Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Konsep Aqidah Tentang Jin dalam Perspektif al-Misbah: Analisis Surat al-Jinn Ayat 1-15

WhatsApp Image 2026-01-02 at 9.48.27 AM

Tsurayya Alvita
UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
tsurayya.alvita23@mhs.uinjkt.ac.id

Nabila Patiha
UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
nabila.fatiha23@mhs.uinjkt.ac.id

Fitriana, M.A., M.Ed., Ph.D
UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
fitriana@uinjkt.ac.id

Absrak, Artikel ini membahas konsep jin dalam perspektif Tafsir al-Miṣbāḥ dengan fokus analisis Surah al-Jinn ayat 1-15. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap hakikat jin sebagai makhluk ghaib yang berakal, mukallaf, serta memiliki tanggung jawab akidah dan moral sebagaimana manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i), melalui penelaahan ayat-ayat Surah al-Jinn dan penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Miṣbāḥ, serta diperkuat dengan rujukan tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir, al-Qurṭubī, dan al-Ṭabarī. Hasil kajian menunjukkan bahwa jin memiliki kemampuan mendengar, memahami, dan merespons wahyu Al-Qur’an secara sadar. Respons sebagian jin terhadap Al-Qur’an diwujudkan dalam keimanan, penegasan tauhid, dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan. Selain itu, Surah al-Jinn ayat 1-15 juga menegaskan keterbatasan jin dalam mengetahui perkara ghaib, klasifikasi jin mukmin dan kafir, serta konsekuensi moral dan eskatologis dari keimanan dan kekufuran mereka. Dengan demikian, ayat-ayat tersebut menegaskan universalitas hidayah Al-Qur’an dan memperlihatkan bahwa jin merupakan bagian dari makhluk berakal yang tunduk pada tuntutan risalah Islam.

Kata kunci: Jin, Tafsir al-Miṣbāḥ, Surah al-Jinn, Tauhid, Makhluk Mukallaf.

Pendahuluan
Keimanan terhadap perkara ghaib merupakan salah satu fondasi utama dalam ajaran Islam. Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang meyakini hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia (QS. al-Baqarah [2]: 3). Di antara realitas ghaib yang diakui keberadaannya dalam Islam adalah jin, yaitu makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari api, memiliki akal dan kehendak, serta dibebani kewajiban syariat sebagaimana manusia. Keberadaan jin bukan sekadar narasi mitologis, melainkan bagian dari sistem keimanan yang memiliki implikasi teologis dan praktis dalam kehidupan seorang Muslim.

Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap eksistensi jin, bahkan menurunkan satu surah secara khusus yang membahas tentang mereka, yaitu Surah al-Jinn. Dalam surah ini, khususnya ayat 1-15, digambarkan pengalaman sekelompok jin yang mendengar bacaan Al-Qur’an, merasa takjub terhadap keindahan dan kandungannya, kemudian meresponsnya dengan keimanan, penegasan tauhid, serta penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan. Ayat-ayat tersebut juga mengungkapkan bahwa jin, sebagaimana manusia, tidak bersifat homogen, melainkan terbagi ke dalam golongan mukmin dan kafir, taat dan durhaka, yang masing-masing akan mempertanggungjawabkan keyakinan dan perbuatannya di hadapan Allah.

Di sisi lain, pemahaman masyarakat terhadap jin sering kali dipenuhi oleh unsur mistifikasi, takhayul, dan praktik-praktik menyimpang, seperti meminta perlindungan kepada jin atau meyakini kemampuan mereka dalam menentukan nasib manusia. Praktik semacam ini tidak hanya bertentangan dengan prinsip tauhid, tetapi juga menunjukkan lemahnya pemahaman akidah yang bersumber dari Al-Qur’an dan tafsir yang otoritatif. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang komprehensif dan proporsional mengenai konsep jin berdasarkan sumber-sumber tafsir yang kredibel agar pemahaman tentang jin tidak keluar dari koridor ajaran Islam yang benar.

Tafsir al-Miṣbāḥ karya M. Quraish Shihab merupakan salah satu karya tafsir kontemporer yang memiliki kontribusi signifikan dalam menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual dan sistematis. Dalam menafsirkan Surah al-Jinn ayat 1-15, Quraish Shihab tidak hanya menjelaskan makna tekstual ayat, tetapi juga mengaitkannya dengan aspek kebahasaan, teologis, dan realitas sosial, sehingga memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang hakikat jin sebagai makhluk ghaib yang berakal dan mukallaf. Penafsiran ini menjadi penting untuk dikaji karena mampu menjembatani antara pandangan keagamaan klasik dan kebutuhan pemahaman umat Islam di era modern.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep akidah tentang jin dalam perspektif Tafsir al-Miṣbāḥ melalui kajian Surah al-Jinn ayat 1-15. Fokus pembahasan diarahkan pada hakikat jin sebagai makhluk ghaib yang mendengar wahyu, penegasan tauhid dan penolakan syirik, kedudukan jin sebagai makhluk mukallaf, keterbatasan mereka dalam mengetahui perkara ghaib, serta klasifikasi jin mukmin dan kafir beserta implikasi akidahnya.

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah tafsir tematik (maudhu‘i), yaitu dengan menghimpun dan menganalisis ayat-ayat Surah al-Jinn ayat 1-15 yang berkaitan dengan konsep jin dan akidah. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Al-Qur’an dan Tafsir al-Miṣbāḥ karya M. Quraish Shihab, sedangkan sumber data sekunder meliputi kitab-kitab tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurṭubī, Tafsir al-Ṭabarī, serta literatur pendukung lainnya yang relevan dengan pembahasan. Teknik analisis data dilakukan dengan cara deskriptif-analitis, yaitu menguraikan makna ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan penafsiran para mufasir, kemudian menganalisisnya untuk memperoleh pemahaman yang sistematis mengenai konsep jin dan implikasi akidahnya. Diharapkan melalui metode ini diperoleh gambaran yang utuh dan objektif tentang kedudukan jin dalam perspektif Al-Qur’an dan tafsir.

Pembahasan
Asbab al-Nuzul

Surah al-Jinn diturunkan setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, saat Rasulullah SAW menghadapi penolakan di Thaif dan beristirahat di lembah Nakhlah antara Mekah dan Thaif. Saat beliau membaca Al-Qur’an dalam salat Subuh, sekelompok jin dari Nashibin mendengarkannya, merasa takjub, dan sebagian beriman. Peristiwa ini menjadi asbab nuzul ayat 1-2, di mana Allah menyampaikan kabar tersebut melalui wahyu kepada Nabi.

قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ ۝١

Artinya : “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an yang kubaca).” Lalu, mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan”.

Al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. tidak pernah sekali pun membacakan Al-Qur'an (secara khusus) kepada bangsa jin dan tidak pula pernah melihat mereka. Akan tetapi, pada suatu ketika, beliau bersama beberapa orang sahabat bermaksud pergi ke Pasar Ukaz. Ketika itu, para jin sudah tidak dapat lagi mendengarkan berita-berita langit. Setiap kali mereka berusaha (mencuri-curi dengar), mereka langsung diburu oleh panah-panah api. Ketika para jin itu kembali kepada kaumnya, mereka berkata, hal ini (terhalangnya kita dari berita langit) tidak lain karena sesuatu telah terjadi. Oleh karena itu, berpencarlah kalian ke seluruh penjuru bumi ini untuk mencari tahu apa gerangan yang telah terjadi. Jin-jin itu pun berpencar ke berbagai penjuru.

Setelah melanglang buana beberapa lama, sekelompok jin yang baru kembali dari daerah Tihamah lalu bertemu dengan Rasulullah saw.. Ketika itu, beliau dan para sahabat sedang melaksanakan shalat Shubuh. Ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an, mereka saling berkata, 'Demi Allah, inilah ia yang telah menghalangi kalian. dari mendengar berita-berita langit.' Setelah selesai mendengarkan, mereka pun kembali pada kaumnya dan berkata, 'Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an).' Kemudian, Allah menurunkan kepada Rasulullah saw. (surah al-Jinn ayat 1), 'Katakanlah (Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku ....' Artinya, Allah mewahyukan kepada beliau perkataan kaum jin tersebut.[1]

Ibnu al-Jauzi, dalam kitabnya Shifat ash-Shafwah, riwayat-Ibnu al-Jauzi, dalam kitabnya Shifat ash-Shafwah, meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dari Sahal bin Abdillah, dia berkata, "Suatu hari, aku berada di dekat bekas pemukiman kaum Ad terdahulu. Tiba-tiba, aku melihat sebuah perkampungan di permukaan tanah lapang yang berlubang. Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah istana dari batu yang berlubang atap dan pintunya. Di lubangitu, banyak jin yang bermukim. Kemudian, aku masuk ke istana itu untuk mencari tahu (ada apa di dalamnya). Tiba-tiba, aku melihat seorang tua yang berbadan sangat besar sedang shalat menghadap ke Ka'bah. Orang tua itu memakai jubah dari wol yang sangat lembut.

