesama hamba-Nya; hukum qishash (balas dendam) pasti berlaku.'" Hadits ini menggambarkan bahwa Allah akan mengampuni dosa selain syirik, namun dosa syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni jika seseorang meninggal dalam keadaan tersebut. Ini adalah ayat yang jelas dan disepakati oleh mufassir klasik dan kontemporer, yang tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka. وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ Ini adalah bagian yang mengandung makna yang lebih rumit, yang telah dibahas oleh para ulama. Muhammad bin Jarir at-Tabari berkata: "Ayat ini menjelaskan bahwa setiap pelaku dosa besar berada dalam kehendak Allah Ta'ala. Jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuni dosanya, dan jika Dia berkehendak, Dia akan menghukumnya, selama dosa besar tersebut bukanlah syirik kepada Allah Ta'ala."[13] Beberapa ulama berpendapat bahwa Allah telah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya: "Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang bagi kalian, Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian" (QS An-Nisa: 31). Maka ketahuilah bahwa Allah akan mengampuni dosa kecil bagi orang yang menjauhi dosa besar, dan tidak akan mengampuninya bagi mereka yang tetap melakukan dosa besar. 2). QS. An-Nisa ayat 116 اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدً “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh”. Pendapat Al-qurthubi[14] dan ibnu katsir sama seperti ayat 48. Ibnu katsir mengutip firman Allah: ﴿وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالًا بَعِيدًا﴾, yaitu: "Barang siapa yang menyekutukan Allah, maka dia telah sesat sejauh-jauhnya." Artinya, dia telah menyimpang dari jalan yang benar, tersesat dari petunjuk, jauh dari kebenaran, merusak dirinya sendiri, dan merugikan dirinya di dunia dan akhirat. Dia kehilangan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  1. Ayat tentang keyakinan terhadap Allah
  • Yunus ayat 104
قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ شَكٍّ مِّنْ دِيْنِيْ فَلَآ اَعْبُدُ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ اَعْبُدُ اللّٰهَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰىكُمْۖ وَاُمِرْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, aku tidak menyembah (apa atau siapa) yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku diperintah supaya aku termasuk orang-orang mukmin.” Menurut Ibnu Katsir, Firman Allah Ta'ala kepada Nabi Muhammad Katakanlah: "Wahai manusia, jika kalian ragu tentang kebenaran agama yang aku bawa ini, yaitu agama yang lurus yang Allah wahyukan kepadaku, maka ketahuilah bahwa aku tidak menyembah apa yang kalian sembah selain Allah. Tetapi aku menyembah Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dialah yang akan mencabut nyawa kalian sebagaimana Dia yang menghidupkan kalian. Kemudian hanya kepada-Nya kalian akan kembali. Jika tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah itu benar-benar memiliki kekuatan, maka berdoalah kepada mereka, biarkan mereka memberikan mudarat padaku jika mereka mampu. Namun sebenarnya, mereka tidak bisa memberikan mudarat atau manfaat. Sesungguhnya hanya Allah yang memiliki kuasa atas segala mudarat dan manfaat, dan aku diperintahkan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang beriman." Menurut Al-Qurthubi Firman Allah Ta'ala: ﴿قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ﴾ Artinya: "Katakanlah: Wahai manusia," yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekkah. (إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي) Artinya: "Jika kalian ragu tentang agamaku," yaitu ragu terhadap agama Islam yang aku ajak kalian untuk masuk ke dalamnya. (فَلا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ) Artinya: "Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah selain Allah," yaitu berhala-berhala yang tidak dapat berpikir. (وَلَكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ) Artinya: "Tetapi aku menyembah Allah yang akan mencabut nyawa kalian," yaitu yang mematikan kalian dan mengambil ruh-ruh kalian. (وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ) Artinya: "Dan aku diperintahkan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang beriman," yaitu orang-orang yang membenarkan ayat-ayat Tuhan mereka.
  • Yunus ayat 106
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَۚ فَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ “Janganlah engkau sembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu, sebab jika engkau lakukan (yang demikian itu), sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”   Menurut Al-Qurthubi[15], firman Allah Ta'ala: Artinya: "Dan janganlah kamu menyembah," yang dimaksud adalah jangan menyembah selain Allah. Artinya: "jika kamu menyembah selain Allah, maka kamu tidak akan mendapat apa-apa darinya," yaitu berhala-berhala yang tidak dapat memberikan manfaat bagi penyembahnya. Artinya: "Dan tidak pula membahayakanmu jika kamu tidak menyembahnya," yaitu benda-benda yang tidak dapat memberikan mudarat jika kamu menolak untuk menyembahnya. Artinya: "Jika kamu melakukan itu,"  jika kamu menyembah selain Allah. Artinya: "Maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim," yaitu orang-orang yang meletakkan penyembahan pada tempat yang tidak seharusnya, yaitu selain Allah.
