Oleh: Dino Kese adalah mahasiswa program studi ilmu Filsafat IFTK Ledalero

Pendahuluan

Dunia universal dewasa ini, sedang dikuasai oleh teknologi. Teknologi telah berkembang pesat dan memberikan pengaruh signifikan dalam pelbagai bentuk kehidupan, termasuk persoalan mengenai penyajian informasi. Informasi yang disalurkan via media digital tidak sevalid informasi-informasi yang disebarkan oleh media cetak. Media cetak menjadi sumber yang esensial dalam mendapatkan informasi. Media cetak, baik koran maupun majalah yang sebelumnya menjadi bahan integral dalam dunia informasi masyarakat luas, kini sedang menjumpai ancaman dan beradu saing dengan teknologi digital. Beragam program digital, aplikasi berita online, media sosial dan situs web berita (blogspot) misalnya, telah merubah paradigma media cetak dalam memberikan informasi secara cepat, tepat, mudah dan murah. Lahirnya dunia digital, di satu sisi memberi pengaruh terhadap industri media, di sisi lain merombak paradigma masyarakat luas mengenai sajian informasi yang diterima. Pola pikir masyarakat mudah dipengaruhi dengan informasi-informasi yang telah diakses melalui media digital. Walaupun, berita-berita yang didistribusikan di media digital tidak semuanya terverifikasi. Penyebaran hoaks, dan minimnya informasi yang integritas menjadi hal yang lumrah dalam dunia digital. Akan tetapi, masyarakat tetap berpegang teguh dan terus menerus mengakses informasi di media digital ketimbang media cetak. Meskipun revolusi digital berkembang pesat, akan tetapi tidak menutup peluang media cetak untuk terus bersaing dengan dunia digital. Aspek ini dipertahankan penulis karena media cetak telah berkontribusi besar dalam memberikan informasi yang baik dan benar. Memfilterkan berita dengan data-data yang jelas, dan berintegritas misalnya. Aspek ini berbanding terbalik dengan media digital, yang mana sebagian informasi yang disajikan di media digital tidak digali secara mendetail. Pendeknya, berita yang disajikan di media digital tidak berkualitas.

Perkembangan Media Digital dan Dampaknya pada Media Cetak

Sebelum media digital bereksis, media cetak menjadi sumber informasi yang paling integritas dan kredibel di tengah masyarakat luas. Koran dan majalah sudah memberi peran krusial dalam kehidupan, di antaranya berkontribusi menyampaikan berita aktual dengan deskripsi mendalam, dan data-data yang akurat. Akan tetapi, hadirnya teknologi digital (internet) mampu menggeser eksistensi media cetak. Media cetak kurang diminati oleh masyarakat luas. Masyarakat lebih memilih internet untuk mengakses informasi. Sehingga, muncul aplikasi berbasis digital, situs web dan media sosial yang memberikan keunggulan tersendiri. Platfrom-platfrom ini dapat diakses kapan dan di mana saja. Oleh karenanya, masyarakat dianggap sebagai homo oeconomicus. Artinya, manusia berpikir dan bertindak selayaknya robot yang bisa diperhitungkan secara detail. Penulis mendeskripsikan secara singkat penyebab minimnya minat pembaca di media cetak, di antaranya; pertama, kecepatan dan kenyamanan yang diberikan oleh media digital. Dalam dunia digital, informasi selalu tersedia. Pembaca tidak menunggu edisi cetak yang terbit seminggu atau setiap hari sekali. Pembaca mendapatkan informasi dalam hitungan menit dan detik, lewat handphone dan laptop. Bahkan dapat mengakses informasi sesuai keinginan pembaca baik dalam skala nasional maupun internasional selama platfrom terhubung dengan internet. Kedua, media digital menciptakan pelbagai kebebasan kepada pembaca dalam hal menyampaikan perspektif yang berbeda dengan cara berkomentar, share berita melalui media sosial ataupun mendiskusikan berita dengan orang lain lewat saluran media sosial. Kepandaian-kepandaian ini mengakibatkan media cetak merasa dimarginalisasikan dan sulit untuk bersaing. Dalam hal ini, Watimena mengartikannya sebagai cyborg, separuh manusia dan separuh mesin. Ketiga, media digital dapat diakses dengan harga terjangkau. Cukup mempunyai kuota internet ataupun wifi, ketimbang media cetak yang membutuh biaya lebih. Pembaca digital dapat mengakses informasi di media digital cukup dengan klik. Sementara media cetak membutuhkan biaya lebih, baik dalam proses produksi (percetakan) maupun menyebarluaskannya ke tengah masyarakat. Oleh karenanya pembaca media cetak membayar koran atau majalah dalam setiap cetakan. Poin ini menghambat pembaca dalam dunia cetak, spesifiknya para pelajar yang masih menjadi beban keluarga.