Aku tidak begitu terkejut melihat badannya yang besar. Justru, aku lebih terheran-heran dengan lembutnya jubah yang dia kenakan. Ketika aku memberi salam kepada orang tua itu, dia pun menjawab salamku. Dia berkata, 'Wahai Sahal, sesungguhnya, bukan badan yang membuat pakaian seseorang lusuh. Akan tetapi, yang membuatnya lusuh dan usang adalah uap-uap dosa dan makanan haram. Sesungguhnya, jubah ini telah melekat di tubuhku selama tujuh ratus tahun. Dengan jubah inilah, aku telah bertemu dengan Isa a.s  dan Rasulullah saw.. Kemudian, aku beriman kepada keduanya.' Aku pun berkata, 'Siapa engkau?" Dia menjawab, 'Aku adalah jin yang tentangnya diturunkan firman-Nya (surah al-Jinn ayat 1), 'Katakanlah (Muhammad), 'Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan), lalu mereka berkata, 'Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur'an).

Jin Secara Bahasa dan Istilah

Jin merupakan kata serapan dari bahasa Arab Jin (ﺟﻦ). Dalam kamus bahasa Indonesia, arti kata jin adalah makhluk halus yang diciptakan dari api. Arti kata ini ditinjau dari segi sosok jin itu sendiri yang sangat dimungkinkan terambil dari penjelasan dalam Alquran surat al-Hijr ayat 27:

وَالْجَاۤنَّ خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ ۝٢٧

Artinya: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”

Dalam bahasa Arab, kata jin tersusun dari tiga huruf asal, yaitu jīm (ج), nūn (ن), dan nūn (ن). Seluruh derivasinya mengandung makna ketersembunyian dan ketertutupan, yang menunjukkan bahwa jin merupakan makhluk yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia secara langsung.Sedangkan secara istilah, jin merupakan makhluk berakal, berkehendak, sadar dan punya kewajiban, berjasad halus, serta hidup berdampingan dengan manusia di bumi ini.[2] Senada dengan itu, Zohdi mengatakan bahwa jin merupakan makhluk yang tercipta dari api yang sangat panas, tidak terlilhat mata manusia biasa, mukallaf, mempunyai keturunan layaknya manusia, dan telah ada lebih dahulu dari manusia pertama yakni Nabi Adam as.[3]

Sebagaimana manusia, jin juga terbagi-bagi dalam beberapa kelompok, meskipun berbeda dalam hal penciptaan. Sudah disebutkan pada penjelasan sebelumnya bahwa jin juga termasuk makhluk mukallaf yang dibebani kewajiban untuk beriman kepada Allah yang pada akhirnya memunculkan beberapa kelompok, yakni ada jin yang muslim dan ada pula yang kafir membangkan dari iman kepada Allah SWT. Alquran memberikan informasi terkait hal ini dalam surat al-dzariyat ayat 56:

"وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ"

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

Kata jin secara bahasa adalah nama jenis kelompok, kata tunggalnya جِنِّيّ  diambil dari kata الاِجْتِنَان, artinya menutup diri dan bersembunyi. Mereka dinamakan demikian karena menutup diri dan tersembunyi dari pandangan mata manusia sehingga tidak terlihat. Bentuk jamaknya adalah جِنَان, sedangkan mereka adalah الْجِنَّة  (kelompok jin).

Segala sesuatu yang dijadikan media untuk melindungi dan menutup diri disebut juga dengan جُنَّة, dinamakan demikian karena berfungsi sebagai pelindung. Rimbunan pepohonan disebut جَنَّان, karena satu dan lainnya saling menutupi. Adapun kata الْجَنِين  artinya anak yang masih berada dalam kandungan ibunya, dinamakan demikian karena tidak terlihat. Dinamakan juga dengan جُنُون, artinya tertutup akalnya, yaitu hilangnya akal seseorang atau gila.[4]

Secara istilah, jin adalah jenis ruh yang berakal dan memiliki keinginan, yang diberikan beban (taklif) sama seperti manusia. Mereka tidak bersifat materi, tertutup dari pancaindra, tidak terlihat dalam tabi’at dan rupa asli mereka. Mereka makan, minum, menikah, dan memiliki keturunan. Amal-amal mereka kelak di akhirat juga akan dihisab.[5]

 

Hakikat Jin Sebagai Makhluk Ghaib yang Mendengar Wahyu             QS. Al-Jin ayat 1-2

قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ ۝١

يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ ۝٢

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an yang kubaca).” Lalu, mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (1). Yang memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kami pun beriman padanya dan tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami (2).

Dalam Tafsir al-Miṣbāḥ, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Surah al-Jinn ayat 1-2 berisi perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw. agar menyampaikan kepada seluruh manusia, khususnya mereka yang mengingkari kerasulannya, bahwa telah diwahyukan kepadanya suatu peristiwa penting. Wahyu tersebut mengabarkan bahwa sekelompok jin mendengarkan dengan penuh perhatian bacaan Al-Qur’an yang dibaca Nabi saat shalat Subuh di Bathn Makkah, suatu tempat antara Mekkah dan Thaif. Setelah mendengarkan bacaan itu, para jin tersebut kembali kepada kaumnya dan menyatakan kekaguman mereka terhadap Al-Qur’an yang mereka nilai sebagai bacaan yang sangat indah, menakjubkan, serta berbeda dari bacaan apa pun yang pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka menyadari bahwa Al-Qur’an bukan hasil ciptaan makhluk, melainkan firman Allah Yang Maha Esa, sehingga mereka beriman dan bertekad untuk tidak lagi mempersekutukan-Nya dengan apa pun.

Lebih lanjut, perintah Allah agar Nabi menyampaikan peristiwa ini dipahami sebagai penegasan bahwa risalah Nabi Muhammad saw. tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada jin. Walaupun jin merupakan makhluk halus dengan karakter yang berbeda dari manusia, mereka mampu mengenali keistimewaan Al-Qur’an dan membenarkan kebenaran kerasulan Nabi. Informasi ini penting disampaikan kepada masyarakat umum, bukan hanya untuk menjelaskan keberadaan makhluk berakal yang tidak terjangkau oleh indra manusia, tetapi juga untuk menegaskan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. adalah ajaran yang benar dan diakui oleh makhluk selain manusia. Dalam hal ini, sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi pada awalnya tidak mengetahui kehadiran jin yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an, sementara ulama lain menyatakan bahwa setelah turunnya surah ini, Nabi diperintahkan secara khusus untuk mendatangi jin dan menyampaikan dakwah kepada mereka.

Tafsir al-Miṣbāḥ juga menguraikan makna kata dan konsep yang berkaitan dengan jin. Kata (نَفَر) nafar digunakan untuk menunjukkan kelompok kecil, sekitar tiga hingga sembilan orang, yang dalam konteks ayat ini dipahami sebagai jumlah jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Adapun kata (الْجِنِّ) jinn berasal dari akar kata yang bermakna tersembunyi, menunjukkan sifat kegaiban mereka. Quraish Shihab memaparkan adanya perbedaan pandangan mengenai hakikat jin, termasuk pandangan rasionalis seperti Ahmad Khān yang menafsirkan jin sebagai manusia yang belum berperadaban. Namun pandangan ini ditolak oleh mayoritas ulama, sebagaimana ditegaskan oleh al-Maududi, karena dinilai bertentangan dengan tujuan Al-Qur’an yang justru ingin meluruskan keyakinan jahiliah tentang jin sebagai makhluk yang berbeda dari manusia.

Selain itu, al-Miṣbāḥ mengutip definisi jin dari sejumlah ulama, di antaranya Muhammad Farid Wajdi dan Sayyid Sabiq, yang menegaskan bahwa jin adalah makhluk berakal, tidak kasatmata, dan dibebani kewajiban keagamaan. Pandangan yang lebih luas dikemukakan oleh Bint asy-Syāṭi’ yang memahami jin sebagai makhluk yang hidup di alam-alam tak terlihat dan tidak terikat oleh hukum alam manusia, sehingga tidak menutup kemungkinan mencakup fenomena lain seperti UFO. Bahkan, Syekh Muhammad ‘Abduh sebelumnya juga menyatakan bahwa virus dan kuman dapat termasuk salah satu jenis jin. Adapun kata ‘ajaban dipahami sebagai ungkapan rasa takjub terhadap keindahan dan keunikan Al-Qur’an, sedangkan kata rusyd menunjuk pada makna kebajikan, kebenaran, dan petunjuk yang menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai sumber hidayah.[6]

