Mahasiswa.co.id - Dalam dunia pertunjukan, penonton hanya melihat yang ingin ditampilkan: sorotan cahaya, denting musik, dan keajaiban di atas panggung. Tapi kenyataan pertunjukan seperti yang ditunjukkan oleh Christopher Nolan dalam The Prestige terjadi di balik tirai. Di sana, di balik tepuk tangan dan kagum, ada burung-burung kecil yang mati, dihancurkan oleh mekanisme pertunjukan itu sendiri. Slavoj Žižek meminjam adegan ini sebagai metafora kapitalisme: di depan, ada janji kemajuan dan modernitas; di belakang, ada kerusakan dan pengorbanan yang disembunyikan.
Indonesia hari ini sedang memainkan pertunjukan yang serupa. Di atas panggung diplomasi internasional dan forum perubahan iklim, pemerintah mengangkat tema transisi energi dan ekonomi hijau. Dunia menyambut dengan tepuk tangan, investor asing melirik, dan kendaraan listrik menjadi simbol masa depan. Namun di balik panggung itu, di tanah Papua Barat Daya, Sulawesi Tenggara, Halmahera, Kalimantan dan Sumatra, terdapat burung-burung yang tergencet. Bukan sekadar metafora, melainkan kenyataan: hutan yang dibabat, tanah adat yang dikeruk, kehidupan masyarakat yang diabaikan demi satu tujuan besar: nikel, si logam masa depan.
Nikel hari ini dipuja sebagai batu loncatan menuju energi bersih. Ia adalah bahan penting untuk baterai kendaraan listrik, ikon perubahan menuju dunia rendah karbon. Tetapi, seperti burung dalam sangkar yang dihancurkan untuk menciptakan ilusi, nikel di Indonesia diekstraksi dengan biaya ekologis dan sosial yang mahal. Tambang-tambang nikel di Konawe, Morowali, Obi, hingga Papua Barat Daya berdiri di atas tanah adat yang sudah lama dihuni dan dijaga oleh masyarakat lokal.
Mereka bukan penghuni liar, bukan penyusup. Mereka adalah penjaga hutan, pewaris sungai, dan pengemban warisan leluhur yang telah lebih dulu mengerti keberlanjutan sebelum dunia mengenal kata “sustainable”. Ironi terbesarnya adalah ini: atas nama keberlanjutan global, kita menciptakan ketidakberlanjutan lokal. Indonesia menjual citra sebagai pionir transisi energi, tetapi menutup mata terhadap ekses sosial dan ekologisnya. Pemerintah membuka pintu seluas-luasnya untuk investasi smelter dan tambang, mempermudah izin, bahkan menjanjikan insentif.
Di saat bersamaan, perlawanan masyarakat lokal dianggap penghambat pembangunan. Kehilangan tanah, pencemaran sungai, rusaknya ruang hidup, hingga kriminalisasi aktivis menjadi burung-burung mati yang tak ditampilkan dalam berita resmi. Dalam kerangka kapitalisme global, ini adalah keniscayaan. Apa pun yang menjanjikan akumulasi modal akan selalu dicari jalannya. Dalam hal ini, nikel dan tanah Indonesia menjadi panggung besar. Namun kita lupa: seperti dalam The Prestige, ilusi yang terlalu sempurna bisa berubah menjadi bumerang.
Ketika publik mulai sadar akan apa yang terjadi di balik layar, pertunjukan bisa berubah menjadi penghakiman. Sebagian mungkin berargumen: bukankah negara butuh devisa? Bukankah lapangan pekerjaan bertambah? Bukankah kendaraan listrik memang lebih ramah lingkungan? Jawabannya tidak sesederhana itu. Ya, pertambangan membawa lapangan kerja, tapi juga membawa kerusakan yang tak tergantikan. Ya, kendaraan listrik lebih bersih dalam penggunaannya, tapi siklus hidupnya, dari ekstraksi bahan hingga daur ulang baterai, tetap menyimpan jejak karbon dan kehancuran ekologis.
Dan yang paling penting: lapangan kerja yang muncul seringkali bersifat sementara, eksploitatif, dan tak sebanding dengan kerugian jangka panjang yang diderita oleh masyarakat lokal. Kita hidup dalam masa di mana narasi menjadi segalanya. Pemerintah dan korporasi sangat pandai menciptakan narasi hijau, memoles aktivitas ekstraktif dengan istilah “berkelanjutan”, “ekonomi sirkular”, atau “transisi energi”. Tapi realitas di lapangan tak bisa disamarkan oleh retorika.
Wawancara dengan masyarakat lokal, laporan investigatif, serta data dari lembaga independen menunjukkan bahwa tambang nikel menyisakan luka. Tanah yang tak bisa lagi ditanami. Sungai yang tercemar lumpur. Udara yang berdebu logam. Dan trauma kolektif dari ketidakberdayaan menghadapi kekuatan uang dan negara. Persoalannya bukan hanya ekologis, tapi juga etis.
Apakah kita rela menciptakan dunia yang lebih hijau untuk sebagian orang dengan mengorbankan yang lain? Apakah transisi energi harus ditopang oleh ketidakadilan? Apakah modernitas harus dibangun di atas reruntuhan komunitas adat? Jika jawabannya iya, maka kita tidak sedang menuju masa depan yang lebih adil, tapi hanya memindahkan beban dari satu kelompok ke kelompok lain. Burung-burung yang tergencet di balik tirai akan terus bertambah.
Sudah saatnya publik, terutama kelas menengah perkotaan yang menjadi konsumen utama kendaraan listrik, menuntut transparansi rantai pasok. Kita harus bertanya: dari mana asal nikel di mobil listrik kita? Apakah ada masyarakat yang terusir? Apakah ada sungai yang mati? Kesadaran ini penting, karena perubahan tidak bisa hanya dilakukan dari atas. Ia harus tumbuh dari bawah, dari tekanan masyarakat yang menolak menjadi bagian dari tipu daya kapitalisme hijau.
Kita juga perlu mendesak negara untuk mengubah paradigma pembangunan. Alih-alih terus bergantung pada ekstraksi sumber daya alam, sudah waktunya Indonesia berinvestasi pada ekonomi berbasis pengetahuan, energi terbarukan yang benar-benar minim dampak (seperti surya dan angin), serta teknologi ramah lingkungan yang tidak menuntut perusakan besar-besaran. Pemerintah harus belajar dari negara-negara yang mulai mengadopsi prinsip post-extractivism, yaitu model ekonomi yang tidak mengandalkan eksploitasi sumber daya alam secara brutal, tetapi berfokus pada kelestarian dan kesejahteraan jangka panjang.
Kita mungkin tak bisa menghentikan pertunjukan sepenuhnya. Tapi kita bisa membongkar tirainya. Menolak menjadi penonton pasif. Menjadi anak kecil yang berani menangis saat melihat burung menghilang, dan tak berhenti bertanya ke mana burung itu pergi. Dunia yang lebih adil tak lahir dari keajaiban di atas panggung, tapi dari keberanian melihat kenyataan yang tersembunyi di baliknya. Seperti kata Žižek, "ideologi paling kuat adalah saat kita tahu ada sesuatu yang tidak beres, tapi kita memilih untuk tetap percaya bahwa semuanya baik-baik saja." Mari berhenti percaya. Mari bertanya. Mari bicara tentang burung-burung mati yang terus kita abaikan. ________
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0