Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Gen Z Kita Kemana? Kritik atas “Fatigue” Empati Digital

Z

Mahasiswa.co.id - Di tengah derasnya arus informasi digital, Generasi Z-selanjutnya Gen Z, telah dianggap sebagai generasi yang paling melek terhadap isu-isu sosial nasional bahkan internasional dimedia sosial. Sehingga mereka memiliki pengaruh yang besar, dibuktikan dengan aktif melakukan kampanye sosial, yang sebagian besar digaungkan oleh para influencer muda. Apalagi akhir-akhir ini banyak sekali fenomena-fenomena dahsyat yang telah terjadi di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia. Salah dua diantaranya adalah fenomena konflik yang terjadi di Sudan dan bencana banjir yang menerjang sebagain besar wilayah Aceh dan Sumatra. Bukan hanya itu, kasus-kasus kriminal lainnya yang semakin hari semakin tidak masuk akal. Seperti maraknya kasus pelecehan, pemerkosaan anak dibawah umur, dan pembunuhan yang ramai diberitakan oleh media sosial. Belum lagi masalah-masalah pribadi atau curhatan seseorang yang kerap kali banyak disorot oleh media.

Banyaknya konten-konten seperti ini membuat para audiens, khususnya Gen Z mengalami fenomena yang bernama “Fatigue” atau kelelahan empati digital. Bagaimana tidak? Gen Z yang sejatinya tidak bisa lepas dari media sosial, setiap harinya harus terpapar konten-konten seperti ini. Meskipun awalnya mereka tetap peduli, saling memberikan support, dan tidak jarang memberikan bantuan kepada korban. Saat itu sedang booming, para influencer saling adu empati di media sosial. Namun saat isunya sudah tenggelam, mereka lupa, dan merasa bahwa tugasnya untuk peduli sudah gugur. Akan tetapi, hal ini justru membuat mereka semakin tidak peduli lagi dan mati rasa, karena saking banyaknya isu-isu krusial yang harus ditanggapi, dibagikan, dan dikasihani. Gen Z merasa lelah, kosong, dan tidak punya tenaga untuk menanggapi padahal tahu bahwa isu tersebut sangat serius dan penting.

Empati digital, istilah yang merujuk pada kemampuan seseorang untuk merasakan dan menanggapi penderitaan atau masalah orang lain melalui platfrom media digital. Melalui teknologi digital seperti gadget, Gen Z dapat dengan mudah menyuarakan pendapat, memberikan dukungan, membuat petisi atau penggalangan dana untuk berbagai macam kampanye sosial. Namun, ketika informasi negatif seperti bencana, diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan mengalir tanpa henti. Jadi, wajar saja kalau hati merasa capek dan muncul kelelahan empati.

Kelelahan empati ini bukan hanya sekedar rasa jenuh biasa. Banyak studi menunjukkan bahwa teralu sering menyaksikan dan terlibat dalam masalah sosial secara intens melalui media sosial dapat memicu stress, kecemasan, bahkan sedih berkepanjangan. Bagi Gen Z yang sedang dalam proses tumbuh dan belajar menjadi dewasa, beban emosi seperti ini bisa menjadi sangat berat dan dapat menguras banyak tenaga. Lama-kelamaan, hal ini dapat membuat mereka malas terlibat lagi dalam isu sosial, karena setiap kali melihat konten atau berita semacam itu, perasaan menjadi drop atau tidak nyaman. Pada akhirnya, sebagian besar mereka memilih untuk menjauh, menutup media sosial, diam saat melihat isu sosial, atau pura-pura tidak peduli karena sudah terlalu lelah untuk merasakan semuanya.

Kemudian, yang menjadi pertanyaannya adalah, Gen Z kita ke mana sekarang? Kalau dilihat secara kritis, pertanyaan ini seperti menyiratkan bahwa Gen Z yang dulu lantang bicara soal isu sosial kini telah hilang. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Fatigue empati tidak secara mudah diartikan sebagai hilangnya empati, melainkan sebuah tanda bahwa hati dan pikiran mereka butuh diakui dan diperhatikan. Dengan paham fenomena ini, kita bisa lebih pintar untuk memberi waktu istirahat dan tanpa adanya paksaan bagi mereka. Kelelahan empati juga membuat kita harus memikirkan secara berulang cara untuk menyajikan berita di media sosial agar isu-isu serius dan penting tidak menjadi sensasi sesaat, cepat hilang, dan bukti nyata perubahan menjadi susah digapai. Gen Z yang kewalahan akhirnya harus pintar memilih mana isu yang benar-benar bisa mereka tangani tanpa harus membuat hati menjadi lelah atau kelelahan empati.

Hal ini membawa kita pada kritik lebih luas mengenai budaya aktif dalam memberikan respon pada media sosial atau budaya aktivisme saat ini. Respon yang berupa like, share, atau komentar singkat memang berguna, akan tetapi dapat menjadi empati yang dangkal atau hanya sebagai ajang pamer peduli di media sosial. Akibatnya, muncul kelelahan empati karena seakan-akan kita harus menunjukkan dukungan, tapi tidak ada hasil nyata yang diberikan.

Sebagai refleksi, kita harus bertanya, bagaimana Gen Z dapat tetap menjadi agen perubahan yang nyata dan berkelanjutan? Generasi ini tumbuh pada era dimana media sosial yang dipenuhi isu-isu sosial, lingkungan, dan ketidakadilan sehingga mempunyai potensi besar untuk mengubah fenomena fatigue empati digital yang terus berkembang. Salah satu caranya adalah membangun budaya empati yang sehat dan seimbang. Artinya, dapat menggabungkan kesadaran sosial-seperti peduli isu iklim atau hak asasi manusia-dengan perawatan kesehatan mental yang konsisten dilakukan, misalnya dengan batasi waktu scroll media sosial. Bukan lagi memaksa diri untuk selalu bereaksi cepat pada setiap masalah baru yang muncul, tetapi beri ruang terlebih dahulu untuk beristirahat, refleksi, dan memulihkan energi untuk kembali menghadapi konten-konten negatif yang semakin hari semakin banyak beredar di media sosial.

Penulis: Nanda ‘Abidatur Rosyidah Al Mabruroh

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.