Oleh : Syifa Mutmainnah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan : Tadris Biologi
Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Mahasiswa.co.id - Sekarang ini dunia berubah cepat sekali. Teknologi makin canggih, informasi bisa kita dapatkan dalam hitungan berapa detik, dan budaya dari luar gampang sekali masuk ke I donesia. Ditengah kondisi ini, pancasila tetap penting banget buat kita. Pancasila bukan Cuma hafalan waktu upacara, tapi jadi pegangan supaya kita ngak kehilangan arah sebagai bangsa. Globalisasi memang mempunyai banyak sisi positif kita bisa belajar dari negara lain, bisnis bisa berkembang, dan komunikasi menjadi lebih mudah. Tapi kalau tidak hati-hati, kita bisa ikut-ikutan budaya luar tanpa menyaringnya dulu.
Kadang kita lebih bangga dengan budaya luar dari pada budaya sendiri. Nah di sinilah pancasila membantu kita tetap punya identitas sebagai orang indonesia. Dalam sila pertama mengajarkan kita untyk mempunyai pegangan nilai dan moral. Di zaman sekarang, orang – orang mengejar uang, popularitas,dan kesenangan semata. Padahal hidup bukan cuma soal itu. Denga memegang nilai ketuhanan, kita diajarkan untuk tetap berbuat baik, jujur dan menghargai orang lain.
Sila kedua tentang kemanuasiaan juga penting banget. Di dunia yang penuh persaingan, kadang orang jadi egois dan tidak pedulidengan orang lain. Padahal kita harus saling menghormati, tidak membeda-bedakan suku,agama,atau latar belakang. Tantangan global justru menuntut kita untuk makin peduli terhadap sesama. Persatuan indonesia sebagai sila ketiga sekarang benar – benar diuji, apalagi di media sosial. Banyak berita hoaks, komentar kasar, dan perdebatan bikin orang terpecah .
Kalau kita mudah terpancing emosi, persatuan bisa rusak. Makanya penting buat kita lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terprovoksi. Dalam sila keempat bicara tentang soal demokrasi dan musyawarah. Di era sekarang, semua orang bebas berpendapat itu bagus. Tapi kebebasan juga harus diiringi atau dibarengin dengan tanggung jawab. Jangan sampai beda pendapat malah menjadi permusuhan. Kita harus belajar berdiskusi dengan kepala dingin dan saling menghargai.
Masalah keadilan juga jadi tantangan besar masih banyak kesenjangan ekonomi di indonesia. Ada yang hidup serba cukup, ada juga yang masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Sila kelima mengingatkan kita bahwa keadilan sosial harus dirasakan semua orang, bukan Cuma sebagian saja. Dalam dunia kerja dan bisnis global, persaingan makin ketat. Kita dituntut untuk kreatif dan terus belajar. Tapi jangan sampai demi keuntungan, orang jadi menindas atau memanfaatkan orang lain.Pancasila mengajarkan bahwa keberhasilan membawa manfaat bersama , bukan hanya untuk diri sendiri.
Anak muda mempunyai peran besar dalam menjaga persatuan dan keadilan. Generasi sekarang hidup di era digital, jadi pengaruh luar lebih kuat. Kalau anak muda paham nilai Pancasila, mereka bisa jadi generasi yang pintar, tapi tetap punya karakter dan rasa cinta tanah air. Menjaga persatuan sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya, menghargai teman yang berbeda pendapat, tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, dan mau membantu orang lain. Hal-hal sederhana seperti itu punya dampak besar kalau dilakukan bersama-sama.
Selain soal budaya dan teknologi, ada juga tantangan global juga terasa di bidang lingkungan. Perubahan iklim, polusi, dan kerusakan alam jadi masalah dunia yang dampaknya kita rasakan juga di Indonesia. Kalau kita kembali ke nilai Pancasila, terutama soal tanggung jawab dan keadilan, kita diajak untuk menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan bersama, bukan dieksploitasi seenaknya. Masalah lain yang muncul adalah gaya hidup individualis. Karena sibuk dengan gadget dan urusan masing-masing, kadang orang jadi kurang peduli dengan sekitar. Padahal bangsa Indonesia dikenal dengan budaya gotong royong.
