Oleh: Nur Aisah ( 2281040051 )
Mahasiswa Tadris IPS , Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
Mahasiswa.co.id - Desa Kapringan ialah desa yang terletak di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Desa ini memiliki sejumlah acara tahunan seperti Ngunjung atau Unjungan, Panjang Jimat, Mapagsri, dan lain-lain yang mampu menarik kunjungan dari masyarakat desa lain bahkan dari kota-kota sekitarnya. Biasanya, Unjungan diadakan pada bulan Oktober, November, dan Desember, sekitar akhir tahun.
Mengapa di Desa Kapringan terdapat tradisi dan kebudayaan mirip dengan Cirebon? Apa saja kebudayaan yang ada di Desa Kapringan?
Dalam tulisan ini, saya akan membahas secara ringkas tentang berbagai macam kebudayaan, adat, dan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat desa. Sebelum itu, perlu kita kenali terlebih dahulu apa itu Cirebon.
Kota Cirebon Ialah kota yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia, berada di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa yang menghubungkan antara Jakarta dan Surabaya melalui jalur utara dan tengah Jawa. Awalnya, Cirebon berasal dari istilah “Caruban ” dan merupakan sebuah dukuh kecil yang didirikan oleh Ki Gedeng Tapa. Seiring waktu, dukuh tersebut berkembang menjadi desa yang ramai dengan nama Caruban (yang dalam bahasa Jawa berarti bersatu padu), karena di sana terdapat percampuran penduduk dari berbagai suku, agama, bahasa, dan adat istiadat, termasuk Jawa, Sunda, Tionghoa, serta unsur-unsur budaya Arab. Pelafalan kata Caruban kemudian berubah menjadi Carbon dan akhirnya menjadi Cirebon.
Pelaksanaan upacara adat maupun ritual keagamaan yang dilaksanakan atas adanya Kekuatan gaib masih tetap dilakukan oleh sebagian kelompok masyarakat di Desa Kapringan, Baik berupa ritual kematian, ritual syukuran atau slametan, ritual tolak Bala, ritual ruwatan, ritual Nuju bulan , ritual bayi baru lahir dan lain sebagainya . Ritual-ritual ini telah Menjadi tradisi dan Menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian besar Masyarakat karena telah diwariskan Secara turun-temurun oleh nenek moyang mereka Sejak generasi keturunan keturunan setelah Mbah buyut buyut di desa kapringan
1. Unjungan
Unjungan berasal dari kata unjung , Ngunjung atau berkunjung , mengunjungi .Unjungan adalah Sebuah acara adat istiadat di desa kapringan yang dimana acara tersebut di adakan di makam Makam nenek moyang dari desa kapringan , Seperti makam daya lautan , atau buyut daya lautan , buyut maspa, buyut kemis , buyut jalaksana, dan buyut jaka dolog, buyut demak dan balong Telaga , nah biasanya di buyut jaka dolog itu adalah acara yang paling ramai dikunjungi karena acaranya diadakan tiga hari tiga malam , dan yang paling menarik adalah dari karnaval nya yang Luar biasa terutama dari bentuk bentuk atraksinya.
Awal mula diadakannya unjungan karena tujuannya adalah menjalin silaturahmi dari Keluarga atau dari keturunan buyut buyut , namun tahun dari ketahun ahirnya ada yang Mengusulkan untuk di adakan hiburan juga supaya tidak terlalu sepi , awalnya hanya ada hiburan Pewayangan dan lama kelamaan juga di adakan hiburan organ tarling serta sandiwara . Acara ngunjung tersebut juga tidak jauh berbeda dari kebudayaan Cirebon karena nenek moyang dari desa Kapringan merupakan keturunan dari kesultanan Kanoman.
2. Karnaval Buyut Jaka Dolog
Karnaval merupakan sebuah arak-arakan yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Kapringan dalam acara unjungan Buyut Jaka Dolog. Karnaval ini berlangsung pada hari kedua unjungan Buyut Jaka Dolog, dimulai dari pagi hingga siang dengan mengelilingi Desa Kapringan. Pengelolaan karnaval ini juga dapat menghabiskan dana ratusan juta rupiah. Satu atraksi, baik berbentuk Santa, Nyi Roro Kidul, hewan, ataupun karakter lainnya, bisa memerlukan dana antara 5 hingga 30 juta rupiah, dengan lebih dari 50 bentuk atraksi yang tersedia. Karnaval ini menjadi acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kapringan dan sekitarnya. Bahkan, ada sekolah-sekolah yang meliburkan siswanya saat pelaksanaan arak-arakan di unjungan Ki Buyut Dolog agar anak-anak juga dapat menikmati acara tersebut. Partisipasi dalam keramaian acara tersebut tidak hanya dari anak-anak, tetapi juga dari semua generasi masyarakat Desa Kapringan.
