Kondisi dunia kerja di Indonesia telah mengalami banyak perubahan, saat ini dunia kerja Indonesia di dominasi oleh para gen-z. Berdasarkan laporan BPS atau Badan Pusat Statistik yang dilansir KarirLab dari Antara, jumlah Gen-Z tercatat 75,49 juta jiwa atau 27,94% dari total populasi di Indonesia. Karena mereka tumbuh di era internet sehingga memiliki kesadaran yang lebih terhadap berbagai isu sampai dilabeli sebagai ‘woke generation’, maka jangan kaget kalau mereka lantang membicarakan tentang berbagai isu seperti kesejahteraan buruh, lingkungan kerja toxic, dan burnout.

Dengan hadirnya gen-z yang baru ‘nyemplung’ ke dunia kerja mereka juga membawa angin segar khususnya dalam isu budaya di dunia kerja, meski jadi angkatan yang paling muda di dunia kerja dan minim pengalaman tapi mereka tidak bisa dianggap remeh.  Karena pada dasarnya mereka menginginkan lingkungan kerja yang dapat menciptakan sinergi, dan dapat berkolaborasi dengan baik. Maka dengan itu mayoritas Gen-Z saat ini juga didukung dengan soft skill ataupun hard skill yang sangat baik, terutama dalam pengoperasian teknologi.

Sehingga saat mereka melihat realita di dunia kerja banyak yang mereka harapkan dapat berubah menjadi lebih baik ,seperti berikut ini :

  1. Adanya ruang untuk berpendapat, banyak gen-z yang merasa kalau suara mereka tidak didengar jadinya ruang untuk berdiskusi sangat sempit karena mereka dipandang sebelah mata
  2. Underpaid, hal ini juga merupakan isu yang paling mengkhawatirkan karena banyak pekerja yang gajinya jauh dibawah UMR wilayahnya. Bahkan banyak anak magang yang tidak diberikan gaji, jadinya banyak gen-z yang tidak bisa punya tabungan dan investasi karena gajinya habis untuk memenuhi kebutuhan primer nya.
  3. Work-Life Balance, topik ini juga menjadi prioritas bagi gen-z karena belajar dari yang telah terjadi sebelumnya banyak pekerja yang burnout karena stres sama pekerjaannya, di kantor di tuntut dengan pekerjaan yang segunung dan harus perfect tapi di saat libur / weekend masih dihubungi terkait pekerjaannya juga.
  4. Tidak adanya diskriminasi, karena diskriminasi masih umum terjadi tidak hanya dari atasan kepada bawahannya bahkan sesama rekan kerja pun hal ini masih marak terjadi. Diskriminasi tidak hanya meliputi unsur suku, agama, ataupun ras, tetapi juga dari latar belakang pendidikan.