Mahasiswa.co.id - Pondok pesantren Al Khoziny yang berada di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk pada Senin, 29 September 2025 sekitar pukul 15.00 WIB. Robohnya pondok tersebut memakan banyak korban santri yang sedang beraktivitas disitu.
Berdasarkan laporan terbaru tim gabungan search and rescue (SAR), insiden tragis tersebut menelan 171 korban. Dari jumlah tersebut, 67 jenazah telah dievakuasi dan 104 lainnya mengalami luka dengan tingkat keparahan berbeda.
Robohnya bangunan ini diduga karena kurangnya pengawasan keselamatan konstruksi bangunan pondok ini. Peristiwa ini menjadi evaluasi bagi semua orang dalam membangun kontruksi rumah supaya lebih diperhatikan lagi dalam teknik membangun bangunan menggunakan prinsip keselamatan kontruksi dan perhitungan yang tepat.
Penulis menggaris bawahi bentuk gedung Pondok Pesantren Al Khoziny yang dinilai tidak memenuhi syarat teknis. Dengan menganalisis gambar dari Google Earth, ia menemukan bahwa desain bangunan tersebut banyak menggunakan struktur kantilever atau balok yang salah satu ujungnya dijepit dan ujung lainnya bebas.
Desain dan struktur bangunan tidak dirancang dengan baik, karena pembangunannya tidak melibatkan ahli perencana yang memiliki sertifikat. Akibatnya, banyak aspek struktural dan persyaratan teknis diabaikan. Menurutnya, kelalaian seperti ini sangat berbahaya karena menunjukkan pengabaian terhadap prinsip keselamatan, tidak hanya bagi para pekerja, tetapi juga bagi orang-orang yang akan tinggal di dalam bangunan tersebut.
Peristiwa robohnya Pondok pesantren Al Khoziny menjadi evaluasi perancang bangunan untuk memperhatikan kembali perhitungan teknis yang matang. Apa yang disampaikan penulis menggambarkan bahwa pekerja konstruksi masih minim dalam mengawasi struktur bangunan dan standar konstruksi lapangan.
Pengecekan struktur tanah adalah langkah krusial yang wajib dilakukan dan diawasi dengan ketat, karena kondisi tanah menjadi penentu utama daya dukung fondasi suatu bangunan. Struktur tanah yang baik harus bersertifikat dan melewati prosedur dengan baik. Ketika seseorang perancang konstruksi mengabaikan hal tersebut dan asal memilih medan, maka dipastikan bangunan tersebut tidak akan bertahan lama. Tanah yang tidak diperiksa sesuai prosedur yang baik bisa mengalami longsor seiring waktu dan bisa menimbulkan banyak korban jiwa bagi penghuni bangunan tersebut.
Fondasi merupakan faktor penting dalam bangunan, karena digunakan untuk menopang struktur rangka bangunan. Tetapi dalam prakteknya bahan yang digunakan untuk membangun ponpen tidak sesuai standar seperti bata pabrik yang hanya mencapai 7,5 MPa yang dimana sangat kurang sekali dari standar yang ditetapkan yaitu 22 MPa. Terlebih banyak yang mencampurkannya dengan air dengan alasan mudah diaduk sehingga menyebabkan kekuatan menurun drastis dan bisa menimbulkan peristiwa ambruknya suatu bangunan. Maka penting untuk membuat struktur bangunan yang kokoh dan tahan lama dengan memilih bahan yang kuat dan melewati pengawasan mutu material sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Bangunan seperti pondok pesantren ini seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar dan beribadah, bukan tempat sebagai ancaman nyawa akibat kelalaian perancang bangunan yang menginginkan asal jadi. Selain itu, pernyataan penulis tentang mutu beton rendah, kolom yang rawan tekuk, dan penggunaan struktur kantilever tanpa perhitungan yang tepat menunjukan bahwa pekerja perancang bangunan tidak profesional dalam bekerja dan asal dalam memberi izin, merencanakan, dan lalai dalam mengawasi proyek.
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mematuhi prosedur keselamatan pembangunan dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian, seringkali perancang bangunan menyepelekan dengan tujuan cepat selesai dan tidak terlalu memperhatikan uji kelayakan teknis hanya karena beranggapan bangunan tersebut bisa ditempati. Selain itu dalam membangun bangunan tidak konsultasi teknis karena beranggapan bahwa rumah tersebut sudah pasti akan kokoh.
