Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Algoritma, Filter Bubble, dan Echo Chamber: Ketika Satu Klik Mengubah Seluruh Dunia Digital Anda

Filter Bubble

Pendahuluan

Pernahkah Anda berpikir, bagaimana bisa media sosial memuat beberapa video yang Anda sukai tanpa diminta? Suatu hari, Anda menonton video kucing, keesokan harinya beranda media sosial Anda dipenuhi oleh video kucing. Itu ulah dari Algoritma yang bekerja di balik layar.

Artikel ini membahas cara kerja algoritma dalam membentuk beranda media sosial. Sebuah sistem yang bekerja berdasarkan data dan pola interaksi pengguna. Ada beberapa mekanisme yang saling membentuk pengalaman rekomendasi beranda, seperti jejak histori yang membentuk kemiripan konten yang akan ditonton,  interaksi antarkelompok pengguna, dan interaksi yang Anda berikan kepada beranda. Ironisnya, mekanisme-mekanisme tersebut menciptakan gelembung yang bisa mempersempit wawasan Anda dan sering kali kita abaikan.

Apa yang dimaksud dengan Algoritma?

Pada dasarnya, Algoritma adalah urutan langkah-langkah logis yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu masalah. Kata algoritma sendiri berasal dari nama seorang ilmuwan Persia, Abu Ja'far Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi, yang juga menulis buku berjudul Al-Jabar wal Muqabala. Oleh orang Barat, nama Al-Khawarizmi diucapkan menjadi Algorism, lalu perlahan berubah menjadi Algorithm, dan akhirnya diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi algoritma.

Dalam praktiknya, algoritma beranda rekomendasi bekerja dari interaksi Anda. Setiap klik, lamanya Anda menonton konten, hingga interaksi like, share, atau komentar akan diproses untuk memahami apa yang Anda sukai, lalu secara otomatis menentukan konten mana yang akan ditampilkan berikutnya. Algoritma tak lebih dari mengonversi data masukan menjadi keluaran tertentu secara cepat dan efisien.

Algoritma dengan penyaringan konten (Content-Based Filtering)

Content-based filtering adalah penyaringan berbasis konten. Prinsipnya sederhana, jika Anda menyukai suatu konten, algoritma akan mencari konten lain yang mirip. Kemiripan ini dinilai dari konten, seperti topik, judul, deskripsi, kategori, dan durasi.

Pada saat Anda menonton video resep masakan sampai habis, algoritma langsung memindai jutaan video lain yang memiliki kemiripan, mungkin video resep masakan yang lain, atau video tips memasak. Maka, tak heran beranda Anda tiba-tiba dipenuhi banyak video seperti itu. Inilah mengapa satu tontonan bisa mengubah total beranda Anda.

Algoritma dengan Interaksi Kolaboratif (Collaborative Filtering)

Jika Content-based filtering bekerja dengan mencari kemiripan konten, maka collaborative filtering bekerja dengan cara mengamati kemiripan antar-pengguna. Logikanya begini, orang yang mirip denganmu menyukai ini, maka kamu mungkin juga akan menyukainya.

Secara teknis, collaborative filtering adalah pendekatan yang menganalisis data interaksi pengguna di masa lalu untuk memprediksi preferensi di masa depan. Pendekatan ini tidak peduli dengan isi dari konten itu sendiri. Collaborative filtering hanya mengandalkan pola perilaku kolektif pengguna.

Ada dua teknik utama dalam collaborative filtering. Pertama, user-based collaborative filtering yaitu dengan algoritma mencari pengguna lain yang memiliki selera serupa dengan Anda, lalu merekomendasikan item yang disukai oleh kelompok tersebut. Kedua, item-based collaborative filtering dengan algoritma menghitung kemiripan beberapa item berdasarkan bagaimana seluruh pengguna berinteraksi dengan item itu.

Contoh dalam platform musik. Jika Anda sering mendengarkan lagu-lagu dari playlist bergenre pop, algoritma akan mencari pengguna lain yang memiliki playlist serupa. Dari situ, algoritma merekomendasikan lagu-lagu yang disukai oleh pengguna yang mirip dengan Anda, namun belum pernah Anda dengar. Algoritma yang diberi masukan playlist berisi lagu-lagu pop akan merekomendasikan lagu-lagu bernuansa serupa dari artis berbeda, seperti subgenre pop rock dan electro pop.

Dengan cara ini, sistem dapat memberikan rekomendasi yang lebih bervariasi dan membantu Anda menemukan konten baru yang mungkin tidak akan pernah Anda cari sendiri. Inilah yang menjelaskan mengapa suatu tren bisa viral, sekelompok kecil pengguna yang terlibat secara intens bisa menginfeksi seluruh kelompok yang lebih besar melalui collaborative filtering. Anda dapat menjadi bagian dari gelombang viral, hanya karena kemiripan selera dengan orang-orang yang bahkan tidak Anda kenal.

Algoritma dan Durasi Menonton (Watch Time)

Selain dua mekanisme sebelumnya, algoritma sangat menghargai watch time (durasi menonton) seorang pengguna. Watch time mencerminkan preferensi secara berkelanjutan. Namun, rentan terhadap bias durasi video yang lebih panjang yang cenderung mendapat watch time lebih lama karena durasinya. Video 60 detik mungkin rata-rata ditonton selama 40 detik, sementara video 10 detik hanya 6 detik. Sekilas video panjang lebih diminati, padahal video pendek bisa ditonton hingga 80 persen durasinya, menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi secara proporsional.

