Oleh: Zamakhsyari Mahasiswa Ilmu Falak, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Mahasiswa.co.id - Dalam rangkaian perjalanan sejarah Nusantara, Aceh juga dipahami sebagai wilayah yang mempunyai tradisi penulisan paling tua dan juga yang paling hidup. Bukan hanya sebagai pusat politik dan ekonomi (abad 16-17) Kerajaan Aceh Darussalam juga menjadi pusat intelektual yang banyak melahirkan ulama, sastrawan, dan sejarawan. Aceh juga memiliki warisan para penulis sejarah yang menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh tidak pernah terputus mulai dari tradisi, literasi, bahkan dokumentasi sejarah. Namun dari banyaknya pertanyaan, ada satu pertanyaan penting yang muncul, yaitu: Siapa saja sebenarnya sejarawan Aceh yang menulis sejarah Aceh? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa sumber-sumber sejarah Aceh seringkali dibicarakan, tetapi nama-nama para penulis sejarahnya jarang dibahas dengan rinci. Padahal melalui rekaman jejak merekalah Aceh menjadi jejak intelektual yang dapat dipahami lebih jernih. Warisan historiografi Aceh sejak abad ke-17 hingga masa kontemporer ini menunjukkan kontinuitas antara kesadaran sejarah dan identitas Islam di Aceh. Dengan menelusuri para penulis tersebut, dapat dilihat bahwa historiografi Aceh bukan sekadar dibangun oleh satu generasi atau satu kelompok, melainkan berawal dari masa klasik kerajaan, masa kolonia, bahkan sejarawan modern yang menafsirkan ulang terhadap sumber-sumber lama. Berikut ini adalah pembahasan mengenai beberapa sejarawan aceh yang dianggap paling berpengaruh dalam studi sejarah Aceh.
  1. Nuruddin ar-Raniry (w. 1658) – Bapak Historiografi Aceh
Syekh Nuruddin ar-Raniry adalah salah satu tokoh ulama dan intelektual Islam yang paling berpengaruh dalam sejarah Aceh. Ia berasal dari Ranir (India Barat), datang ke Aceh sekitar 1637 M, dan berkhidmat pada masa Sultan Iskandar Tsani serta awal pemerintahan Sultanah Safiatuddin Syah. Ar-Raniry dikenal sebagai ulama yang memiliki kedudukan tinggi di istana dan menjadi rujukan utama dalam persoalan agama, politik, dan hukum.      Kontribusi terbesarnya dalam historiografi adalah karyanya yang monumental, Bustan as-Salatin, sebuah ensiklopedia istana yang ditulis dalam bahasa Melayu klasik. Karya ini bukan hanya memuat kisah para nabi dan raja-raja Islam secara umum, tetapi juga memuat bagian khusus tentang sejarah Kesultanan Aceh, struktur pemerintahan, kehidupan sosial, dan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi kerajaan. Karena penulisannya sangat sistematis dan terstruktur, ar-Raniry dianggap sebagai sejarawan Aceh paling awal yang mendokumentasikan sejarah Aceh secara resmi pada tingkat istana. Bustan as-Salatin ditulis sebagai pedoman moral dan politik bagi para penguasa Aceh, sehingga di dalamnya terdapat perpaduan antara sejarah, hukum Islam (syariat), dan nasihat etis. Karya ini kemudian menjadi rujukan penting bagi sejarawan modern untuk memahami kondisi Aceh abad ke-17. Setelah beberapa tahun berkhidmat dan menulis karya-karya penting di Aceh, ar-Raniry kemudian kembali ke kampung halamannya. Ia wafat pada tahun 1658 M di Ranir, Gujarat.      Meskipun masa tugasnya di Aceh tidak terlalu panjang, pengaruh intelektualnya sangat besar dan meninggalkan jejak yang mendalam dalam tradisi penulisan sejarah Melayu. Melalui Bustan as-Salatin dan karya-karya lainnya, nama Syekh Nuruddin ar-Raniry tetap hidup sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sejarah intelektual Aceh dan dunia Islam Nusantara.