  • Luqman ayat 13
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” Menurut Al-Qurthubi, "Allah berfirman, memberitakan tentang wasiat Luqman kepada anaknya - yang bernama Luqman bin 'Anqā' bin Sādūn. Nama anaknya adalah Thāran, menurut sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh al-Suhaylī. Allah menyebutkan Luqman dengan sebaik-baik penyebutan, karena Dia memberikan kepadanya hikmah. Luqman pun memberikan nasihat kepada anaknya yang sangat disayanginya, yang paling dia cintai. Oleh karena itu, sudah selayaknya dia memberikan nasihat terbaik yang bisa diberikan. Maka, dia pertama-tama berwasiat agar anaknya hanya menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kemudian, dia memperingatkannya dengan berkata: 'Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar'." Kemudian, al-Bukhārī meriwayatkan kepada kami dari Qutaybah, yang berkata: "Telah mengabarkan kepada kami Jarīr, dari al-‘Ammāsh, dari Ibrāhīm, dari ‘Alqamah, dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd, radhiyallāhu ‘anhu, yang berkata: 'Ketika turun ayat: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur iman mereka dengan kezaliman" (al-An‘ām: 82), hal itu sangat memberatkan para sahabat Rasulullah, Mereka berkata: "Siapakah di antara kami yang tidak mencampur iman mereka dengan kezaliman?" Maka Rasulullah  menjawab: "Itu bukan yang dimaksud, tidakkah kalian mendengarkan ucapan Luqman: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar.” menurut riwayat al-Ṭabarī dan al-Qutbī, Al-Kalbī mengatakan bahwa namanya adalah Mushkim. Ada pula yang mengatakan namanya An‘am, menurut riwayat al-Naqqāsh. Qushayrī menyebutkan bahwa anak dan istrinya adalah kafir, tetapi Luqman terus-menerus memberi nasihat kepada mereka hingga akhirnya keduanya memeluk Islam." Ibnu Katsir[16] berkata: "Dan ini menunjukkan bahwa Luqman berkata kepada anaknya: 'Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar.' Dalam Sahih Muslim dan riwayat lainnya dari ‘Abdullah, beliau berkata: 'Ketika turun ayat: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur iman mereka dengan kezaliman" (al-An‘ām: 82), hal itu sangat memberatkan para sahabat Rasulullah. Mereka berkata: "Siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya?" Maka Rasulullah menjawab: 'Itu bukan seperti yang kalian bayangkan, tetapi seperti yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya: "Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar."Ada perbedaan pendapat mengenai makna dari kalimat: "Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar." Sebagian mengatakan itu adalah perkataan Luqman, sementara yang lain mengatakan itu adalah berita dari Allah Ta'ala yang terputus dari perkataan Luqman, tetapi tetap terkait untuk menegaskan maknanya. Pendapat ini diperkuat oleh hadits yang menceritakan bahwa ketika turun ayat: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur iman mereka dengan kezaliman" (al-An‘ām: 82), para sahabat Rasulullah merasa khawatir dan berkata: "Siapakah di antara kami yang tidak menzalimi diri?" Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: "Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar," yang menenangkan kegelisahan mereka. Dan ketenangan mereka terjadi ketika mereka mendengar berita tersebut dari Allah Ta'ala, yang menyebutkan hal itu tentang seorang hamba yang telah Allah beri hikmah dan petunjuk.  
  • Qs Al-Furqan ayat 2
الَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا “(Yaitu Zat) yang milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, (Dia) tidak mempunyai anak, dan tidak ada satu sekutu pun dalam kekuasaan(-Nya). Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat. Dalam tafsir Ibnu Katsir[17], “Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan tidak mengambil anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan." Maka Allah mensucikan diri-Nya dari memiliki anak dan dari memiliki sekutu. Kemudian Allah memberitahukan bahwa “Dan Dia menciptakan segala sesuatu dan menetapkannya dengan takdir yang sempurna”. Artinya segala sesuatu selain Allah adalah ciptaan yang di atur dan dipelihara oleh-Nya. Dia adalah pencipta segala sesuatu, Pemelihara, Raja, Tuhan, dan segala sesuatu berada di bawah kuasa-Nya, dengan takdir, pengaturan, dan penyusunan-Nya Dalam tafsir Al-Qurthubi, firman Allah sebagai berikut: “yang memiliki Kerajaan di langit dan di bumi.” Allah mengagungkan Diri-Nya. “Dan tidak mengambil anak.” Allah mensucikan dirinya dari apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin, bahwa malaikat Adalah anak anak Allah, yaitu anak Perempuan Allah, maha suci Allah dari tuduhan tersebut. Dan juga dari apa yang di katakan oleh orang-orang Yahudi bahwa Uzair Adalah anak Allah, dan maha suci dari semua itu. “Dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam Kerajaan.” Sebagaiman yang di katakan oleh penyembah berhala.” Dan dia menciptakan segala sesuatu.” Tidak seperti yang dikatakan oleh kaum Majusi dan para penyembah dua dewa bahwa setan atau kegelapan menciptakan Sebagian dari makhluk. Dan juga