Mahasiswa.co.id - Sudah tahun 2025, tetapi, masih sering kita temui, masih banyak bukti nyata atas tidak sempurnanya figur ayah. Berdasarkan data dari United Nations Children's Fund (UNICEF), pada tahun 2021 ada sebanyak 20,9 persen anak-anak di Indonesia yang kehilangan figur ayah. Juga, menurut laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2022, sekitar 24 juta anak di Indonesia tidak mendapatkan perhatian memadai dari figur ayah, baik secara fisik maupun emosional. Ini jelas bukan jumlah yang sedikit. Memang, menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah dan pastinya tidak akan ada ayah yang sempurna di dunia ini. Meskipun demikian, setidaknya para ayah ini diharapkan mampu memperjuangkan anaknya dan bersedia untuk terus mengupgrade diri mereka terus-menerus.
Walaupun begitu, ketidaksempurnaan figur ayah ini menurut saya tidak bisa disamaratakan. Masih ada para ayah yang berjuang untuk bisa hadir, hanya saja ada satu dan lain hal yang menjadikan perilaku atau tindakan mereka menjadi perilaku atau tindakan yang melukai hati anak. Tapi, sekali lagi, ketidaksempurnaan tetaplah ketidaksempurnaan, anak-anak memiliki lukanya masing-masing akibat ketidaksempurnaan sang ayah.
Ketidaksempurnaan ini juga bisa terjadi karena beberapa faktor, kurangnya edukasi parenting, budaya patriarki, atau memang kurangnya moral si ayah sebagai manusia. Namun, ada faktor lain yang cukup saya soroti, yaitu masa lalu si ayah yang memiliki figur ayah yang juga rusak.
Berangkat dari pengalaman pribadi saya, saya cukup sering terluka akibat perkataan dan perilaku ayah saya sendiri, yang saya panggil dengan sebutan Papa. Papa sebenarnya baik, banyak hal baik yang saya dapat darinya, salah satu yang paling saya ingat, beliau mengajarkan saya kalau kegagalan adalah hal yang patut dirayakan dengan membelikan saya mie pangsit ketika rangking saya turun dulu saat di Sekolah Dasar. Namun, hal baik tetap datang berbarengan dengan luka. Papa kerap kali mengatakan hal-hal yang menyakitkan, seperti waktu saya ingin mengambil jurusan Sastra Indonesia, waktu saya tidak mau mengikuti ujian Sekolah Kedinasan (yang pada akhirnya tetap saya ikuti karena beliau memaksa), atau waktu saya tidak mau masuk ke SMA semi-militer. Dia selalu mengatakan saya bodoh dan masih terlalu muda sehingga tidak mengerti pemikirannya. Bukan hanya mengatakan saya bodoh, tetapi beliau juga menghina pilihan jurusan dan sekolah yang saya inginkan, mengatakan bahwa itu tidak sebanding dan standarnya di bawah jurusan dan sekolah pilihannya. Padahal, di usia saya yang sekarang, saya tetap merasa bahwa memang sekolah dan jurusan itu yang saya inginkan, bukan karena saya masih anak kecil makanya saya berpikir begitu. Selain itu, momen yang paling saya ingat, salah satu yang paling menorehkan luka di hati saya adalah ketika kami beradu mulut, lalu Papa mengatakan bahwa saya adalah penyebab dia akan meninggal muda, akibat dari seringnya perdebatan kami. Itu terngiang-ngiang cukup lama dalam pikiran saya, sampai bertahun-tahun, mengakibatkan saya selalu berpikir bahwa di masa depan kelak, ketika saya sudah bersuami, suami saya akan meninggal muda karena saya.

Komentar 0