Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Normalisasi Bullying di Media Sosial: Ketika Komentar Tajam Dianggap Bercanda

Bullying

Oleh Aidah Azizah

Mahasiswa.co.id - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Di sana, setiap orang dapat menyampaikan pendapat, membagikan cerita, hingga mengekspresikan dirinya dengan bebas. Namun, kebebasan tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Di balik ramainya interaksi digital, muncul kebiasaan baru yang semakin hari semakin dianggap normal: perundungan yang dibungkus candaan.

Banyak pengguna menunjukkan perilaku mengolok-olok dengan alasan humor. Komentar bernada merendahkan sering kali diselesaikan dengan kalimat, “Cuma bercanda, jangan baper.” Kalimat sederhana ini dijadikan tameng untuk melegalkan kata-kata tajam yang sebenarnya dapat melukai orang lain. Tanpa disadari, budaya seperti ini membuat empati semakin menipis. Kita menjadi lebih mudah menertawakan, lebih cepat menghakimi, dan lebih berani menyakiti hanya karena merasa jarak layar memberi perlindungan.

Setiap unggahan viral biasanya menjadi magnet utama perilaku ini. Begitu sebuah video atau foto menyebar luas, kolom komentar seketika berubah menjadi arena tempur. Banyak warganet berlomba-lomba meninggalkan komentar yang paling lucu dan paling pedas, tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang yang menjadi sasaran. Perilaku tersebut terus berulang hingga menjadi kebiasaan, dan kebiasaan yang terus dibiarkan lama-lama berubah menjadi budaya. Itulah akar dari normalisasi bullying digital: perundungan yang dianggap lumrah karena banyak orang melakukannya.

Realitas ini bukan sekadar isu sepele. Laporan Kementerian Kominfo tahun 2023 menunjukkan bahwa hampir separuh anak muda Indonesia pernah menerima komentar negatif atau mengalami bentuk pelecehan daring. Dampak psikologisnya nyata. Banyak korban mengaku mengalami kecemasan, sulit tidur, kehilangan rasa percaya diri, hingga menarik diri dari pergaulan. Luka mental yang ditinggalkan oleh komentar singkat di internet tidak bisa disembuhkan hanya dengan nasihat “sabar.”

Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih belum memahami batas yang jelas antara kritik dan penghinaan. Kritik semestinya memberikan ruang bagi perubahan atau pemikiran baru. Namun, penghinaan hanya melahirkan rasa sakit dan membuat seseorang merasa rendah. Kebebasan berpendapat harusnya tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral. Di ruang digital yang sangat cepat, tanggung jawab itu sering kali tertinggal jauh di belakang.

Sebagai generasi yang melek teknologi, mahasiswa sejatinya memiliki peran penting dalam mengubah arah budaya digital. Perubahan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Mengontrol kata sebelum menekan tombol “kirim” adalah salah satunya. Sebuah pertanyaan sederhana dapat membantu: “Kalau komentar ini ditujukan pada saya, bagaimana perasaan saya?” Pertanyaan ini mungkin singkat, tetapi dapat mencegah banyak dampak negatif.

Selain itu, ketika kita mendapati seseorang menjadi sasaran perundungan, kita dapat memilih untuk tidak ikut serta. Bahkan dukungan kecil seperti “Tetap semangat, kamu tidak sendirian” bisa sangat berarti. Tak semua orang punya kekuatan untuk menghadapi serangan bertubi-tubi di internet, dan keberadaan satu suara positif dapat menjadi penyelamat emosional bagi mereka.

Normalisasi bullying tidak bisa dibiarkan tumbuh tanpa perlawanan. Ia harus dicegah dengan memperkuat nilai empati digital, keberanian untuk menegur, dan kesadaran bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi. Di balik setiap akun, ada manusia dengan perasaan dan batas ketahanan yang berbeda-beda.

Membangun ruang digital yang aman bukan tugas satu orang; ini adalah upaya bersama. Jika setiap dari kita memilih untuk menjaga kata, menghargai perasaan orang lain, dan mengutamakan kebaikan dalam berkomentar, media sosial dapat kembali menjadi tempat yang menyenangkan bukan medan yang dipenuhi luka.

Oleh: Aidah Azizah, mahasiswa FKIP Universitas Mulawarman, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.