Idealisme yang Mati Muda: Organisasi Kampus dan Warisan Busuk Senior
Oleh Redaksi
Oleh: Abdul Rofid Juniardi Mahasiswa Program Studi Hukum Semester VII Universitas Nurul Jadid
"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda."
Mahasiswa.co.id - Kutipan Tan Malaka itu hampir selalu hadir di forum-forum kaderisasi mahasiswa. Ia dilontarkan dengan penuh wibawa oleh senior-senior organisasi kampus, seakan mereka sedang menyalakan api semangat perjuangan. Kata idealisme dipoles jadi mantra sakral, diwariskan turun-temurun agar mahasiswa percaya bahwa mereka masih memegang obor perubahan.
Namun, di balik gemuruh jargon itu, realitas yang hadir justru paradoksal. Senior yang paling lantang bicara soal idealisme, sering kali justru menjadi orang pertama yang melanggarnya. Mereka mengkritik pemerintah karena banyak rakyat tidak mendapatkan haknya, tetapi di lingkup organisasi kampus, mereka melakukan praktik serupa seperti mengamankan kursi ketua untuk kadernya, lalu merampas sisa anggaran kegiatan untuk kepentingan segelintir kelompoknya.
Idealisme Rasa Diskon Fenomena ini ibarat dagangan di pasar malam. Idealisme dijajakan dengan suara keras, tetapi kualitasnya murahan. Pragmatisme yang katanya musuh bersama pemerintah, justru dipraktikkan dengan lihai di dalam kampus. Bedanya hanya soal skalanya saja. Kalau pejabat negara bermain miliaran, pejabat di kampus cukup ratusan atau bahkan jutaan. Tapi nafsu serakahnya tetap sama.
Di sinilah muncul komedi tragis. Mahasiswa yang menolak ikut arus pragmatisme justru dilabeli benalu, dianggap perusuh, bahkan dijauhi. Mereka yang berusaha menjaga idealisme malah ditempatkan di pinggir, sementara mereka yang sibuk menumpuk keuntungan justru dielu-elukan. Sebuah logika jungkir balik yang merusak esensi pendidikan mahasiswa sebagai agent of change.
Tak berhenti di situ. Ada pula senior yang menjadikan marah-marah sebagai gaya kepemimpinan. Teriak di forum, bentak junior, pura-pura galak agar terlihat kritis dan pintar. Padahal kalau isi kepala kosong, suara lantang tak lebih dari toa rusak. Lucu sekaligus menyedihkan, kampus yang seharusnya jadi arena dialog sehat justru berubah jadi panggung sandiwara feodalisme.
Jalan Sunyi Sang Idealis Di tengah keriuhan pragmatisme itu, masih ada segelintir orang yang memilih jalan berbeda. Mereka menolak ikut-ikutan tradisi kotor, meski harus kehilangan teman, jabatan, bahkan akses pada sumber daya. Mereka rela diasingkan oleh kawannya hanya karena enggan meneruskan pola lama yang busuk. Mungkin jumlah mereka sedikit. Mungkin suara mereka kalah oleh gemuruh mayoritas. Tapi justru di sanalah nilai mereka. Mereka yang terasing itulah yang sedang memperlihatkan wajah sejati mahasiswa: berani melawan arus, berani mempertahankan idealisme meski jalan yang ditempuh sepi dan terjal.
Miniatur Politik Kotor Organisasi kampus sejatinya hanyalah miniatur dari masyarakat luas. Apa yang terjadi di dalamnya sering menjadi cerminan dari realitas politik di luar sana. Jika sejak mahasiswa sudah terbiasa dengan pragmatisme, korupsi anggaran, dan feodalisme gaya baru, jangan heran bila kelak pola itu akan terus berulang ketika mereka masuk ke birokrasi atau partai politik. Perbedaannya hanya pada panggung dan seragam: di luar sana korupsi dibungkus jas mahal, di kampus cukup dengan jaket almamater. Tetapi pola pikirnya sama: kekuasaan sebagai jalan untuk mengamankan kepentingan kelompok, bukan sebagai amanah untuk memperjuangkan kepentingan bersama.
Menolak Jadi Penonton Pertanyaan yang tersisa kini sederhana: apakah kita rela menjadi bagian dari siklus “idealisme rasa diskon” ini, atau berani berdiri sebagai penantang meski harus sendirian? Apakah kita ingin meneruskan tradisi kotor senior, atau memilih jalan sunyi untuk menjaga marwah mahasiswa sebagai penjaga nurani bangsa?
Sebab jika idealisme sudah digadaikan sejak dini, bagaimana mungkin kita bisa membayangkan lahirnya pemimpin yang berintegritas di masa depan?
Dan pada akhirnya, respect setinggi-tingginya hanya untuk mereka yang berani berkata tidak. Mereka yang memilih diasingkan daripada ikut menertawakan idealisme yang mereka bunuh sendiri.
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0