Penjelasan dalam Tafsir al-Miṣbāḥ mengenai respon jin terhadap wahyu Al-Qur’an diperkuat oleh sejumlah kitab tafsir klasik. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jin, sebagaimana manusia, memiliki kemampuan mendengar, memahami, dan merespons wahyu Allah, ketika mereka mendengar Al-Qur’an yang menakjubkan dan memberi petunjuk ke jalan yang lurus, sebagian jin beriman, membenarkannya, serta menegaskan ketundukan total kepada Allah melalui tauhid dan penolakan terhadap segala bentuk kemusyrikan, yang menunjukkan universalitas hidayah Al-Qur’an bagi jin dan manusia.[7] Sejalan dengan itu, Tafsir al-Qurṭubī menegaskan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberitahukan umatnya bahwa wahyu Al-Qur’an tidak hanya didengar oleh manusia, tetapi juga oleh sekelompok jin melalui perantaraan Jibril, kekaguman jin terhadap keindahan bahasa, kedalaman nasihat, keberkahan, dan keagungan Al-Qur’an mendorong mereka menyebutnya sebagai bacaan yang ‘ajīb dan ‘aẓīm, memahami petunjuknya menuju jalan yang benar, serta beriman dengan menegaskan tauhid dan menolak kemusyrikan, bahkan ketaatan kepada iblis.[8] Demikian pula, Tafsir al-Ṭabarī menjelaskan bahwa sekelompok jin yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an mengakui keajaiban dan kebenarannya, lalu menyampaikannya kepada kaum mereka, sehingga keimanan tersebut diwujudkan dalam komitmen mentauhidkan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Seluruh penjelasan tafsir klasik ini berfungsi sebagai penguat dan penjelas tambahan atas uraian Tafsir al-Miṣbāḥ tentang universalitas petunjuk Al-Qur’an dan penegasan akidah tauhid dalam respon jin terhadap wahyu Ilahi.[9]

Dengan demikian dapat dipahami bahwa jin merupakan makhluk ghaib yang memiliki kemampuan mendengar, memahami, dan merespons wahyu Allah secara sadar. Kemampuan jin mendengarkan Al-Qur’an menunjukkan bahwa wahyu Ilahi bersifat universal dan tidak terbatas pada manusia, melainkan mencakup seluruh makhluk berakal yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Respons keimanan sebagian jin, yang diwujudkan melalui pengakuan terhadap keagungan Al-Qur’an, penegasan tauhid, serta penolakan terhadap segala bentuk kemusyrikan, menegaskan hakikat jin sebagai makhluk mukallaf yang terikat oleh tuntutan akidah dan ketaatan. Dengan demikian, peristiwa mendengarnya jin terhadap Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan eksistensi mereka sebagai makhluk ghaib, tetapi juga menegaskan fungsi wahyu sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus bagi seluruh alam.

Tauhid Jin dan Penolakan terhadap Syirik ayat 3-4

وَّاَنَّهٗ تَعٰلٰى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَّلَا وَلَدًاۖ ۝٣

وَّاَنَّهٗ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللّٰهِ شَطَطًاۖ ۝٤

Artinya: “Sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak (3). Sesungguhnya orang yang picik di antara kami selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah (4).”

Setelah mereka menjelaskan tekad mereka untuk tidak mempersekutukan Allah, mereka menggambarkan penyucian Allah dari segala kekurangan dengan berkata: Dan bahwa Maha Tinggi sehingga tidak terjangkau oleh siapa dan apa pun kebesaran Tuhan kami, Dia tidak mengambil seorang istri dan tidak pula anak.

Dalam Tafsir al-Miṣbāḥ, kata ta‘ālā (تَعَالَى) dijelaskan berasal dari akar kata ‘alā (علا) yang bermakna tinggi atau meninggi. Namun, ketinggian yang dimaksud bukanlah ketinggian fisik atau relatif, melainkan ketinggian yang bersifat mutlak dan melampaui jangkauan apa pun dan siapa pun. Quraish Shihab menegaskan bahwa penggunaan huruf ta’ pada kata tersebut secara bahasa seakan menunjukkan adanya kesungguhan dan upaya untuk mencapai suatu ketinggian. Akan tetapi, makna ini hanyalah bentuk peminjaman bahasa (majāz), sebab bagi Allah tidak berlaku konsep usaha, keterpaksaan, ataupun proses sebagaimana yang dialami makhluk. Ketinggian Allah merupakan sifat dzati yang sempurna dan tidak dibatasi oleh ruang, waktu, atau tingkatan apa pun.

Lebih lanjut, istilah jadd (جَدّ) dalam ayat tersebut dipahami oleh para ulama dengan beberapa pengertian, antara lain kebesaran dan keagungan, kekayaan dan ketidakbergantungan kepada apa pun, serta kekuasaan yang mutlak. Quraish Shihab merangkum berbagai pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa makna jadd pada akhirnya menunjuk kepada kesempurnaan Allah yang sejalan dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Penegasan sifat ini berfungsi sebagai argumentasi teologis untuk menolak keyakinan bahwa Allah memiliki pasangan atau anak. Kebutuhan terhadap istri dan anak merupakan ciri makhluk, baik sebagai pendamping hidup, sarana memperoleh keturunan, maupun penopang keberlangsungan hidup. Adapun Allah, sebagai Zat Yang Mahakaya dan Mahaagung, sepenuhnya terbebas dari seluruh kebutuhan tersebut, sehingga mustahil bagi-Nya memiliki pasangan ataupun keturunan.

Selanjutnya, pernyataan bahwa orang yang picik dari kalangan mereka telah mengucapkan perkataan yang melampaui batas terhadap Allah dipahami sebagai pengakuan jin atas kesalahan keyakinan yang pernah mereka anut. Dalam Tafsir al-Miṣbāḥ dijelaskan bahwa ayat-ayat sebelumnya merekam pengakuan jin yang menegaskan kebesaran dan kesucian Allah serta penolakan terhadap segala bentuk penyifatan yang tidak layak bagi-Nya. Pengakuan ini kemudian dilanjutkan dengan pernyataan bahwa kebohongan tersebut muncul karena prasangka baik yang keliru, yakni anggapan bahwa manusia dan jin tidak akan berani mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, termasuk dengan menisbatkan kepada-Nya istri dan anak. Kesadaran ini baru muncul setelah mereka mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, yang membongkar kekeliruan keyakinan tersebut. Sebagian ulama, sebagaimana dikemukakan Quraish Shihab, memahami pengakuan ini sebagai penjelasan sebab mengapa sebelumnya jin terjerumus dalam kemusyrikan, yakni karena tertipu oleh dugaan yang tidak disertai dasar kebenaran.

Dalam penjelasan kebahasaan, kata safīh (سَفِيه) pada mulanya digunakan untuk menunjukkan seseorang yang lemah akalnya. Namun, Al-Qur’an juga menggunakan istilah ini untuk menggambarkan sikap menyimpang dari jalan yang benar, disertai keyakinan keliru bahwa dirinya berada di pihak yang benar, sehingga melahirkan sikap keras kepala dan penolakan terhadap kebenaran. Adapun kata syathath (شَطَطًا) berakar dari makna “jauh”, lalu berkembang menjadi makna penyimpangan yang sangat jauh dari kebenaran dan keadilan. Makna inilah yang dikehendaki dalam ayat tersebut, yakni ucapan yang melampaui batas dan menyimpang dari hakikat tauhid.

Berdasarkan rangkaian penjelasan tersebut, Tafsir al-Miṣbāḥ menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menerima suatu pendapat atau keyakinan. Seseorang tidak semestinya mengikuti pandangan pihak lain tanpa adanya indikator kebenaran yang jelas, karena sikap demikian berpotensi menjerumuskan pada kesalahan akidah, bahkan kekufuran. Dalam konteks ini, Quraish Shihab mengaitkan pesan ayat dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ yang menganjurkan untuk menjauhi perkara-perkara yang samar (syubhat), karena sikap tersebut merupakan bentuk penjagaan terhadap agama dan kehormatan diri.[10]

Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Miṣbāḥ, memperlihatkan pemurnian akidah yang lahir dari pemahaman yang benar terhadap sifat-sifat Allah. Pada ayat ketiga, pengakuan bahwa Allah Mahatinggi (ta‘ālā) dan memiliki jadd yang agung menegaskan kesempurnaan, kekuasaan, serta ketidakbergantungan Allah, sehingga menafikan segala kemungkinan adanya pasangan dan anak bagi-Nya. Selanjutnya, ayat keempat mengungkap pengakuan jin bahwa ucapan yang melampaui batas terhadap Allah bersumber dari sikap safīh dan penyimpangan yang jauh dari kebenaran (syathath), yang sebelumnya mereka terima tanpa dasar yang benar. Kesadaran ini menandai peralihan dari keyakinan syirik menuju tauhid murni, yakni pengesaan Allah yang dibangun atas pemahaman terhadap keagungan dan kesempurnaan-Nya. Dengan demikian, Surah al-Jinn ayat 3 dan 4 tidak hanya merekam pernyataan iman jin, tetapi juga menegaskan bahwa tauhid merupakan konsekuensi logis dari pengenalan yang benar terhadap Allah, sekaligus menjadi landasan utama penolakan terhadap segala bentuk kemusyrikan, sebagaimana ditegaskan dalam penafsiran Tafsir al-Miṣbāḥ.

Jin sebagai Makhluk Mukallaf dan Bertanggung Jawab ayat 5-7

وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ ۝٥

وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ ۝٦

وَّاَنَّهُمْ ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّبْعَثَ اللّٰهُ اَحَدًاۖ ۝٧

 Artinya: “Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah (5). Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka mereka menambah bagi mereka kesempitan (6). Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana persangkaan kamu balnea Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang pun (7)."

