Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Apakah Mungkin Ada Pelaku Bullying yang Tidak Sadar Dirinya Sedang Membully?

Pelaku Bullying

Mahasiswa.co.id - Hampir semua pelaku bullying sadar apa yang dilakukannya namun mereka bertindak seolah-olah mereka benar-benar yakin bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka bertindak seolah-olah mereka tidak ingat pernah melakukan perundungan terhadap orang lain. Tetapi, apa yang menyebabkan mereka bertindak seperti itu? Apa mungkin mereka memang tidak sadar akan tindakannya itu?

Sebagai orang yang tidak terlalu banyak berbicara saat di sekolah, saya lebih suka memperhatikan lingkungan sekitar saya saat ada waktu luang. Jika saya lihat, masih banyak kasus perundungan di lingkungan sekolah yang sering kali dianggap normal atau wajar. Perlakuan mereka terlihat seperti hal yang lumrah sehingga orang-orang tidak melihatnya sebagai masalah serius. Bahkan bisa jadi kita sendiri pun pernah tanpa sengaja melakukan perundungan.

Kalau boleh jujur, saya pernah tidak sengaja menyakiti hati teman saya. Saat itu saya tidak sadar kalau apa yang saya katakan itu bisa membuatnya merasa tersakiti. Saya mengira dia bisa mengerti bahwa ucapan saya hanya sekadar candaan belaka. Begitu saya melihat reaksinya yang tidak senang akan hal itu, saya sadar bahwa kata-kata saya bisa berdampak lebih besar dari perkiraan saya. Setelah kejadian ini, saya berusaha untuk lebih berhati-hati dalam berbicara agar tidak terulang kejadian yang sama.

Bullying sering kali hanya dikaitkan dengan hal yang menggunakan kekerasan. Padahal sebenarnya bullying mencakup berbagai bentuk perilaku yang bertujuan untuk menjatuhkan orang lain. Banyak orang yang merasa dibully, padahal pelaku sendiri tidak sadar telah melukai perasaan si korban. Hal ini biasa dialami saat bullying bersifat tersembunyi dalam bentuk candaan. Banyak yang tidak menyadari berbagai tindakan yang terlihat sepele atau hanya dianggap “bercanda” itu bisa memiliki dampak serius pada korban.

Saya sendiri merasa telah terpengaruh oleh lingkungan yang buruk sehingga membuat saya tanpa sadar terlibat dalam perilaku yang salah. Ketika berada di lingkungan di mana candaan yang menyakitkan itu dianggap biasa, saya merasa ada tekanan untuk mengikutinya agar bisa diterima. Di umur saya saat itu, saya masih belum sepenuhnya memahami apa saja perilaku yang termasuk dalam perundungan.

Dari data yang telah dirilis oleh Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), pada bulan Januari hingga September tahun 2023 tercatat 23 kasus bullying, dengan presentase 50% terjadi di jenjang SMP, 23% di jenjang SD, serta masing-masing 13,5% di jenjang SMA dan SMK. Terlihat jika kasus bullying memang lebih sering terjadi pada kalangan anak-anak sampai remaja. Pada fase ini, mereka masih berada dalam proses perkembangan, terutama secara emosional. Dalam masa perkembangannya, mereka lebih cenderung untuk mengikuti teman sebayanya sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri. Tanpa bimbingan yang tepat, mereka bisa salah memahami lingkungan di sekitar mereka dan tidak menyadari perilaku mana yang termasuk dalam kategori perundungan.

Maka salah satu alasan terjadinya perundungan secara tidak sengaja ataupun tidak sadar yaitu kurangnya pemahaman tentang bentuk-bentuk perundungan itu sendiri. Selain kekerasan, bullying juga bisa berupa tindakan seperti memusuhi teman, mengucilkan teman, menyebarkan rumor negatif mengenai seseorang, menyindir secara terang-terangan, menjadikan penampilan fisik sebagai bahaan olokan, dan merendahkan teman meskipun kita hanya bermaksud untuk bergurau. Masih banyak lagi contoh perilaku bullying yang sering disepelekan. Jadi, pada dasarnya bullying merupakan suatu perilaku yang hanya memuaskan satu pihak saja, sedangkan pihak yang lain merasa terganggu dan terpojok.

Pelaku bullying sering kali tidak menyadari tindakan mereka karena fokus mereka lebih kepada diri sendiri, bukan pada korban. Karena mereka lebih memikirkan perasaan sendiri, mereka tidak memikirkan bagaimana tindakan itu bisa melukai orang lain. Mereka hanya melampiaskan perasaan pribadi tanpa memikirkan akibatnya. Pikiran mereka mempunyai pandangan yang menyimpang mengenai perilaku mereka dan bisa membenarkan tindakan mereka sendiri. Pada akhirnya, yang mengakibatkan mereka sulit untuk merasakan empati yaitu pola pikir mereka sendiri.

Kita bisa sepakat, bullying yang berkedok bercanda memang sering dianggap sebagai hal yang sepele. Banyak pelaku yang mungkin tidak menyadari dampak dari tindakan mereka karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Baik disadari maupun tidak, bullying merupakan masalah serius yang dapat berdampak pada korban. Pada akhirnya, penting bagi kita semua untuk memahami dampak buruk dari tindakan ini.

Kita perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya edukasi dan bimbingan yang benar dari usia dini. Yang paling berperan dalam mengedukasi tentu saja orang tua dan guru. Ilmu tentang bullying harus sudah diberikan ketika anak mulai sekolah agar mereka dapat memahami apa itu perundungan, dampaknya, dan bagaimana cara mencegahnya. Selain itu, penting juga untuk mengembangkan kecerdasan emosional pada anak agar anak bisa memiliki sifat yang empatik dan dapat memahami perasaan orang lain. Orang tua dan guru perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Dengan meningkatkan kesadaran ini, diharapkan bullying di sekolah maupun di lingkungan lain bisa berkurang dan tidak lagi dianggap sebagai hal yang wajar.

Penulis: Anisa Devina Maharani

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.