Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Mahasiswa Plagiat, Turun Temurun atau Kemalasan?

plagiarism

Mahasiswa.co.id - Belakangan ini sempat ramai di media sosial X tentang seorang mahasiswa fakultas hukum salah satu universitas di Indonesia yang skripsinya menjiplak skripsi milik orang lain. Bukan hanya judul saja yang diplagiat, tetapi hampir keseluruhan dari skripsi. Di era digital yang serba instan ini, semakin mudah mahasiswa terhasut untuk menyalin milik orang lain. Pertanyaannya, apakah plagiarisme di kalangan mahasiswa merupakan”turun temurun” atau kemalasan belajar yang diadopsi?

Suatu Lembaga yang berkolaborasi dengan laman The Cronicleof Higher Education itu mengadakan survei kepada 1055 mahasiswa, yaitu mahasiswa universitas swasta dan negeri. Berdasarkan pada survei tersebut diperoleh data bahwa sepanjang sepuluh tahun terakhir sebesar 55% mahasiswa melakukan aksi plagiat skripsi. Pada kondisi ini pun dikuatkan oleh adanya data dari Kemendikbud (2013) bahwa kasus plagiat di Indonesia mendapati 808 kasus plagiat pada proses sertifikasi dosen.

Terdapat beberapa faktor terjadinya plagiat. Pertama adalah kurangnya literasi digital di kalangan mahasiswa menjadi penyebab utama. Kesulitan mahasiswa dalam membedakan pencurian intelektual dengan referensi masih kerap terjadi. Kemudahan dalam akses informasi di era sekarang yang membuat mereka terlena untuk sekedar “copy-paste” tanpa memahami konsep sitasi yang benar. Dari situ, mereka malah menumpulkan kemampuan dalam berpikir kritis, alih-alih belajar.

Faktor yang kedua yaitu adanya tekanan akademik. Pada era globalisasi tuntutan akademik semakin tinggi karena semakin tinggi kompetitif antar individu. Tuntutan kecepatan mahasiswa menyelesaikan tugas dan mendapatkan nilai tinggi ini membuat mahasiswa kewalahan. Karena ini, mereka mengambil cara instan yaitu dengan menjiplak.

Lalu faktor yang ketiga adalah budaya instan. Cara generasi muda belajar dan menyelesaikan tugas dapat dipengaruhi oleh budaya instan. Mencari cara cepat dan mudah merupakan kebiasaan mereka. Kondisi ini menjadikan mereka rentan untuk melakukan plagiarisme.

Namun di sisi lain, plagiarisme ini dapat menjadi kebiasaan yang “menular”. Mahasiswa yang melihat kakak tingkat mereka yang berhasil mencontek dan lolos dari hukuman, terhasut untuk mengikuti jejak tersebut. Dengan harapan, bahwa mereka juga mendapatkan hasil yang sama.

Plagiarisme di kalangan mahasiswa dapat diatasi, yaitu institusi pendidikan memperkuat edukasi kepada mahasiswa terkait plagiarisme. Edukasi ini harus dijalankan dengan menyeluruh serta berkelanjutan, sampai mahasiswa benar-benar memahami definisi plagiarisme, dampak, dan cara untuk menjauhinya. Tak lupa juga menerapkan kebijakan tegas dengan sanksi yang jelas dan konsisten guna memberikan efek jera untuk pelaku plagiarisme.

Dosen juga berperan penting untuk mengatasi plagiarisme. Dosen perlu memberikan tugas yang mendorong dan mengasah mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif, sehingga mahasiswa tidak terhasut untuk menyalin tugas orang lain. Dosen juga perlu mengajarkan cara sitasi yang benar dan tepat, agar mahasiswa dapat memberikan referensi yang memenuhi standar akademik.

Mahasiswa juga harus mempunyai kesadaran diri bahwa kejujuran dan integritas dalam belajar merupakan hal yang penting. Mereka harus memahami bahwa plagiarisme adalah tindakan yang tidak terpuji. Plagiarisme bisa menjadi racun dan menghancurkan kredibilitas bahkan masa depan akademisnya. Menyelesaikan tugas dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri serta berani mengakui keterbatasan dirinya sendiri adalah kunci.

Plagiarisme merupakan suatu masalah serius yang harus ditangani dengan serius. Upaya yang komprehensif dan berkelanjutan dibutuhkan dalam menangani plagiarisme di kalangan mahasiswa. Diharapkan dengan kerjasama dari berbagai pihak dapat meminimalisir plagiarisme dan menciptakan lingkungan pendidikan dengan budaya belajar yang sehat dan menjunjung tinggi integritas.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.