Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Merawat Diri Tanpa Terjebak Self Reward yang Berlebihan

Angelica Bianca

Mahasiswa.co.id - Dewasa ini, istilah ‘Self reward’ menjadi suatu topik yang populer di kalangan anak muda, terutama generasi z. Konsep self reward adalah suatu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri setelah bekerja keras atau berhasil mencapai suatu tujuan. Hal ini pun sah dilakukan oleh seseorang karena merupakan suatu bentuk apresiasi dalam mencintai diri sendiri. Namun, apakah self reward ini akan selalu memberi dampak positif terhadap diri sendiri? Atau justru menjadi sebuah candu terhadap pola penghargaan yang tidak dapat kita kendalikan.

Berdasarkan hasil sebuah penelitian yang melibatkan mahasiswa, menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memberikan penghargaan terhadap diri sendiri setelah mencapai tujuan tertentu dengan melakukan aktivitas yang disukai, membeli sesuatu, atau sekadar relaksasi yang membuat mahasiswa merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk mencapai tujuan selanjutnya. Aktivitas sederhana hingga kompleks, seperti menonton film di kamar seharian, jalan-jalan ke mall, liburan setelah gajian setelah melakukan suatu pekerjaan atau tugas juga dapat membantu menjaga keseimbangan mental. Artinya, kegiatan ini bisa menjadi salah satu manifestasi diri untuk mencintai dan peduli terhadap diri kita.

Masalah akan datang ketika self reward malah menjadi sebuah pembenaran dalam keinginan konsumtif tanpa mempertimbangkan alasan yang rasional dan tanpa kontrol diri. Ketika kita menggunakan ‘self reward’ dengan melakukan pembelian-pembelian dalam bentuk materi yang sebetulnya tidak dibutuhkan. Hal tersebut yang menjadi problematika dimana ‘menghargai diri’ hanya sebagai sebuah kedok, “Setiap minggu staycation di luar kota biar belajarnya makin semangat.” Contoh tersebut dapat membuat kita terjebak akan konsep self reward yang toxic, dimana berlawanan manfaatnya dibanding tujuan yang ingin dicapai. Lebih mementingkan keinginan bukan karena membutuhkan, dan hal tersebut juga dapat menimbulkan permasalahan baru seperti gaya hidup yang boros sehingga dompet menjadi menipis karena kegiatan yang impulsif.

Hal ini seringkali terjadi karena munculnya tren yang memengaruhi mereka dalam membuat keputusan saat membelanjakan sesuatu. Iklan, konten media sosial, Fear Of Missing Out (FOMO) dapat menjadi faktor yang membuat kebingungan antara memilih kebutuhan dengan keiginan atau kepuasan sesaat mengikuti tren. Pada beberapa orang, penghargaan terhadap diri sendiri sering mengarah pada perilaku konsumtif yang dilakukan hanya untuk memenuhi nafsu (Wahyuningsari et al., 2022). Dilansir dari laman buletin.k-pin.org, bahwa idealnya kebutuhan, manfaat, dan perencanaan keuangan yang matang seharusnya menentukan keputusan pembelian seseorang (Rick et al., 2008).

Pergeseran makna self reward yang berorientasi pada hadiah dibanding perkembangan diri inilah yang dapat membuat seseorang kehilangan makna dalam proses-proses yang telah dilalui. Jika terus-menerus membiarkan diri kita dengan melakukan coping mechanism (mekanisme penanggulangan) seperti menghabiskan uang untuk diri sendiri sebagai bentuk menyenangkan diri ketika merasa lelah menghadapi tekanan tugas dalam mencapai tujuan, kita menjadi tidak belajar cara memahami dan mengatasi masalah secara sehat saat kelelahan belajar atau bekerja.

Namun, bukan berarti self reward itu menjadi suatu hal yang buruk untuk dilakukan, tetapi bagaimana cara kita memaknai proses yang telah dilalui. Self reward bukan hanya berupa aktivitas konsumtif membeli barang dan sebagainya tetapi juga dapat dilakukan dengan hal sederhana seperti beristirahat sejenak, melakukan hobi, jalan-jalan di taman dengan teman untuk menyegarkan pikiran. Penghargaan seperti ini dapat lebih berdampak positif karena membuat keseimbangan jiwa tanpa menimbulkan ketergantungan akan hal-hal material.

Belajar untuk menerapkan prinsip kesadaran diri (self awareness) yaitu kemampuan pribadi untuk mengenali, memahami, dan mengevaluasi diri. Coba bertanya ke diri sendiri, “Apakah ini adalah yang benar-benar saya butuhkan atau hanya mencari pelarian atau pelampiasan emosi sesaat?” Dengan pertanyaan seperti ini, kita dapat belajar berefleksi untuk membedakan mana kebutuhan yang baik dengan keinginan konsumtif. Mengenali motivasi dalam proses memberi penghargaan terhadap diri sendiri itu penting agar dapat mengetahui keputusan itu dibuat secara sadar, bukan tindak impulsif semata.

Untuk mengendalikan diri, seseorang dapat menentukan batasan reward dengan besarnya pencapain. Misalnya, hanya memberikan reward setelah berhasil mencapai proyek yang besar, bukan setiap kali merasa lelah atau ingin melarikan diri yang berujung merasa bersalah pada diri. Ingat, self reward tidak hanya tentang materi atau membeli sesuatu, melakukan aktivitas yang disukai juga merupakan hadiah untuk diri sendiri. Memberi afirmasi positif, melakukan hobi, menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga, melakukan kegiatan produktif ataupun ingin sekadar istirahat juga merupakan bentuk apresiasi diri sendiri sehingga memberi feedback positif kepada diri sendiri dan bisa menjadi motivasi untuk tujuan selanjutnya.

Akhirnya, self reward itu bukan hal buruk dan sah untuk dilakukan, tetapi tetap ada batasannya dan harus dilakukan secara bijak agar tidak berlebihan. Ketika penghargaan diri menjadi pelarian untuk berlaku impulsif, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: “apakah ini benar-benar untuk mengapresiasi diri atau justru upaya untuk melarikan diri dari dunia nyata?” Maka diperlukan kontrol diri agar tidak menjadi boomerang dan hidup menjad lebih seimbang.

Penulis            : Angelica Bianca Oubitia Utomo
Program Studi : Administrasi Publik
Fakultas          : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas     : Universitas Diponegoro

Referensi:
Alfaruqi, M. F. (2023, Oktober 23). Self Reward, Apresiasi Diri atau Pemborosan. Diambil kembali dari its news: https://www.its.ac.id/news/2023/10/22/self-reward-apresiasi-diri-atau-pemborosan/

Mulyani, A. F. (2025, Mei 15). Dilema Self-Reward: Apresiasi Diri atau Perilaku Konsumtif? Dipetik Oktober 16, 2025, dari buletin kpin: https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1785-dilema-self-reward-apresiasi-diri-atau-perilaku-konsumtif

Nisa, N. H. (2025). Urgensi Self Reward Terhadap Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Wahana Didaktika: Jurnal Ilmu Kependidikan, 23(1), 49-59.

Wahyuningsari, D. H. (2022). Maraknya Hedonisme Berkedok Self Reward. Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia, 2(1), 7-11, 7-11.

Winfrey, S. (t.thn.). The High Cost of the "Treat Yourself" Mindset. Diambil kembali dari WiseBread: https://www.wisebread.com/the-high-cost-of-the-treat-yourself-mindset

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.