Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Merawat Tanah Kering, Menyembuhkan Bumi: Pesan Laudato Si’ bagi Nusa Tenggara Timur

thumb

Oleh:
Gilbert Bartolomeus Satria Mnir
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
satriamnir06@gmail.com

Tanah Kering dan Luka Ekologis
Nusa Tenggara Timur (NTT) sering dikenal sebagai daerah yang kering dan tandus, namun juga disebut sebagai daerah yang ramah. Disebut kering karena cuacanya ekstrem dan tanahnya gersang, tetapi disebut ramah karena manusianya hidup dalam semangat solidaritas dan toleransi yang tinggi. Julukan Nusa Tinggi Toleransi pun melekat pada wilayah ini.

Namun, di balik keramahan itu tersimpan luka ekologis yang perlahan membesar. Tanah yang retak, longsor yang makin sering terjadi, air yang kian sulit didapat karena penebangan liar, hutan yang menipis akibat pembakaran, serta cuaca panas yang berkepanjangan semuanya adalah tanda bahwa bumi sedang menderita. Luka ekologis ini sering kali tak disadari, padahal dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, seruan Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ (2015) menjadi amat relevan. Dokumen ini bukan sekadar ajaran moral, melainkan seruan spiritual yang menggugah hati manusia agar bertobat secara ekologis. Paus menegaskan bahwa bumi adalah Rumah Bersama (Common Home), bukan milik pribadi yang boleh dieksploitasi sesuka hati.

Dari Tanah Kering Menuju Kesadaran Baru
Bagi para leluhur di NTT, tanah kering bukan hanya kondisi geografis, tetapi simbol keteguhan dan guru kehidupan. Mereka menghormati tanah, hutan, gunung, dan laut sebagai bagian dari kehidupan yang suci. Sebelum menanam mereka berdoa, dan sesudah panen mereka bersyukur. Nilai-nilai ini mencerminkan apa yang disebut Paus Fransiskus sebagai ekologi integral pandangan bahwa manusia, alam, dan Allah terhubung dalam satu jalinan kehidupan.

Sayangnya, nilai luhur ini perlahan memudar. Arus modernisasi mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Alam kini lebih sering dilihat sebagai sumber ekonomi, bukan ruang spiritual. Hutan dibuka dan dibakar, sungai tercemar limbah, pohon ditebang tanpa kendali. Akibatnya, manusia dan alam menjadi terpisah bahkan berhadapan: manusia merusak alam, dan alam membalas dengan bencana.

Alam memiliki jiwa kehidupan. Ketika manusia terus melukai alam dengan keserakahan, alam pun menjerit dan membalas dengan caranya sendiri kekeringan, badai, longsor, dan perubahan iklim yang makin ekstrem.

Krisis Ekologis, Krisis Iman
Laudato Si’ menegaskan bahwa krisis ekologi sesungguhnya adalah cerminan dari krisis spiritual manusia. Kerusakan alam bukan semata-mata masalah lingkungan, tetapi juga persoalan hati.

Selama berabad-abad, manusia menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu sebuah pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa ciptaan. Alam diperlakukan sebagai objek ekonomi, bukan sahabat spiritual. Hubungan manusia dan alam menjadi eksploitatif dan transaksional, bukan lagi relasional dan spiritual. Akibatnya, alam kehilangan makna sucinya sebagai tanda kehadiran Allah.

Dalam konteks masyarakat NTT, seruan Laudato Si’ adalah panggilan iman: berani hidup sederhana dan bersyukur. Pertobatan ekologis tidak cukup hanya dengan menanam pohon, tetapi juga menata ulang gaya hidup konsumtif dan hedonistik. Kita diajak mendukung energi hijau, melakukan reboisasi, serta menumbuhkan rasa syukur atas setiap anugerah sekecil apa pun.

Tanah yang kering mencerminkan batin manusia yang haus akan makna, keadilan, dan spiritualitas. Merawat bumi berarti memulihkan relasi manusia dengan Allah dan seluruh ciptaan-Nya. Ketika manusia berdamai dengan alam, ia pun berdamai dengan dirinya dan dengan Tuhan.

Belajar dari Tradisi Lokal
NTT memiliki kearifan ekologis yang kaya dan sejalan dengan semangat Laudato Si’. Di Sumba, misalnya, penghormatan terhadap Marapu mengajarkan keseimbangan antara manusia dan bumi. Di Flores, praktik sara weki (doa syukur panen) merupakan bentuk spiritualitas ekologis yang memuliakan Sang Pemberi Hidup. Di Timor, nilai naketi menekankan hidup berdamai dengan alam dan sesama.

Tradisi-tradisi ini memperlihatkan bahwa iman dan budaya dapat berpadu dalam kesadaran ekologis yang utuh: bumi bukan milik pribadi, tetapi warisan bersama yang harus dijaga dan diwariskan bagi generasi mendatang. Paus Fransiskus menegaskan pentingnya dialog antara iman dan budaya lokal agar tumbuh ekoteologi kontekstual teologi yang lahir dari tanah dan kehidupan nyata umat.

Menumbuhkan Harapan di Tanah Gersang
Merawat tanah kering berarti menumbuhkan harapan baru. Kini berbagai komunitas mulai bergerak: gereja, sekolah, kelompok muda, dan umat paroki di berbagai daerah NTT mulai menanam pohon, membuat taman doa berbasis ekologi, mengelola sampah, dan menjaga sumber air.

Gerakan-gerakan kecil ini menunjukkan bahwa Laudato Si’ bukan hanya seruan moral, tetapi panggilan untuk bertindak nyata. Laudato Si’ in action adalah iman yang diterjemahkan menjadi kepedulian konkret. Bumi memang tidak bisa disembuhkan dalam semalam, tetapi setiap langkah kecil menuju kepedulian adalah bagian dari penyembuhan itu sendiri.

Penutup: Dari Kering ke Harapan Baru
NTT yang kering menyimpan pesan rohani yang mendalam: dari tanah yang gersang pun, kehidupan bisa tumbuh bila dirawat dengan cinta. Laudato Si’ mengajak kita melihat tanah, air, udara, dan setiap makhluk sebagai bagian dari keluarga ciptaan Allah.

Ketika masyarakat NTT dan seluruh umat beriman mau hidup lebih bersahabat dengan alam, maka tanah kering ini tidak lagi menjadi simbol penderitaan, melainkan tanda harapan baru bagi bumi yang sedang sakit.

Catatan Penulis:
Tulisan ini terinspirasi dari ensiklik Laudato Si’ (Paus Fransiskus, 2015) dan realitas ekologis masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.