Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Uswah Hasanah sebagai Kunci: Strategi Guru PAI dalam Menanamkan Nilai Moderat, Adil, dan Komunikatif

Strategi Guru PAI

Oleh: Nabila Hamidah, mahasiswi dari STITMA Yogyakarta

Mahasiswa.co.id - Kalau kita bicara soal pendidikan agama Islam di sekolah, yang sering terbayang mungkin guru yang berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, lalu siswa mencatat. Sesekali ada tanya jawab, bel berbunyi, dan selesai. Tapi sebetulnya, peran guru PAI jauh lebih kompleks dari gambaran sederhana itu apalagi di tengah tantangan sosial dan arus informasi yang makin sulit dikendalikan seperti sekarang.

Yang menarik, kalau kita perhatikan lebih dalam, masalah utamanya tidak selalu soal kurikulum atau metode mengajar yang kurang menarik. Kadang yang paling berpengaruh justru hal-hal yang tidak tertulis di RPP manapun: bagaimana guru bersikap ketika ada siswa yang salah, bagaimana dia merespons pertanyaan yang dianggap "aneh", bagaimana dia memperlakukan siswa yang pendiam dibanding yang aktif. Semua itu terekam—tanpa siswa sadar bahwa mereka sedang belajar.

Di sinilah konsep uswah hasanah menjadi relevan. Bukan sekadar istilah yang dikutip dalam makalah akademik, melainkan sesuatu yang seharusnya hidup dalam keseharian seorang guru. Karena pada kenyataannya, siswa jauh lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar. Ceramah tentang kejujuran bisa masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi guru yang benar-benar jujur dalam tindakannya, yang tidak pernah berbohong bahkan soal hal kecil sekalipun itu lain ceritanya. Itu membekas, kadang sampai bertahun-tahun kemudian.

Ini bukan sekadar asumsi. Secara psikologis, remaja adalah peniru ulung. Mereka menyerap perilaku orang-orang di sekitarnya jauh sebelum mereka mampu mengevaluasinya secara kritis. Artinya, guru yang hadir setiap hari di depan mereka dengan segala sikap, kebiasaan, dan cara berpikirnya punya pengaruh yang luar biasa besar, bahkan tanpa sengaja.

Dalam konteks menanamkan nilai moderat, keteladanan punya peran yang tidak bisa digantikan metode apapun. Tapi perlu diluruskan dulu satu kesalahpahaman yang cukup umum: moderat bukan berarti tidak punya pendirian, atau selalu bersikap abu-abu. Moderat artinya tidak berlebihan, tidak mudah terpancing ke arah yang ekstrem, dan mampu menghargai perbedaan tanpa merasa terancam olehnya. Di era ketika polarisasi begitu mudah tersulut bahkan di kalangan pelajar nilai ini terasa semakin mendesak untuk ditanamkan sejak dini.

Guru yang membuka ruang diskusi di kelas, yang tidak langsung menyalahkan pendapat siswa meski terdengar keliru, yang mau mendengar sebelum berkomentar tanpa sadar dia sedang mengajarkan moderasi. Ketika seorang siswa berani mengajukan pendapat yang berbeda dan guru meresponsnya dengan tenang dan apresiasi, siswa lain di kelas itu belajar sesuatu yang penting: bahwa berbeda pendapat itu aman, bahwa keragaman itu bukan ancaman. Suasana kelas yang inklusif tidak datang sendiri. Ia dibentuk, perlahan-lahan, oleh cara guru bersikap setiap harinya.

Soal keadilan, ini lebih rumit dari yang kelihatan di permukaan. Di dalam satu kelas saja ada siswa yang pintar dan yang masih berjuang memahami materi dasar, yang cerewet dan yang hampir tidak pernah angkat tangan, yang datang dari keluarga berada dan yang harus kerja sambilan untuk membantu orang tua. Latar belakang mereka berbeda-beda, dan itu memengaruhi cara mereka belajar. Guru PAI yang baik harus bisa memberikan perlakuan yang proporsional dan objektif kepada semua mereka penilaian yang tidak dipengaruhi rasa suka atau tidak suka, kesempatan berbicara yang tidak hanya diberikan kepada siswa favorit, perhatian yang tidak hanya tertuju pada yang duduk di baris depan.

Ketika siswa merasa diperlakukan adil, ada kepercayaan yang tumbuh kepada guru, dan lebih jauh lagi, kepada proses belajar itu sendiri. Siswa yang merasa aman dan dihargai akan jauh lebih terbuka untuk bertanya, untuk mengakui ketidaktahuannya, untuk terlibat aktif. Dan itu semua bermula dari bagaimana guru memperlakukan mereka sehari-hari.

Satu nilai lagi yang tidak kalah penting adalah komunikatif. Guru yang komunikatif bukan berarti guru yang banyak bicara justru sebaliknya. Dia yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus berhenti untuk mendengarkan. Dialog dua arah itu penting, karena siswa butuh merasa didengar, bukan sekadar dijejali informasi. Ketika mereka punya ruang untuk menyampaikan pendapat, untuk bertanya hal-hal yang mengganjal, untuk mendebat sesuatu yang mereka rasa tidak masuk akal di situlah pembelajaran benar-benar hidup.

Di era digital sekarang, semua ini jadi berlipat ganda kompleksitasnya. Siswa kini punya akses ke hampir semua informasi hanya lewat genggaman tangan. Dalam hitungan detik mereka bisa membaca artikel, menonton video, atau bergabung dalam komunitas online yang menawarkan berbagai pandangan termasuk yang ekstrem dan menyesatkan. Dan konten-konten itu sering dikemas jauh lebih menarik dari buku teks mana pun.

Di sinilah guru PAI harus hadir bukan hanya sebagai pengajar, tapi sebagai kompas. Bukan dengan cara melarang atau memblokir itu tidak akan berhasil dan justru kontraproduktif. Tapi dengan cara yang lebih halus dan lebih kuat: menjadi teladan dalam berpikir kritis, dalam menyikapi perbedaan dengan kepala dingin, dalam memverifikasi informasi sebelum percaya begitu saja. Keteladanan yang konsisten dalam hal-hal kecil inilah yang perlahan membentuk cara pandang siswa terhadap dunia.

Menanamkan karakter memang bukan pekerjaan yang hasilnya langsung terlihat. Kadang guru tidak akan pernah tahu seberapa besar pengaruhnya—sampai mungkin bertahun-tahun kemudian, ketika siswa itu sudah dewasa dan menghadapi situasi nyata dalam hidupnya. Tapi justru itulah yang membuat uswah hasanah begitu bermakna. Ia bekerja secara perlahan, melalui akumulasi pengalaman kecil yang terus-menerus—melihat guru bersikap sabar saat situasi menekan, melihat guru mengakui kesalahan dengan lapang dada, melihat guru memperlakukan semua orang dengan hormat tanpa pandang bulu.

Pada akhirnya, karakter yang kuat tidak dibangun lewat hafalan atau latihan soal. Ia dibangun lewat contoh yang hidup, yang nyata, yang hadir setiap hari di depan mata siswa. Dan itulah yang membuat peran guru PAI begitu penting dan begitu berat untuk diemban di zaman ini.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.