Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Pikiran Sosialis vs Pikiran Hirarkis

Pikiran Hirarkis

Oleh : Muhammad Abid A Syakur

Mahasiswa.co.id - Bayangan-bayangan ide karl marx dan frederick engels Mungkin masih menghantui hingga sekarang. Kini bayangan itu telah melebur menjadi cahaya baru bernama sosialisme. Kita dapat melihat dari berbagai prespektif mengenai sosialisme ini. Bisa dilihat dari sosio-ekonomi, bisa dilihat dari psikologi sosial juga bisa dilihat sebagai filsafat moral. Dan saat ini saya ingin membawakan anda ide sosialisme ini pada isu kemarin ya. Ini sedikit membangunkan amarah saya sehingga saya termotivasi menulis ini. Ya, sebenarnya ini bukan hal yang pertama kali kita lihat, sering kok apalagi dalam lingkup mahasiswa, bahkan pejabat alias pemangku kekuasaan.

Pada kesempatan ini, saya ingin tabrakan sebuah pikiran sosialis dengan pikiran hirarkis, Ets saya tidak sedang bahas ruang ekonomi melainkan sosial bahkan moral. Yang biasanya kita tahu soal sosialisme itu berkaitan dengan sosio ekonomi kan, tapi saya akan membawa anda pada sebuah konflik kecil yang enak untuk dibaca.

Di akhir agustus kemarin, kita telah berupaya menuntut pertanggung jawaban pemerintah melalui demo aksi massa. Berakhir dengan tuntutan 17+8 merupakan kritik substansial yang ingin dijawab oleh pemerintah. Namun, terlepas itu ada tragedi yang menimpa teman-teman gerakan juang kita, salah satunya Affan, seorang pekerja ojol. Di tengah kondisi suka duka ini, ternyata tak banyak juga yang sinis dengan berkata “Ya salah Affan lah, suruh siapa di tengah ?”, ada pula yang nyeletuk “Sesuai undang-undang demo itu sampai jam 18.00”, ada juga yang menyahut “ya pokoknya aturan itu aturan”. Wtf men, kalimat seperti ini yang sadis kali. Hati nuraninya itu loh, percuma gelar akademik anda-anda tinggi tap moral ethicsnya nol. Ini bukan soal beda pendapat, ini soal prinsip dimana dunia harus adil buat semua, bukan buat mereka-mereka yang semena-mena menyalahkan tragedi ini. Pikiran hirarkis akan terus membeku pada mereka yang selalu membela sistem dan menuduh orang kecil. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah, pikiran seperti itu sering muncul dari orang-orang yang punya privilage, yang katanya pinter, berpendidikan tinggi, tapi kok malah mengagunkan aturan daripada kemanusiaan. Ngomong-ngomong soal “ya salah Affan, suruh siapa di tengah?”, wah betapa cerdasnya logika ini! seolah olah Affan tahu kejadian apa yang akan menimpa dia. Ini bukan soal tidak empati, tapi juga malas berpikir dalam, bungkusnya saja pakai argumen undang-undang, pembelaan sistem dan lain lain.

Kalau kita lihat dari sudut ilmu politik, pikiran hirarkis ini bagai penguat status quo alias buzzer status quo. Lengkap dengan slogannya “hukum nomer satu, undang-undang nomer satu, ikuti aturannya” Max weber dipojokkan cuma bisa geleng-geleng hahaha, soalnya otoritas legal-rasional yang katanya bikin dunia rapi, tapi malah jadi alat untuk menjaga sistem yang timpang. Orang-orang yang memiliki pola pikir seperti ini rela mengorbankan orang kecil yang terjepit sistem demi langgengnya kekuasaan mereka. Namanya juga pikiran hirarkis ya, taunya cuman top-down hahaa sedangkal itu. Mereka bersikeras aturan itu segalanya, tapi lupa bahwa aturan sering dibuat sama yang udah punya kuas, bukan buat nolong yang lemah.