Media Cetak: Tantangan dan Masa Depannya di Era Digital

Hasil survei Media Index yang dilakukan oleh Nielsen Media menunjukkan penetrasi media cetak terhadap pembacanya semakin menurun sejak tahun 2005. Ini menandakan media cetak mengalami penurunan yang amat signifikan. Hal ini disebabkan karena masyarakat luas, baik anak-anak hingga orang tua sudah terbiasa mengakses informasi lewat perangkat digital. Anak-anak dilatih dan disuguhkan dengan informasi dalam platfrom-platfrom digital. Kebiasaan ini selalu dipertahankan sehingga anak-anak atau generasi muda sulit keluar dari zona nyaman. Oleh karena itu, memunculkan rasa kekhawatiran pada diri penulis akan hilangnya gairah generasi muda dalam mencari dan membaca informasi melalui media cetak. Aspek lain yang memberi ancaman terhadap media cetak ialah media sosial. Media sosial berpengaruh besar dalam meminimalisir pembaca di media cetak. Hal ini dikarenankan, mayoritas manusia dewasa ini sudah mempunyai akun sendiri di media sosial sehingga mereka menjadikan medsos sebagai sumber informasi. Media sosial, seperti Twitter, Facebook, Whatsapp, Tik Tok, Instagram, telah banyak mempermudah penyebaran dan pertukaran informasi. Informasi-informasi dapat disebarkan dengan cepat. Dapat dibagikan dengan teman atau followers masing-masing misalnya. Oleh karena itu, bereksisnya media sosial mampu mengubah paradigma manusia dalam berelasi dengan berita. Ini mengakibatkan pula minimnya ketergantungan manusia pada media cetak dalam memperoleh atau mencari informasi. Hemat penulis, sulit untuk memprediksi masa depan media cetak di tengah berkembangnya arus digital. Akan tetapi, penulis menawarkan beberapa solusi dengan maksud media cetak tetap bereksis dan relevan di dunia digital. Pertama, media cetak mempromosikan poin-poin yang tidak dapat dilakukan oleh media digital. Media cetak mesti menyebar atau memberikan informasi sesuai kebutuhan pembaca. Hal ini dapat dilakukan dengan menggali berita dengan sangat jernih, memberikan argumen yang tajam dan didukung oleh data yang valid. Poin ini dapat mempertahankan integritas media cetak. Kedua, media cetak mengedepankan tata letak dan desain yang menarik. Bermaksud bahwa, model atau bentuk tulisan dalam media cetak mesti ditata rapi sesuai dengan keinginan pembaca (homo digitalis), serta diimbangi pula dengan tampilan yang memukau pembaca. Ilustrasi atau gambar yang menarik, sampul yang rapi, tata letak yang efisien dan kertas yang bersih misalnya. Ketiga, mencetak informasi seperlunya saja. Poin ketiga ini mendeskripsikan bahwa penulis media cetak mesti menyaring tulisan atau berita semaksimal mungkin. Sajikan berita secara padat, jelas dan mudah dipahami pembaca. Ketimbang, menyebarkan tulisan yang panjang namun tidak ada poin penting di dalamnya. Ini akan mengakibatnya hilangnya gairah para pembaca. Keeempat, menggali relasi dengan pembaca setia. Poin ini menjelaskan bahwa media cetak dapat mempertahankan hubungan dengan pembaca setianya dengan cara menawarkan beragam cara yang lebih personal atau langsung. Mengadakan satu forum khusus untuk berdiskusi, memberikan kesempatan kepada pembaca untuk berkomentar melalui surat pembaca, kolom khusus misalnya. Hemat penulis, cara bisa menjaga ikatan emosional dengan pembaca. Kelima, media cetak menerbitkan edisi khusus. Poin ini bermaksud bahwa, redaksi menerbitkan berita-berita yang amat esensial dalam kehidupan, kemudian dikumpulkan dalam satu majalah atau buku. Keenam, harga yang terjangkau. Hemat penulis, untuk tetap bersaing dengan media digital, media cetak juga menawarkan harga yang terjangkau tanpa mengorbankan kualitas dan integritas berita. Dengan harga yang terjangkau ini, media cetak tetap menarik minat pembaca yang lebih tertarik membaca format fisik. Bahkan redaksi media cetak juga memberi penawaran khusus (diskon) bagi pembaca setia. Ketujuh, melakukan promosi. Hemat penulis mayoritas anak muda dewasa ini belum mengenal media cetak. Oleh karena itu, media cetak mesti dipromosikan, disuarakan dalam setiap event-event penting. Seminar, pameran, pentas seni, dan setiap sekolah misalnya. Atau redaksi media cetak bekerja sama dengan instansi (komunitas) dan lembaga pendidikan.

Kesimpulan

Umumnya, ancaman dan tantangan besar menggerogoti media cetak yang disaingi dengan berkembang pesatnya media digital. Program-program digital memberikan kenyamanan, kecepatan dan interaktivitas yang lebih dengan pembaca. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan media cetak bertahan dan tetap aktual serta terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Berkontribusi dalam menyebarluaskan berita-berita yang berintergritas, dan mendalam dengan data yang valid. Dengan demikian disimpulkan bahwa, media cetak akan tetap bereksis di era digital dengan menerapkan informasi yang berintegritas serta mempunyai peran krusial dalam menyebarkan informasi. Daftar Pustaka Watimena, A. A Reza. Memaknai Digitalitas; sebuah Filsafat dunia Digital. Yogyakarta: Kanisius, 2023. Hardiman, Budi. Aku Klik, maka Aku Ada. Jakarta: Kanisius, 2021. Kompas, Tim. “Survei Nielsen: Pembaca Media Cetak Makin Turun”, dalam Kompas.com, https://ekonomi.kompas.com.