Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pengaruh Sikap Profesional, Disiplin, dan Kolaboratif terhadap Kinerja Guru di Sekolah

Empati Guru

Oleh: Tsabita Fahira Daulay, mahasiswi dari STITMA Yogyakarta

Mahasiswa.co.id - Kalau ditanya apa yang paling menentukan kualitas pendidikan di sekolah, jawabannya hampir selalu mengarah ke satu titik: guru. Bukan gedung sekolahnya, bukan seberapa canggih fasilitasnya, bukan juga seberapa tebal buku teksnya. Guru adalah faktor yang paling langsung bersentuhan dengan siswa, dan karena itulah kinerja mereka punya dampak yang sangat besar terhadap apa yang terjadi di dalam kelas.

Tapi "kinerja guru" itu sendiri sebetulnya konsep yang lebih kompleks dari yang kedengarannya. Banyak orang langsung mengaitkannya dengan kemampuan akademik seberapa dalam penguasaan materi, seberapa pintar menjelaskan konsep yang sulit. Itu penting, tentu saja. Tapi ada dimensi lain yang tidak kalah menentukan, dan justru sering luput dari perhatian: sikap. Lebih spesifik lagi, tiga sikap yang sebetulnya saling berkaitan erat profesional, disiplin, dan kolaboratif.

Mulai dari yang pertama. Profesionalisme seorang guru tidak selalu terlihat dari gelar atau sertifikat yang terpajang di dinding. Ia lebih terasa dari cara guru itu mempersiapkan diri sebelum masuk kelas. Apakah dia datang dengan rencana yang matang? Apakah materi yang disampaikan relevan dan terstruktur? Apakah dia memilih metode yang sesuai dengan kondisi siswanya, bukan sekadar menggugurkan kewajiban? Guru yang profesional menjawab semua itu dengan serius bukan karena diawasi, tapi karena dia memang memandang pekerjaannya sebagai tanggung jawab yang tidak bisa setengah-setengah.

Yang menarik dari sikap profesional adalah ia tidak statis. Guru yang benar-benar profesional tahu bahwa dunia pendidikan terus berubah kurikulum berganti, kebutuhan siswa berkembang, cara belajar pun ikut berevolusi. Karena itu mereka tidak berhenti belajar. Mengikuti pelatihan, membaca, berdiskusi dengan sesama guru semua itu bukan beban tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab yang mereka emban. Ada semacam kesadaran bahwa untuk bisa mengajar dengan baik, mereka sendiri harus terus tumbuh.

Lalu soal disiplin. Ini mungkin terdengar klise, tapi dampaknya dalam konteks pendidikan jauh lebih luas dari sekadar "datang tepat waktu." Guru yang disiplin menciptakan ritme. Siswa tahu apa yang bisa mereka harapkan pelajaran dimulai sesuai jadwal, tugas diperiksa dan dikembalikan tepat waktu, komitmen yang diucapkan benar-benar ditepati. Konsistensi semacam ini membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi dari hubungan belajar yang efektif.

Ada efek lain yang tidak langsung tapi sangat nyata: guru yang disiplin secara tidak langsung mengajarkan disiplin kepada siswanya. Bukan lewat ceramah, tapi lewat contoh yang mereka lihat setiap hari. Siswa itu sangat jeli. Mereka tahu mana guru yang serius dan mana yang tidak. Dan mereka merespons sesuai dengan apa yang mereka lihat. Kalau gurunya sendiri sering terlambat atau tidak konsisten, susah mengharapkan siswanya untuk bersikap berbeda.

Nah, yang ketiga kolaboratif ini yang mungkin paling sering diremehkan. Ada anggapan bahwa mengajar adalah pekerjaan soliter: masuk kelas, ajar, keluar, selesai. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Guru yang baik tidak bekerja dalam vakum. Mereka berdiskusi dengan rekan sejawat tentang pendekatan yang berhasil dan yang tidak, berbagi bahan ajar, saling memberi masukan tentang cara menangani siswa yang kesulitan. Kepala sekolah, orang tua siswa, bahkan komunitas di sekitar sekolah semuanya adalah bagian dari ekosistem yang memengaruhi kualitas pembelajaran.

Guru yang punya sikap kolaboratif lebih terbuka terhadap perspektif lain. Mereka tidak merasa terancam ketika ada masukan atau kritik, karena mereka memandangnya sebagai bahan untuk berkembang, bukan serangan terhadap harga diri. Dan justru keterbukaan itulah yang membuat mereka terus maju, sementara yang menutup diri cenderung stagnan.

Tiga sikap ini profesional, disiplin, kolaboratif sebetulnya tidak bisa dipisah-pisah begitu saja. Mereka bekerja bersama. Guru yang profesional tapi tidak disiplin akan punya rencana yang bagus tapi eksekusinya kacau. Guru yang disiplin tapi tidak mau berkolaborasi akan stagnan karena tidak ada masukan dari luar. Dan guru yang kolaboratif tapi tidak profesional mungkin punya banyak teman diskusi, tapi tidak benar-benar memberikan dampak yang berarti di kelas. Ketiganya perlu hadir secara bersamaan agar kinerja guru benar-benar optimal.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana ketiga sikap ini bisa ditumbuhkan? Ini bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dari luar semata. Tapi lingkungan kerja yang sehat punya peran besar dalam mendorong atau justru menghambat perkembangannya. Sekolah yang menyediakan ruang untuk pelatihan, diskusi, dan refleksi Bersama bukan sekadar rapat administratif yang menghabiskan energi akan jauh lebih mudah melahirkan guru-guru dengan sikap yang kuat. Kepala sekolah yang memimpin dengan memberi contoh, bukan hanya dengan instruksi, juga punya pengaruh yang tidak kecil.

Pada akhirnya, kinerja guru yang baik bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ia dibangun dari kebiasaan sehari-hari, dari pilihan-pilihan kecil yang dibuat secara konsisten: mau mempersiapkan diri dengan serius, mau menepati komitmen, mau membuka diri untuk belajar dari orang lain. Tiga hal yang kedengarannya sederhana, tapi kalau benar-benar dihayati, bisa mengubah kualitas pembelajaran secara signifikan dan pada akhirnya, mengubah pengalaman belajar ribuan siswa yang melewati pintu kelas mereka setiap harinya

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.