Oleh: Dimas Royan Habibi Mahasiswa Teknologi Informasi UIN Walisongo Semarang Kita sering menyebut diri sendiri realistis. Tapi bagaimana jika sikap realistis yang kita pegang itu sebenarnya pesimisme yang dibungkus rapi? Saya teringat kisah dua orang yang inspiratif, kedua orang itu adalah Mark Manson dan Soichiro Honda. Mark Manson merupakan seoramg penulis buku yang cukup terkenal. Salah satu karyanya adalah The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson, yang menjadi buku mega best seller. Mark Manson dulu pernah bermimpi menjadi bintang rock. Semasa mudanya Manson bersama teman-temannya mendirikan band dan tampil di panggung-panggung kecil, namun perjalanan Manson di dunia musik tersebut tidak berjalan dengan lancar. Dari pengalaman tersebut, Manson kemudian lebih memilih berpindah ke dunia kepenulisan sebagai jawaban atas kegagalan tersebut. Berangkat ke Jepang, kita berkenalan dulu dengan pendiri salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia ini, yaitu Soichiro Honda, yang pernah kehilangan pabriknya dan jatuh miskin akibat perang dan gempa bumi, pada masa sulit tersebut beliau pernah melamar kerja sebagai insinyur di perusahaan Toyota namun ditolak. Akan tetapi, Soichiro Honda tidak memilih untuk menyerah, Honda berusaha sedikit demi sedikit, mengumpulkan sisa-sisa barang dari reruntuhan pabriknya sendiri dan bertekad bangkit membangun kembali perusahaannya dari nol. Dari ambisi dan tekad tersebut, akhirnya perusahaan Honda kembali mendapatkan namanya. Dua kisah. Dua keputusan yang berlawanan; satu menyerah, satu bertahan. Keduanya berakhir sukses. Dan dari sini, kita mulai bertanya: mana sebenarnya pilihan yang “benar”? Kita patut menanyakan diri sendiri: apakah kita sedang belajar dari kisah sukses, atau sedang menipu diri sendiri dengan pelajaran yang sebenarnya tidak ada? Siapa yang rentan terjebak dalam ilusi ini? Kita semua. Tapi terutama mereka yang sedang berada di persimpangan: mengejar mimpi yang terasa berat, atau mempertimbangkan untuk berhenti. Di titik itu, otak kita cenderung mencari pembenaran, dan kisah-kisah seperti Manson dan Honda hadir seperti cermin yang bisa kita miringkan ke arah mana pun yang kita mau. Yang ingin berhenti akan meminjam kisah Manson. Yang ingin bertahan akan meminjam kisah Honda. Keduanya merasa sedang bersikap realistis. Kapan “realistis” mulai berubah menjadi pesimisme? Ketika keputusan itu lahir dari dorongan untuk menjauh dari rasa sakit, bukan untuk bergerak menuju sesuatu yang lebih bermakna. Manson meninggalkan musik tidak sekadar menyerah. Ia mengenali dengan jujur bahwa ia tidak punya keunggulan kompetitif yang cukup di musik, lalu mengalihkan energinya ke tempat di mana ia punya suara yang lebih unik. Sedangkan Honda memilih bertahan dan bangkit tidak sekadar karena keras kepala. Ia punya keahlian teknis nyata di bidang mesin yang tidak hilang meski pabriknya hancur. Honda memilih bertahan itu masuk akal karena modalnya (keahlian) masih ada. Masalah dimulai ketika “realistis” berubah menjadi alasan yang terdengar rasional untuk menghindari rasa takut gagal. Di mana letak akar masalahnya? Kebanyakan dari kita membaca kisah sukses itu mundur dari hasil, bukan maju dari titik keputusan. Ini yang disebut survivorship bias, kita hanya melihat mereka yang berhasil, lalu menyimpulkan bahwa apapun yang mereka lakukan adalah pilihan yang benar. Padahal, berapa banyak orang yang menyerah dari musik seperti Manson kemudian tidak menjadi apa-apa? Berapa banyak yang bertahan seperti Honda tapi tetap bangkrut tanpa nama? Mereka tidak punya buku bestseller untuk menceritakan kisah mereka. Mengapa perbedaan ini penting untuk dipahami? Karena narasi “realistis” bisa menjadi pelarian yang sangat nyaman. Ia terdengar dewasa, terukur, bahkan bijaksana. Padahal di baliknya, mungkin tersembunyi rasa takut yang tidak mau diakui, kelelahan yang butuh nama yang lebih terhormat, atau kepasrahan yang menyamar sebagai penerimaan diri. Dan yang mengerikan: dari dalam kepala orang itu sendiri, kedua narasi terasa sama benarnya. Orang yang benar-benar realistis dan orang yang pesimis menyamar bisa mengucapkan kalimat yang persis sama. Pembedanya bukan pada kata-kata yang diucapkan, tapi pada kejujuran seseorang terhadap motivasi di balik pilihannya. Bagaimana cara membedakannya dalam diri sendiri? Ada satu pertanyaan yang lebih jujur dari sekadar menghitung peluang atau menilai kemampuan: “Ini pilihanmu, atau pelarianmu?” Orang yang realistis tahu ia takut, tahu ia lelah, dan tetap memilih dengan mata terbuka. Orang yang pesimis menyamar tidak mau mengakui rasa takut itu, ia butuh narasi yang lebih terhormat. Meski begitu, bahkan pertanyaan ini tidak sempurna. Rasa sakit kadang adalah informasi yang valid. Seseorang yang terus-menerus menderita di satu bidang mungkin sedang menerima sinyal nyata, bukan sedang lemah. Mendengarkan rasa sakit itu bisa jadi tindakan yang bijak, bukan pengecut. Penutup Pelajaran dari Manson bukan “boleh menyerah”. Pelajaran dari Honda bukan “jangan pernah menyerah”. Pelajaran yang lebih jujur adalah: kenali dengan akurat di mana letak keunggulanmu, dan arahkan energimu ke sana, entah itu berarti bertahan atau berpindah. Menyerah dan bertahan sama-sama bisa brilian atau bodoh. Yang membedakan bukan karakternya, tapi seberapa jujur seseorang mau melihat dirinya sendiri.