Dalam Tafsir al-Miṣbāḥ dijelaskan bahwa ayat tersebut dipahami secara berbeda oleh para ulama. Sebagian menilainya sebagai komentar Allah yang disisipkan di tengah rangkaian ucapan jin yang direkam oleh ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, sementara sebagian yang lain memandangnya sebagai kelanjutan langsung dari pengakuan jin itu sendiri. Quraisy Shihab juga mengutip pendapat Al-Biqā‘ī yang cenderung pada pendapat kedua, yakni bahwa ayat tersebut masih merupakan bagian dari pernyataan jin. Menurutnya, setelah ayat-ayat sebelumnya mengungkap bahwa akar kesesatan bersumber dari prasangka dan dugaan yang tidak berdasar, ayat ini menambahkan sebab lain dari kesesatan tersebut, yaitu kecenderungan berpegang semata-mata pada hal-hal yang bersifat indrawi, khayalan, dan waham, tanpa disertai petunjuk wahyu dan pertimbangan akal yang lurus.

Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai keterkaitan ayat tersebut, Tafsir al-Miṣbāḥ menegaskan bahwa makna ayat secara substansial menggambarkan praktik sebagian manusia yang mencari perlindungan kepada jin. Yang dimaksud dengan “laki-laki dari kalangan manusia” adalah tokoh-tokoh atau pihak-pihak yang memiliki pengaruh dan kekuatan sosial, sementara “laki-laki dari kalangan jin” merujuk kepada sosok-sosok jin yang diyakini memiliki kekuasaan atas suatu tempat atau keadaan tertentu. Praktik meminta perlindungan ini dilakukan karena rasa takut terhadap bahaya atau gangguan yang mereka khawatirkan menimpa diri dan kepentingan mereka. Namun, alih-alih mendatangkan rasa aman, sikap tersebut justru menambah kesempitan, kesulitan hidup, serta dosa, baik bagi manusia yang meminta perlindungan maupun bagi jin yang menjadi tempat bergantung. Ayat ini juga menyinggung kesamaan prasangka antara manusia dan jin, yakni anggapan bahwa Allah tidak akan membangkitkan manusia setelah kematian atau mengutus seorang rasul, suatu keyakinan yang mencerminkan penyimpangan akidah.

Quraish Shihab selanjutnya menjelaskan makna kata ya‘ūdzūna (يَعُوذُونَ) yang berasal dari akar kata al-‘audz, yakni berlindung atau mencari perlindungan dari bahaya dan gangguan. Dalam tradisi masyarakat musyrik Arab, ketika berada di tempat-tempat sunyi atau asing, mereka merasa takut terhadap gangguan makhluk halus, sehingga memohon perlindungan bukan kepada Allah, melainkan kepada jin yang mereka anggap sebagai penguasa tempat tersebut. Islam datang mengecam praktik ini dengan mengarahkan manusia agar hanya memohon perlindungan kepada Allah semata. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan berbagai doa perlindungan pada situasi tertentu, seperti doa ketika memasuki tempat buang air atau sebelum melakukan hubungan suami istri, sebagai bentuk penanaman tauhid sekaligus penguatan ketergantungan jiwa kepada Allah. Ibn ‘Āsyūr, sebagaimana dikutip dalam Tafsir al-Miṣbāḥ, bahkan memahami kata ya‘ūdzūna dalam makna yang lebih luas, yakni sikap berpaling dan mengarah kepada jin dalam bentuk penyembahan karena rasa takut terhadap gangguan mereka. Fenomena ini dinilai masih dapat ditemukan dalam praktik-praktik masyarakat kontemporer, seperti pemberian sesaji kepada apa yang disebut sebagai “penunggu tempat” demi menghindari gangguan makhluk halus.

Lebih jauh, Tafsir al-Miṣbāḥ menyinggung fenomena mutakhir yang memperlihatkan keberlanjutan pola penyimpangan tersebut, seperti klaim memperjualbelikan jin. Praktik semacam ini pada hakikatnya merupakan bentuk penipuan berlapis, di mana manusia yang terlibat tidak hanya saling menipu, tetapi juga tertipu oleh jin itu sendiri. Fenomena tersebut dipandang sebagai realisasi dari peringatan ayat yang menjelaskan dampak negatif ketergantungan kepada jin. Hal ini ditegaskan oleh penjelasan kata rahaqan (رَهَقًا), yang berasal dari makna dasar tekanan dan keterpaksaan, lalu berkembang menjadi kondisi diliputi kesulitan, kesempitan hidup, dosa, dan siksa akibat kesesatan akidah. Sejumlah ulama, sebagaimana dicatat dalam Tafsir al-Miṣbāḥ, menegaskan bahwa siapa pun yang menggantungkan diri kepada jin, meskipun pada awalnya tampak memperoleh manfaat atau kebahagiaan, pada akhirnya tidak akan terlepas dari kesengsaraan hidup dan beban dosa yang menumpuk.[11]

Khusus ayat 5-6 diperkuat oleh Al-Ālūsī dalam kitab tafsirnya. Ia menjelaskan bahwa ada seorang laki-laki dari bangsa Arab yang ketika sore hari berada di suatu lembah di gurun pasir merasa ketakutan, lalu ia memanggil dengan suara keras: “Yā ‘Azīz, ini adalah lembah yang aku berlindung kepadamu dari orang-orang bodoh yang menaatimu.” Karena itu jin menjadi sombong dan berkata, “Kami adalah penguasa jin dan manusia.” Lafaz ( اقهر) yang berarti “dosa dan kesalahan” dimaknai sebagai kesombongan dan tinggi diri yang semakin menguat pada diri jin dan para pembesarnya karena merasa ditakuti oleh manusia. Oleh karena itu, ḍamīr yang dirafa‘kan menunjuk kepada kaum laki-laki dari bangsa manusia, sedangkan yang dinashabkan menunjuk kepada kaum laki-laki dari bangsa jin.[12]

Al-Ālūsī juga meyakini bahwa jin memiliki jenis kelamin, di antaranya adalah laki-laki, sebagaimana dijelaskan dalam Surah al-Jin ayat 6. Dengan demikian, kehidupan jin tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia. Jin memiliki kerajaan, memiliki pasangan, serta memiliki asal-usul yang dikenal dengan nama al-Jān. Oleh karena itu, secara tidak langsung jin juga termasuk makhluk mukallaf, yaitu dibebani tanggung jawab syariat sebagaimana manusia, untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hal ini diperkuat oleh tafsiran Asy-Sya‘rāwī dalam kitab tafsirnya, bahwa penyebutan “laki-laki” dari kalangan jin merupakan ungkapan metaforis yang disandingkan dengan laki-laki dari kalangan manusia. Kata “laki-laki” di sini adalah penamaan bagi makhluk berakal yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab moral, sebagaimana laki-laki dari keturunan Nabi Adam.[13]

Dengan demikian, jin juga memperoleh pahala apabila melaksanakan perintah Allah dan akan mendapat siksa apabila melanggar ketentuan-Nya. Karena mereka termasuk makhluk mukallaf sebagaimana manusia, Allah juga mengutus kepada mereka seorang rasul untuk menyampaikan wahyu. Para ulama bersepakat bahwa risalah Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas kepada manusia, tetapi juga mencakup bangsa jin, bahkan menurut sebagian pendapat mencakup seluruh makhluk hidup.

Berdasarkan penjelasan para mufasir sebagaimana dikemukakan dalam Tafsir al-Miṣbāḥ dan diperkuat oleh penafsiran Al-Ālūsī serta Asy-Sya‘rāwī, ayat 5-7 Surah al-Jinn menggambarkan secara jelas posisi jin sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, penilaian moral, dan tanggung jawab keagamaan. Pengakuan jin atas kesalahan prasangka mereka terhadap Allah, sikap kritis terhadap praktik penyimpangan berupa permohonan perlindungan manusia kepada jin, serta penjelasan tentang akibat buruk dari ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa jin mampu membedakan antara kebenaran dan kesesatan. Tafsiran tentang istilah “laki-laki dari kalangan jin” semakin menegaskan bahwa jin dipahami sebagai makhluk berakal yang hidup dalam tatanan sosial, memiliki peran dan pengaruh, serta terikat oleh hukum sebab-akibat moral sebagaimana manusia. Dengan demikian, ayat-ayat ini tidak hanya mengungkap fenomena sosial-keagamaan antara manusia dan jin, tetapi sekaligus menegaskan bahwa jin termasuk makhluk mukallaf yang tunduk pada prinsip tauhid, menerima risalah kenabian, serta bertanggung jawab atas keyakinan dan perbuatan mereka di hadapan Allah.