3. Pesta kembang api
Pesta kembang api adalah sebuah acara tahunan dari Desa Kapringan di mana petasan kembang api ini diadakan secara besar-besaran, biasanya dinyalakan sebelum acara unjungan dimulai pada malam hari. Beberapa acara yang biasanya menyalakan kembang api adalah Buyut Daya Lautan, Buyut Jaka Dolog, Buyut Demak, dan Balong Telaga. Acara ini merupakan bagian dari kekayaan budaya yang memiliki nilai tradisional yang tinggi dan menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal
4. Panjang jimat
Panjang jimat dilakukan ketika situasi di Desa Kapringan tidak kondusif, seperti saat terjadi wabah seperti yang terjadi pada pandemi Corona, atau saat terjadi musibah lainnya. Panjang jimat dilaksanakan dengan harapan agar masyarakat Desa Kapringan kembali aman dalam menjalankan tradisi mereka, sambil tetap mempertahankan kepercayaan pada kekuasaan Allah. Masyarakat berharap melalui panjang jimat ini, desa dapat kembali mendamaikan diri dengan berkah dan izin dari Allah.
Panjang jimat melibatkan sepasang jimat yang biasa disebut jimat Lanang (untuk laki-laki) dan jimat Wadon (untuk perempuan). Dikatakan bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa menggendong jimat tersebut, karena setiap individu akan merasakan pengalaman yang berbeda saat menggendong jimat tersebut. Ada yang mengatakan bahwa menggendong jimat terasa berat bagi sebagian orang, sementara yang lainnya merasakan hal yang berbeda. Jimat tersebut saat ini berada di salah satu rumah di Desa Kapringan, yang merupakan tempat tinggal sesepuh desa. Ini merupakan bagian dari kebudayaan tradisional Cirebon yang masih dijaga dan dipelihara oleh masyarakat setempat.
5. Sedekah bumi
Sedekah bumi , atau mapagsri, merupakan sebuah upacara adat yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan melalui hasil bumi, termasuk hasil panen padi dan lainnya. Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Desa Kapringan setelah panen padi mereka. Sedekah bumi juga biasanya diselenggarakan sebelum acara-acara besar di Desa Kapringan, seperti unjungan. Tempat penyelenggaraan sedekah bumi adalah balai desa Kapringan, dengan hiburan wayang kulit setiap tahunnya. Acara ini cukup ramai dengan banyak pengunjung, terutama dari kalangan orang tua yang usianya di atas 40 tahun dan juga anak-anak muda. Ini merupakan bagian dari kekayaan budaya tradisional yang masih dijaga dan dipelihara oleh masyarakat setempat.
Dari Kesimpulan di atas, terlihat bahwa Desa Kapringan memiliki sejumlah tradisi dan kebudayaan yang mirip dengan Cirebon. Hal ini dapat dijelaskan melalui relasi etnis dan integrasi bangsa yang telah terjadi di wilayah tersebut. Cirebon dikenal sebagai daerah yang telah mengalami percampuran penduduk dari berbagai suku, agama, bahasa, dan adat istiadat. Begitu pula di Desa Kapringan, di mana keberagaman tersebut tercermin dalam tradisi-tradisi seperti Unjungan, Karnaval Buyut Jaka Dolog, Pesta Kembang Api, Panjang Jimat, dan Sedekah Bumi.
Adaptasi kebudayaan Cirebon dalam tradisi-tradisi Desa Kapringan mengindikasikan integrasi budaya yang kuat antara beragam komunitas etnis di daerah tersebut. Meskipun terletak di luar wilayah Cirebon, Desa Kapringan tetap mempertahankan warisan budaya Cirebon sebagai bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan Cirebon tidak hanya menjadi milik satu komunitas etnis, tetapi telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan masyarakat luas, yang pada gilirannya memperkuat integrasi bangsa melalui pengakuan dan penghormatan terhadap keberagaman budaya.
Komentar 0