Efek dari bangunan yang tidak melewati uji kelayakan klinis tidak langsung roboh tetapi mengalami deformasi. Deformasi merupakan perubahan bentuk, posisi, atau volume suatu struktur bangunan akibat pengaruh gaya atau perubahan suhu. Hal ini tentu sangat berbahaya dan dapat merugikan kita sendiri apabila semisal kita sedang beristirahat dan tiba tiba bangunan roboh. Deformasi semakin cepat terjadi dan semakin parah apabila banyak orang yang memakai bangunan tersebut, karena jumlah penghuni yang banyak dapat meningkatkan kapasitas beban yang ditanggung oleh struktur bangunan dan apabila melebihi kapasitas yang ada maka akan bisa roboh.
Pengecekan struktur bangunan harus dilakukan secara berkala guna untuk meminimalisir struktur bangunan yang sudah rapuh dan mengalami deformasi. Pemerintah sudah menghimbau dengan sangat baik terkait dengan pentingnya standar konstruksi bangunan, termasuk dalam izin dan pengawasan proyek. Tetapi perancang pembangunan sekitar seringkali mengingkari hal tersebut dan ingin sesuatu yang instan dengan mengorbankan hal-hal penting terutama dalam keselamatan. Maka tak heran apabila suatu konstruksi bangunan dapat roboh karena kelalaian dari perancang bangunan yang tidak melewati tahap uji kelayakan bangunan dan asal jadi. Sikap tersebut harus dihilangkan dan perancang bangunan harus mendengarkan himbauan dari pemerintah daerah setempat supaya keamanan dalam suatu konstruksi bangunan dapat terjamin dan tidak lagi menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol Dr. dr. Mohammad Khusnan Marzuki menyebutkan bahwa jenazah terbaru yang berhasil diidentifikasi berasal dari kantong jenazah Post Mortem RSB B-059.
“Jenazah teridentifikasi melalui tes DNA dan pemeriksaan medis gigi, cocok dengan data Antemortem 056 atas nama Muhammad Ridwan Sahari, laki-laki, 14 tahun, warga Bendul Merisi Jaya Timur, Kota Surabaya,” ujar Kombes Pol Khusnan. Ia menegaskan seluruh proses dilakukan secara ilmiah, transparan, dan berlapis verifikasi agar hasilnya akurat dan tidak terbantahkan.
Hingga saat ini, dari 63 laporan kehilangan (antemortem), sebanyak 51 korban telah teridentifikasi, 12 lainnya masih dalam proses, dan 13 kantong jenazah belum terverifikasi secara pasti. Proses identifikasi ini melibatkan Pusdokkes Polri, Biddokkes Polda Jatim, Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), seluruh RS Bhayangkara se-Jawa Timur, serta dukungan pemerintah daerah.
Upaya yang dilakukan oleh Polri menunjukkan komitmen nyata dalam memberikan rasa aman hukum, perlindungan kemanusiaan, dan penghormatan terakhir bagi para korban tragedi yang terjadi di Sidoarjo.
Tragedi runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Sidoarjo menyisakan luka yang dalam bagi kita semua, bukan hanya karena banyak nyawa yang hilang secara tragis, tetapi juga sebagai pengingat yang menyakitkan akan kelalaian dalam menjaga keselamatan generasi muda yang sedang belajar agama. Kesan yang paling mengenaskan adalah betapa rapuhnya fondasi kehidupan kita ketika aturan tentang bangunan dan pengawasan tidak diperhatikan dengan baik, sehingga ambisi pembangunan sering kali mengorbankan nyawa anak-anak yang polos. Insiden ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan cermin dari sistem yang gagal melindungi yang paling rentan, membuat keluarga berduka dan masyarakat merasa sedih secara kolektif.
Sebagai pesan bagi kita semua, marilah kita jadikan tragedi ini sebagai titik balik untuk memperketat standar keselamatan bangunan, terutama di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren. Pemerintah, pengelola pesantren, serta masyarakat harus bekerja sama dalam melakukan audit rutin dan menerapkan aturan yang tegas, agar tidak ada lagi korban jiwa akibat kelalaian. Pencegahan adalah kewajiban moral yang tidak bisa ditawar. Khusus untuk Polri yang bertugas dan petugas SAR, kami mengucapkan apresiasi yang tulus atas dedikasi dan keberanian kalian di tengah puing-puing kematian. Kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang dengan cepat menyelamatkan nyawa dan memberikan harapan bagi yang selamat.
Teruslah bertugas dengan integritas tinggi, dan semoga dukungan logistik serta pelatihan yang lebih baik diberikan agar misi penyelamatan seperti ini tidak lagi menjadi beban berat. Semoga Tuhan YME merahmati para korban, menguatkan keluarga, dan memberkahi perjuangan para penyelamat. Mari bersatu membangun masa depan yang lebih aman dan adil.
Oleh: Teresa Anyar Nugroho
Prodi : Administrasi Publik
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Univ : Universitas Diponegoro
Komentar 0