Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Dari Dokumentasi menjadi Eksploitasi: Ketika Senyum Anak Dijajakan dalam Etalase Digital

Tim Teman Tumbuh bersama dengan Dosen Pendamping
Tim Teman Tumbuh dalam mengikuti tahap PKP2 oleh Program Kreativitas Mahasiswa 2026 Foto: Penulis

Pernahkah kalian melihat konten keseharian anak di TikTok? Mulai dari konten anak bermain, belajar, berangkat sekolah, bahkan hingga tidur sekalipun didokumentasikan dan diupload oleh orang tua di TikTok. Sekilas pandang, konten-konten sharenting tersebut terasa menggemaskan, hangat, mencerminkan kebahagiaan keluarga. Namun, di balik kerlip notifikasi dan riuh angka viewers dalam konten-konten tersebut, tersimpan sebuah realitas yang getir. Konten tumbuh kembang anak yang mulanya diniatkan sebagai dokumentasi kenangan tulus, kerap bertransformasi menjadi aset bernilai rupiah. Balita yang belum genap mengeja namanya sendiri kini berdiri di depan lensa kamera, diarahkan ekspresinya, dan dikemas rapi sebagai duta promosi produk demi meraup untung dari monetisasi. 

Resah melihat masa kanak-kanak yang kian rentan di ruang digital, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terhimpun dalam tim Teman Tumbuh melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), mencetuskan riset bertajuk “Masa Kecil dalam Etalase Digital: Eksploitasi Digital melalui Praktik Monetisasi Konten Anak di Era Sharenting”.

Di bawah bimbingan Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas, S.I.P., M.A., kelima mahasiswa lintas disiplin ini, Phedra Annabelle (Fisipol), Laurensius Yuniarta (Fisipol), Shallom Gracia (Fakultas Psikologi), Giasinta Anra (Fakultas Hukum), dan Leonardo (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), menjalankan riset melalui observasi konten sharenting di TikTok sekaligus mewawancarai pemangku kepentingan, yaitu, Kementerian PPPA, KPAID Kota Yogyakarta, hingga Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa).

Dari penelitian mendalam tersebut, tim menemukan dua jenis eksploitasi yang marak tersembunyi dalam konten sharenting, yaitu, eksploitasi finansial dan eksploitasi data. Anak-anak tidak hanya dilibatkan dalam pusaran ekonomi digital tanpa persetujuan sadar, tetapi detail paling intim dari kehidupannya, seperti jadwal harian, nama lengkap, wajah, hingga kondisi tubuh dan kesehatan yang paling privat ikut terpapar di hadapan jutaan pasang mata asing.

Merajut Simpul yang Terputus: Menjaga Tumbuh Kembang Bersama

Salah satu tantangan dalam pusaran sharenting komersial hari ini adalah bagaimana menyatukan kembali kepedulian seluruh pihak yang kerap terfragmentasi di porsinya masing-masing. Contohnya, pemerintah menghormati ruang domestik keluarga sebagai wilayah privat penuh kasih. Padahal, di era serba digital ini, negara justru sangat dinantikan kehadirannya sebagai payung pelindung yang memberikan panduan ramah anak. Kemudian, orang tua terkadang sekedar mematuhi rambu-rambu platform media sosial. Sementara pihak platform TikTok telah berupaya menyelaraskan sistemnya dengan regulasi hukum nasional yang berlaku, namun ruang digital yang dinamis selalu membuka peluang bagi penyempurnaan sistem perlindungan anak yang lebih proaktif dan berempati.

Alih-alih saling berpaling atau merasa tugasnya telah selesai di batas porsi masing-masing, kesejahteraan anak seharusnya menjadi tanggung jawab bersama yang hanya bisa terjaga jika keluarga, regulator, dan ekosistem digital saling bertaut tangan, mengisi celah perlindungan dengan kehangatan.

Mengetuk Nurani: Panggilan untuk Bergandengan Tangan Jaga Hak Anak

Harapan untuk merajut kolaborasi inilah yang disuarakan oleh Phedra Annabelle, Ketua Tim Teman Tumbuh. Baginya, menghadirkan ruang digital yang aman dan bermartabat bukanlah beban sepihak, melainkan panggilan nurani kolektif.

Ketika ditemui mengenai urgensi kepedulian bersama ini, Phedra menyampaikan ajakannya,

“Sering kali, batas antara membagikan kebahagiaan keluarga dan risiko bagi anak tersamar begitu halus. Jadi, mari kita berhenti saling melepaskan tanggung jawab dan mulai melangkah bersama karena menjaga well-being anak di era digital harus menjadi effort kolektif kita semua, mulai dari pemerintah, orang tua, platform media sosial, dan bahkan masyarakat luas terutama sebagai pengguna platform media sosial,”

Guna mewujudkan effort kolektif dalam perlindungan anak di ruang digital, langkah tim Teman Tumbuh tidak hanya berhenti pada laporan ilmiah. Lewat policy brief, kampanye sosial, dan aksi edukasi literasi digital, mereka hendak mengetuk pintu hati para pembuat kebijakan, korporasi media sosial, serta masyarakat luas. 

Membagikan momen indah bersama anak sejatinya adalah satu dari berbagai cara menampilkan kasih sayang. Namun, tatkala senyum hingga linangan air mata mereka mulai dijadikan komoditas untuk memancing interaksi dan rupiah, kita perlu kembali bertanya, ke mana arah perlindungan bagi mereka yang belum mampu bersuara?

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.