Agama Digital: Antara Like, Share, dan Amal yang Hilang
Oleh Nadia
Oleh Mujahidin
Pendahuluan Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah merevolusi cara manusia mengekspresikan keberagamaan. Di era ini, Instagram, TikTok, hingga YouTube menjadi “mimbar” baru yang memungkinkan pesan-pesan religius disebarkan dengan cepat. Fenomena membagikan kutipan ayat suci, video ceramah singkat, atau konten dakwah viral menjadi bagian dari gaya hidup spiritual generasi digital.
Namun, di balik derasnya arus konten keagamaan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah semua ini merupakan bentuk spiritualitas yang otentik atau sekadar performa yang dibangun demi pengakuan sosial? Apakah “like” dan “share” benar-benar mencerminkan amal, atau justru menggeser makna kesalehan dari tindakan nyata menuju simbolisme maya?
Agama Sebagai Performa di Media Sosial Mengacu pada teori Performativity dari Judith Butler, ekspresi keberagamaan di media sosial dapat dilihat sebagai sebuah pertunjukan identitas. Pengguna media sosial membangun citra kesalehan melalui estetika visual, caption yang menyentuh, dan engagement yang tinggi.
Di titik ini, kesalehan tidak lagi hanya berbicara soal keimanan yang tertanam di hati atau tindakan nyata di lapangan, tetapi juga bagaimana hal tersebut dikurasi untuk audiens digital. Postingan yang indah secara visual dan viral secara algoritmik bisa menciptakan kesan kesalehan, walaupun esensi dari ajaran agama tersebut tidak selalu terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari.
Kesenjangan antara Dunia Maya dan Realitas Fenomena digital religion yang diulas Heidi Campbell (2013) menjelaskan bahwa ruang keberagamaan di media digital memiliki logika interaksi yang berbeda dengan ruang sosial tradisional. Banyak orang merasa telah “beramal” hanya dengan membagikan konten dakwah. Fenomena ini sering disebut slacktivism atau clicktivism (Kristofferson et al., 2014), yaitu bentuk aktivisme dangkal yang memberikan kepuasan moral instan tanpa menuntut keterlibatan nyata.
Masalahnya, jurang antara dunia maya dan dunia nyata semakin melebar. Konten religius yang viral bisa memberikan ilusi kesalehan kolektif, padahal dalam praktik sosial sehari-hari, nilai-nilai yang dibagikan tidak selalu diimplementasikan. Amal sosial yang konkret seperti membantu tetangga, menyantuni anak yatim, atau mengurangi konsumsi berlebihan sering kali kalah oleh kepuasan instan dari sebuah unggahan.
Komodifikasi Kesalehan Era digital juga membawa agama ke dalam arena pasar. Konten keagamaan kini tidak jarang diproduksi dengan tujuan monetisasi, demi mendapatkan likes, followers, dan iklan. Kesalehan menjadi komoditas: dikemas, dijual, dan diukur dengan angka engagement. Fenomena ini menimbulkan risiko besar: nilai-nilai spiritual yang seharusnya murni dapat tereduksi menjadi sekadar produk hiburan. Seseorang mungkin terlihat religius di dunia maya karena postingannya viral, padahal orientasinya adalah keuntungan finansial, bukan misi dakwah yang tulus.
Refleksi dan Tantangan ke Depan Perubahan ini tidak selalu negatif. Media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pesan kebaikan, memperluas jangkauan dakwah, dan menghubungkan komunitas lintas batas. Namun, tantangannya adalah menjaga agar kesalehan digital tidak terjebak dalam kemasan kosong.
Like dan share tidak salah, selama diiringi dengan tindakan nyata yang mencerminkan pesan yang dibagikan. Spiritualitas digital perlu dijaga agar tetap memiliki hubungan erat dengan praksis sosial: menolong sesama, menjaga lingkungan, dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.
Penutup Keberagamaan di era digital adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Dunia maya telah menjadi ruang baru bagi ekspresi iman, namun tidak boleh menjadi pengganti dari amal yang sesungguhnya. Kesalehan yang sejati adalah kesalehan yang hidup di dua dunia: maya dan nyata. Maka, di tengah gempuran konten religius yang berseliweran di layar ponsel, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apakah iman kita sekadar tampil di feed media sosial, atau benar-benar hidup di hati dan tercermin dalam perbuatan?
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0