Generasi Sibuk Tampil, Tapi Lupa Mengenal Diri Sendiri
Oleh Redaksi
Oleh: Fadli Akbar Ramadhan
Mahasiswa.co.id – Di era media sosial, tampil menjadi kebutuhan. Bukan cuma soal eksistensi, tapi juga pengakuan. Banyak anak muda hari ini tumbuh dengan kebiasaan membandingkan diri, melihat hidup orang lain lewat layar, lalu diam-diam bertanya, “kok hidup gue begini-begini aja?” Pertanyaan itu jarang diucapkan, tapi sering terasa.
Media sosial memang memberi ruang berekspresi. Semua orang bisa bicara, bisa menunjukkan versi terbaik dirinya. Masalahnya, yang tampil hampir selalu sisi rapi. Prestasi, pencapaian, senyum, liburan. Hal-hal yang enak dilihat. Sementara proses, kegagalan, dan kebingungan sering disimpan sendiri. Dari sini, perlombaan dimulai. Siapa yang terlihat paling berhasil. Tidak sedikit anak muda akhirnya sibuk membangun citra. Apa yang diunggah dipikirkan
matang-matang. Bukan karena ingin jujur, tapi karena takut tertinggal. Validasi datang dalam bentuk angka. Like, komentar, jumlah penonton. Angka-angka ini pelan-pelan berubah jadi ukuran nilai diri. Saat sepi, muncul rasa kurang. Saat ramai, ada kepuasan sesaat. Lalu ingin lagi.
Masalahnya bukan pada media sosialnya. Yang jadi soal adalah ketika ruang digital lebih dipercaya daripada suara sendiri. Banyak anak muda tahu apa yang sedang tren, tapi bingung menjawab pertanyaan sederhana tentang dirinya. Suka apa, mau ke mana, dan kenapa memilih jalan tertentu. Semua serba cepat, tapi arah sering kabur.
Dalam kondisi seperti ini, proses mengenal diri jadi hal yang terpinggirkan. Padahal, itu fondasi penting. Tanpa mengenal diri, keputusan mudah dipengaruhi. Pilihan hidup sering ikut arus. Yang lain terlihat berhasil, kita ikut. Yang lain viral, kita kejar. Tidak semua salah, tapi lelahnya sering tidak disadari.
Tekanan untuk selalu terlihat baik juga berdampak pada kesehatan mental. Banyak anak muda merasa harus kuat setiap saat. Tidak boleh tertinggal. Tidak boleh terlihat gagal. Akhirnya, lelah dipendam. Cerita ditahan. Media sosial tetap aktif, tapi pikiran penuh. Ini ironi. Di tengah koneksi yang luas, rasa kesepian justru tumbuh.
Perlu ada keberanian untuk berhenti sejenak. Tidak semua momen harus dibagikan. Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Anak muda perlu ruang untuk gagal tanpa tontonan, untuk bingung tanpa penilaian. Mengenal diri butuh waktu. Butuh sepi. Butuh jujur, bahkan saat tidak enak.
Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan penentu arah. Validasi boleh datang, tapi jangan dijadikan tujuan utama. Lebih penting membangun relasi yang nyata, memahami kemampuan diri, dan menerima bahwa setiap orang punya ritme berbeda. Hidup bukan lomba tampilan.
Pada akhirnya, mengenal diri sendiri jauh lebih penting daripada dikenal banyak orang. Sebab yang paling lama menemani hidup, bukan pengikut atau penonton, tapi diri kita sendiri. Kalau itu saja asing, semua pengakuan terasa kosong.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0