Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Sadar Tapi Mati Rasa: Mengapa Zombie Scrolling Merampas Produktivitas dan Kualitas Hidup Mahasiswa?

Zombie Scrolling

Mahasiswa.co.id - Pastinya kamu pernah tersadar di tengah malam dengan jempol masih bergerak di layar ponsel, tapi malah sama sekali tidak ingat konten apa yang baru saja di lihat lima menit yang lalu? Atau menemukan dirimu membuka media sosial seperti Instagram di sela-sela perpindahan kelas, padahal sebenarnya tidak ada yang ingin dicari? Jika iya, mungkin kamu sedang mengalami apa yang disebut dengan zombie scrolling, yaitu sebuah fenomena yang kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa modern saat ini.

Zombie scrolling adalah kebiasaan men-scroll atau menggulir media sosial secara otomatis, tanpa tujuan yang jelas, dan sering kali hanya untuk mengisi kekosongan atau menghindari kebosanan. Berbeda dengan doomscrolling yang lebih spesifik di mana seseorang secara aktif mencari dan mengonsumsi berita-berita buruk hingga merasa cemas dan tertekan, zombie scrolling lebih bersifat pasif dan tanpa kesadaran penuh. Bayangkan seperti zombie yang berjalan tanpa arah, itulah yang terjadi pada jari kita yang terus menggeser layar tanpa benar-benar memproses informasi yang masuk. Kita tidak mencari tahu sesuatu yang spesifik, kita hanya… scroll saja.

Yang memprihatinkan adalah bagaimana scrolling ini telah menjadi mekanisme pelarian favorit mahasiswa dari tekanan akademik dan sosial. Tugas menumpuk? Scroll. Deadline besok? Scroll dulu. Gitu terus. Padahal, yang terjadi justru seballiknya. Setiap kali kita scroll dan menemukan konten yang sedikit menarik, otak kita akan melepaskan dopamin atau hormon kesenangan yang membuat kita merasa baik untuk sesaat. Seperti makan cemilan terus-menerus tapi tidak pernah kenyang, otak kita terus menginginkan stimulasi baru tanpa pernah merasa puas. Lama-kelamaan, kemampuan kita untuk fokus pada satu hal mulai tumpul, dan bahkan emosi mendalam seperti kebahagiaan sejati atau kepuasan dari pencapaian nyata menjadi semakin sulit kita rasakan. Kita menjadi “mati rasa” terhadap kehidupan nyata karena terlalu terbiasa dengan stimulasi cepat dari layar.

Dampak paling nyata dari zombie scrolling adalah bagaimana ia merampas produktivitas kita. Sebagai mahasiswa, kita sering meremehkan “waktu transisi” atau momen-momen di antara kegiatan, seperti saat menunggu dosen, istirahat antar kuliah, atau perjalanan pulang. Waktu-waktu ini sebenarnya sangat berharga untuk memproses informasi, merencanakan langkah berikutnya, atau sekadar memberikan otak kita untuk beristirahat. Namun, apa yang kita lakukan? Langsung membuka ponsel. Akibatnya, fokus kita menjadi terpecah-belah. Penelitian menunjukkan bahwa setelah distraksi, otak kita membutuhkan rata-rata 23 menit untuk kembali fokus sepernuhnya pada tugas semula. Bayangkan berapa banyak waktu yang terbuang jika kita melakukan ini berkali-kali dalam sehari.

Lebih parah lagi, zombie scrolling adalah salah satu pemicu utama prokrastinasi. “sebentar aja kok, lima menit” yaitu mantra yang sering kita ucapkan, tapi lima menit kemudian berubah menjadi setengah jam lalu menjadi satu jam. Tugas yang seharusnya dikejakan menjadi tertunda dan berakhir kita mengerjakan semuanya dalam kepanikan di malam deadline. Ironisnya, stress dari prokrastinasi ini membuat kita mencari pelarian lagi dan akhirnya kita kembali ke scrolling media sosial.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampaknya terhadap kualitas hidup secara keseluruhan. Banyak mahasiswa yang mengeluh susah tidur dan sering kali penyebabnya adalah scrolling sebelum tidur. Cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi melatonin, hormon tidur kita, sehingga meskipun tubuh lelah, otak tetap terjaga. Akibatnya, kita tidur larut malam tapi harus bangun pagi untuk kuliah adalah siklus yang berujung pada kelelahan kronis.

Zombie scrolling juga meningkatkan kecemasan sosial. Melihat kehidupan “sempurna” orang lain di media sosial membuat kita merasa hidup kita membosankan atau tidak cukup baik. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah highlight reel, bukan realitas yang sebenarnya. Namun, perbedaan sosial ini tetap menggerogoti kepercayaan diri kita. Belum lagi perasaan bersalah yang muncul setelah sadar sudah berjam-jam scrolling tanpa menghasilkan apa-apa itu adalah perasaan yang membuat kita merasa tidak produktif dan gagal.

Lalu, apa solusinya? Pada level individual, kita perlu sadar akan pola penggunaan ponsel kita. Kita dapat memulai dengan yang sederhana, yaitu aktifkan screen time tracker untuk melihat berapa lama sebenarnya kita menggunakan media sosial. Kedua, coba teknik seperti “digital detox mini” yaitu matikan notifikasi media sosial selama jam-jam tertentu, atau letakkan ponsel di ruangan lain saat belajar. Ketiga, gunakan aplikasi yang memblokir akses ke media sosial saat kita perlu fokus. Keempat, Ganti kebiasaan scrolling dengan aktivitas lain yang lebih bermakna dan bermanfaat, seperti baca buku fisik, jalan-jalan sebentar, atau sekadar melamun karena otak kita butuh waktu kosong untuk berkreativitas.

Namun, solusi untuk individual saja tidak cukup. Kampus sebagai institusi juga perlu berperan. Misalnya, menyediakan ruang-ruang komunal yang phone free di mana mahasiswa bisa berinteraksi langsung tanpa distraksi dari layar ponsel. Atau mengadakan workshop literasi digital yang mengajarkan dampak penggunaan media sosial berlebihan dan cara mengatasinya. Dosen juga bisa membantu dengan membuat “tech break” di tengah pembelajaran, di mana ada momen khusus untuk mengecek ponsel sehingga mahasiswa tidak merasa perlu mmelakukannya diam-diam.

Zombie scrolling bukan sekadar kebiasaan buruk. Ini adalah masalah serius yang menggerus Kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup kita sebagai mahasiswa. Kita perlu sadar bahwa setiap kali jempol kita bergerak tanpa pikiran di layar, kita sedang kehilangan momen-momen berharga dalam hidup nyata. Saatnya kita bangun dari moder “zombie” dan kembali mengendalikan hidup kita sendiri.

Oleh: Divya Maysa Novianti
Profil Singkat: Saat ini saya aktif sebagai Mahasiswa Semester 5 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Akun IG: @_divyamaysn

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.