Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kritik terhadap Hustle Culture: Sebuah Renungan Sila Ketuhanan atas Manusia yang Lupa Diri

Hustle Culture

Oleh: Muhammad Nabil Mutawakkil Sukoco

Pendahuluan

Di era digital yang serba cepat ini, kita sering disuguhi oleh konten-konten motivasi di media sosial tentang perlunya bekerja keras tanpa henti. Bangun pagi-pagi sekali, kerjakan tugas sampai larut malam, manfaatkan setiap detik untuk produktivitas, dan kejar target karier setinggi mungkin. Fenomena ini dikenal dengan istilah hustle culture atau budaya kerja gila. Banyak anak muda yang menjadikan hustle sebagai gaya hidup, bahkan membanggakan kelelahan (burnout) sebagai simbol prestasi.

Metris, Sulaeman, dan Wakhidah (2024) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa hustle culture adalah budaya bekerja terlalu keras dan memaksakan diri hingga batas kemampuan untuk mencapai tujuan kapitalis berupa kekayaan, kemakmuran, dan kesuksesan secepat mungkin. Fenomena ini mulai berkembang terutama di kalangan generasi milenial dan Z karena mereka mengutamakan produktivitas, pekerjaan, dan pendapatan di atas kesehatan mental, hubungan dengan orang lain, dan kebahagiaan pribadi.

Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi memang membuka lapangan pekerjaan dan peluang bisnis seluas-luasnya. Namun di balik kemudahan itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: kapan manusia berhenti untuk sekadar "ada" dan merenung? Ketika semua orang sibuk mengejar target duniawi, Sila Pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa", hadir sebagai tamparan halus sekaligus filter moral yang mengingatkan bahwa manusia bukanlah mesin. Manusia adalah makhluk yang butuh jeda, butuh refleksi, dan butuh hubungan vertikal dengan Sang Pencipta.

Pembahasan

Membedah Hustle Culture: Antara Produktivitas dan Eksploitasi Diri
Hustle culture mengajarkan bahwa waktu adalah uang. Diam adalah kegagalan. Istirahat adalah kemalasan. Akibatnya, banyak generasi muda yang terjebak dalam lingkaran setan: bekerja untuk membeli barang-barang mewah yang kemudian dipamerkan di media sosial, lalu bekerja lebih keras lagi untuk mempertahankan gaya hidup tersebut. Tidak ada waktu untuk keluarga, tidak ada waktu untuk berkumpul dengan tetangga, dan yang paling parah, tidak ada waktu untuk berdialog dengan hati nurani sendiri.

Adawiyah (2025) dalam kajian Analisis Wacana Kritisnya mengungkapkan bahwa hustle culture tidak hanya memengaruhi identitas dan gaya hidup generasi Z, tetapi juga menimbulkan tekanan sosial yang berdampak pada kesehatan mental. Banyak freelancer Gen Z menunjukkan pencapaian finansial dan gaya hidup mewah di media sosial, yang justru memperkuat keyakinan bahwa bekerja tanpa henti adalah kunci kesuksesan. Namun di balik kilau tersebut, terdapat beban mental berupa kecemasan, ketakutan tertinggal (fear of missing out), hingga kelelahan kronis.

Senada dengan itu, Ares dan Prabowo (2025) dalam perspektif teologi Kristen menegaskan bahwa hustle culture membuat seseorang bekerja tanpa memikirkan istirahat, yang berakibat pada gangguan kesehatan fisik maupun mental. Gangguan kesehatan mental membuat seseorang yang bekerja keras memiliki rasa takut, stres, khawatir, dan hal-hal lain yang mengganggu kesehatan jiwa. Bahkan dalam konteks keagamaan, fenomena ini membuat orang melupakan Tuhan atau lebih mengutamakan pekerjaan dibandingkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta.

Sila Ketuhanan sebagai "Rem" di Tengah Laju Globalisasi
Di tengah hiruk-pikuk globalisasi yang memacu kita untuk terus berlari, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa berfungsi sebagai "rem" atau pengendali. Nilai moral yang terkandung di dalamnya bukan hanya tentang toleransi antar umat beragama, tetapi juga tentang hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya.

Maharini dkk. (2025) dalam kajian perspektif Al-Qur'an menawarkan konsep harmonisasi antara dunia dan akhirat. Melalui QS. Al-Qashash: 77, mereka mengingatkan agar manusia tidak melupakan bagiannya di dunia, tetapi juga tidak boleh terpaku hanya pada kehidupan duniawi. Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara mengejar kebahagiaan akhirat dan menikmati rezeki duniawi, yang menunjukkan bahwa hustle culture yang berlebihan dapat mengabaikan aspek spiritual dan kebahagiaan jangka panjang. Lebih lanjut, QS. An-Naba': 9-11 mengajarkan bahwa Allah menjadikan tidur untuk istirahat, malam sebagai pakaian, dan siang untuk mencari penghidupan. Ini menegaskan bahwa ritme kehidupan sudah diatur oleh Tuhan, dan manusia tidak boleh mengganggu keseimbangan tersebut dengan bekerja tanpa henti.

