Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Peran Pupuk Hayati Pada Tanaman Jagung Manis Sebagai Hijauan Pakan Ruminansia

Peran Pupuk Hayati Pada Tanaman Jagung Manis Sebagai Hijauan Pakan Ruminansia

Oleh: Nyimas Popi Indriani

Mahasiswa.co.id - Lahan pertanian sangat diperlukan untuk mencapai hasil pertanian yang maksimal dan berkualitas tinggi, supaya kebutuhan pangan yang terus meningkat dapat teratasi. Unsur hara di dalam tanah baik makro maupun mikro sangat dibutuhkan tanaman karena mempengaruhi pertumbuhan, hasil dan kualitas tanaman tersebut. Umumnya tanah pertanian di Indonesia sangat kekurangan unsur hara terutama unsur hara makro diantaranya N, P, dan K sehingga pemupukan dalam kegiatan pertanian selalu menjadi prioritas. Selain pemupukan yang tidak boleh diabaikan adalah pemberantasan hama, irigasi dan proses pertanian, supaya lahan lebih efisien.

Tanaman yang sering ditanam petani/peternak salah satunya adalah tanaman jagung manis. Penanaman benih jagung manis dalam satu lubang umummnya terdapat dua butir benih jagung dan yang lebih menguntungkan jika dalam beberapa minggu disisakan menjadi satu tanaman supaya tanaman utama penghasil jagung manis produktivitasnya tinggi. Pencabutan satu tanaman tergantung dari kondisi tanah dan tanaman utama yang tetap dibiarkan sampai panen. Hasil tanaman yang dicabut (tanaman hasil penjarangan) jangan dibuang karena sangat baik untuk pakan. Umur tanaman yang sangat muda mengandung protein kasar yang tinggi dan sangat disukai ruminansia seperti domba, kambing dan sapi. Daun jagung yang masih muda selain protein kasarnya tinggi, juga memiliki palatabilitas (kesukaan) yang tinggi pada ternak. Hijauan pakan dari tanaman penghasil jagung manis sangat disukai ruminansia karena masih terlihat hijau segar. Hal tersebut dikarenakan umur panen lebih cepat (sekitar 80 hari setelah tanam) dari pada penghasil jagung pipil yang panennya lebih dari 100 hari.

Pemupukan an organik disebut juga pupuk buatan, jika terus menerus diberikan misalnya setiap akan menanam, maka menyebabkan masalah lingkungan yang serius. Selanjutnya dapat menimbulkan kerugian bagi petani/peternak diantaranya akumulasi logam berat, hilangnya keanekaragaman hayati, merusak air tanah jika tidak semua terserap oleh tanaman dan dapat menyebabkan pemanasan global. Kandungan asam dari pupuk anorganik menyebabkan tingkat keasaman tanah yang tinggi yang dapat merusak mikrobioma pengikat nitrogen. Unsur hara makro terutama P dengan keasaman lahan yang tinggi dapat terikat logam berat sehingga tidak tersedia bagi tanaman meskipun unsur hara P banyak di dalam tanah.

Peran mikrobioma yang merupakan pupuk hayati, sangat besar dalam penyediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman yang sedang tumbuh. Sistem pengelolaan hara anorganik, pupuk hayati dan bahan organik yang terpadu atau campuran merupakan sistem alternatif untuk pengelolaan tanah yang berkelanjutan dan hemat biaya pupuk bisa mencapai 50%. Selanjutnya mikrobioma juga memperbaiki sifat tanah dan peningkatan kesuburan tanah tanpa mempengaruhi lingkungan. Mikrobioma tanah juga penting menjaga kesehatan tanah dan juga meningkatkan kualitas produk tanaman.

Mikrobioma membantu tanaman dalam menyediakan nutrien melalui proses alami seperti fiksasi nitrogen, pelarutan fosfor, dan sintesis kimia yang mendorong pertumbuhan tanaman fase vegetatif. Pertumbuhan dan hasil yang signifikan ketika mikrobioma diinokulasi dengan dua atau tiga mikroorganisme, bukan hanya satu, yang disebut juga konsorsium. Kesuburan tanah secara fisik dan kimia sangat menunjang terjadinya kesuburan biologi, yang terdapat berbagai mikrobioma yang bersifat indigenus. Beberapa mikroorganisme mampu bertahan hidup dalam berbagai lingkungan, dengan mengharapkan cara kerja yang sinergis, ramah lingkungan dan bertanggung jawab atas ketersediaan nutrient yang berkelanjutan dari sumber alami.
Mekanisme menguntungkan dari stimulasi pertumbuhan tanaman yaitu, (peningkatan ketersediaan nutrien bagi tanaman, modulasi fitohormon, biokontrol, toleransi cekaman biotik dan abiotik) diberikan oleh mikrobioma yang berbeda di dalam rizosfer, seperti bakteri (Laktobacillus) dan jamur (Trichoderma dan Mikoriza). Perluasan penggunaan konsorsium mikroba yang berbeda, memfasilitasi hasil terbaik dan paling konsisten di lapangan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.