Keterbatasan Jin dalam Mengetahui Ghaib QS. Al-Jin Ayat 8-10

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ ۝٨

وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ ۝٩

وَّاَنَّا لَا نَدْرِيْٓ اَشَرٌّ اُرِيْدَ بِمَنْ فِى الْاَرْضِ اَمْ اَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًاۙ ۝١٠

 Artinya: "Dan sesungguhnya kami telah menyentuh langit maka kami mendapatkannya telah dipenuhi penjagaan yang kuat dan panah-panah api (8). Dan sesungguhnya kami dahulu duduk di sana di sekian tempat untuk mendengar. Tetapi, siapa yang mendengar sekarang, ia akan menjumpai untuknya panah api yang mengintai (9). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi siapa yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki bagi mereka kebaikan (10)."

Ayat-ayat di atas masih merupakan lanjutan dari ucapan jin yang pernah mendengar ayat-ayat al-Qur'an kepada anggota masyarakat mereka. Pada akhir ayat lalu, mereka menyatakan bahwa ada yang menduga bahwa Allah tidak akan membangkitkan siapa pun yang telah mati atau Allah tidak akan mengutus seorang rasul pun. Untuk menampik dugaan itu, para jin tersebut menunjukkan kuasa Allah atas mereka dengan menyatakan bahwa: Dan sesungguhnya kami telah berusaha menyentuh langit, yakni mencoba menuju ke sana untuk mengetahui percakapan para malaikat-sebagaimana yang pernah kami lakukan dahulu, maka kami mendapatinya telah dipenuhi oleh penjagaan yang kuat dari para malaikat dan semburan panah-panah api yang menghalangi kami mendekat, dan sesungguhnya kami dahulu yakni sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Allah-sering kali dapat duduk di sana, yakni di sekian banyak tempat di langit itu, untuk mendengar berita-beritanya. Ketika itu kami dapat mendengar tanpa ada halangan. Tetapi, siapa yang mencoba secara sungguh-sungguh untuk mendengar seperti itu sekarang ini-yakni setelah Nabi Muhammad saw. diutus-maka ia akan menjumpai untuk menghalangi-nya panah api yang mengintai sehingga membinasakannya.

Kata (مُلِئَتْ) muli'at terambil dari kata (ملاء) malaa, yakni penuh. Yang dimaksud di sini adalah sangat banyak. Kata (شُهُبًا) syuhuban adalah bentuk jamak dari kata (شها ب) syihab Kata ini ada yang memahaminya dalam arti meteor. Ada juga dalam arti sesuatu yang berhembus dari planet-planet. Rujukan ke QS. al-Mulk [67]: 5 untuk memahami pendapat sementara pakar tentang maksud pelontaran jin dengan syuhub itu.

Perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah diutusnya Nabi Muhammad saw. itu tidak diketahui persis oleh para jin yang direkam ucapan-ucapannya oleh ayat-ayat yang lalu. Ayat di atas melanjutkan bahwa para jin itu juga berkata: Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui dengan adanya penjagaan yang demikian ketat itu walau kami telah berusaha mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi siapa yang di bumi ataukah Tuhan Pemelihara dan Pendidik mereka menghendaki bagi mereka penghuni bumi ini kebaikan yang besar.

Ucapan jin di atas mengandung banyak pelajaran antara lain: Pertama, sopan santun terhadap Allah adalah sesuatu yang sangat diperhatikan oleh siapa yang beriman. Terbaca pada ayat di atas bagaimana para jin yang taat itu tidak menisbatkan keburukan kepada Allah dengan menggunakan kalimat yang dikehendaki tetapi di sisi lain menyebut secara tegas sumber kebaikan dengan menyatakan: ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. Rujuklah QS. al-Fâtihah dan al-Kahf [18]: 79-82 untuk mengetahui lebih banyak tentang persoalan ini.

Kedua, tidak diketahuinya sesuatu yang berkaitan dengan perincian satu permasalahan yang tidak penting atau yang penting, tetapi di luar kemampaun nalar untuk mengetahuinya sama sekali bukanlah sesuatu yang tercela.

Ketiga, sesuatu yang berada di luar keinginan seseorang bahkan yang boleh jadi dilihatnya buruk, belum tentu bertujuan atau membawa keburukan pula. Allah Maha Mengetahui dan pengetahuan makhluk amat terbatas.

Sementara ulama berpendapat bahwa ucapan di atas adalah ucapan iblis yang bagaikan menyatakan: Kami tidak mengetahui apakah Allah menghendaki dengan penjagaan yang ketat itu-jatuhnya siksa bagi penghuni bumi ataukah menghendaki diutusnya rasul buat mereka. Ada juga yang memahami ayat di atas sebagai ucapan jin satu sama lain sebelum mereka mendengar tuntunan al-Qur'an dan setelah mereka mengetahui telah diutusnya Nabi Muhammad saw. Seakan-akan mereka saling berkata: apakah kebinasaan yang dikehendaki bagi penghuni bumi dengan mengutus Nabi Muhammad saw. jika mereka dustakan ataukah mereka itu akan memperoleh petunjuk dan kebaikan bila mereka percaya.

Kata (رَشَدًا) rasyadan tunggalnya adalah (راشد) rasyid la terambil dari kata (رَشَد) rusyd yang makna dasarnya adalah ketepatan dan kelurusan jalan.

Klasifikasi Jin Mukmin dan Kafir QS. Ayat 11-15

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ ۝١١

وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللّٰهَ فِى الْاَرْضِ وَلَنْ نُّعْجِزَهٗ هَرَبًاۖ ۝١٢

وَّاَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدٰىٓ اٰمَنَّا بِهٖۗ فَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِرَبِّهٖ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَّلَا رَهَقًاۖ ۝١٣

وَّاَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقٰسِطُوْنَۗ فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰۤىِٕكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا ۝١٤

وَاَمَّا الْقٰسِطُوْنَ فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًاۙ ۝١٥

Artinya: "Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian, adalah kami (menempuh) jalan-jalan yang berbeda-beda (11). Dan sesungguhnya kami menduga bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melawan Allah di bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melawan-Nya dengan lari (12). "Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk kami beriman kepadanya, maka barang siapa beriman kepada Tuhannya maka ia tidak takut akan pengurangan dan tidak pula kesulitan (13). Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang muslim dan ada (pula) para penyimpang (14). Barang siapa yang patuh, maka mereka itu telah memilih arah kebenaran. Adapun para penyimpang, maka mereka itu bagi Jahanam adalah bahan bakar(nya) (15)."

Lebih jauh, para jin itu menguraikan keadaan anggota masyarakat mereka dengan menyatakan: Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang saleh yang bertakwa lagi mantap kesalehannya dan di antara kami ada juga yang tidak demikian halnya, ada yang kesalehannya terbatas ada juga yang sama sekali tidak saleh bahkan ada yang mengajak kepada kedurhakaan. Sungguh kami bermacam-macam; adalah kami, yakni makhluk yang tercipta dari api itu, menempuh jalan-jalan yang berbeda-beda akibat perbedaan pandangan dan kecenderungan kami. Dan sesungguhnya kami menduga, yakni mengetahui dan percaya, setelah berpikir dan melihat ayat-ayat Allah serta menyadari kelemahan kami, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melawan Allah untuk melepaskan diri dari kekuasaan-Nya di bumi mana pun kami berada dan sekali-kali tidak pula dapat melewatiNya dengan lari ke tempat lain di langit atau di mana pun untuk menghindar dari ketetapan-Nya.

Kata (الصّٰلِحُوْنَ) ash-shalihûn dipahami oleh banyak ulama dalam arti orang-orang yang mantap kesalehan dengan iman dan amalnya yang bermanfaat lagi baik. Thabâthabâ'i tidak memahaminya demikian. Menurutnya, kesalehan yang dikandung oleh kata ash-shalihûn pada ayat di atas adalah kebaikan perangai dalam ber-mu'âsyarah dan ber-mu'amalah, yakni dalam berinteraksi, bukan dalam arti kesalehan agama. Jika yang dimaksud dengan kesalehan beragama-menurut ulama itu tentulah ayat di atas lebih tepat diletakkan sesudah ayat berikut yang berbicara tentang keimanan mereka setelah mendengar petunjuk al-Qur'an.

Kata (قِدَدًا) qidadan adalah bentuk jamak dari (قِدَد) qiddah. Ia terambil dari kata (قِد) gadda yang berarti memotong atau memutus. Kelompok manusia yang pikiran dan kecenderungan mereka berbeda dengan kelompok yang lain dinamai iddah karena hubungan mereka terputus dengan kelompok yang lain akibat perbedaannya dengan kelompok yang lain itu.

Kata (ظَنَنَّا) zhananna terambil (ظَن) zhanna/menduga. Sementara ulama berpendapat bahwa kalau kata tersebut diiringi dengan kata (أن) anna, ini berarti yakin. Menurut al-Biqa'i, penggunaan kata tersebut di sini sebagai isyarat bahwa seorang yang berakal hendaknya menghindari apa yang dibayangkannya buruk walau dengan cara sekecil apa pun, apalagi kalau keburukan itu diyakini kepastiannya.

