Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Meriah Tapi Menyisakan Sampah: Ironi Pawai Idul Adha di Jogja

Pawai Idul Adha di Jogja
Sumber : gemini.ai/ Pawai Idul Adha yang semarak di Jogja menyisakan tumpukan sampah sebagai ironi di balik euforia perayaan

Oleh : Agna Niha Azzahra

Mahasiswa.co.id - Hari raya Idul adha selalu dimeriahkan dengan berbagai kemeriahan untuk menampilkan semangat kebersamaan. Tidak hanya melakukan kurban dan salat ied saja, tetapi juga dimeriahkan pawai di berbagai daerah dikota Yogyakarta. Diberbagai titik kota, terutama dikampung-kampung dan pusat kegiatan pemuda, pawai Idul adha hadir dengan berbagai macam kemeriahannya. Ada yang dengan tariannya, atraksinya, mobil hiasnya dan berbagai macam lainnya. Antusiasme warga luar biasa, bahkan acara-acara pawai yang ada dijogja berlangsung hingga tiga hari di daerah-daerah yang berbeda.

Namun, sebagaimana banyak perayaan massal lainnya, dibalik semarak dan suka cita itu ada kenyataan yang sering luput dari perhatian yakni limbah yang dihasilkan. Ketik semua fokus pada kemeriahan pawai, pada sorak sorai, dan dokumentasi di media sosial, sedikit sekali yang bertanya ‘kemana perginya semua bahan kostum, sisa dekorasi, dan sampah penonton setelah acara usai?’

Pembuatan kostum dalam paawai Idul adha seringkali dilakukan secara besar-besaran dan menggunakan bahan-bahan baru seperti plastik, kin sintetis, cat semprot, karton, hingga busa hati maupun styrofoam. Semuanya dirancang untuk menarik perhatian penonton dan dewan juri sewaktu mereka tampil. Sayangnya, tidak banyak masyarakat yang berpikir soal umur pakainnya. Sebagian besar bahan tersebut hanya digunakan sekali, lalu dibuang. Lemari kostum desapun tidak mampu menampung semua atribut yang tidak terpakai lagi.

Belum lagi permasalahan sampah dari penonton. Disekitar Lokasi pawai seperti lapangan ataupun dipinggir jalan berceceran bungkus makanan, botol plastik, sedotan, tisu, dan berbagai limbah lainnya yang ditinggalkan begitu saja. Bahkan dibeberapa Lokasi itu sampah dibiarkan hingga berhari-hari berceceran.

Ironisnya perayaan yang sejatinya bernilai ibadah dan pengorbanan justru menyisakan dampak ekologis tersendiri. Idul adha Adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan semangat memberi, berbagi, dan mensucikan diri. Bukan dengan mengorbankan lingkungan demi kegembiraan Kita. Disinilah letak kegagalan kita dalam memahami esensi arti dari ibadah yang kita rayakan.

Masalah ini bukan semata-mata soal kurangnya tempat sampah atau petugas kebersihan. Ia berakar dari budaya konsumtif yang tumbuh dimasyarakat. Budaya yang lebih menghargai tampilan dibandingkan dampak jangka panjang. Semakin mewah kostum dan semakin heboh dekorasi, semakin tinggi pula kepuasan yang dirsakan, tanpa disertai kesadaran bahwa semua itu akan menjadi limbah dalam hitungan jam.

Beberapa video kemeriahan pawai Idul adha yang lewat di FYP mengingatkan kita akan merihny acara pwi yang berda diberbagai daerah. Seperti pawai yang ada di Pleret, Wonokromo, Jogja kota dan yang lainnya. Yang didalamnya berisi kurang lebih 15- an peserta didalam Setiap pawai. Bayangkan, dengan kondisi 15 peserta dan yang ikut dari kisaran anak kecil, remaja, hingga orang tua. Apakah sampah kostum yang mereka hasilkan juga gak akan banyak?

Masalah ini bukan semata-mata perayaan kemeriahan hari raya idul adha saja, akan tetapi juga lebih ke memikirkan dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan.

Pemerintah daerah maupun panitia lokal belum menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari tata Kelola kegiatan perayaan keagamaan. Tidak ada standar yang mengatur penggunaan bahan yang ramah lingkungan, tidak ada pemberitahuan untuk mendaur ulang kostum tahun-tahun sebelumnya, dan belum banyak edukasi kepada para warga yang menonton pawai tentang manajemen sampah secara masal. Bahkan sekedar untuk buang sampah sesuai tempatnya saja belum.

Membayangkan pawai Idul adha yang ramah lingkungan bukanlah hal yang mustahil. Bisa dimulai dari hal kecil. Mulai dari setiap kampung dihimbau untuk menggunakan bahan bekas, bahan daur ulang atau bahkan menggunakan bahan ramah lingkungan. Edukasi seperti ini bisa dilakukan melalui pamflet, sosialisasi pra-Idul adha, atau Kerjasama dengan komunitas lingkungan setempat. Bahkan, bisa juga pemerintah memberi penghargaan khusus bagi peserta pawai yang minim sampah, dan hal itu juga bisa memunculkan tren baru yang positif.

Perayaan keagamaan sejatinya bukan perihal ritual saja, tetapi juga tentang bagaimana diri kita memuliakan hidup, sesama, dan alam sekitar. Ketika semangat spiritual bertemu dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan, maka perayaan akan menjadi lebih punya esensi makna tersendiri. Tidak hanya hiburan saja, tetapi juuga menjadi bentuk kesadaran bersama akan pentingnya menjaga ciptaan tuhan yang lain(bumi).

Ditengah meriahnya pawai, jangan lupa untuk melihat apa yang akan kita tinggalkan setelahnya. Jangan sampai warna-warni kostum dan kemeriahan perayaan hanya menutupi realitas bahwa kita sedang membiarkan bumi menerima beban kegembiraan kita. Sudah waktunya kita merayakan dengan cara yang lebih bijak. Karena sejatinya, Idul adha bukan hanya perkara pengorbanan hewan saja, tetapi juga mengorbankan nafsu kita supaya bisa terus menjaga bumi dari kerusakan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.