  1. Abdurrauf as-Singkili (1615–1693) – Ulama Penulis Sejarah, Genealogi, dan Pembaku Bahasa Melayu Aceh
Nama Syekh Abdurrauf as-Singkili (1615–1693) lebih dikenal sebagai ulama besar Aceh, ahli fikih, tafsir, dan tasawuf. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa ia juga memiliki kontribusi penting dalam penulisan sejarah Aceh. Sejumlah karya keagamaannya memuat catatan tentang struktur kerajaan, silsilah para sultan, dan gambaran sosial politik Aceh abad ke-17.     Meskipun bukan ditulis sebagai "buku sejarah" dalam pengertian modern, informasi yang diselipkannya menjadi rujukan penting bagi sejarawan untuk merekonstruksi dinamika Aceh pada masa Sultanah Safiatuddin dan masa-masa setelahnya. Yang sering diabaikan adalah peran besar as-Singkili dalam membentuk bahasa Melayu klasik sebagai bahasa ilmu. Melalui karyanya yang monumental, Tafsir Turjuman al-Mustafid, ia menata kosakata, struktur, dan gaya bahasa Melayu Jawi sehingga menjadi baku dan dapat dipahami luas. Upaya Abdurrauf ini menjadikan Aceh sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu abad ke-17. Bahkan, standar bahasa Melayu yang ia bangun kemudian menyebar ke Semenanjung Malaya, sehingga pengaruhnya masih terasa dalam perkembangan bahasa Melayu modern di Malaysia hingga kini. Kontribusi ini sebenarnya sangat penting bagi historiografi Aceh. Dengan dibakukannya bahasa Melayu oleh Abdurrauf, para penulis setelahnya — termasuk penulis hikayat, kronik, serta sejarawan istana — memiliki medium bahasa yang kuat dan seragam untuk merekam sejarah. Tanpa pondasi bahasa yang disusun oleh Abdurrauf, karya-karya seperti Bustan as-Salatin atau hikayat-hikayat perang mungkin tidak akan memiliki bentuk bahasa yang sejelas dan sekokoh sekarang. Dengan demikian, Abdurrauf bukan hanya ulama besar, tetapi juga peletak dasar literasi sejarah Aceh, karena ia menyiapkan bahasa yang memungkinkan tradisi tulis-menulis berkembang pesat.
  1. Daud Beureueh (1899–1987) – Sejarawan Pejuang yang Menghidupkan Memori Kolektif
Nama Teungku Daud Beureueh lebih sering dikenal sebagai ulama dan tokoh politik Aceh abad ke-20. Namun, kontribusinya dalam historiografi Aceh tidak dapat diabaikan. Daud Beureueh menulis beberapa catatan penting tentang kehidupan masyarakat Aceh, perjuangan Aceh melawan kolonialisme, serta pemikiran keislaman yang menjadi landasan kebangkitan Aceh modern. Meskipun gaya tulisannya tidak sistematik seperti sejarawan akademik, catatan-catatan Daud Beureueh memiliki nilai historis tinggi karena berasal dari pelaku peristiwa. Ia menulis dari sudut pandang orang dalam, menyaksikan langsung perubahan Aceh dari masa kolonial, revolusi, hingga konflik politik awal kemerdekaan. Dengan demikian, Daud Beureueh dapat dikategorikan sebagai sejarawan tokoh, yaitu penulis yang menghadirkan sejarah berdasarkan pengalaman individualnya. Catatan-catatan ini kemudian menjadi sumber primer bagi sejarawan modern yang meneliti dinamika politik dan keislaman Aceh abad ke-20.
  1. Anthony Reid – Sejarawan Modern yang Menghidupkan Aceh ke Dunia Internasional
Dalam historiografi kontemporer, nama Anthony Reid tidak dapat dilepaskan. Meskipun bukan orang Aceh, ia merupakan sejarawan yang paling banyak membahas sejarah Aceh dalam konteks dunia Asia Tenggara. Karya terkenalnya, Southeast Asia in the Age of Commerce dan berbagai artikel tentang Aceh, memberikan gambaran yang sangat detail mengenai Aceh abad ke-16 dan ke-17. Reid menggunakan metode sejarah modern yang mengandalkan dokumen kolonial, catatan perdagangan, arsip Eropa, dan sumber-sumber lokal Aceh. Pendekatannya menjadikan sejarah Aceh terlihat lebih hidup dan terhubung dengan dinamika global. Perannya sangat penting karena ia memperkenalkan Aceh sebagai "the gate of Mecca" dalam jaringan perdagangan internasional dan pusat Islamisasi. Melalui Reid, historiografi Aceh menjadi bagian dari diskusi sejarah dunia, bukan sekadar sejarah lokal.
  1. Hasjmy (1914–1998)  – Tokoh Kunci Historiografi Aceh Modern
Teungku Ali Hasjmy adalah salah satu sejarawan Aceh paling produktif pada abad ke-20. Ia menulis puluhan buku mengenai sejarah Aceh, Islam Aceh, biografi ulama, hingga kesusastraan Aceh. Karyanya yang terkenal antara lain “Sumbangan Aceh kepada Nusantara”, “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh”, dan “Dinamika Sejarah Aceh”. Hasjmy menulis dengan gaya naratif yang kuat, memadukan sumber lisan, manuskrip lokal, dan dokumentasi kolonial. Ia sering memposisikan Aceh sebagai bangsa besar yang berperan penting dalam sejarah Indonesia. Bagi banyak akademisi, Hasjmy adalah "penghubung" antara tradisi sejarah Aceh klasik dan metodologi sejarah modern. Satu kontribusi penting Hasjmy adalah keberaniannya meluruskan berbagai stereotip kolonial tentang Aceh. Ia menulis sejarah dari sudut pandang orang Aceh sendiri, sehingga memberikan keseimbangan terhadap narasi orientalis yang dominan pada masa sebelumnya. Tanpa Hasjmy, banyak tradisi historiografi Aceh mungkin tidak terdokumentasi dengan baik.