Semangat gotong royong ini sebenarnya sejalan banget dengan nilai persatuan dalam Pancasila, dan harus terus dijaga walaupun zaman berubah. Di era global, informasi itu sangat cepat menyebar. Sekali ada isu sensitif, bisa langsung viral dan memicu konflik. Kalau masyarakat tidak punya sikap bijak, perpecahan mudah terjadi. Nilai Pancasila mengajarkan kita untuk tidak langsung percaya pada sesuatu sebelum mencari kebenarannya, dan tidak mudah terprovokasi. Tantangan global juga terlihat dalam bidang ekonomi digital. Banyak pekerjaan baru muncul, tapi ada juga pekerjaan lama yang hilang. Ini membuat sebagian orang merasa tertinggal.
Supaya keadilan tetap terjaga, pemerintah dan masyarakat perlu saling mendukung, misalnya dengan pelatihan keterampilan dan pendidikan yang merata . Perbedaan suku, agama, budaya, dan bahasa adalah kekayaan Indonesia. Namun di tengah arus globalisasi, perbedaan ini kadang justru dijadikan alasan untuk saling menyerang. Padahal kalau kita benar-benar memahami Pancasila, perbedaan itu bukan ancaman, tapi kekuatan yang membuat Indonesia unik dan kuat. Dalam hubungan internasional, Indonesia juga harus tetap memegang prinsip Pancasila. Artinya, kita harus menjalin kerja sama dengan negara lain tanpa kehilangan prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Kita bisa terbuka terhadap dunia, tapi tetap punya sikap dan nilai yang jelas. Pendidikan karakter jadi kunci penting. Bukan cuma pintar secara akademik, tapi juga punya sikap yang baik. Sekolah dan keluarga punya peran besar dalam menanamkan nilai Pancasila sejak kecil. Kalau dari kecil sudah dibiasakan untuk jujur, adil, dan menghargai orang lain, saat dewasa nilai itu akan tetap melekat. Media juga punya pengaruh besar dalam menjaga persatuan. Tayangan, berita, dan konten digital seharusnya tidak hanya mengejar sensasi, tapi juga memberi edukasi.
Kalau media ikut menyebarkan nilai positif, masyarakat juga akan lebih mudah menjaga kerukunan.Keadilan sosial bukan hanya soal bantuan atau subsidi, tapi juga soal kesempatan yang sama. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak, pekerjaan yang pantas, dan perlakuan yang adil. Tantangan global memang membuat persaingan makin keras, tapi kesempatan tetap harus terbuka untuk semua. Akhirnya, menjaga persatuan dan keadilan di era global bukan hal yang instan. Butuh kesadaran, kerja sama, dan komitmen dari semua pihak.
Menurut Ir. Soekarno, jika hanya tiga asas yang diinginkan, maka asas tersebutadalah asas sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ketuhanan; jika hanya satu asasyang diinginkan, maka asas tersebut adalah asas gotong royong. Alhasil, Ir. Soekarnomerupakan satu-satunya pembicara yang komprehensif, tidak ambigu, dan tegas dalammengemukakan dasar negara sebagai filsafatsche grondslag. Dari sudut pandang filsafat,Sebagai landasan berpikir, berbicara, dan bertindak dalam bermasyarakat, berbangsa, danbernegara, Pancasila melekat pada diri manusia Indonesia dan mengandung nilai-nilaimoral yang luhur. Karena perilaku kebiasaan menciptakan kebudayaan, maka Pancasiladapat dianggap sebagai sumber etika dan moral.
Pancasila sebagai Dasar NegaraIstilah grundnorm (norma fundamental), rechtsidee (cita-cita hukum), staatsidee(cita-cita negara), dan philosophische grondslag (dasar filosofis negara)secara etimologissetara dengan frasa "dasar negara." Dasar negara bersifat universal, yang menyiratkanbahwa setiap bangsa memilikinya, sebagai akibat dari banyaknya definisi dasar negara dalam ahasa lain. Ras, kebangsaan, agama, dan adat istiadat semuanya saling terkait diIndonesia, salah satu negara dengan keberagaman budaya, melalui landasanpemerintahan yang dikenal sebagai Pancasila.