Kata (نُّعْجِزَ) nu'jiza terambil dari kata (عجز) ajaza, yakni lemah, dan dengan demikian nujiza berarti menjadikan seseorang lemah tidak dapat melawan atau menghalangi. Thabâthabâ'i memahami kalimat lan nu'jiza Allah  ilal-ardh/kami sekali-kali tidak akan dapat melawan Allah di bumi dalam arti mengalahkan-Nya menyangkut apa yang dikehendaki-Nya di bumi, yakni dengan melakukan pengrusakan serta mengganggu sistem yang ditetapkan-Nya. Bila ada pengrusakan yang terjadi, itu adalah bagian dari kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada jin.

Setelah ayat 12 yang lalu mengisyaratkan adanya siksa yang dipersiapkan Allah bagi yang durhaka dan tidak satu pun yang dapat menghindar, ayat di atas berbicara tentang keimanan sekelompok jin. Rasa takut kepada Allah dan siksa-Nya mengantar kepada upaya menghindar dari keburukan dan iman mengantar kepada upaya melakukan kebaikan. Bahwa ayat yang berbicara tentang iman diletakkan setelah uraian yang mengisyaratkan siksa karena rasa takutlah yang merupakan salah satu faktor utama dari lahirnya amal-amal saleh, di samping itu upaya menghindar dari keburukan lebih diutamakan daripada menghiasi diri dengan kebaikan. Itulah agaknya mengapa kaum yang menerima petunjuk Ilahi itu menyebut kandungan ayat di atas setelah menyebut kandungan ayat yang lalu. Demikian hubungan ayat di atas dengan ayat sebelumnya.

Apa pun hubungannya, yang jelas ayat di atas bagaikan menyatakan bahwa dan sesungguhnya kami tatkala mendengar dari Nabi Muhammad saw. petunjuk yang sempurna, yakni Al-Qur'an, kami langsung beriman kepadanya tanpa ragu atau menimbang-nimbang karena jelasnya petunjuk itu maka barang siapa yang senantiasa beriman kepada Tuhannya serta selalu memperbaharui imannya maka ia tidak takut akan pengurangan pahala amal-amalnya dan tidak takut pula kesulitan akibat penambahan dosa dan kesalahan.

Boleh jadi dengan pernyataan di atas ada yang menduga bahwa semua jin-baik yang mendengar langsung ayat-ayat al-Qur'an maupun yang belum atau tidak mendengarnya kesemuanya telah patuh kepada Allah. Untuk menampik dugaan itu, para jin melanjutkan keterangannya dengan berkata bahwa dan sesungguhnya di antara kami masyarakat jin ada orang-orang muslim, yakni yang benar-benar taat dan penuh kepatuhan kepada Allah, dan ada pula para penyimpang, yakni mereka yang telah sangat jauh dari kebenaran lagi sangat mantap kekufurannya. Barang siapa yang patuh, maka mereka itu telah bersungguh-sungguh memilih arah yang mengantar ke jalan kebenaran. Mereka itulah yang selalu bersikap adil dan melakukan perbaikan dan akan masuk ke surga. Adapun para penyimpang dari jalan kebenaran, maka mereka itu yang sungguh jauh kebejatannya adalah orang-orang yang aniaya lagi perusak dan mereka bagi api neraka Jahanam adalah bahan bakar-nya.

Kata (بَخْسًا) bakhsan berarti kekurangan yang menimpa akibat kecurangan. Lihat ayat 6 surah ini untuk memahami makna kata (رَهَقًا) rahaqan. Kata (تَحَرَّوْا) taharrau terambil dari kata (الحرا) al-hira yakni arah atau tempat. Kata yang digunakan ayat ini berarti mengarah ke arah yang benar. Karena itu, kata (حري) hariyyun berarti sangat tepat lagi wajar. Penggunaan kata ini-menurut Sayyid Quthub-mengesankan bahwa perolehan petunjuk kepada Islam maknanya ketelitian dalam mencari serta menelusuri jalan lurus. Yakni, memilihnya atas dasar pengetahuan dan kesengajaan/tekad setelah jelas hakikatnya. Bukannya asal memilih secara sembrono, bukan juga mengikuti tanpa kesadaran.

Lihatlah ayat 10 untuk memahami makna kata (رَشَدًا) rasyadan. Kata (الْقٰسِطُوْنَۗ) al-qâsithûn terambil dari kata (قسط – يقس - قسوطا) qasatha-yaqsithu-qusûthan, yakni berlaku aniaya. Kata ini berbeda dengan kata (أقسط - يقسط) aqsatha-yuqsithu yang berarti berlaku adil.

Seperti dikemukakan sebelum ini, ada jin yang taat kepada Allah dan ada pula yang durhaka, membangkang terhadap perintah-Nya, dan mengajak kepada kedurhakaan. Jin Muslim adalah yang taat, mendengar dengan tekun ayat-ayat al-Qur'an, memahami pesan-pesannya, serta mengecam kaumnya yang membangkang.f[14] Dari ayat-ayat al-Qur'an, khususnya QS. al-Jinn, dapat diperoleh petunjuk dan kesan tentang pemahaman mereka terhadap al-Qur'an secara khusus dan tuntunan Ilahi secara umum:

‎إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ

Artinya: “Sesungguhnya, kami telah mendengar Qur'ân yang menakjubkan, yang memberi petunjuk ke jalan yang benar."

Demikian ucapan mereka ketika pertama kali mendengar ayat-ayat al-Qur'an. Terbaca di atas dua hal menonjol yang mereka ungkap tentang al-Qur'an, yaitu bahwa kitab suci ini bersifat 'ajaban (menakjubkan) dan bahwa firman Allah itu yahdi ila ar-rusyd (menuntun ke jalan yang benar). Memang, kesan pertama yang dihasilkan oleh al-Qur'an terhadap siapa pun yang mendengarnya adalah rasa takjub karena al-Qur'an tidak seperti apa yang sering mereka dengar atau ketahui; takjub pada redaksinya, juga pada nada dan intonasinya. Wajar bila ketika kaum musyrik meragukan al-Qur'an, Allah menantang mereka bersama jin untuk menyusun kalimat- kalimat semacamnya, menantang sambil menegaskan bahwa mereka tidak akan mampu walau bekerja sama.[15]

‎قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا ۝٨٨

Artinya: "Katakanlah (Hai Muhammad): 'Sesungguhnya, jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain" (QS. al-Isra' [18]: 88).

Hal kedua yang mereka tangkap dari al-Qur'an adalah kandungan petunjuknya yang menuntun kepada kebaikan duniawi dan ukhrawi. Bacalah, misalnya, ucapan mereka yang taat itu dalam QS. al-Jinn [72]: 3:

يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ ۝٢

Artinya: "Kami sekali-kali tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami."

Demikian jin mengemukakan keyakinan mereka yang shahih, suci, murni, tidak disentuh oleh kekeruhan, tidak pula bercampur dengan khurafat. Keimanan mereka bersumber dari pemahaman terhadap alam raya dan informasi kitab suci. Ini karena, sebelum mereka mengenal al-Qur'an, mereka telah mengenal kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Mûsâ as., sebagaimana ucapan mereka dalam ayat lain ketika menyampaikan tentang al-Qur'an kepada kaum mereka. Mereka berkata:

قَالُوْا يٰقَوْمَنَآ اِنَّا سَمِعْنَا كِتٰبًا اُنْزِلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِيْٓ اِلَى الْحَقِّ وَاِلٰى طَرِيْقٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۝٣٠

Artinya: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Mûsâ yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus" (QS. al-Ahqaf [46]: 30).

Mereka tahu bahwa ada di antara mereka yang durhaka, mengada-ada terhadap Allah, antara lain ada yang mengatakan bahwa terjalin hubungan antara Allah dan jin yang menghasilkan anak-anak berupa malaikat. Jin Muslim yang taat dengan tegas membantah dengan menyatakan: "Bahwa Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Keyakinan para jin yang durhaka itu mereka nilai sebagai pernyataan yang melampaui batas dan diucapkan oleh mereka yang bodoh, dan bahwasanya:

وَّاَنَّهٗ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللّٰهِ شَطَطًاۖ ۝٤

Artinya: "Orang yang kurang akal dari jenis kami, dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah" (QS. al-Jinn [72]: 4).

‎وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ ۝٥

Artinya: “kami tadinya mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah" (QS. al-Jinn [72]: 5).

Dalam ayat-ayat di atas, terbaca betapa bersih hati mereka sampai-sampai mereka tidak menduga bahwa ada manusia atau jin yang berbohong. Tetapi, begitulah kenyataan yang mereka jumpai pada manusia dan jin yang durhaka.

