Mahasiswa.co.id - Terbangun dari tidur, Ayla perlahan membuka mata. Sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela kamarnya. Sambil menghela napas ia menyadari bahwa hari baru telah tiba, yang rasanya tidak akan jauh beda dengan hari-hari sebelumnya.
"Huh! Pasti bakal sama saja dengan hari kemarin". Batinnya dalam hati, merasa bosan dengan aktivitas hidupnya.
Pelan-pelan ia menggerakkan tubuhnya, mencoba turun dari kasur tinggi yang tidak sesuai dengan ukuran badannya yang kurus dan pendek. Kakinya berusaha menyentuh lantai keramik, namun tak sampai-sampai. Meski dengan sedikit kesulitan, ia tetap berupaya dan akhirnya berhasil menjatuhkan badannya keatas lantai.
"Selalu saja begini" lirihnya pelan.
Ayla kemudian menatap kakinya yang bengkok. Ia mengidap penyakit clubfoot sejak lahir, yaitu kaki yang terpelintir dari bentuk atau posisi normalnya. Sejenak, pikirannya melayang ke masa lalu. Masa dimana berbagai ikhtiar pengobatan pernah dilakukan. Namun sampai detik ini tak pernah membuahkan hasil, sama saja - ia tetap tidak bisa berjalan normal hingga usia menginjak kelas 5 MI.
Ayla bergulat dengan hati dan pikirannya, "Capek, aku capek! Mau sampai kapan aku akan menjalani hidup layaknya orang mati seperti ini. Yaa Allah, apa salahku, sampai Engkau membiarkanku menderita tanpa henti?" Ayla menjerit sekeras-kerasnya dalam benak, yang tak seorangpun mendengar kecuali dirinya dan mungkin juga Tuhannya. Mana berani dia mengeluarkan suara, khawatir ayah dan ibunya mendengar. Dan pada nyatanya, ia memang tak pernah didengar.
Seperti biasa, Ayla bergerak dengan cara merangkak. Kaki bengkoknya tak cukup kuat menumpu badannya.
Dia bisa saja berjalan, meski terpatah-patah, hanya beberapa langkah. Dia jatuh bangun akibat ketidakstabilan kaki menopang tubuhnya. Lalu kenapa tidak memakai kursi roda?
Sebetulnya bukan tak punya kursi roda, hanya saja rumahnya terbilang kecil jika harus dipakai didalamnya. Kursi roda hanya digunakan ketika bersekolah. Selebihnya duduk termangu dalam rumah.
Tiba-tiba Ayla menatap kosong melihat pemandangan luar jendela kamar, dimana tawa riang dan derap langkah anak-anak yang berlarian terdengar bagai melodi yang menyayat hati, mengingatkannya pada dunia yang tak mampu ia gapai.
"Andai saja aku bisa seperti mereka" Harap Ayla yang tidak akan pernah bisa terwujud.
Tok tok tok… Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Laa, sarapan dulu sana. Ibu udah masak" Ajakan ibunya dari balik pintu.
Ayla menimpali pelan, "Iyaa Bu, ini aku keluar" Lalu ia membalik badannya, dan menuju ke tempat makan.
Di tempat makan sudah ada ayah yang sibuk dengan pekerjaannya. Ada adik Rama yang asyik dengan mainannya. Ada kakak Danu yang tenggelam dalam bacaannya. Sedang ibu repot menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga.
"Pagi, Yah!" Sapa Ayla sambil menyunggingkan senyuman.
"Hm… Pagi" Balas kecut ayahnya, tanpa mengalihkan pandangan menatap Ayla.
Ayahnya memang begitu. Acuh tak acuh. Sikapnya dingin. Jarang bicara. Bahkan menoleh ke anaknya saja enggan.
Akibatnya, Ayla setiap hari merasa paling tidak dipedulikan di keluarga ini ketimbang dua saudaranya yang lain. Rasa sepi dan sunyi menyergapi dirinya setiap hari. Ada hal yang mengganjal. Sudah lama rasa itu dipendam. Namun, ia memilih diam.
Ingin sekali ia berbagi dan bercerita banyak hal bersama ayahnya. Tapi entah, serasa ada hijab yang tak kasat mata antara mereka. Mungkinkah ayahnya merasa kecewa memiliki anak seperti dirinya?
Selepas makan, Ayla balik ke kamarnya membawa perih yang mendalam. Napasnya sampai tersendat-sendat, tak kuat menahan luapan emosi yang menguasai dirinya. Memang sesak itu tidak diperlihatkan depan orang tuanya. Namun lukanya sungguh membekas begitu nyata. Mungkin bagi sebagian orang itu hal sepele, tapi tidak bagi Ayla. Sudah lama ia menanggung sedih, duka, gundah, dan lara yang tidak berkesudahan dalam hatinya.
Sakit sekali!.
Tangisnya makin menjadi-jadi ketika tawa anak-anak diluar jendela kamar semakin keras, seakan menertawai kecacatan dan ketidakmampuan Ayla. Ayla tak sanggup. Tak sanggup mendengar tawa -tawa itu. Ia menutup telinganya dengan bantal. Air mata mulai mengalir di pipinya, "Kenapa... Kenapa harus aku?" Tubuhnya gemetar menahan isak.
Ide gila tiba-tiba muncul dalam benaknya, entah datangnya dari mana. Mungkin dibisiki setan yang durjana.
