Mahasiswa.co.id - Menjelang lulus SMA/SMK/MA banyak dari kita yang bingung memilih antara kuliah atau kerja. Pada masa-masa itu merupakan masa yang paling sulit untuk memutuskan antara lebih mementingkan ego atau menuruti kemauan orang tua. Banyak orang yang ingin berkuliah namun tidak memiliki biaya, dan begitu juga sebaliknya ada yang ingin langsung berkerja namun dipaksa oleh orang tua untuk berkuliah. Namun, tidak setiap dari kita memiliki kondisi perekonomian yang sama sehingga langkah yang diambil berbeda-beda.
Tahun 2020 merupakan tahun yang sangat suram bagi saya, dan mungkin banyak orang-orang yang merasakan hal yang sama. Bagaimana tidak, pada tahun itu negara kita sedang dilanda wabah Covid-19 yang membuat lumpuhnya sektor perekonomian dan beberapa sektor lainnya. Bertepatan dengan tahun tersebut saya lulus dari bangku SMA dan ketika itu seperti anak-anak SMA yang menjelang lulus pada umumnya saya juga ikut mendaftar kebeberapa kampus, baik yang di dalam maupun luar daerah. Namun, ketika itu saya belum beruntung dan saya tidak lulus dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri (SNMPTN) maupun Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Keagamaan Islam Negri (SPAN-PTKIN).
Hasil ketidak lulusan tersebut sedikit membuat mental saya down, terlebih ketika keluarga saya mengetahuinya, bukannya disupport malah diomelin. Dengan kejadian tersebut saya merasa agak pesimis untuk melanjutkan pendidikan, terlebih ketika itu Indonsesia juga dilanda wabah Covid-19 yang mana pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi diadakan secara online yang mana makin membuat saya malas untuk melanjutkan pendidikan. Sehingga di tahun tersebut saya memutuskan untuk gap year serta mempersiapkan diri untuk memasuki bangku perkuliahan.
Apa Saja Yang Dilakukan Selama Gap Year? Banyak dari kita yang masih bingung apa yang kita lakukan ketika gap year, apakah belajar, berkerja, atau rebahan di kasur saja. Pada awalnya saya juga merasakan hal yang demikian, bingung mau ngapain, namun pada saat itu sahabat saya kembali dipulangkan dari podok pesantren karena wabah Covid-19. Pada saat itu saya melihat banyak sekali orang-orang yang membutuhkan pertolongan di jalanan entah itu tukang becak, supir taxi, ojol, dan disaat yang bersamaan teman saya mengajak saya untuk bergabung ke organisasi kepemudaan yang menggalang dana untuk orang-orang yang terdamapak wabah Covid-19. Selama disana saya mengalami banyak perubahan, yang awalnya saya sangat pemalu kemudian menjadi lebih percaya diri untuk berbicara didepan umum, lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain, mendapat banyak pengalaman dan relasi.
Selama gap year saya juga dipertemukan oleh orang-orang yang luar biasa, salah satunya adalah founder dari organisasi Banua Green Masjid, yang mana organisasi ini merupakan organisasi yang bergerak di bidang lingkungan namun berbasis di masjid. Organisasi ini memiliki salah satu program unggulan yaitu bank sampah. Bank sampah memiliki cara kerja yang unik, yaitu jama’ah menyetorkan sampah yang sudah dipilah seperti gelas pelastik, kardus, besi, kaleng, botol pelastik dan kaca, sampai barang-barang elektronik bekas yang sudah rusak. Barang-barang yang disetorkan tersebut kemudian dimasukan kedalam saldo nasabah dengan adanya pembukuan seperti yang dilakukan di bank-bank pada umumnya, dan bisa di tarik menjadi uang dikemudian hari. Nasabah yang menabung sampah ini tidak hanya berasal dari jama’ah mesjid saja melainkan juga dari masyarakat umum.
Salah satu teman saya juga ada yang melakukan gap year seperti saya, namun dia memiliki caranya tersendiri untuk mengisi masa gap year yang dialaminya. Dia mengisi masa gapyer tersebut dengan menghafal Al-Qur’an. Bahkan dia sampai mengkhatamkan hafalannya sampai 30 Juz selama menjalani masa gapyer. Kemudian ada juga teman saya yang memanfaatkan masa gap yearnya dengan berkerja untuk membantu perekonomian keluarganya sembari belajar untuk menyiapkan diri menjelang pendaftaran kuliah.
Gap Year Bukan Lah Suatu Kesalahan Gap year bukan lah suatu kesalahan ketika dilakukan, justru gap year bisa menjadi sebuah masa dimana kita mengupgrade semua kemampuan dan skill yang kita miliki. Bahkan ketika saya memasuki bangku perkuliahan saya melihat sedikit perbedaan antara orang-orang yang gapyer setelah lulus SMA dan orang-orang yang langsung kuliah setelah lulus SMA. Banyak teman saya yang sempat gap year sebelum kuliah memiliki publik speaking yang bagus, pengetahuan yang luas dan masih banyak lagi. Masa gap year seperti pisau bermata dua, bisa jadi masa gap year sebagai masa meningkatkan value kita jika digunakan secara tepat, dan bisa juga menjadi masa-masa kita kehilangan arah dalam menentukan pilihan hidup.
Banyak dari kita yang mendapatkan pandangan-pandangan negatif ketika memutuskan untuk gap year. Salah satu cara untuk menghadapi pandangan negatif tersebut dengan tidak perlu memikirkannya. Satu hal yang perlu kita ingat, kesuksesan dan keberhasilan yang kita raih bukanlah hasil dari pandangan orang terhadap diri kita, melainkan dari kerja keras serta doa kedua orang tua kita. Jika sudah terlanjur gap year mungkin ada perasaan sedih, minder, kecewa, frustasi dan sebagainya. Akan tetapi kita harus menjalaninya dengan ikhlas serta fokus dengan mengupgrade value diri kita, jika masih memiliki semangat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi maka jangan pernah menyerah dengan keadaan, gap year bukan lah suatu keadaan yang hina melainkan suatu kesempatan kita untuk berbenah menjadi pribadi yang tangguh, kuat, cerdas dan lebih siap dalam menghadapi dunia perkuliahan maupun dunia kerja.
Penulis : Nur Rahmad Teguh Septiyadi Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (Semester 5) Instagram : rahmadteguh_
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0