Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Romantis yang Fana: Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu “Fana Merah Jambu” karya Fourtwnty

065157900_1564664291-fourtwnty

Mahasiswa.co.id - Lagu bukan hanya perkara bunyi dan harmoni, melainkan juga ruang tempat bahasa mendapatkan bentuknya yang paling estetis. Lagu “Fana Merah Jambu” karya Fourtwnty, yang rilis pada tahun 2015, merupakan contoh menarik bagaimana lirik lagu bisa menjadi sarana untuk menyampaikan makna secara simbolis dan mendalam. Fourtwnty, yang dikenal sebagai band bergenre pop-folk dengan corak “indie”, seringkali mengusung tema eksistensial dan emosional dalam lirik-liriknya. “Fana Merah Jambu” adalah salah satu lagu yang kuat dalam pendekatan stilistika, yaitu sebuah pendekatan kajian sastra yang menelaah penggunaan gaya bahasa atau majas untuk menemukan makna terdalam dalam suatu karya (Lafamane, 2020). Dalam lagu ini, kita tidak hanya menemukan cerita tentang cinta atau keintiman, tetapi juga perenungan akan waktu, kenangan, dan perasaan yang tidak diucapkan secara langsung.

Dalam pandangan Septiaji dan Nisya (2019), lirik lagu adalah puisi yang dipadukan dengan musik. Maka, pendekatan stilistika yang menelaah gaya bahasa dan cara penyair mengolah bahasa sangat relevan untuk menganalisis lirik ini. Gaya bahasa dalam lagu ini tidak sekadar mempercantik bunyi, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan suasana dan menyampaikan isi batin penulis lagu.

Judul lagu ini sendiri sudah menunjukkan permainan makna yang menarik. Kata “fana” merujuk pada sesuatu yang tidak kekal, sedangkan “merah jambu” merupakan simbol dari cinta, kelembutan, dan romantisme. Gabungan kedua kata ini menciptakan diksi yang penuh ironi namun juga puitis yang menggambarkan perasaan cinta yang indah tapi hanya sementara. Dalam bait pembuka:

Di depan teras rumah
Fana merah jambu, ku berdua
Momen-momen tak palsu

terasa bahwa lirik ini ingin “membekukan” momen sederhana yang begitu berkesan, seolah mengabadikan sepotong waktu yang tak bisa diulang.

Salah satu kekuatan utama lirik ini terletak pada penggunaan metafora dan personifikasi, misalnya dalam larik:

Air tuhan turun, aromamu
Tersalurkan aliran syaraf buntu

Di sini, hujan digambarkan sebagai “air tuhan”, metafora yang menyiratkan kesucian dan kehadiran ilahi dalam fenomena alam. Lalu, aroma seseorang dikatakan mampu mengalirkan sesuatu dalam “syaraf buntu” seperti ungkapan simbolik yang bisa diartikan sebagai terbukanya kembali emosi atau kenangan yang sebelumnya tertahan. Ini memperlihatkan bahwa lirik tidak harus menjelaskan secara langsung, melainkan bisa membangun makna lewat asosiasi dan perasaan. Menurut Kenasta dan Rizky (2023), gaya seperti ini banyak digunakan dalam musik indie untuk menghadirkan emosi dengan cara yang lebih halus dan simbolik. Hal ini juga sejalan dengan karakteristik lirik Fourtwnty yang memang cenderung kontemplatif dan reflektif.

Unsur pengulangan atau repetisi dalam lagu ini juga sangat menonjol, seperti dalam bait:

Tersalurkan aliran syaraf buntu
Martin tua media pembuka

Frasa ini diulang berkali-kali dalam lagu. Secara musikal, pengulangan memberi efek ritmis dan menciptakan suasana yang tenang dan dalam. Sementara secara stilistika, pengulangan ini mempertegas pentingnya momen atau elemen tertentu dalam cerita lagu. Frasa “Martin tua” kemungkinan besar merujuk pada sejenis minuman beralkohol, yang dihadirkan sebagai simbol pelonggar suasana atau pembuka percakapan. Objek ini menjadi metafora dari keterbukaan, kenyamanan, atau bahkan pelarian dari kekakuan emosional.

Selain bermain dengan makna dan simbol, lirik ini juga menghadirkan banyak citraan tubuh dan gerak. Dalam bait:

Menarilah, menarilah
Genggam tangan cokelatku
Berputar-putar denganku

gerakan tubuh seperti menari dan berputar digambarkan secara visual dan emosional. Menari di sini bukan hanya aktivitas fisik, tapi juga simbol dari keharmonisan, kebebasan, dan kebersamaan yang intim. Ungkapan “tangan cokelatku” memberi sentuhan identitas yang khas Indonesia, menghadirkan kedekatan budaya dan tubuh sebagai bagian dari ekspresi cinta yang tidak muluk-muluk. Seperti dijelaskan oleh Yunus dan Syaeba (2019), gaya bahasa dalam lirik lagu sering memanfaatkan simbol tubuh untuk memperkuat relasi emosional antar tokoh dalam lirik. Alih-alih menyampaikan rasa cinta secara gamblang, Fourtwnty justru membiarkan pendengar merasakannya lewat gestur dan suasana.

Hal menarik lainnya dari lirik ini adalah bagaimana ia menghindari penyebutan nama, waktu, atau tempat yang spesifik. Tidak ada latar yang jelas, tidak ada alur yang runtut. Namun justru dalam kesederhanaan dan ketidakteraturan itu, makna dan emosi menjadi lebih luas dan universal. Lagu ini seperti catatan perasaan yang dibacakan dalam diam. Kata-kata dalam lirik tidak bertujuan menjelaskan, melainkan menghadirkan suasana. Ini menunjukkan bahwa bahasa dalam lagu bisa menjadi alat komunikasi batiniah, yang tidak selalu logis tetapi sangat emosional.

Melalui pendekatan stilistika, kita bisa melihat bahwa lirik “Fana Merah Jambu” bukan hanya sebuah cerita tentang cinta atau nostalgia, tetapi juga karya puitik yang mengandalkan simbol, metafora, repetisi, dan citraan untuk menyampaikan emosi terdalam secara tidak langsung. Lagu ini adalah contoh bagaimana bahasa dalam musik bisa menjadi begitu kaya, bahkan ketika tidak banyak berkata-kata secara eksplisit. Dengan gaya bahasa yang ambigu namun menyentuh, Fourtwnty menunjukkan bahwa perasaan tidak harus dijelaskan panjang lebar, cukup disiratkan, dan sisanya biarlah pendengar yang mengisi maknanya sendiri.

Winda Radisti merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Saat ini bergiat di Labor Penulisan Kreatif (LPK) FIB UNAND.

Daftar Pustaka
Kenasta, A., & Rizky, A. (2023). “Analisis Gaya Bahasa Pada Lirik Lagu “Cincin” Hindia: Kajian Stilistika”. Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra.
Septiaji, A., & Nisya, R. K. (2019). “Kritik Sastra Ekofeminisme: Pengantar Kritik Sastra Berwawasan Perempuan dan Alam”. Insan Cerdas Bermartabat (ICB).
Yunus, N. H., & Syaeba, M. (2019). Gaya Bahasa dan Pesan Moral Pada Lirik Lagu Bahasa Mandar (Suatu Kajian Stilistika)”. Celebes Education Review, 1(2), 63–70.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.