Pancasila merujuk pada lima prinsip dasarnasionalisme dan kenegaraan Indonesia. Dimana telah mampu menyatukan bangsa yangberaneka ragam suku, ras, budaya, dan adat istiadat ini sejak lama. Di sinilah jati diri dan karakter bangsa Indonesia terkenal dengan cita-cita luhurnya yang tertuang dalam sila- sila Pancasila yang juga dianggap dimiliki oleh negara lain. Karena Pancasila merupakan dasar negara, maka cita-citanya harus menjadilandasan bagi seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara Indonesia. Dalamhal ini, Pancasila harus menjadi motor penggerak jalannya negara ini. Hasil sidangBPUPKI, Pancasila berupaya untuk menjadikan Pancasila sebagai landasan filosofisnegara Indonesia yang merdeka atau sebagai dasar ideologi negara.
Rasa nasionalisme dan patriotisme juga yang merasuki masyarakat Indonesia mulai memudar. Oleh karena itu, negara harus lebih tanggap terhadap perasaan tersebut. Sebab,dalam menghadapi berbagai pengaruh kontemporer dan global, rasa nasionalisme dancinta tanah air menjadi sangat penting. Nasionalisme dan cinta tanah air harus ditanamkansejak dini agar negara dapat berkembang menjadi negara yang besar. Semakin tua usia suatu negara, semakin tangguh pula negara tersebut dalam menghadapi berbagai rintangan.
Salah satu tren masyarakat yang mulai muncul pascareformasi adalah globalisasi.Fenomena ini berdampak positif dan negatif bagi Indonesia, disertai dengan kemajuanteknologi, informasi, dan komunikasi yang mampu mengubah cara masyarakatberinteraksi dalam kehidupan sehari-hari secara drastis. Ruang yang tersedia untukberinteraksi antar individu dan kelompok semakin menyempit akibat laju industrialisasi dan globalisasi. Cara masyarakat memperoleh informasi dipengaruhi oleh teknologi daninformasi yang semakin maju, sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan sosial sedangterjadi dan masyarakat semakin mudah mengakses informasi.
Masyarakat lebih mudahterpengaruh oleh informasi yang tidak akurat atau informasi yang tidak sesuai denganpengetahuan yang seharusnya diperoleh ketika informasi tersebut tersedia secara luas. Diera industrialisasi dan globalisasi yang pesat saat ini, penyaringan sangat penting untukmemperoleh informasi dan pengetahuan. Budaya asing dianggap "terkini" olehmasyarakat yang benar-benar mengikuti perkembangan modernisasi dan globalisasi ketika budaya tersebut diadopsi di Indonesia.
Selain itu, salah satu aspek perubahan sosialdi Indonesia adalah hedonisme, yang merupakan komponen masyarakat konsumenbudaya barat atau budaya di antara negara-negara industri. Budaya hedonisme merupakanancaman serius bagi Indonesia di semua tingkatan masyarakat, terutama di kalanganremaja, yang menyebabkan budaya Indonesia perlahan-lahan menghilang. Dengandatangnya budaya barat ini, budaya Indonesia yang sopan, santun, bijaksana, dan dapatdikatakan bergerak ke arah budaya timur mulai memudar.
Di era global dan modern ini, kita tidak dapat mencegah masuknya budaya-budaya, namun yang terpenting adalah bagaimana masyarakat Indonesia, khususnyagenerasi muda, mampu menyaring budaya-budaya asing, baik yang positif maupun yangnegatif, serta budaya-budaya yang sejalan dengan Pancasila. Karena budaya-budaya yangtidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia akan ditolak oleh masyarakat yangcinta tanah air. Penting untuk secara akurat mengungkapkan rasa nasionalisme danpatriotisme yang inklusif dan konsisten dengan nilai-nilai Pancasila. Yang dimaksudkanadalah, meskipun kita menghargai budaya dan bersedia berkorban untuk bangsaIndonesia, kita juga terus menghargai budaya lain daripada sekadar menerimanya karena,seperti yang disebutkan sebelumnya, modernisasi dan globalisasi memerlukan penyaringan.
