Mahasiswa.co.id - Perkembangan teknologi membuat mahasiswa semakin terbiasa menyimpan berbagai file digital seperti materi kuliah, tugas, foto, dan catatan pribadi dalam jumlah yang besar tanpa disortir atau dihapus. Dorongan ini sering kali muncul karena kekhawatiran akan kehilangan informasi penting di tengah derasnya arus digital. Kebiasaan menimbun file tanpa pengelolaan ini perlahan membentuk perilaku digital hoarding yang dapat berdampak pada beban psikologis, gangguan fokus belajar, dan menurunnya efektivitas akademik. Dalam kehidupan mahasiswa, kebiasaan ini tidak hanya mencerminkan cara mereka menyimpan informasi, tetapi juga menggambarkan bagaimana tekanan akademik, kebutuhan informasi, dan perilaku digital yang saling berinteraksi satu sama lain.
Perilaku menimbun file digital di kalangan mahasiswa tidak muncul begitu saja melainkan terbentuk karena adanya beberapa dorongan seperti rasa takut kehilangan informasi, keterikatan emosional, dan kebiasaan digital yang sulit dikendalikan. Sillence dkk. (2023) menjelaskan bahwa kebiasaan menyimpan banyak foto, dokumen, dan catatan pribadi sering muncul karena kecemasan akan kehilangan data, sehingga orang cenderung enggan menghapus file yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan. Zaremohzzabieh dkk. (2024) juga menemukan bahwa Fear of Missing Out (FOMO), decision fatigue, dan kemudahan akses penyimpanan berperan besar dalam mendorong mahasiswa menimbun data digital. Misalnya, mahasiswa sering menyimpan seluruh file tugas dari semester sebelumnya, ratusan foto kegiatan kampus, hingga screenshoot obrolan grup kelas karena khawatir ada informasi yang terlewat atau berguna di masa mendatang. Fenomena ini tampak ketika mereka terus menimbun berbagai materi kuliah dan file digital lainnya akibat rasa takut ketinggalan informasi penting (FOMO) serta kelelahan dalam memutuskan mana yang benar-benar perlu dihapus (decision fatigue). Selain itu, penggunaan media sosial dan keterikatan terhadap memori digital turut memperkuat keyakinan bahwa semua file perlu disimpan sebagai bentuk antisipasi atau dokumentasi personal. Dengan demikian, penimbunan file bukan semata-mata untuk kebutuhan akademik, tetapi juga muncul sebagai respons psikologis terhadap tekanan, ketidaksiapan mengambil keputusan, dan keterikatan emosional terhadap file digital.
Dampak digital hoarding pada mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan penuh atau berantakannya penyimpanan digital, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis dan fungsi kognitif mereka. Liu dan Liu (2025) menunjukkan bahwa mahasiswa yang menimbun file cenderung mengalami gangguan fokus, mudah lupa, dan kewalahan ketika mencari ulang data yang tersimpan. Zaremohzzabieh dkk. (2024) juga menemukan bahwa digital hoarding berhubungan dengan meningkatnya stres dan perasaan kehilangan kendali atas data yang dimiliki. Sillence dkk. (2023) menambahkan bahwa rasa bersalah atau kecemasan muncul ketika seseorang merasa tidak mampu mengelola file yang mereka simpan. Dampak psikologis ini menunjukkan bahwa penimbunan data digital bukan hanya persoalan manajemen penyimpanan, tetapi juga berkaitan dengan beban emosional dan gangguan fungsi kognitif dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan digital hoarding juga berdampak pada efektivitas belajar dan performa akademik mahasiswa. Penelitian Bravo-Adasme dan rekan-rekannya (2025) menunjukkan bahwa mahasiswa yang menimbun file merasa sulit dalam menemukan materi penting saat dibutuhkan, sehingga waktu belajar terbuang hanya untuk mencari dokumen. Liu dan Liu (2025) juga menyebutkan bahwa beban kognitif meningkat ketika data yang disimpan tidak terorganisir sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi dan produktivitas. Bratiotis dkk. (2021) juga menjelaskan bahwa kebiasaan menimbun, baik secara fisik maupun digital, sering membuat individu menunda pekerjaan, merasa lelah dalam membuat keputusan, dan kehilangan kendali atas lingkungannya. Hal ini membuat mahasiswa kehilangan fokus dan waktu dalam menyelesaikan tugas karena harus berhadapan dengan tumpukan file hasil penimbunan yang sulit dikelola.
Digital hoarding pada mahasiswa bukan sekadar kebiasaan menyimpan file, tetapi perilaku yang terbentuk dari faktor psikologis, tekanan akademik, dan pola penggunaan teknologi yang tidak terkontrol. Penelitian menunjukkan bahwa rasa takut kehilangan informasi, keterikatan personal terhadap data, dan beban kognitif menjadi pemicu utama penimbunan file. Dampaknya terlihat dari meningkatnya stres, kelelahan mental, gangguan fokus, serta menurunnya efektivitas akademik. Ketika mahasiswa merasa terbebani oleh banyaknya file yang mereka simpan, mereka kehilangan waktu dan tenaga untuk mengakses informasi secara efisien. Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai mengatur, memilah, dan menghapus file yang tidak relevan agar tidak terjebak dalam pola penyimpanan yang merugikan diri sendiri. Dengan menyadari bahwa kebiasaan menimbun file digital tidak selalu menandakan produktivitas, mahasiswa bisa mulai mengelola teknologi dengan lebih bijak dan menghapus hal-hal yang tidak lagi dibutuhkan agar proses belajarnya menjadi lebih fokus dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA:
Bratiotis, C., Muroff, J., & Lin, N. X. Y. (2021). Hoarding disorder: Development in conceptualization, intervention, and evaluation. Focus, 19, 392–404. https://doi.org/10.1176/appi.focus.20210016.
Bravo-Adasme, N., Cataldo, A., Acosta-Antognoni, H., Grandón, E., Bravo, N., & Valdés, M. (2025). Lots of digital files? How digital hoarding is related to the academic performance of university students. International Journal of Environmental Research and Public Health, 22(8), 1186. https://doi.org/10.3390/ijerph22081186.
Liu, Y., & Liu, Y. (2025). Hoarding knowledge or hoarding stress? Investigating the link between digital hoarding and cognitive failures among Chinese college students. Frontiers in Psychology, 15, 1-10. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1518860.
Sillence, E., Dawson, J. A., Brown, R. D., McKellar, K. L., & Neave, N. (2023). Digital hoarding and personal use digital data. Human–Computer Interaction, 1-20. https://doi.org/10.1080/07370024.2023.2293001.
Zaremohzzabieh, Z., Abdullah, H., Ahrari, S., Abdullah, R., & Md Nor, S. M. (2024). Exploration of vulnerability factors of digital hoarding behavior among university students and the moderating role of maladaptive perfectionism. Digital Health, 10, 1-16. https://doi.org/10.1177/20552076241226962.
Oleh : Putri Chairunisa
Mahasiswa Program Studi Psikologi
Universitas Jambi
Komentar 0