Hijaukan Bumi: Memahami Ajaran Islam dalam Membangun Kesadaran Ekologis
Oleh Alif Safikri
Mahasiswa.co.id – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau biasa dikenal dengan “WALHI” pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa negara Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan serius, yaitu “Darurat Ekologis”. Walhi dalam CNN Indonesia pada 31 Januari mengungkapkan bahwa perkebunan, pertambangan, infrastruktur, dan pariwisata adalah penyebab bencana ekologi terjadi.
Lalu apa yang dimaksud dengan bencana ekologis? Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Zenzi Suhadi menjelaskan bahwa bencana ekologis adalah bencana yang diintervensi oleh kontribusi manusia, semisal banjir dan kebakaran hutan atau lahan.
Islam sebagai agama yang tidak hanya memperhatikan aspek ritual, tetapi juga aspek lingkungan, turut andil dalam menjaga keseimbangan alam. Lingkungan hidup merupakan amanah ilahi yang diperuntukkan bagi semua makhluk sebagai amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Merawat dan menjaga kelestariannya adalah ekspresi dari kasih sayang dan kepedulian terhadap ciptaan Tuhan. Ajaran Islam menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkannya dalam tindakan nyata, agar tidak menimbulkan kerusakan pada bumi.
Hal ini tercermin dalam Firman-Nya pada surah al-A’raf ayat 56:
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat di atas menegaskan larangan terhadap perusakan lingkungan sebagai bentuk pelanggaran terhadap batas-batas yang ditetapkan. Alam semesta telah diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang harmonis dan sesuai, memenuhi kebutuhan semua makhluk. Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan tersebut. Merusak lingkungan setelah diperbaiki jauh lebih tercela daripada merusaknya sebelum diperbaiki atau ketika kondisinya sudah buruk. Oleh karena itu, ayat ini menegaskan larangan tersebut secara tegas, karena merusak yang baik juga merupakan tindakan yang amat tercela.
Lingkungan hidup, atau ekosistem, yang diciptakan oleh Allah SWT memiliki hukum keseimbangan yang berlaku. Hubungan saling ketergantungan antara manusia dan komponen-komponen alam harus terjaga dalam batas keseimbangan yang telah ditetapkan. Gangguan terhadap keseimbangan dalam lingkungan hidup akan menyebabkan kerusakan fisik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Lalu, bagaimanakah Islam menjawab problematika ekologis tersebut?
1). Keimanan dan Ketakwaan
Al-Quran (Surah Al-A’raf, ayat 96) menyatakan, “Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti akan diberikan berkah dari langit dan bumi.” Namun, jika mereka menolak ayat-ayat Tuhan, mereka akan mendapat siksa karena perbuatan mereka. Islam mengajarkan bahwa perlakuan terhadap lingkungan mencerminkan tingkat keimanan seseorang pada Tuhan. Keimanan akan membebaskan seseorang dari dorongan hawa nafsu yang berlebihan, termasuk dalam memanfaatkan alam, sehingga tidak menyebabkan kerusakan.
2). Kesadaran akan Lingkungan
Sebagaimana dikatakan dalam tafsir Al-Mizan, alam semesta ini dapat diibaratkan sebagai tubuh manusia yang saling terkait. Manusia dan lingkungan memiliki hubungan simbiosis, di mana kerusakan lingkungan akan berdampak pada manusia. Kesadaran akan hal ini dapat membantu manusia mengendalikan keinginan untuk mencari keuntungan semata dengan mengorbankan lingkungan.
3). Pengelolaan Lingkungan yang Berkelanjutan
Dalam Islam, manusia diberikan wewenang untuk mengelola bumi dan isinya, namun harus dilakukan secara bertanggung jawab. Tidak dibenarkan memanfaatkan sumber daya alam tanpa memperhatikan kebutuhan orang lain. Pengelolaan lingkungan yang baik merupakan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, yang dilakukan dengan menggunakan akal pikiran dan hati.
Dalam konteks tantangan ekologis yang dihadapi oleh dunia saat ini, Islam menawarkan pemahaman dan pandangan yang relevan serta solusi yang konkret dalam menjaga keseimbangan alam. Sebagai agama yang mengajarkan keimanan dan ketakwaan, Islam menekankan pentingnya hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungan. Keimanan yang kokoh akan membebaskan manusia dari dorongan hawa nafsu yang berlebihan, sehingga dapat mencegah perilaku merusak lingkungan. Kesadaran akan hubungan simbiosis antara manusia dan alam juga menjadi fokus dalam ajaran Islam, di mana kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada manusia. Selain itu, Islam mendorong manusia untuk mengelola lingkungan dengan bertanggung jawab, menghindari eksploitasi yang tidak berkelanjutan dan memperhatikan kebutuhan orang lain. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata, diharapkan manusia dapat menjadi khalifah yang bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian bumi yang merupakan amanah ilahi. Dengan demikian, pemahaman ajaran Islam dalam membangun kesadaran ekologis menjadi kunci penting dalam upaya menjaga keberlangsungan lingkungan hidup bagi generasi masa depan.
Oleh: Alif Safikri
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0