Menumbuhkan kesadaran, langkah awal dalam mendidik generasisekarang tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila adalah denganmenumbuhkan kesadaran. Generasi sekarang berbeda dengangenerasi sebelumnya, baik dari segi sifat maupun cara berpikir.Informasi tidak bisa lagi disampaikan kepada mereka dengan carayang membosankan, seperti ceramah. Hal ini karena generasisekarang sudah lebih terbuka terhadap pandangan-pandangan yanglebih kontemporer. Menggunakan media sosial merupakan cara yanglebih efisien bagi generasi sekarang.
Pengakuan bahwa jati diri bangsa Indonesia bersumber dari nilai-nilaiPancasila Setelah generasi sekarang memahami makna penting daricita-cita Pancasila, mereka perlu belajar untuk mengamalkannya. Generasi sekarang memiliki karakter yang sulit dijabarkan danberwawasan luas. Karakter yang sulit dijabarkan muncul karenagenerasi sekarang menilai dirinya sendiri berdasarkan pendapatbanyak orang yang memiliki pendapat yang beragam dan luas, bukanhanya satu orang yang berpandangan tunggal.. Oleh karena itu,generasi sekarang terkadang kesulitan memahami dirinya sendiriuntuk menentukan apa yang dibutuhkannya.
Internalisasi dan penguatan, kita harus menanamkan keyakinankepada mereka bahwa nilai-nilai Pancasila selaras dengan keyakinan,pola pikir, dan karakter mereka setelah mereka memahami danmenerimanya. Pada tahap ini, siswa akan mengamalkan nilai-nilaiPancasila dan menjadi panutan bagi teman-temannya. Menetapkantujuan adalah salah satu taktik yang dapat digunakan untuk membantugenerasi saat ini mencapai tahap ini.
Referensi :
Asmaroini, AP (2017). Menjaga eksistensi Pancasila dan penerapannya bagi masyarakatdi era globalisasi. JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 1 (2), 50-64.
Azzahra Shakila Meisa Putri 1, Resi Setiawati 1, Hendy Widodo 1. (2022). ImplementasiNilai Pancasila Pada Generasi Z. Implementasi Nilai Pancasila Pada Generasi Z.
Dewi, Angel Dwi Septianingrum & Dini Anggraeni. (2021). Implemtasi Nilai PancasilaPada Generasi Milenial Di Era Serba Modern. Jurnal mahasiswa Indonesia, 12-14.
Dianisa Wahyuni, Yayang Furi Furnamasari Dinie Anggraeni Dewi. (2021). PenerapanNilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Generasi “Z” di Era Globalisasi.Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Generasi “Z” di EraGlobalisasi.
Faturahman, P. et al. (2022) „Peranan Mata Kuliah Pendidikan Pancasila sebagai FilterasiBudaya Asing bagi Mahasiswa di Era Globalisasi‟, 6(12), pp. 11990–11997.Fitriyani, P. (2018). Pendidikan Karakter Bagi Generasi Z.Pendidikan Karakter BagiGenerasi Z, 311-312.
Hayqal, M.R. and Najicha, F.U. (2023) „Peran Pendidikan Pancasila sebagai PembentukKarakter Mahasiswa‟, Civic Education: Media Kajian Pancasila danKewarganegaraan, 7(1).
Lestari, E. Y. (2019). Menumbuhkan kesadaran nasionalisme generasi muda dieraglobalisasi melalui penerapan nilai-nilai Pancasila. ADIL Indonesia Journal, 1(1)
Minatullah,M.,Hadi,MY,&Arifin,I.(2022).ANALISISPERANANPANCASILADALAMARUSGLOBALISASI.SemnasManajemenStrategiPengembanganProfilPelajarPancasilapadaPAUDdanPendidikan Dasar, 1 (1).Nasution, Robby. 2017. “Pengaruh Modernisasi dan Globalisasi Terhadap PerubahanSosial di Indonesia”. Vol.2, diakses dari: file:///C:/Users/User/Downloads/981-2480-1-SP.pdf.
Nuraprilia, S., & Dewi, D. A. (2021). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Bagi GenerasiMuda di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan dan Kewirausahaan, 9(2), 447-457
Komentar 0