Mahasiswa.co.idPonsel dan laptop kini menjadi ruang penyimpanan utama berbagai aspek kehidupan, terutama bagi mahasiswa. Materi kuliah, tugas, foto, hingga tangkapan layar sering disimpan tanpa pernah dipilah. Awalnya terasa membantu, tetapi lama-kelamaan penumpukan file justru menimbulkan rasa penuh, kewalahan, dan sulit fokus. Fenomena ini dikenal sebagai digital hoarding.
Digital hoarding merujuk pada kecenderungan individu untuk menyimpan data digital secara berlebihan dan mengalami kesulitan menghapusnya, meskipun data tersebut sudah tidak lagi relevan. Perilaku ini bukan semata persoalan manajemen file, tetapi berkaitan erat dengan proses psikologis di balik cara seseorang merespons informasi, tekanan, dan ketidakpastian di era teknologi. Dorongan untuk terus menyimpan file sering dipicu oleh rasa takut kehilangan informasi penting serta kecemasan jika suatu saat data tersebut dibutuhkan kembali (Sillence dkk. (2023).
Pada konteks mahasiswa, digital hoarding kerap terbentuk dari tekanan akademik dan pola penggunaan teknologi sehari-hari. Banyak mahasiswa menyimpan seluruh materi lama, foto kegiatan, dan catatan digital karena takut ada informasi penting yang terlewat. Faktor seperti fear of missing out dan kelelahan mengambil keputusan membuat proses memilah file terus ditunda.
Dampak digital hoarding tidak hanya terlihat pada penuhnya ruang penyimpanan, tetapi juga pada kondisi psikologis. Mahasiswa dengan file yang tidak terorganisir cenderung mengalami gangguan konsentrasi, stres, dan rasa kehilangan kendali terhadap data digital (Liu dan Liu., 2025). Kondisi ini membuat aktivitas belajar menjadi kurang efisien dan memicu kelelahan mental yang sering tidak disadari.
Jika dibiarkan, digital hoarding dapat memengaruhi efektivitas akademik. Penelitian menunjukkan bahwa penumpukan file digital berkaitan dengan menurunnya efisiensi belajar karena waktu habis untuk mencari dokumen yang tersimpan tidak teratur.
Untuk membantu meningkatkan kesadaran mengenai digital hoarding, pendekatan edukasi melalui media visual menjadi penting. Dalam konteks ini, poster yang menyertai artikel ini disusun sebagai poster ilmiah yang merangkum kajian mengenai perilaku digital hoarding di kalangan mahasiswa, mulai dari latar belakang fenomena, gambaran pendekatan kajian, hingga temuan utama dan kesimpulan yang relevan.
(Poster ilmiah yang merangkum latar belakang, pendekatan kajian, hasil utama, dan kesimpulan mengenai digital hoarding pada mahasiswa)
Selain poster ilmiah, media video juga berperan sebagai sarana refleksi yang lebih ringan dan mudah dipahami. Melalui gambaran situasi sehari-hari, video mampu menunjukkan bagaimana kebiasaan menyimpan file secara berlebihan sering terjadi tanpa disadari, serta bagaimana perasaan cemas dan lelah dapat muncul akibat tumpukan data yang tidak terkelola. Pendekatan video animasi membantu audiens melihat bahwa digital hoarding bukan perilaku ekstrem, melainkan kebiasaan umum yang dapat dialami siapa saja.
Materi video edukasi dalam bentuk animasi dapat diakses melalui platform YouTube pada tautan berikut:
https://youtu.be/LdseGW0xVeg?si=rtxsbeAXiZv9d-C5

Komentar 0