Ketika seseorang meyakini adanya Tuhan, ia akan paham bahwa ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahwa kesuksesan bukan hanya soal berapa banyak uang yang dikumpulkan, tetapi seberapa banyak makna yang dihadirkan. Nilai ketuhanan mengajarkan kita untuk tidak serakah, untuk tidak mengeksploitasi diri sendiri hingga lupa waktu ibadah, lupa waktu berkumpul keluarga, dan lupa bahwa tujuan hidup bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Relevansi di Era Digital dan Tantangan Kepemimpinan
Fenomena hustle culture sangat terlihat di platform seperti TikTok dan Instagram, di mana para content creator berlomba-lomba membuat konten setiap hari tanpa henti. Jika tidak hati-hati, mereka akan kehilangan esensi diri. Sitorus (2024) dalam kajiannya tentang kepemimpinan pendeta yang adaptif menyoroti bahwa hustle culture telah menjadi fenomena sosial yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dinamika kepemimpinan di lingkungan gerejawi. Dalam konteks kepemimpinan, hustle culture menuntut pemimpin untuk terus produktif dan berkinerja tinggi, namun seringkali mengorbankan keseimbangan antara tugas dan kesehatan pribadi.

Sitorus lebih lanjut menawarkan model kepemimpinan adaptif yang mampu mendialogkan situasi jemaat yang dipenuhi kompleksitas kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip seperti kerja keras yang terarah, ketahanan rohani, dan fokus pada tujuan yang didasarkan pada nilai-nilai etika dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak sekadar "bekerja gila", tetapi bekerja dengan makna dan keseimbangan.

Penutup
Hustle culture bukanlah sesuatu yang salah selama masih dalam koridor kemanusiaan dan ketuhanan. Bekerja keras itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan dalam berbagai agama. Namun, ketika produktivitas menjadi berhala baru yang mengorbankan kesehatan mental, waktu ibadah, dan hubungan sosial, maka kita perlu bertanya: "Untuk apa semua ini?"

Pancasila, khususnya Sila Ketuhanan, hadir untuk mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang mulia, bukan sekadar alat produksi. Di tengah gempuran globalisasi yang menuntut kita untuk selalu "online" dan selalu produktif, kita perlu berani untuk "offline" sejenak. Bukan untuk menghindari tanggung jawab, tetapi untuk mengisi baterai spiritual agar ketika kembali bekerja, kita melakukannya dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih.

Sebagaimana pesan dari berbagai perspektif yang telah diuraikan—baik dari kajian psikologi, analisis wacana kritis, teologi Kristen, maupun perspektif Al-Qur'an—keseimbangan adalah kunci. Generasi muda Indonesia bisa tetap berinovasi dan berkarya tanpa harus kehilangan jati diri sebagai makhluk Tuhan. Globalisasi akan membawa berkah jika kita tidak lupa kepada-Nya. Mari kita jadikan Sila Pertama sebagai filter utama agar kita tidak menjadi manusia yang lupa diri di tengah hiruk-pikuk dunia yang sementara.

Dengan merenungkan nilai ketuhanan, kita diajak untuk tidak hanya menjadi pribadi yang produktif, tetapi juga pribadi yang berjiwa tenang, damai, dan penuh makna. Sebab pada akhirnya, kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa damai hati kita saat merebahkan kepala di penghujung malam.

Daftar Pustaka
Adawiyah, R. (2025). Di Balik Kilau Hustle Culture: Gen Z dan Beban Mental Pekerjaan Freelance Kajian Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk. Jurnal Ilmu Komunikasi, 12(1), 1-21.

Ares, A. G., & Prabowo, P. D. (2025). Ketenangan Jiwa Di Tengah Budaya Gila Kerja "Hustle Culture": Refleksi Mazmur 131:1-3. Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika, 25(1), 60-69.

Maharini, R., Safitri, S. S., Khayrani, S., & Fatimah, S. M. (2025). Harmonisasi Antara Dunia dan Akhirat: Kajian Kritis Terhadap Fenomena Hustle Culture pada Generasi Z dalam Perspektif Al-Qur'an. Jurnal Studi Al-Qur'an, 15(1), 140-155.

Metris, D., Sulaeman, M., & Wakhidah, E. N. (2024). Hustle Culture: Mencermati Tren Perilaku Yang Mendorong Kesuksesan Tanpa Henti. AL-KALAM: Jurnal Komunikasi Bisnis dan Manajemen, 11(1), 120-130.

Sitorus, G. H. (2024). Kepemimpinan Pendeta yang Adaptif: Suatu Respons Terhadap Fenomena Hustle Culture Saat Ini. TRACK: Jurnal Kepemimpinan Kristen, Teologi, dan Entrepreneurship, 3(1), 90-111.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.