Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Gerakan Perempuan Dalam Konflik Agraria Pakel

pakel

Mahasiswa.co.id - Banyaknya fenomena nasional memantik terciptanya gerakan arus bawah di kalangan masyarakat, cita-cita terwujudnya masyarakat madani serta modernis seketika tertimbun saat kenyataan pemerintah hari ini tidak berpihak pada rakyat jelata dan justru memarjinalkan masyarakat sipil yang notabenenya sebagai subjek tak bersalah.

Masifnya fenomena penyerobotan tanah, deforestasi, dan alih fungsi lahan menjadi fenomena menarik yang ingin disampaikan serta digunakan sebagai kajian mendalam untuk menjaga dan menciptakan ekosistem agraria yang adil. Program Strategis Nasional (PSN) yang diinisiasi oleh pemerintah negara di bawah pangkuan Presiden Joko Widodo menjadi faktor utama naiknya grafik problematika yang ada di Indonesia.

Menurut data empiris yang disajikan oleh Greenpeace selaku NGO yang bergerak di ranah ekologi dan agraria cukup menyoroti adanya lonjakan kasus agraria nasional, tercatat pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga Joko Widodo (Jokowi) tergolong meningkat secara signifikan terkait isu problematika agraria hingga dampak dari hal tersebut disajikan secara deskriptif di laman sosial media (Instagram) Greenpeace.

Konflik agraria di Pakel, salah satu desa kecil yang berada di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi merupakan sebuah sampel untuk kasus agraria nasional secara keseluruhan, yang bermulai dari tahun 1929 – saat ini belum menuai resolusi. Beragam kejadian yang ada di dalam konflik Pakel tersebut tidak hanya berhadapan dengan perkebunan swasta, namun dari setiap dekadenya memiliki lawan yang berbeda. Dari pemeritah kolonial, perkebunan swasta milik hindia Belanda, Perhutani, hingga perkebunan swasta dalam negeri yang rumornya terdapat campur tangan dari elit pemerintah hari ini.

Ketidakpastian dalam resolusi konfliknya menciptakan gerakan grassroot yang diinisiasi oleh kawan solidaritas dari bermacam latar belakang di setiap individunya termasuk dari kalangan Muhammadiyah, gerakan tersebut berawal dari keresahan sekumpulan pemuda yang ingin turut serta turun tapak untuk membantu mengabulkan keinginan petani Pakel guna merebut kembali ruang hidup yang telah lama didambakan serta diusahakan disetiap masanya.

Kronik Pakel yang sempat menjadi desa Janda merupakan salah satu perjalanan dalam menapaki benang perjuangan yang memantik keterlibatan perempuan dalam aksi gerakan perlawanan yang sebelumnya telah dilakukan oleh hampir keseluruhan petani Pakel.

Penangkapan seluruh pria yang berada serta terlibat dalam gerakan petani tersebut menjadi pupuk bara juang bagi perempuan Pakel pada masa itu. Ketidaktahuan akan agenda dan strategi apa yang akan digunakan oleh para perempuan Pakel guna menghadapi situasi yang mana harus dipaksa untuk melanjukan estafet perjuangan yang telah ditanam sebelumnya menjadikan perempuan Pakel selalu menyuarakan kasus tersebut.

Hingga pada masa sekarang, keterlibatan perempuan dalam barisan melawan tirani tidak dapat kita anggap lelucon belaka. Bahkan perempuan Pakel hari ini menjadi garda terdepan ketika terdapat teror yang membuat mereka terusik, dari hal tersebut juga menjadikan inisiasi gerakan perempuan dalam tataran perlawanan di daerah konflik lainnya.

Menjadi garda terdepan dalam barisan benteng petani Pakel ketika berhadapan langsung dengan sekuriti serta preman yang disewa oleh PT. Bumisari Maju Sukses (BMS) guna menakuti para warga. Bukan hanya dijadikan samsak oleh para petani laki-laki, namun untuk melihat seberapa beringas pihak perkebunan jika dihadapkan oleh para perempuan yang melawan tersebut. Ketika mereka (PT.BMS) melakukan represifitas kepada perempuan Pakel, hal itulah yang menjadi awal dari blunder pihak PT. BMS jikalau bertambah lawan. Selain melawan aktivis HAM, pihak perkebunan juga akan melawan Komnas Perlindungan Perempuan dan Anak, serta hal tersebut sudah jelas melanggar hukum karena melakukan tindak represif dengan semena-mena.

Keterlibatan perempuan dalam gerakan di era ini cukup diperhitungkan, ditambah lagi dengan adanya gerakan feminisme, serta dampak pegiat feminis yang masif menyuarakan kesetaraan atas lelaki dan perempuan menjadi pelopor utama terjadinya gerakan keperempuanan diseluruh lini sosial hari ini, serta telah melahirkan sosok perempuan yang lantang serta berani menyuarakan keresahan yang mereka rasakan dikemudian waktu.

Penulis: Zulfikar Ilmi Putra P
Jabatan: Ketua Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik PC IMM Bangkalan

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.