Mahasiswa.co.id - Di era digital yang serba cepat, gaya hidup masyarakat juga ikut berubah. Media sosial dan e-commerce kini menjadi panggung utama bagi siapa saja yang ingin tampil up to date. Setiap tanggal kembar atau momen promo besar, masyarakat berlomba-lomba mengisi keranjang belanja daring. Produk fashion menjadi salah satu komoditas paling diburu karena dianggap mampu merepresentasikan citra diri yang trendy. Namun di balik tren ini, ada persoalan besar yang sering kali luput dari perhatian: limbah fashion yang semakin menumpuk.
Fenomena fast fashion bukan hal baru. Brand-brand besar di industri mode sudah lama mempraktikkan strategi produksi cepat dengan mengganti koleksi setiap tiga bulan, bahkan lebih singkat. Model yang baru dirilis segera diikuti tren berikutnya. Konsumen pun didorong untuk membeli lebih banyak agar tidak dianggap “ketinggalan zaman”. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, praktik serupa juga merambah UMKM. Melalui marketplace seperti TikTok Shop dan Shopee, banyak pedagang kecil memproduksi pakaian dengan mengikuti tren yang sedang viral.
Di satu sisi, hal ini memberi peluang bagi UMKM untuk berkembang. Namun, ada konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Produk yang dijual sering kali dibuat dengan bahan murah, jahitan seadanya, dan daya tahan yang rendah. Akibatnya, pakaian cepat rusak hanya dalam beberapa kali pemakaian atau bahkan setelah dicuci sekali-dua kali. Konsumen akhirnya membeli lagi, bukan karena kebutuhan, melainkan karena pakaian sebelumnya tidak awet. Siklus ini berkontribusi besar terhadap menumpuknya limbah tekstil, yang kini menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia.
Masalah keberlanjutan inilah yang seharusnya mulai menjadi perhatian. Pakaian tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai barang konsumsi instan. Fashion memang identik dengan perubahan tren, tetapi keberlanjutan harus menjadi arah baru yang diutamakan. Di sinilah peran penting generasi muda, termasuk mahasiswa tata busana, untuk membangun kesadaran bahwa mode bukan hanya tentang tampil mengikuti zaman, melainkan juga tentang tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sebagai mahasiswa, kami tidak hanya belajar mendesain sesuai tren. Kami juga diajarkan bagaimana memilih kain yang berkualitas, teknik jahit yang kuat, hingga merancang busana yang timeless—model sederhana yang dapat dipadupadankan dengan banyak gaya dan tidak cepat usang dimakan tren. Konsep seperti inilah yang bisa menjadikan pakaian sebagai investasi jangka panjang. Dengan kualitas yang baik, pakaian tidak hanya memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga bisa diwariskan, dipakai ulang, atau bahkan didaur ulang.

Komentar 0