  1. M. Zainuddin – Penyusun Sejarah Aceh yang Paling Lengkap
Nama H. M. Zainuddin sering disebut sebagai penyusun sejarah Aceh pertama yang paling komprehensif pada masa awal kemerdekaan. Karyanya yang monumental, "Tarich Atjeh dan Nusantara", menjadi salah satu sumber paling sering dirujuk hingga kini. Dalam bukunya, Zainuddin menuliskan sejarah Aceh dari masa prasejarah, masa kerajaan Samudera Pasai, Aceh Darussalam, konflik dengan Portugis dan Belanda, hingga perkembangan Aceh modern. Gaya tulisannya padat dan penuh data, meskipun masih memakai struktur naratif lama. Zainuddin bukan hanya sejarawan, tetapi juga pendidik. Ia memiliki idealisme agar bangsa Aceh memahami sejarahnya sebagai bagian dari identitas keislaman dan kebangsaan. Bukunya tidak hanya menjadi referensi akademik, tetapi juga digunakan dalam pendidikan sejarah lokal Aceh selama puluhan tahun.
  1. Ibrahim Alfian (1931–2016) – Sejarawan Akademik yang Fokus pada Perang Aceh
Prof. Ibrahim Alfian adalah sejarawan Aceh modern yang kontribusinya sangat besar dalam kajian Perang Aceh. Karyanya Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873–1912 dianggap sebagai salah satu penelitian ilmiah paling serius mengenai perlawanan Aceh terhadap kolonial Belanda. Ibrahim Alfian menggunakan metode sejarah modern dengan menggabungkan arsip Belanda, dokumen lokal, manuskrip Aceh, dan tradisi lisan. Ia mampu menghadirkan narasi sejarah yang seimbang, objektif, dan kaya data. Karyanya menjembatani historiografi kolonial dan historiografi nasional Indonesia. Posisinya sebagai akademisi membuat pendekatannya lebih kritis dibandingkan penulis sejarah sebelumnya. Ia tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga menganalisis struktur sosial, dinamika politik, dan peran ulama dalam perang.
  1. Tradisi Anonim dalam Manuskrip Aceh – Penulis Tanpa Nama yang Berpengaruh
      Dalam tradisi literasi Melayu-Aceh, terdapat banyak manuskrip sejarah yang ditulis tanpa mencantumkan nama penulis. Inilah yang dimaksud dengan “anonim”. Tradisi penulisan klasik di istana atau pesantren tidak selalu mewajibkan penulis mencantumkan identitas. Yang dianggap penting adalah isi, bukan siapa penulisnya. Contoh manuskrip sejarah Aceh anonim antara lain:
  • Hikayat Pocut Muhammad
  • Hikayat Malem Dagang
  • berbagai Hikayat Perang Sabil
Meski anonim, naskah-naskah ini memiliki nilai historis sangat tinggi. Mereka menjadi bukti bahwa pengetahuan sejarah tidak hanya hidup di kalangan elite intelektual, tetapi juga dalam ruang budaya masyarakat luas. Dengan kata lain, para penulis anonim ini adalah bagian dari sejarawan Aceh, meskipun identitasnya hilang dalam catatan sejarah. Penutup: Historiografi Aceh sebagai Warisan Islam Historis Dari pembahasan ini terlihat bahwa Aceh memiliki tradisi historiografi yang kaya, berlapis, dan berkelanjutan. Mulai dari ar-Raniry dan as-Singkili pada masa klasik, Zainuddin dan Hasjmy pada masa modern, hingga Reid dan Ibrahim Alfian dalam konteks akademik kontemporer. Setiap sejarawan membawa sudut pandang tersendiri, tetapi semuanya berkontribusi dalam membangun ingatan kolektif tentang Aceh. Historiografi Aceh bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas keislaman Aceh. Melalui tulisan-tulisan para sejarawan itu, Aceh dihadirkan sebagai masyarakat yang religius, intelektual, dan selalu terhubung dengan dunia Islam yang lebih luas. Di sini terlihat bahwa sejarah Aceh adalah sejarah Islam, dan Islam Aceh selalu hidup melalui sejarahnya. Dengan memahami para sejarawan tersebut, generasi hari ini dapat menelusuri kembali jejak Aceh sebagai pusat ilmu pengetahuan. Tradisi sejarah Aceh adalah warisan yang perlu dirawat—bukan hanya sebagai memori masa lalu, tetapi sebagai fondasi untuk memahami Aceh hari ini dan masa depan.