Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Politik Olah-Olah: Penghancur Kaderisasi Pada Organisasi Mahasiswa

Organisasi Mahasiswa

Mahasiswa.co.id - Dalam banyak organisasi, terutama yang berbasis kepemudaan atau kemahasiswaan, kaderisasi adalah tulang punggung regenerasi. Namun, belakangan ini tidak jarang proses kaderisasi pada organisasi mahasiswa mulai rusak bukan karena kurangnya minat anggota, tapi karena satu penyakit kronis yang menjalar diam-diam: politik olah-olah.

Apa Itu Politik Olah-olah?
Politik olah-olah adalah gejala akut ketika elite organisasi lebih sibuk menjaga posisi daripada membina kader. Mereka sering kali berubah haluan, mendukung satu pihak hari ini lalu menjatuhkannya besok, semua demi kepentingan pribadi. Organisasi pun jadi panggung drama, bukan ruang belajar. Alih-alih jadi mentor, para senior justru menjelma jadi politisi amatiran, sibuk lobbying, intrik, dan menyusun strategi untuk mempertahankan kursi. Akibatnya, kader baru tak lagi paham esensi perjuangan, karena yang mereka lihat hanyalah sikap plin-plan dan kepentingan pribadi yang dibungkus rapi dalam jargon “demi organisasi”. Jika dibiarkan, politik olah-olah ini akan merusak mentalitas kader muda. Mereka tak belajar tentang integritas atau idealisme, tapi malah belajar “cara main licik yang elegan”. Dan dari situ, regenerasi pun perlahan mati, bukan karena tidak ada penerus, tapi karena penerusnya sudah tercemar sejak dini.

Warung Kopi Jadi Tercemar
Warung kopi, yang dulunya jadi ruang diskusi santai dan tempat kader muda belajar ideologi dan sejarah perjuangan organisasi, kini perlahan tercemar oleh politik olah-olah. Alih-alih jadi tempat tumbuhnya gagasan segar dan semangat kaderisasi, warung kopi berubah jadi markas konsolidasi politik kotor, tempat para senior memainkan peran ganda: depan mendukung, belakang menikam. Pembicaraan idealisme diganti dengan bisik-bisik strategi rebut posisi, dan kader baru pun mulai belajar bahwa yang penting bukan kontribusi, tapi kedekatan. Politik olah-olah ini menjadikan warung kopi bukan lagi ruang tumbuh, tapi ruang tipu. Panggung sandiwara kepentingan yang meracuni proses regenerasi sejak akarnya.

Krisis Keteladanan di Tubuh Organisasi
Salah satu akar utama dari tumbuh suburnya politik olah-olah dalam organisasi adalah krisis keteladanan. Para senior yang seharusnya menjadi teladan dalam integritas, konsistensi, dan nilai perjuangan, justru sibuk menjaga posisi dan bermain drama di belakang layar. Mereka tampil seolah-olah memperjuangkan kaderisasi, tapi di balik itu hanya merawat lingkar kekuasaan sempit. Ketika teladan memudar, kader baru pun kehilangan arah. Mereka belajar bukan dari nilai, tapi dari manuver. Mereka meniru bukan keteguhan prinsip, tapi kelihaian akting politik. Akibatnya, organisasi kehilangan ruh pembinaan, dan yang tersisa hanyalah generasi pewaris kepura-puraan. Ketika yang diteladani adalah kemunafikan struktural, maka jangan heran jika kaderisasi hanya mencetak topeng, bukan pemimpin.

Waktunya Kembali ke Nilai Perjuangan
Penulis menaruh harapan besar kepada para elite organisasi, utamanya para abangda-abangda senior agar organisasi tidak tersesat dalam kepentingan sempit dan politik olah-olah yang menjauhkan dari ruh perjuangan. Karena jika demikian halnya, kaderisasi tak lagi soal pembentukan karakter, tapi sekadar jalur menuju posisi. Forum tak lagi tempat pencarian solusi, tapi ladang intrik yang penuh sandiwara. Jika begini terus, organisasi hanya akan melahirkan generasi yang mahir bermanuver, tapi miskin nilai. Jika organisasi adalah rumah, maka nilai-nilai perjuangan adalah pondasinya. Dan pondasi itu selalu menanti untuk memperbaiki, bukan membiarkannya runtuh pelan-pelan oleh politik olah-olah seperti yang penulis sebutkan. Oleh karena itu, seruan untuk berbenah bukanlah romantisme kosong. Ini adalah panggilan moral untuk kembali menata arah organisasi secara substansial.

PROFIL PENULIS:
Muh. Rasyid Ridho P.
Status:Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.