Memaknai Sabar dan Ikhlas dalam Proses Pendewasaan
Oleh Hanifah Sari
Mahasiswa.co.id - Kata sabar dan ikhlas seperti tidak pernah ada habisnya dari kehidupan kita sehari-hari. Sebagai seseorang yang mulai beranjak dewasa, kita banyak dihadapkan dengan tantangan hidup yang begitu kompleks. Kehidupan kita juga tak seindah bayangan kita ketika masih berusia dini. Dulu kita selalu berangan-angan ingin segera dewasa, dengan ekspetasi jadi orang dewasa itu bebas mewujudkan apa yang kita inginkan tanpa pernah berpikir dewasa itu semakin berat, penuh lika-liku tuntutan, dan tanggung jawab.
Apa Sabar dan Ikhlas itu? Sabar yaitu tidak membiarkan segala amarah, keinginan, godaan menguasai kita dengan bertahan dalam berbagai cobaan. Sedangkan Ikhlas adalah menerima segala ketentuan dan tulus beribadah hanya untuk Allah.
Bukan perkara mudah mengimplementasikan dua hal tersebut, kelihatanya enteng saat kita berbicara untuk selalu sabar dan ikhlas dalam menggapai cita-cita yang selalu kita usahakan dan semogakan. Nyatanya sabar dan ikhlas itu susah! saat kita diberikan cobaan kita masih suka mengeluh, menganggap Allah tidak adil, sampai-sampai kehilangan harapan.
Wajar apabila dalam proses menuju dewasa kita masih berpikiran seperti itu, kita hanyalah manusia yang tak sempurna, tetapi sebagai manusia yang diciptakan sebaik mungkin, kita perlu mengubah sudut pandang kita, pola pikir kita agar lebih positif dalam menghadapi berbagai cobaan yang terjadi dalam hidup kita.
Sebagaimana telah disebutkan dalam surah Al-Insyirah ayat 6 "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" Ayat tersebut mengajarkan kita bahwa tidak ada kesulitan yang abadi melainkan setiap kesulitan pasti selalu ada kemudahan.
Saat perjuangan tak sesuai dengan keinginan Saat kita sudah berjuang mewujudkan apa yang kita impikan namun kenyataannya keinginan itu tak terwujud. Rasanya seperti usaha menghianati hasil, meskipun pepatah mengatakan usaha tak pernah menghianati hasil. Rasanya tidak adil, kita sudah berusaha namun usaha kita seperti sia-sia. Namun dibalik itu semua saat kita mampu menjalani dengan sabar dan ikhlas, bahwa semuanya adalah skenario terbaik Allah maka kita akan merasa tenang dan ditukar dengan hal lain yang lebih bermakna.
Hal itu ditekankan pada potongan Qs. Al-Baqarah ayat 216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.
Saat cobaan selalu hadir dalam hidup Cobaan memang selalu ada pada setiap manusia, entah itu cobaan ekonomi, cinta, kehilangan, kegagalan, dan sebagainya. Seseorang tidak pernah berharap hidupnya penuh rasa sakit atas segala cobaan yang telah dilaluinya. Tetapi sesungguhnya rasa sakit yang kita derita apabila kita percaya akan kehendak Allah pasti akan memberikan hasil yang indah entah itu di kehidupan dunia maupun akhirat.
Hal itu diperkuat dengan kutipan Qs Al-Baqarah 286 yang berbunyi “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya”.
Saat hidup seperti tak pernah menemukan ketenangan Saat hidup tak merasa tenang, karena terus memikirkan tuntutan yang berasal dari diri sendiri maupun orang lain, seringkali kita merasa arah hidupnya tak menentu, tidak jelas mau mulai dari mana dan mau dibawa ke mana. Jawabanya adalah kita perlu meminta petunjuk dan pertolongan dari Allah.
Dengan menerapkan rasa syukur atas segala kenikmatan yang telah diberi, memperluas kesabaran, dan ikhlas menjalani kehidupan semata-mata hanya karena Allah maka ketenangan itu akan didapatkan asal kita libatkan semua urusan kita kepada Allah. Sesungguhnya Allah menambah nikmat apabila kita bersyukur.
Sabar dan ikhlas adalah komponen utama dalam menjalani kehidupan Jangan pernah hilang harapan, apalagi hilang arah, perjalanan kita masih panjang untuk menjadi sosok yang lebih baik setiap harinya. Tugas kita hanya menjalani hidup dengan sebaik mungkin, berdoa, dan menyerahkan kepada Allah. Jika kita bisa memaknai sabar dan ikhlas, hal tersebut bisa jadi pengalaman yang melegakan. Petunjuk Allah tak pernah hilang. Progres sekecil apapun itu harus dihargai dan disyukuri. Semoga dengan terbentuknya rasa sabar dan ikhlas, kita menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan lebih kuat.
Biodata Penulis: Desi Hanifah Mahasiswa Manajemen Administrasi Universitas Sebelas MaretM
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0