Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kita Ini Bangsa Besar: Keterbalikan Antara Retorika dan Realita di Indonesia

Retorika

Mahasiswa.co.id - Indonesia seringkali disebut atau dikaitkan dengan sebutan bangsa yang besar tetapi, belakangan ini sebutan bangsa besar justru menimbulkan banyak tanda tanya di tengah masyarakat termasuk pada media sosial X. Banyak pengguna media sosial ini menggunakan frasa ‘bangsa yang besar’ untuk menyoroti realita Indonesia lewat meme atau sarkasme. Bukan tanpa alasan Indonesia disebut sebagai negara besar, hal ini dapat dilihat dari luas wilayahnya yang membentang dari Sabang hingga Merauke, dan jumlah penduduknya telah menembus angka 280 juta jiwa, berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Namun, apakah kebesaran geografis dan demografis Indonesia sungguh dapat menjamin kualitas sumber daya manusianya?

Jawabannya tentu saja tidak. Sebagai sebuah bangsa yang besar, Indonesia justru dihadapkan dengan lebih banyak tantangan untuk menjaga, membangun, dan mengembangkan bangsa yang besar ini agar mampu bersaing di kancah global. Realitas atau tantangan ini dapat kita jumpai dari sejumlah data dan fenomena yang mengkhawatirkan. Salah satunya adalah permasalahan kemiskinan yang hingga kini masih menjadi isu utama menurut Bank Dunia. Namun, indikator kemiskinan nasional yang digunakan Indonesia justru kurang sesuai dengan realita masyarakat saat ini. Sebagai contoh, BPS menyebut seseorang tidak dikategorikan miskin jika mampu bertahan dengan pengeluaran sekitar Rp18 ribu per hari. Angka tersebut jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti transportasi, makanan bergizi, apalagi menabung. Hal ini menunjukkan bahwa indikator kemiskinan harus segera diperbarui—bukan sekadar menghitung kemampuan bertahan hidup, tetapi mengukur sejauh mana masyarakat dapat hidup secara layak dan sejahtera.

Ironisnya, kondisi ini semakin diperparah dengan fakta bahwa jumlah pengangguran di Indonesia meningkat 83.000 orang pada Februari 2025. Banyak generasi muda juga menghadapi job mismatch—bekerja di bidang yang tidak sesuai keahlian mereka—demi bertahan hidup. Saat negara lain berlomba mencetak talenta digital, kita masih bergulat dengan lulusan sarjana yang kesulitan mencari kerja karena gagalnya pemerintah untuk menghasilkan sektor formal yang mampu menyerapnya. Fenomena ini diperkuat oleh tagar digital #KaburAjaDulu, yang mempresentasikan realita anak muda Indonesia yang merasa lebih dihargai di luar negeri dibandingkan di negara sendiri yang sering disebut sebagai 'bangsa besar'.

Padahal, suatu negara layak disebut sebagai bangsa yang besar bukan hanya dinilai dari jumlah populasinya, melainkan juga dari kemampuannya memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya melalui pemanfaatan potensi yang dimilikinya. Ukuran kemajuan negara dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti kualitas kesehatan penduduk, kurikulum pendidikan, hingga ketersediaan lapangan kerja yang sejalan dengan pertumbuhan dan kebutuhan generasi muda. Sebagai perbandingan nyata, negara seperti Singapura yang secara geografis dan demografis jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia justru menunjukan kualitas negara yang sejahtera. Singapura secara konsisten masuk dalam daftar negara dengan perekonomian sehat berkat fokusnya pada potensi negaranya yang didukung penuh oleh pemerintahnya.

Situasi ketimpangan yang terus berlangsung tentu tidak boleh luput dari perhatian pemerintah. Retorika tentang ‘bangsa yang besar’ sudah semestinya tidak lagi dijadikan alat untuk menenangkan masyarakat di tengah realitas yang menuntut aksi nyata. Sebaliknya, peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan untuk melakukan aksi nyata agar mampu menghasilkan perubahan positif bagi rakyatnya. Indonesia adalah negara dengan potensi yang luar biasa tetapi, kini berbanding terbalik dengan kondisi sumber daya manusianya yang terdesak oleh kemiskinan dan berbagai tantangan lainnya. Ini bukan sekedar masalah sementara, melainkan ancaman serius bagi keberlangsungan masa depan suatu bangsa.

Pemerintah juga perlu menyadari bahwa permasalahan yang terjadi saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan program nasional yang bersifat sementara atau seremonial. Pemerintah membutuhkan langkah penyelesaian secara menyeluruh yang menyentuh akar permasalahan, mulai dari sistem pendidikan, mekanisme rekrutmen tenaga kerja, hingga apresiasi terhadap talenta-talenta baru yang ahli di bidangnya. Jika masalah ini tidak ditangani dengan serius, Indonesia berisiko terjebak dalam kondisi stagnan atau bahkan lebih buruk, yaitu kehilangan generasi yang mampu bersaing secara global dan menggerakkan ekonomi nasional ke arah yang lebih progresif. Predikat sebagai bangsa besar bukan sekadar klaim, melainkan tanggung jawab bersama untuk mewujudkan perubahan nyata menuju arah yang lebih baik.

Pada akhirnya, klaim ‘Indonesia adalah bangsa yang besar’ akan terdengar seperti omong kosong jika tidak diiringi dengan komitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia—salah satu faktor penting dalam mendorong kemajuan suatu negara. Seharusnya, kita memaknai kebesaran bangsa ini sebagai motivasi untuk berinovasi bukan sekadar menggunakan klaim tersebut untuk menjauhi perubahan. Layaknya upaya melestarikan alam, anugerah besar yang dimiliki bangsa ini hanya akan bertahan jika masyarakat menyadari pentingnya merawat dan mengembangkan aset terbesarnya, yaitu manusia itu sendiri. Jika rakyat terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan keterbatasan, lantas siapa yang akan meneruskan, menjaga, dan memaknai kebesaran bangsa ini di masa depan?

Penulis : Nabila Aulia Zahra, Mahasiswi dari Universitas Negeri Jakarta

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.