Halo ? apa kabar elit intelektual ? Mereka ini kayak petinggi, tapi pas ngopi sama orang kecil, yang disodorkan “ikuti aturannya dong” tanpa mengerti realita yang dialami rakyat kecil. Antonio Gramsci bilang, ini kegagalan elit yang seharusnya jadi suara buat yang tersisih, tapi kok malah sibuk negebela sistem yang menindas. Demonstrasi seharusnya adalah cara rakyat teriak minta keadilan, malah dipelentir jadi alasan buat nuduh orang yang nggak punya kuasa alias orang-orang kecil. “Nggak ikut aturan ya, wajar kena “ , ucap mereka dengan entengnya. Seolah aturan itu adalah sebuah Tuhan yang disembah. Padahal coba deh mikir, aturan itu buat siapa sih ? buat jaga yang di atas apa bantu yang di bawah ? Lihat dulu aturannya support siapa baru teriak ikuti aturannya.

Dalam teori marxis, aturan itu adalah cerminan relasi kuasa, siapapun yang punya modal, akses, dan suara. Jadi kalau pikiran hirarkis ngotot bela aturan tanpa tahu aturan itu menindas rakyat samahalnya mereka sedang menjilat sistem pemerintahan.

Nah, jadi sebenernya soal Affan itu cuma trigger aja. Masalah utamanya tuh ada di pola pikir hirarkis yang udah mendarah daging. Pikiran ini bahaya karena dia ngerasa paling benar dengan cara yang paling sempit. Bisa diliat polanya kok di mana-mana: di kampus, di kantor, bahkan di keluarga. Selalu ada yang ngebelain “aturan” atau “tata tertib” atau “norma” tanpa pernah ngegali lebih dalem, siapa yang bikin aturan itu dan buat kepentingan siapa.

Mereka yang punya pikiran hirarkis ini ciri-cirinya gampang banget diketahui. Pertama, otaknya dikunci sama doktrin “yang penting tertib”. Kedua, mereka alergi sama chaos atau keributan, karena chaos itu nggak bisa dikontrol, dan mereka ingin semua hal rapi seperti di dalam otak mereka yang sempit itu. Yang ketiga dan paling parah, mereka punya mentalitas “penjilat gerbang”. Mereka merasa punya tugas suci buat menjilat dan menjaga “kemurnian” sistem dari orang-orang yang dianggap “ngacau” atau “melanggar”. Ironisnya, mereka sendiri seringkali cuma kaki tangan, bukan yang punya kuasa beneran.

Kalau kita bedah pake pisau bedah filsafat moral, akar masalahnya tuh sesimpel ini: penyembahan buta sama otoritas formal plus cuek otoritas moral.

Immanuel Kant bilang manusia dewasa moral itu punya otonomi. Bisa mikir sendiri mana yang bener dan salah pake akal sehat, bukan sekadar numpang pikiran penguasa. Tapi pikiran hirarkis? Itu adalah bentuk heteronomy yaitu ketergantungan patologis pada sistem luar. Mereka serahin pertimbangan moralnya ke aturan eksternal. Ini namanya kemalasan intelektual dan moral tingkat dewa. “Udah ada aturannya, tinggal ikut aja” alias mereka gagal total jadi manusia merdeka yang bertanggung jawab atas penilaian moralnya sendiri.

Bayangin anda-anda nggak tahu bakal lahir sebagai siapa: orang kaya atau miskin, mayoritas atau minoritas. Masih mau hidup di bawah aturan yang sekarang? Pikiran hirarkis nggak akan mau main di wilayah ini. Mereka terima aturan begitu aja karena kebetulan posisi mereka aman. Nggak punya imajinasi moral buat bayangkan diri di posisi paling lemah.

Yang paling parah, mereka terjebak sama kebenaran prosedural. “Demo sampe jam 6? Iya. Tapi ditembakin gas air mata jam 5? Itu urusan nanti.” Mereka pisahkan secara sempit antara kepatuhan prosedur dan keadilan substansial. Padahal aturan cuma alat, cuy. Bukan tujuan. Tujuannya ya keadilan itu sendiri.