Sedangkan ada juga golongan Jin yang durhaka kepada Allah SWT. Ayat ini menjadi berita yang penting bagi kaum manusia, terutama yang beranggapan dan memukul rata bahwa semua jin adalah golongan yang sama, memiliki tabiat yang sama yakni kecenderungan pada hal-hal yang buruk. Pandangan umum mengenai jin ini terbantahkan oleh ayat tersebut. Sesungguhnya kami yakin bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya.[16] Di sini jin yang beriman mengakui kedudukan mereka di sisi Allah Swt. Mereka mengakui kelemahan mereka di hadapan Allah Swt, bahwa mereka tidak berdaya sedikitpun di bawah kekuasaan Allah Swt. Mereka tidak mampu melepaskan diri, berlari dari keagungan Allah, baik itu di darat, laut, maupun udara. Maka suatu hal yang aneh, jika jin yang telah mengakui kelemahannya, justru dijadikan sebagai tempat berlindung dan meminta manfaat maupun pertolongan. Sedangkan mereka mengakui kelemahan di hadapan Tuhannya. Maka hal yang sepatutnya dilakukan adalah menyembah dan hanya meminta pertolongan kepada Tuhan jin itu sendiri, yakni Allah Swt.[17]

Dari sini jelaslah bahwa tujuan diciptakan jin dan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Diharuskan mematuhi segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya.[18] Tidak heran apabila jin terbagi-bagi dalam kabilah tertentu khususnya dalam hal kepercayaan atau keagamaan.

Karena jalan yang mereka tempuh berbeda-beda pada akhirnya berimplikasi pada perbedaan kepercayaan di antara mereka sehingga menjadikannya terbagi pada jin muslim dan jin kafir.[19] Tidak hanya mengenal agama-agama sebagaimana manusia, jin juga mengenal aliran-aliran atau sekte-sekte dalam agama.[20] Adapun jin yang membangkang tidak mau beriman kepada Allah SWT pada akhirnya berefek negatif dan bisa saja menjerumuskan manusia kepada kekafiran.

Surah al-Jinn ayat 1-15 menggambarkan pengalaman sekelompok jin yang mendengar bacaan Al-Qur’an dan memberikan respons yang beragam terhadap kebenaran yang mereka dapati. Kaum jin dalam surah ini digambarkan sebagai makhluk yang memiliki akal, kemampuan mendengar, dan mampu mengambil sikap terhadap kebenaran. Mereka mendengar pembacaan al-Qur’an dan merasa terpukau oleh keindahannya, lalu mengakui kebenarannya serta menyatakan keimanan kepada Allah dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ secara sadar. (QS. al-Jin: 1-2). Hal ini menunjukkan bahwa jin memiliki kapasitas teologis seperti manusia, yaitu kemampuan menerima dakwah dan memeluk Islam.[21]

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa relasi jin dengan wahyu dalam surah ini tampak dalam beberapa bentuk. Pertama, mereka sebagai pendengar aktif terhadap pembacaan al-Qur’an. Kedua, mereka mengakui perubahan tatanan langit setelah turunnya wahyu, di mana  mereka tidak lagi bisa mencuri dengar berita langit sebagaimana dahulu (QS. al-Jin: 8-9). Ketiga, mereka menjadi penyampai kebenaran kepada kaumnya sendiri, seperti disebut dalam ayat ketiga bahwa sebagian mereka kembali memperingatkan golongannya.[22]

Implikasi Aqidah QS. Al-Jin dalam kehidupan Muslim

Surah al-Jinn ayat 1-15 menggambarkan pengalaman sekelompok jin yang mendengar bacaan Al-Qur’an dan memberikan respons yang beragam terhadap kebenaran yang mereka dapati. Kaum jin dalam surah ini digambarkan sebagai makhluk yang memiliki akal, kemampuan mendengar, dan mampu mengambil sikap terhadap kebenaran. Mereka mendengar pembacaan al-Qur’an dan merasa terpukau oleh keindahanya, lalu mengakui kebenarannya serta menyatakan keimanan kepada Allah dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ secara sadar. (QS. al-Jin: 1-2). Hal ini menunjukkan bahwa jin memiliki kapasitas teologis seperti manusia, yaitu kemampuan menerima dakwah dan memeluk Islam.

Bahkan, lebih dari itu, ada manusia yang meminta perlindungan kepada jin, atau ada jin yang merasa dapat memberi perlindungan kepada manusia. Ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa di antara jin. Maka, jin- jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesulitan. Demikian ucapan jin lebih lanjut, sebagaimana diabadikan dalam QS. al-Jinn [72]: 6.

‎وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ ۝٦

Artinya : “Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat”.

Sekali lagi, jin meluruskan kekeliruan sementara manusia. Ada yang menduga bahwa jin memiliki kemampuan untuk membantu atau bahkan melindungi manusia guna menghindar dari ketetapan Ilahi.[11] Dalam QS. al-Ahqaf [46]: 32:

‎وَمَنْ لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللّٰهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى الْاَرْضِ وَلَيْسَ لَهٗ مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءُۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ۝٣٢

Artinya : “Siapa yang tidak memenuhi (seruan Nabi Muhammad) yang mengajak pada (agama) Allah tidak kuasa (melepaskan diri dari siksa Allah) di bumi dan tidak ada para pelindung baginya selain Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata”.

Para jin Muslim yang taat mengingatkan kaum mereka: "Siapa yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

وَّاَنَّهُمْ ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّبْعَثَ اللّٰهُ اَحَدًاۖ ۝٧

Artinya: “Sesungguhnya mereka (jin) mengira sebagaimana kamu (orang musyrik Makkah) mengira bahwa Allah tidak akan membangkitkan kembali siapa pun (pada hari Kiamat)” (QS. al-Jinn [72]: 7).

Kemampuan jin memahami ayat-ayat al-Qur'an juga ditemukan dalam riwayat yang berkaitan dengan QS. ar- Rahmân. Seperti diketahui, dalam surah itu Allah swt. mengulangi sebanyak tiga puluh satu kali “pertanyaan” yang berbunyi:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

 Artinya: "Maka, nikmat Tuhan kamu berdua yang manakah (wahai manusia dan jin) yang kamu berdua dustakan?" Ketika Rasul saw. membacakan ayat itu kepada sahabat-sahabat beliau, mereka diam tidak menyambut atau menjawab- nya. Maka, Rasul saw. bersabda:

لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ رَدًّا مِنْكُمْ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ تَعَالَى: فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ قَالُوا: لَا بِشَيْئ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ. رَوَاهُ التَّرْمِذِي.

Artinya: “Aku membacakan ayat-ayat ini kepada jin dan mereka lebih baik menyambutnya dari kalian. Setiap aku membaca: 'Fa bi ayyi âlâ'i Rabbikumâ tukadz-dzibân', mereka menyam- butnya dengan berkata: 'Tidak satu pun dari nikmat-Mu ya Allah yang kami dustakan, maka bagi-Mu segala puji."

Al-Qur'an juga menginformasikan bahwa:

‎وَّاَنَّهٗ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللّٰهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًاۗࣖ ۝١٩

Artinya: “Sesungguhnya ketika hamba Allah (Nabi Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan shalat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya.”

Dari pustaka agama, ditemukan juga riwayat-riwayat yang menggambarkan jin yang saleh memberi nasihat dan bantuan kepada manusia. Pakar hadits, Badruddîn asy-Syibli, dalam bukunya, Akâm al-Marjân, menukil sebuah riwayat dari Ibn Abi ad-Dunyâ dengan sanadnya, bahwa seorang yang bernama Abû al-Khalifah berkata: Anakku yang masih kecil meninggal dunia. Aku sungguh amat sedih, tak dapat tidur. Demi Allah, pada suatu malam, ketika aku sedang di pembaringan mengenang anakku, dan tidak seorang pun ketika itu berada di rumah, tiba-tiba aku mendengar suara memanggilku: "Assalamu'alaikum warahmatullah, wahai Khalifah", aku menjawab: "Wa'alaikumsalâm warahmatullah." Aku sungguh takut. Maka, aku membaca ayat-ayat terakhir surah Ali 'Imrân, sampai firman-Nya:

‎لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا نُزُلًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ ۝١٩٨

Artinya: “Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang selalu berbuat baik.” (QS. Ali 'Imrân [3]: 198).

Kemudian, kudengar ia berkata: "Wahai, Khalifah! Apa yang engkau inginkan secara khusus buat dirimu menyangkut hidup anakmu? Apakah engkau lebih mulia di sisi Allah daripada Nabi Muhammad saw.? Anak beliau, Ibrâhîm, pun wafat dan ketika itu beliau berucap: 'Mata berlinang, hati sedih, tetapi tidak terucap kata yang membiarkan Tuhan." Apakah engkau ingin menampik kematian bagi anakmu padahal Allah telah menetapkannya atas seluruh makhluk? Atau engkau ingin menjadikan Allah murka dengan menolak pengaturan-Nya terhadap makhluk? Demi Allah, seandainya tak ada kematian, bumi ini tak dapat menampung manusia, seandainya tak ada kesedihan, makhluk tak dapat menarik pelajaran dari kehidupan." Suara itu kemudian bertanya: "Apakah ada kebutuhanmu?" Aku bertanya (kata Abû Khalifah): "Semoga Allah merahmatimu, siapakah engkau?" "Seorang tetanggamu dari jenis jin," jawabnya. Demikian seorang jin yang taat memberi nasihat kepada manusia. Anda boleh percaya kisah ini atau tidak. Apapun pilihan Anda, agama tidak mempersalahkan. Wa Allâh A'lam.

