Oleh: Siti Mutiara Hamiidah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) JurnalPost.com - Beberapa tahun terakhir, lini masa media sosial kita dibanjiri oleh narasi serupa: potongan video perselingkuhan, tangkapan layar percakapan KDRT, hingga curhatan tentang beban ganda rumah tangga. Semua itu bermuara pada satu jargon yang kini menjadi mantra kolektif Generasi Z dan Milenial: "Marriage is Scary". Namun, jika kita bedah menggunakan kacamata psikolinguistik—ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan pikiran—kalimat ini bukan sekadar keluhan. Ia adalah sebuah konstruksi mental yang menunjukkan bagaimana bahasa membentuk ketakutan kita, dan bagaimana ketakutan itu mengubah cara kita mendefinisikan komitmen. Dalam psikolinguistik, ada konsep yang disebut priming. Otak kita cenderung memproses informasi lebih cepat jika kita sudah terpapar stimulus yang berkaitan sebelumnya. Ketika frasa "Marriage is Scary" menjadi viral, ia berfungsi sebagai prime. Setiap kali seseorang melihat berita perceraian selebriti, otak secara otomatis mengaitkannya dengan label "scary" (menakutkan). Pemilihan kata "scary" di sini sangat krusial. Secara psikologis, "takut" adalah emosi dasar yang memicu respons fight or flight (lawan atau lari). Dengan melabeli pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan, secara linguistik kita sedang memposisikan pernikahan bukan sebagai fase hidup, melainkan sebagai ancaman predator. Bahasa yang kita gunakan sehari-hari mencerminkan struktur berpikir kita. Jika kita perhatikan, narasi "Marriage is Scary" sering kali dibarengi dengan metafora yang negatif.
  • Pernikahan sebagai Perjudian: "Memilih pasangan itu kayak judi, kalau salah pilih habis seumur hidup."
  • Pernikahan sebagai Penjara: Penggunaan kata "terjebak", "hilang kebebasan", atau "terikat".
Secara psikolinguistik, metafora bukan sekadar hiasan kata. Menurut George Lakoff, metafora adalah alat kognitif. Ketika kita terus-menerus menggunakan metafora "judi" atau "penjara" untuk pernikahan, otak kita mulai meyakini bahwa dalam pernikahan hanya ada dua kemungkinan: menang beruntung atau kalah telak. Tidak ada ruang untuk proses, negosiasi, atau pertumbuhan bersama. Dulu, dalam konteks budaya Indonesia, kata "pernikahan" sering berkoordinasi (collocation) dengan kata-kata positif seperti "ibadah", "penyempurna agama", atau "rezeki". Namun, saat ini terjadi pergeseran semantik di kalangan anak muda. Melalui media sosial, kata "pernikahan" kini lebih sering muncul berdampingan dengan terminologi psikologi yang berat, seperti trauma bonding, gaslighting, narcissistic abuse, hingga sandwich generation. Perubahan asosiasi kata ini membuat makna "pernikahan" di kepala kita mengalami degradasi nilai. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai pelabuhan yang aman, melainkan sebuah proyek risiko tinggi yang melelahkan secara mental. Secara psikolinguistik dan kognitif, manusia cenderung menilai risiko berdasarkan seberapa mudah sebuah contoh muncul di ingatan mereka (availability heuristic). Algoritma media sosial berperan besar di sini. Saat kita sering membaca konten "Marriage is Scary", algoritma akan menyuguhkan konten serupa. Karena otak kita terus-menerus disuapi data tentang kegagalan rumah tangga, kita secara linguistik menyimpulkan bahwa "semua pernikahan itu menakutkan". Kita gagal memproses data tentang pernikahan yang sehat karena secara bahasa, narasi "pernikahan bahagia" dianggap membosankan dan jarang menjadi viral. Bahasa yang kita konsumsi di luar akan menjadi bahasa yang kita gunakan di dalam (internal monologue). Ketika seorang individu terus mengulang kalimat "Marriage is scary", ia sedang melakukan pemrograman diri. Keresahan ini menciptakan cognitive dissonance atau ketegangan mental. Di satu sisi, ada keinginan alamiah untuk mencintai dan dicintai, namun di sisi lain, label "scary" yang sudah tertanam kuat menciptakan tembok pertahanan. Akibatnya, banyak orang mengalami kecemasan berlebih (anxiety) bahkan sebelum memulai sebuah hubungan. Kalimat "Marriage is Scary" adalah produk dari zaman di mana informasi buruk menyebar lebih cepat daripada pemahaman yang mendalam. Secara psikolinguistik, kalimat ini adalah "benteng" yang dibangun anak muda untuk melindungi diri dari ketidakpastian masa depan. Namun, kita perlu bijak. Bahasa memiliki kekuatan untuk menciptakan realitas. Jika kita hanya menggunakan bahasa ketakutan, maka realitas yang kita bangun pun akan penuh dengan kecemasan. Mungkin, kita perlu mulai memperkenalkan diksi baru yang lebih seimbang: bahwa pernikahan memang menantang (challenging), namun bukan berarti selalu mengerikan (scary). Karena pada akhirnya, kualitas hubungan kita sering kali ditentukan oleh bagaimana kita membicarakannya di dalam kepala kita sendiri.