Dari sudut sosialis, pikiran hirarkis ini adalah senjata pamungkas buat melestarikan status quo.

Antonio Gramsci bilang ini namanya hegemony yang berhasil. Kelas penguasa nggak perlu repot paksa kita terus-terusan. Cukup ciptain sistem nilai termasuk “patuh pada aturan” yang kemudian dianggap sebagai common sense. Orang-orang hirarkis ini adalah agen-agen yang sebarkan “akal sehat” palsu ini. Mereka kira pikirannya independen, padahal hasil cuci otak struktural yang halus banget. Mereka “penjaga” ideologi status quo tanpa dibayar, kalaupun dibayar pake jabatan juga hihihihi.

Lebih sadis lagi, ini selaras dehumanisasi. Rakyat kecil dilihat sebagai objek yang harus diatur, didisiplinkan, dikontrol dalam tanda kutip bukan subjek yang punya hak dan aspirasi. Kaum proletar dilihat sebagai masalah yang harus dikelola, bukan manusia bermartabat. Makanya ketika konflik, simpati mereka selalu pada “kelancaran sistem” bukan “penderitaan manusia”.

Dan inilah musuh terbesar kita: false consciousness. Seorang buruh miskin bisa aja nyalahin teman sekelasnya yang demo karena “melanggar aturan”. Dia sudah menginternalisasi nilai-nilai musuhnya (kapitalis). Inilah yang bikin perubahan sosial sulit — musuhnya udah ada di dalam kepala kita sendiri. Perjuangan melawan pikiran hirarkis adalah perjuangan membangun kesadaran kelas sejati.

Penutup :
Jadi sebenernya, selama masih ada ketimpangan, selama masih ada yang ngerasa paling berhak ngatur hidup orang lain, dan selama masih ada yang rela dijadiin tumbal sistem, pikiran sosialis akan terus hidup. Dia tidak akan mati, karena dia lahir dari rahim penderitaan yang nyata. Bukan dari teori-teori indah di kantor pemerintahan, tapi dari keringat buruh yang nggak dibayar adil, dari teriakan rakyat kecil yang dipinggirkan, dari amarah mereka yang dizalimi aturan.

Sosialisme itu bukan sekadar teori ekonomi atau wacana politik. Tapi komitmen buat nolak menerima keadaan yang timpang. Sebuah keberanian buat nanya, “Sistem ini buat siapa, sih?” dan gak nerima jawaban yang muter-muter alias bertele-tele. Dia adalah solidaritas yang nggak bisa dibeli oleh aturan apa pun.

Perjuangan kita bukan cuma nentang orang-orang yang pikirannya hirarkis itu. Tapi juga memutus rantai yang bikin mereka mikir kayak gitu. Ngebongkar hegemoni yang udah bikin kita saling sikut, padahal musuh utamanya cuma satu: sistem yang ngejamin segelintir orang bisa tetap di atas dengan menginjak-injak yang di bawah.

Marx bilang, filsuf cuma menafsirkan dunia, padahal yang penting adalah mengubahnya. Nah, perubahan itu dimulai dari hal sederhana: menolak diam, menolak nerimo, dan paling penting, menolak buat nyalahin korban. Setiap kali anda-anda berdiri di pihak yang lemah, setiap kali andananya “ini adil nggak sih?”, anda sudah memenangkan pertarungan kecil melawan sistem besar itu.

So, selama bayangan Marx dan Engels masih “menghantui” dunia yang timpang ini, berarti masih ada harapan. Karena hantu itu adalah pengingat bahwa dunia yang lebih adil bukanlah mimpi, tapi sebuah kebutuhan yang harus diperjuangkan.

Teruntuk orang-orang dengan pola pikir hirarkis sesekali duduk dengan orang-orang kecil di warung kopi , dan dengarkanlah realita penderitaan mereka sebenarnya. Jangan hanya naik podium, teriak lantang soal misi misi masa depan yang akan mensejahterahkan orang kecil tanpa tahu realita sebenarnya.
Dalam solidaritas, kita menemukan kekuatan sejati.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.