Facebook Pro: Antara Tuntutan Monetisasi dan Moralitas
Oleh Redaksi
Oleh: Randi Rasman Tinggal di Nita, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur
Mahasiswa.co.id - Salah satu tren dewasa ini yang banyak diminati masyarakat ialah menjadi konten kreator. Profesi ini dianggap mudah dijangkau karena tidak membutuhkan kualifikasi khusus dan proses panjang seperti prosesi formal lainnya. Setiap orang dapat menjadi konten kreator selama memiliki akun platform digital seperti Facebook, You Tube, Tiktok, dan lain sebagainya. Dari beberapa platform digital tersebut, Facebook menjadi platform yang sering digunakan orang terutama dalam menyalurkan pelbagai konten. Platform ini telah memiliki banyak fitur yang sangat menarik, tidak hanya sebagai media sumber informasi dan saluran komunikasi, tetapi juga sebagai sumber pendapatan.
Transformasi Facebook menuju ruang monetisasi semakin terlihat ketika Meta memperkenalkan mode profesional atau Facebook Pro. Pada 31 Oktober 2022, Ryan Rinaldi selaku Product Marketing Manager Meta mengumumkan fitur tersebut sebagai ruang pengguna untuk mengembangkan audiens sekaligus memperoleh keuntungan finansial melalui pelbagai konten yang diproduksi. Namun, hal ini tidak diperoleh dengan instan karena pengguna harus memenuhi pelbagai persyaratan monetisasi (Muta’alimah dkk, 2025: 1525).
Berhadapan dengan realitas tersebut, manusia jadinya selalu saja berpapasan dengan gadget-nya, terutama dalam mengecek, merekam dan mengunggah pelbagai hal untuk keperluan konten. Dalam hal ini, istilah homo digital menjadi relevan untuk mendeskripsikan manusia modern yang eksistensinya semakin bergantung pada teknologi. Sebagaimana yang ditulis F. Budi Hardiman pada judul karyanya ‘Aku Klik, maka Aku Ada’, bahwa eksistensi manusia ditentukan dengan bagaimana ia mengoperasi teknologi dan bahkan manusia juga menganggap teknologi sebagai alter ego atau dirinya yang lain (F. Budi Hardiman, 2021: 39).
Dependensi Media dan Ambivalensi Facebook Pro
Dalam teori dependensi media (Media Dependenscy Theory) yang dikemukakan oleh Sandar Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur pada 1975 dalam artikel berjudul A Dependency Model or Mas-Media Effects, menegaskan bahwa tingkat ketergantungan seseorang terhadap media akan semakin tinggi bila dapat memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan akan informasi, komunikasi, dan sosial (Littlejohn dkk, 2017: 203). Namun, ketergantungan tersebut memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya meliputi kemudahan memperoleh informasi, peluang bisnis digital, peningkatan kreativitas, serta perluasan jaringan komunikasi. Namun, terdapat pula dampak negatif seperti kecanduan media sosial, penyebaran informasi palsu, tekanan sosial, dan penurunan interaksi langsung di dunia nyata. Dalam teori dependensi media, kondisi ini menunjukkan bahwa media memiliki kekuatan memengaruhi cara berpikir, perilaku, dan keputusan pengguna ketika tingkat ketergantungannya semakin tinggi (Littlejohn dkk, 2017: 204).
Dalam konteks Facebook Pro, ketergantungan tersebut nyatanya juga menciptakan ambivalensi. Di satu sisi, para pengguna Facebook Pro berusaha memenuhi tuntutan konten dengan membuat pelbagai video dan foto demi memperoleh keuntungan, sementara di sisi lain, terkadang para pengguna Facebook Pro mengesampingkan nilai-nilai moral dalam memproduksi konten. Hal ini dapat terlihat jelas dalam bagaimana para pengguna Facebook memanfaatkan pelbagai peristiwa demi tuntutan Facebook Pro, meski peristiwa tersebut membutuhkan empati dan bukan viralisasi. Hal ini selaras dengan kritik Gabriel Marcel dalam filsafat eksistensialismenya mengenai relasi ‘aku-ia’, yakni cara pandang terhadap sesama sebagai objek yang dapat dimanfaatkan. Relasi manusia menjadi bercorak fungsional dan instrumentalis di mana manusia direduksi sebagai ‘sesuatu’ (thing) dan bukan ‘seseorang’ (person) yang utuh (Handrianus Dabi Dede, 2023: 49).
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan media digital tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga cara manusia memandang dirinya sendiri dan orang lain. Ini sejalan dengan konsep masyarakat risiko (risk society) yang digagas Ulrich Beck, bahwa perkembangan modern tidak hanya membawa kemajuan tetapi juga melahirkan risiko baru yang sukar dikendalikan. Dalam konteks Facebook, seseorang tidak lagi sekadar menjadi pengguna media sosial melainkan juga ‘pelaku pertunjukkan digital’ yang secara berkala membangun citra di hadapan publik. Setiap unggahan, komentar, video, hingga aktivitas sehari-hari berpotensi dijadikan konten. Akibatnya, batas antara kehidupan privat dan ruang publik menjadi semakin kabur. Banyak orang merasa bahwa setiap momen harus direkam, dipublikasikan, dan direspons oleh audiens demi mempertahankan eksistensi digitalnya.
Selain itu, tuntutan untuk terus menghasilkan konten seringkali membuat seseorang mengalami tekanan sosial. Para pengguna Facebook Pro cenderung merasa harus selalu kreatif, aktif, dan relevan agar tetap memperoleh perhatian audiens. Dalam kondisi demikian, tidak sedikit orang rela melakukan apa saja demi meningkatkan jumlah penonton, like, dan followers. Konten-konten sensasional, konflik pribadi, eksploitasi emosi, hingga peristiwa duka seringkali dijadikan bahan konsumsi publik demi memperoleh engagement yang tinggi. Ha ini memperlihatkan bagaimana logika algoritma media sosial dapat memengaruhi perilaku manusia. Semakin viral suatu konten, semakin besar pula peluang memperoleh keuntungan finansial. Akibatnya, pertimbangan moral terkadang dikalahkan oleh tuntutan popularitas dan monetisasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Facebook Pro tidak hanya menghadirkan peluang ekonomi digital, tetapi juga memunculkan persoalan etika yang serius. Banyak pengguna media sosial yang mulai kehilangan sensitivitas terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya ketika terjadi kecelakaan, bencana alam, atau konflik sosial, sebagian orang justru lebih sibuk merekam dan mengunggah peristiwa tersebut dibandingkan memberikan pertolongan secara langsung. Peristiwa yang semestinya menjadi ruang empati berubah menjadi komoditas digital yang dapat mendatangkan keuntungan. Dalam perspektif moral, tindakan semacam ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam masyarakat digital, yakni dari budaya kepedulian menjadi budaya tontonan.
Etika Bermedia Sosial
Sebagaimana Facebook adalah salah satu platform digital yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, baik dalam membangun relasi, mengembangkan kreativitas, maupun membuka peluang ekonomi digital. Pada akhirnya, persoalan Facebook Pro bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Monetisasi bukanlah sesuatu yang keliru, tetapi keuntungan finansial tidak diperoleh dengan mengorbankan empati dan martabat sesama. Di tengah budaya digital yang semakin kompetitif, tantangan terbesar bukan bagaimana menjadi viral, melainkan bagaimana tetap menjadi manusia.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0