Mahasiswa.co.id - Memahami sebuah puisi bukanlah perkara mudah, karena puisi tidak sekadar rangkaian kata-kata indah, melainkan sebuah bentuk ekspresi yang mengandung banyak makna dan penuh simbol. Bagi sebagian orang, membaca puisi sering kali terasa seperti masuk ke dalam dunia yang penuh teka-teki, yang menimbulkan pertanyaan: “Apa sebenarnya yang ingin disampaikan penyair?” Puisi dapat mengandung banyak makna. Setiap orang dapat memaknai satu puisi lebih dari satu makna, tergantung perasaan dan imajinasi pembacanya. Selain itu, penyair sering menggunakan diksi-diksi yang rumit sehingga untuk memahami puisi tidak bisa hanya dalam sekali baca. Namun, bagi penikmatnya, di situlah letak estetika puisi tersebut. Memahami sebuah puisi, perlu mengenali gaya bahasanya terlebih dahulu. Gaya bahasa hadir sebagai jembatan yang membantu pembaca menelusuri makna tersembunyi dalam setiap larik-lariknya. Menurut Keraf (1991), dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa, gaya bahasa dapat dibagi menjadi dua kategori: gaya retoris dan gaya kiasan. Gaya bahasa kiasan terbagi menjadi 16 majas, salah satu di antaranya adalah majas metafora. Dari sekian banyaknya puisi yang bermajas metafora, saya mengambil puisi Di Negeri Khatulistiwa karya Gunoto Saparie. Majas metafora adalah majas yang membandingkan dua objek sekaligus. Dalam buku Keraf berjudul Diksi dan Gaya Bahasa (1991), majas metafora dijelaskan sebagai bentuk kiasan atau perbandingan yang melibatkan dua hal, baik secara langsung maupun tidak langsung. Majas metafora menggunakan kata atau frasa yang memiliki makna konotatif. Perlu diingat, majas ini tidak menggunakan konjungsi bak, sebagai, seperti, dan lain sejenisnya. Melalui majas inilah, Saparie menyampaikan kritik sosialnya tentang Indonesia. Dalam puisi yang berjudul di Negeri Khatulistiwa, Saparie menyampaikan kegelisahan dan kekhawatirannya terhadap kondisi bangsa Indonesia.
di negeri khatulistiwa aku tersesat di sebuah buku tua yang kehilangan angka dan aksara pustaka pun kehilangan cahaya
Frasa negeri khatulistiwa yang digunakan oleh Saparie dalam puisinya secara simbolis merujuk pada negara Indonesia. Selanjutnya, metafora buku tua di sini bukanlah buku dalam arti sebenarnya, melainkan simbol dari budaya yang sudah lama ada, namun kini tak lagi memberi arah atau makna yang jelas. Pemaknaan ini didukung pula dengan larik “kehilangan angka dan aksara,” angka dan aksara dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang kini telah hilang. Larik selanjutnya “pustaka pun kehilangan cahaya,” memiliki makna bahwa budaya literasi kini telah kehilangan harapan. Pepatah yang berbunyi “buku adalah jendela dunia” tak lagi terdengar di negeri ini.
mampukah aku menyelamatkan harapan dari virus yang makin menggila? mampukah aku menulis dan membaca tanda-tanda kebangkrutan kebudayaan?
Kata virus di sini bukan merujuk pada penyakit biologis, melainkan berfungsi sebagai metafora untuk menggambarkan perkembangan teknologi yang begitu pesat hingga memengaruhi kehidupan manusia secara signifikan. Metafora dalam larik “virus yang makin menggila” menggambarkan penggunaan gadget yang berdampak kepada literasi bangsa Indonesia. Terlalu sering menggunakan gadget dapat mengurangi waktu membaca, yang pada akhirnya menyebabkan krisis budaya literasi di kalangan masyarakat Indonesia. Selanjutnya, larik “mampukah aku menulis dan membaca,” menyampaikan kekhawatiran terhadap generasi saat ini yang semakin terjebak dalam dunia digital, sehingga semakin jarang melakukan kegiatan menulis dan membaca. Orang-orang lebih tertarik menonton konten-konten instan di media sosial, ketimbang membaca teks panjang dalam buku. Pernyataan ini diperkuat oleh larik “tanda-tanda kebangkrutan kebudayaan,” sebagai metafora yang menggambarkan kecanduan terhadap teknologi instan yang dapat merusak moral bangsa. Dengan kondisi bangsa yang minim literasi seperti ini, Indonesia bisa mengalami kemunduran. Budaya literasi di Indonesia akan semakin sering terabaikan. Melalui majas metafora dalam puisi di Negeri Khatulistiwa karya Gunoto Saparie, penyair menyampaikan kritiknya terhadap kondisi budaya literasi di negara Indonesia saat ini. Larik seperti “kehilangan angka dan aksara,” secara jelas menyindir rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Apalagi, larik “mampukah aku menulis dan membaca,” yang menunjukkan kekhawatiran penyair terhadap generasi saat ini yang lebih tertarik menonton berbagai konten di gadget dibandingkan membaca buku seperti buku pelajaran. Hal ini membuat saya semakin paham dan setuju alasan Bapak Saparie menulis puisi ini–karena memang, di zaman yang serba instan ini, budaya literasi kita kian memudar. Bangsa yang rendah dalam literasi akan selalu rendah dalam peradaban. -Pramoedya Ananta Toer Adela Damanik merupakan seorang mahasiswa aktif jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Saat ini sedang aktif bergiat dalam UKMF Labor Penulisan Kreatif (LPK), bisa disapa melalui @adeladmk