Demikian, sekelumit gambaran tentang jin Muslim yang taat kepada Allah. Penjelasan al-Qur'an dan as- Sunnah menyangkut jin Muslim yang taat ini, cukup gamblang walau singkat. Namun, penjelasannya tentang jin kafir yang membangkang lebih gamblang dan panjang. Ini disebabkan karena jin kafir atau setan telah bertekad memusuhi dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Sangat wajar jika al-Qur'an mengungkap tipu daya mereka dalam puluhan ayat dan berulang-ulang memperingati manusia akan bahaya tipu dayanya.

Kesimpulan
Berdasarkan analisis Surah al-Jinn ayat 1–15 dalam perspektif Tafsir al-Miṣbāḥ, dapat disimpulkan bahwa jin merupakan makhluk ghaib ciptaan Allah yang memiliki akal, kehendak, dan kesadaran moral, sehingga termasuk makhluk mukallaf yang dibebani tanggung jawab akidah dan syariat sebagaimana manusia. Kemampuan jin dalam mendengar, memahami, dan merespons wahyu Al-Qur’an menunjukkan bahwa risalah Islam bersifat universal dan tidak terbatas pada manusia semata, melainkan juga mencakup makhluk berakal lainnya.

Tafsir al-Miṣbāḥ menegaskan bahwa respons jin terhadap Al-Qur’an terefleksi dalam pengakuan terhadap keagungan wahyu, penerimaan terhadap petunjuk (rusyd), serta penegasan tauhid dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan. Pengakuan ini sekaligus membantah anggapan bahwa jin memiliki kekuatan otonom yang dapat dijadikan tempat bergantung atau perlindungan oleh manusia. Justru, ketergantungan manusia kepada jin dipandang sebagai bentuk penyimpangan akidah yang berujung pada kesesatan dan kesempitan hidup, baik bagi manusia maupun jin itu sendiri.

Selain itu, Surah al-Jinn ayat 1–15 juga mengungkapkan keterbatasan jin dalam mengetahui perkara ghaib, khususnya setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, yang menandai terputusnya akses mereka terhadap informasi langit. Hal ini menegaskan bahwa pengetahuan ghaib sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah, sehingga tidak ada makhluk—termasuk jin—yang dapat mengetahuinya secara independen. Ayat-ayat tersebut juga mengklasifikasikan jin ke dalam golongan mukmin dan kafir, taat dan durhaka, dengan konsekuensi eskatologis yang berbeda sesuai dengan pilihan iman dan perbuatan masing-masing.

Dengan demikian, konsep akidah tentang jin dalam perspektif Tafsir al-Miṣbāḥ menempatkan jin sebagai makhluk berakal yang tunduk pada prinsip tauhid, terikat oleh tanggung jawab moral dan keagamaan, serta akan mempertanggungjawabkan keimanan dan amal perbuatannya di hadapan Allah. Pemahaman ini memiliki implikasi penting bagi kehidupan akidah umat Islam, yakni meneguhkan ketergantungan mutlak kepada Allah semata, meluruskan kesalahpahaman tentang jin, serta menolak segala bentuk praktik yang berpotensi mencederai kemurnian tauhid.

Daftar Pustaka
Al-Alūsī, Syihābuddīn Abī Sanā’ Maḥmūd al-Baghdādī. Rūḥ al-Ma‘ānī. Juz 29. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, t.t.

Al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Kitāb al-Adzān, no. 773.

Al-Qurṭubī, Muḥammad bin Aḥmad al-Anṣārī. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Tafsīr al-Qurṭubī). Jilid 19. Ta‘līq Muḥammad Ibrāhīm al-Ḥifnāwī dan takhrīj Maḥmūd Ḥamīd ‘Uthmān. Kairo: Dār al-Ḥadīth, t.t.

Al-Ṭabarī, Muḥammad bin Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān (Tafsīr al-Ṭabarī). Jilid 25. Taḥqīq Aḥmad Muḥammad Syākir dan Maḥmūd Muḥammad Syākir. Kairo: Dār al-Ma‘ārif, t.t.

Alu Syaikh, ‘Abdullāh bin Muḥammad bin ‘Abdurraḥmān bin Isḥāq. Lubābut Tafsīr min Ibn Katsīr. Terj. M. Abdul Ghoffar E.M. dan Abu Ihsan al-Atsari. Jilid 8. Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi‘i, 2005.

Aswad, Hajratul. Struktur dan Makna Kata Kerja di dalam Surah al-Jinn serta Implikasi Teologisnya. Skripsi. Institut Agama Islam Negeri Parepare, 2025.

At-Tirmiżī, Muḥammad bin ‘Īsā. Sunan at-Tirmiżī. Kitāb at-Tafsīr, no. 3323.

Ibnu Katsīr. Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm. Jilid 4. Beirut: Dār al-Fikr, 2000.

Ibrahim Abdul Alim. Rujukan Masalah Jin dan Sihir. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.

Munaya Shofa. “Perilaku Sesat dan Menyesatkan Jin Kafir dalam Surat al-Jinn.” AL-AFKAR: Journal for Islamic Studies 7, no. 2 (2004): 257.

Nadia Lazar Zukhruf. Telaah Penciptaan dan Keagamaan Jin Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Miṣbāḥ. Skripsi. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel, 2019.

Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Miṣbāḥ: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Vol. 14. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

———. Yang Halus dan Tak Terlihat: Jin dalam Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2010.

Sofyan, Syafran. Iblis Musuh. Jakarta: Lentera Hati, t.t.

Sya‘rāwī, Muḥammad Mutawallī. Tafsīr wa al-Khawāṭir al-Īmāniyyah. Jilid 19. Kairo: Akhbār al-Yaum, t.t.

Zuhdi bin Mohd Amin, Mohd. “Jin Menurut Perspektif Sunnah dan Budaya Melayu: Analisis Kesan dan Kepercayaan dalam Kalangan Remaja.” Disertasi. Jabatan Al-Qur’an dan Al-Hadith, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 2014.

[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (Shahih al-Bukhari, kitab "al-Adzan", no. 773) dan at-Tirmidzi (Sunan at-Tirmidzi, kitab "at-Tafsir", no. 3323).

[2] Syafran Sofyan, Iblis Musuh, 2.

[3] Mohd Zuhdi bin Mohd Amin, “Jin Menurut Perspektif Sunnah dan Budaya Melayu: Analisis Kesan dan Kepercayaan Dalam Kalangan Remaja”, Disertasi Jabatan Al-Quran dan Al-Hadith Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya Kuala Lumpur, 2014, 9.

[4] Ibrahim Abdul Alim, Rujukan Masalah Jin dan Sihir, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998), 8.

[5] Abdul Hamid al-Suhaibani, Misteri Alam Jin, (Jakarta: Dar al-Haq, 2015), 6.

[6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Miṣbāḥ: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, vol. 14 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 3-5.

[7] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Lubābut Tafsīr min Ibn Katsīr, terj. M. Abdul Ghoffar E.M. dan Abu Ihsan al-Atsari, jilid 8 (Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi‘i, 2005), 307.

[8] Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Tafsir al-Qurṭubī), jilid 19, ta‘līq Muhammad Ibrahim al-Hifnawi dan takhrīj Mahmud Hamid Utsman (Kairo: Dār al-Ḥadīth, t.t.), 316-337.

[9] Muhammad bin Jarir al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān (Tafsir al-Ṭabarī), jilid 25, tahqīq Ahmad Muhammad Syakir dan Mahmud Muhammad Syakir (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, t.t.), 564.

[10] Quraish Shihab, Tafsir al-Miṣbāḥ, vol. 14, 6-7.

[11] Quraish Shihab, Tafsir al-Miṣbāḥ, vol. 14, 7-10.

[12] Syihabuddin Abi Sana’ Mahmud Al-Alusy Al Baghdadi, Ruh Al-Ma’ani, juz 29, hal. 85.

[13] Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Tafsir wal Khawatir al-Imaniyah, Jilid 19, hal. 215

[14] M. Quraish Shihab, Yang Halus dan Tak Terlihat: Jin dalam Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2010), 131.

[15] Shihab, Yang Halus dan Tak Terlihat, 132.

[16] Shihab, Yang Halus dan Tak Terlihat, 133-134.

[17] Munaya Shofa, “Perilaku Sesat dan Menyesatkan Jin Kafir Dalam Surat Al-Jin,” AL-AFKAR: Journal for Islamic Studies, vol. 7, no. 2 (2004): 257.

[18] Nadia Lazar Zukhruf, “Telaah Penciptaan dan Keagamaan Jin Menurut M. Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Misbah” (Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel, 2019), 27.

[19] Nadia Lazar Zukhruf, “Telaah Penciptaan, 29.

[20] Qurais Shihab, Yang Tersembunyi, 124.

[21] Hajratul Aswad, Struktur dan Makna Kata Kerja di dalam Surah al-Jinn serta Implikasi Teologisnya (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Parepare, 2025), 35.

[22] Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm, Jilid 4 (Beirut: Dār al-Fikr, 2000), hlm. 395.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.