Untuk mengatasi bias ini, peneliti mengusulkan Watch Time Gain (WTG) yang membandingkan watch time suatu video dengan rata-rata video berdurasi serupa. Dengan ini, algoritma bisa menilai apakah suatu video menarik untuk ditonton.

Inilah mengapa para kreator konten berlomba menciptakan pemancing perhatian (hook) di detik pertama. Jika Anda menggulir ke video lain, algoritma mencatat konten kurang menarik. Jika Anda bertahan, maka algoritma akan mencatat jika konten itu menarik.

Filter Bubble dan Echo Chamber: Efek Samping Algoritma yang Jarang Disadari

Setelah memahami ketiga mekanisme di atas, apa efek samping personalisasi yang terlalu canggih? Jawabannya adalah filter bubble dan echo chamber.

Filter bubble adalah cara algoritma menyajikan konten hanya berdasarkan perilaku Anda, riwayat pencarian, like, atau komentar. Tujuannya memudahkan, tapi diam-diam mengisolasi Anda dari informasi di luar minat.

Contohnya, jika Anda sering menonton podcast politik dari satu kubu tertentu, YouTube akan terus merekomendasikan video dari kubu tersebut. Ini membuat Anda sulit melihat pandangan pembanding dari pihak lain.

Lebih jauh, gelembung ini bisa berubah menjadi ruang gema (echo chamber). Di dalamnya, Anda hanya berinteraksi dengan orang-orang yang opininya serupa. Pendapat yang sama terus bergema, sementara pandangan berbeda jarang muncul.

Contohnya, seseorang yang menyukai video dari kreator dengan pemikiran tertentu akan terus-menerus disuguhi konten sejenis. Lama-kelamaan, ia percaya bahwa hampir semua orang berpikiran sama. Ketika muncul orang dengan pendapat berbeda, bukannya didengarkan, orang itu justru akan didebat habis-habisan.

Singkatnya, filter bubble membentuk lingkup digital yang sempit. Echo chamber memperkuat suara yang seragam di dalamnya. Akibatnya, wawasan menyempit dan toleransi terhadap perbedaan menurun. Kabar baiknya, Anda bisa memecahkan gelembung ini sendiri dengan sesekali mencari topik baru, mengikuti akun dengan sudut pandang berbeda, mematikan riwayat histori, membuat akun kedua untuk topik yang berbeda.

Oleh : Rizky Juge’ Sutrisno
Organisasi | Kampus  : Teknologi Informasi – UIN Walisongo Semarang

Daftar Pustaka

[1]      Alya Rahmadani Harahap and Yahfizham Yahfizham, “Algoritma Pemrograman Numerik Sebagai Solusi Efisien dari Permasalahan Matematika Kompleks,” J. Arjuna  Publ. Ilmu Pendidikan, Bhs. dan Mat., vol. 1, no. 6 SE-Articles, pp. 12–20, Nov. 2023, doi: 10.61132/arjuna.v1i6.284.

[2]      R. Reswara, E. Evanita, and A. Susanto, “IMPLEMENTASI CONTENT-BASED FILTERING PADA SISTEM REKOMENDASI BUKU PERPUSTAKAAN,” JATI (Jurnal Mhs. Tek. Inform., vol. 9, pp. 3243–3250, Apr. 2025, doi: 10.36040/jati.v9i2.13312.

[3]      I Gede Ngurah Wahyu Ananta and I Wayan Supriana, “Analisa Sistem Rekomendasi Konten Youtube Berdasarkan Durasi Menonton Menggunakan Content-Based Filtering,” J. Nas. Teknol. Inf. dan Apl. , vol. 1, no. 3 SE-Articles, pp. 901–908, doi: 10.24843/JNATIA.2023.v01.i03.p16.

[4]      Rizky Hidayatullah and Resti Amalia, “Perancangan Website Berita Menggunakan Algoritma Content-Based Filtering (CBF) Untuk Meningkatkan Relevansi Konten Di Website Jatengupdates,” J. Tek. Mesin, Elektro dan Ilmu Komput., vol. 6, no. 1 SE-Articles, pp. 310–319, Mar. 2026, doi: 10.55606/teknik.v6i1.10721.

[5]      F. Kurniawan, A. Ningsih, and A. Komarudin, “SISTEM REKOMENDASI CHANNEL YOUTUBE RESEP MASAKAN MENGGUNAKAN COLLABORATIVE FILTERING,” JATI (Jurnal Mhs. Tek. Inform., vol. 8, pp. 5849–5855, Jun. 2024, doi: 10.36040/jati.v8i4.10107.

[6]      V. Wulandari, G. Rullyana, and A. Ardiansah, “Pengaruh algoritma filter bubble dan echo chamber terhadap perilaku penggunaan internet,” Berk. Ilmu Perpust. dan Inf., vol. 17, no. 1 SE-Articles, Jun. 2021, doi: 10.22146/bip.v17i1.423.

[7]      Y. Zheng et al., DVR: Micro-Video Recommendation Optimizing Watch-Time-Gain under Duration Bias. 2022. doi: 10.1145/3503161.3548428.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.