tidak seperti yang dikatakan oleh mereka yang berpendapat bahwa makhluk memiliki kemampuan untuk menciptakan. Ayat ini Adalah bantahan terhadap mereka. “dan dia menetapkannya dengan takdir yang sempurna.” Artinya, dia menentukan segala sesuatu yang telah diciptakannya  dengan hikmah-Nya sesuai dengan apa yang dia inginkan, bukan karena kelalaian atau kelupaan. Takdir-Nya berlaku atas apa yang diciptakan-Nya hingga hari kiamat, dan bahkan setelah kiamat. Dia Adalah Pencipta dan penentu segala takdir, maka hanya kepada-Nya lah kamu menyembah. Kesimpulan Konsep al-Ilāh dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya Zat yang berhak disembah dan menjadi pusat seluruh bentuk penghambaan manusia. Melalui analisis berbagai ayat tauhid seperti QS. Al-Baqarah: 163, QS. Al-Zukhruf: 84, QS. Thaha: 98, QS. Shad: 65, serta ayat-ayat lain yang menegaskan eksklusivitas ketuhanan Allah, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an konsisten menolak segala bentuk syirik dan menegaskan keesaan-Nya secara absolut. Tafsir klasik seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi memaparkan makna ayat-ayat tersebut dengan pendekatan tekstual dan linguistik, sedangkan tafsir modern seperti al-Misbah, al-Munir, dan al-Manar memperluas pemahaman melalui pendekatan rasional, sosial, dan kontekstual. Konsep al-Ilāh juga berkaitan erat dengan tauhid ulūhiyyah, yaitu keyakinan bahwa tidak ada ibadah yang sah kecuali kepada Allah. Larangan syirik yang ditegaskan dalam QS. An-Nisa, QS. Yunus, QS. Luqman, dan ayat lainnya menunjukkan bahwa syirik merupakan bentuk kezaliman terbesar karena menempatkan ibadah kepada sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan atau kemampuan apa pun. Melalui pembahasan ini, jelas bahwa tauhid bukan sekadar konsep teologis, namun merupakan prinsip hidup yang membimbing seorang muslim dalam ibadah, perilaku moral, dan orientasi spiritualnya. Dengan memahami Allah sebagai al-Ilāh, seorang muslim diarahkan untuk menjauhi segala bentuk “berhala modern” seperti harta, kekuasaan, dan hawa nafsu serta memurnikan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata. Secara keseluruhan, penelitian ini relevan karena menghadirkan konsep tauhid sebagai pedoman hidup yang membentuk akhlak, menata spiritual, serta mengarahkan manusia pada berbagai bentuk kesyirikan modern. Penelitian ini mengingatkan bahwa tauhid bukan hanya konsep ketuhanan, tetapi sebagai fondasi moral dan spiritual yang diperlukan untuk mengadapi masalah kehidupan masa kini. Sehingga pemahaman bahwa Allah adalah satu-satunya al-Ilah dan menjadi kunci keteguhan iman seorang muslim dalam setiap zaman. Daftar Pustaka Ibn Fāris, Ahmad. Maqāyīs al-Lughah. Tahqīq: ‘Abd al-Salām Muhammad Hārūn. Beirut: Dar al-Fikr, 1979. Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi‘, 1999. Al-Qurthubi, Abu 'Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakr. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah. Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002–2009. Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Shari‘ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu‘asir, 1991. Abduh, Muhammad & Rasyid Ridha. Tafsir al-Manar. Kairo: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1947–1961. Al-Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, Maktabah Ibn Taimiyah, Kairo 1983. [1] Ibn Fāris, Maqāyīs al-Lughah, tahqīq: ʿAbd al-Salām Muḥammad Hārūn (Beirut: Dār al-Fikr, 1979), jil. 1, h. 137. [2] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi‘, 1999. Jilid 7, h. 216–280 [3] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi‘, 1999. Jilid 5, h. 251–370 [4] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi‘,Jilid 6, h. 321–450 [5] Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Shari‘ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu‘asir, 1991 [6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jilid X (Jakarta: Lentera Hati, 2002). [7] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jilid X (Jakarta: Lentera Hati, 2002). [8] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi Jilid 7, h. 350–400 [9] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jilid X (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 123. [10] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi, Jilid 6, hlm. 321–450. [11] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi‘, 1999. [12] al-Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, Maktabah Ibn Taimiyah 1983, Juz 23 hal 346 hadis no 830 [13] Al-Qurthubi, Abu 'Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakr. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah [14] Al-Qurthubi, Abu 'Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakr. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah. [15] Al-Qurthubi, Abu 'Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakr. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah. [16] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi‘, 1999. [17] Ibn Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tawzi‘, 1999.