Dengan sergap tangannya meraih gunting diatas meja. Hanya dalam beberapa detik, ia merangkak menuju kursi roda yang ada di sudut kasur. Tangannya mencengkram erat pegangan kursi roda itu, lalu merobohkannya.
Duaaarr...
Ibunya terkejut mendengar suara dari kamar Ayla, "Laa, ada apa?" Sambil melangkah tergesa menuju sumber suara.
Buku-buku jari Ayla memutih, wajahnya pucat pasi mengisyaratkan perasaan yang tengah ia rasakan. Marah, jengkel, iri hati, geram, sesak, sedih, semuanya bergabung jadi satu. Tak bisa ia kendalikan.
"Kalau aku tidak bisa bermain seperti mereka, biarkan mereka merasakan juga apa yang aku rasakan" gumamnya, sedang matanya memerah.
Tidak lama kemudian, Ayla menusukkan gunting itu ke ban kursi rodanya. Berkali-kali. Sampai desisan udara ban tersebut memenuhi isi kamar. Tanpa henti, ia terus menusuk, merobek, mengoyak, menghancurkan satu-satunya alat yang dipergunakan untuk memudahkan dirinya bergerak.
Pintu kamar terbuka. Mata ibunya terbelalak menyaksikan apa yang dilakukan anaknya, "Ayla, apa yang kamu lakukan?"
Mata Ayla menatap ibunya dengan pandangan kosong sambil gunting masih dalam genggamannya. "Aku... Aku tidak mau lagi, Bu. Aku capek hidup seperti ini terus!"
Ayahnya muncul di belakang ibunya. Ia tercengang melihat kelakuan anaknya yang diluar kebiasaan. Anak yang ia kenal pendiam, murah senyum, dan selalu ceria sekarang mau melukai dirinya tiba-tiba.
"Astaga, Nak!" Ucap ayahnya dengan wajah terheran-heran masih tidak percaya.
"Kenapa, Yah?" teriak Ayla dengan nada tinggi, melepaskan semua emosi yang selama ini terpendam dalam hati.
"Kenapa aku tidak seberuntung mereka?" Sambil menunjuk anak-anak diluar jendela yang masih asyik bermain tanpa menyadari drama yang terjadi dalam rumah Ayla.
"Kenapa aku cacat? Kenapa aku tidak bisa sebebas adik dan kakak? Kenapa aku hanya terkurung dalam rumah sempit ini setiap hari? Kenapa Yah, kenapa?"
"Aku muak berpura-pura kuat! Aku muak berpura-pura bahagia! Aku muak dengan segala kepura-puraan itu! Aku… Aku ingin normal seperti mereka!" Tubuh Ayla bergetar hebat. Ia menjerit sekeras-kerasnya, sambil air matanya terus mengalir dengan deras.
Ayah dan ibunya hanya membeku ketakutan, melihat anak putrinya yang pendiam tiba-tiba berubah.
"Tenang, Sayang!" Ibunya mencoba menenangkan meski tak mempan.
"TIDAK! JANGAN, JANGAN MENDEKAT!" Perintah Ayla untuk ayah dan ibunya.
Dalam gerakan yang cepat. Tanpa diduga, Ayla mengarahkan gunting itu ke bagian kakinya, "Kalau kaki ini tidak berguna, lebih baik tidak ada sama sekali!"
"AYLAA, JANGAAAN!!" Teriak ayahnya dengan sangat kencang, sambil berlari ke arah Ayla.
Tetapi terlambat. Ujung gunting itu telah mengenai kakinya yang segera tergores merah, lalu mengalir darah.
Seisi ruangan itu penuh dengan jeritan. Ayahnya berhasil merebut gunting yang dipegang Ayla, sementara ibunya memeluk erat putrinya tersebut, sambil masih terisak tangis.
"Maafkan ayah, Nak. Tidak pernah benar-benar memperhatikan dan mendengarkanmu" Bisik ayahnya di sela-sela tangisnya.
Ayla terisak sejadi-jadinya dalam dekapan ibunya. Seluruh rasa yang selama ini terpendam jauh di lubuk hati akhirnya tertumpah ruah dalam momen tersebut. Ayla merasa sedikit bebannya terangkat, walaupun harus melalui cara yang cukup ekstrim. Setidaknya dengan begitu dia mampu mengundang atensi orang tuanya agar menyempatkan hadir dalam kehidupannya yang sepi dan sunyi.
Oleh: Ismail Fahmi, anak kelahiran 2003 yang saat ini tengah menjalani Pendidikan S1 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan fokus pada bidang studi Bahasa dan Sastra Arab. Sejak awal, dia memiliki minat besar dalam bidang kebahasaan, khususnya Bahasa Arab yang kemudian membawanya berkecimpung dalam bidang ini. Selama menjalani perkuliahan, dia banyak terjun dalam kepenulisan, menjadikannya jatuh cinta pada bidang ini. Sampai hari ini, dia sedang ikhtiar untuk tetap konsisten menulis setiap harinya.
Sebelum memasuki gerbang perkuliahan, dia memiliki backround pendidikan di pesantren selama 6 tahun. Saat ini, dia pun masih aktif nyantri di Pesantren Qur’an Baitur Ridhwan Dau Kabupaten Malang. Di waktu luangnya, ia biasa menikmati harinya dengan me time, menonton podcast atau sekedar istirahat, kadang juga membaca buku.
Anda dapat mengenal lebih jauh atau menghubungi Ismail Fahmi melalui mafhumy16@gmail.com atau melalui media sosialnya di Instagram: @almafhum_
Komentar 0