- Pernikahan sebagai Perjudian: "Memilih pasangan itu kayak judi, kalau salah pilih habis seumur hidup."
- Pernikahan sebagai Penjara: Penggunaan kata "terjebak", "hilang kebebasan", atau "terikat".
Dibalik Kalimat “Marriage Is Scary”: Bahasa Keresahan Zaman Sekarang

Oleh: Siti Mutiara Hamiidah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
JurnalPost.com - Beberapa tahun terakhir, lini masa media sosial kita dibanjiri oleh narasi serupa: potongan video perselingkuhan, tangkapan layar percakapan KDRT, hingga curhatan tentang beban ganda rumah tangga. Semua itu bermuara pada satu jargon yang kini menjadi mantra kolektif Generasi Z dan Milenial: "Marriage is Scary".
Namun, jika kita bedah menggunakan kacamata psikolinguistik—ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan pikiran—kalimat ini bukan sekadar keluhan. Ia adalah sebuah konstruksi mental yang menunjukkan bagaimana bahasa membentuk ketakutan kita, dan bagaimana ketakutan itu mengubah cara kita mendefinisikan komitmen.
Dalam psikolinguistik, ada konsep yang disebut priming. Otak kita cenderung memproses informasi lebih cepat jika kita sudah terpapar stimulus yang berkaitan sebelumnya. Ketika frasa "Marriage is Scary" menjadi viral, ia berfungsi sebagai prime.
Setiap kali seseorang melihat berita perceraian selebriti, otak secara otomatis mengaitkannya dengan label "scary" (menakutkan). Pemilihan kata "scary" di sini sangat krusial. Secara psikologis, "takut" adalah emosi dasar yang memicu respons fight or flight (lawan atau lari). Dengan melabeli pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan, secara linguistik kita sedang memposisikan pernikahan bukan sebagai fase hidup, melainkan sebagai ancaman predator.
Bahasa yang kita gunakan sehari-hari mencerminkan struktur berpikir kita. Jika kita perhatikan, narasi "Marriage is Scary" sering kali dibarengi dengan metafora yang negatif.
Komentar 0