Mahasiswa.co.id - Kata “jancok” atau “dancok” telah menjadi bagian dari sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan lagi dari dialek masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah kota Surabaya dan sekitarnya. Kata ini kerap kali digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik untuk mengekspresikan emosi, membangun keakraban, hingga sudah menjadi bagian dari identitas komunitas.
Namun berbeda, di Jawa Tengah, penggunaan kata “jancok” ini dapat diartikan dan memiliki makna yang berbeda. Di beberapa daerah di Jawa Tengah penggunaan kata ini masih dianggap tabu dan kasar, sama seperti kata umpatan pada umumnya.
Perbedaan makna kata dan penggunaan kata “jancok” di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam. Esai ini akan membahas tentang perbedaan sudut pandang tersebut, dengan menelusuri sejarah dan konteks penggunaan kata “jancok” di kedua wilayah tersebut.
Sejarah kata jancok
Pengertian kata “jancok” bisa didapat dari sebuah tulisan yang berjudul “Discourse Analys About “Jancok or Dancok” In Discourse (Semantic and Pragmatic)” yang ditulis oleh Yam Saroh yang berasal dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia.
Pada tulisannya tersebut penulis mengutip penjelasan yang berasal seorang anggota Cagar Budaya yang berada di daerah Surabaya yang bernama Edi Samson. Di dalam tulisannya, Edi mengutarakan bahwa kata “jancok” atau “ dancok” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “yantye ook” yang memiliki arti (kamu juga). Kata tersebut kerap kali diucapkan oleh sebagian remaja Indo-belanda yang pada saat itu menjadi ungkapan populer pada tahun 1930-an.
Yantye ook selanjutnya digunakan oleh kalangan remaja Surabaya untuk mengata-ngatai remaja Indo-belanda. Selama itulah, remaja Surabaya kerap mengubah kata yang awalnya yantye ook menjadi “yanty-ok”. Akan tetapi, perubahan kata tersebut lebih terdengar menjadi kata “yantcook” dan saat ini lebih populer di dengar di kalangan umum sebagai “jancok” atau “dancok”.
Perbedaan Penggunaan
Kata “jancok” atau “dancok” bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, kata tersebut sangat lazim digunakan sebagai makian kasar yang memiliki konotasi negatif di Jawa Timur, pada khususnya di wilayah Surabaya, Gresik, Malang, dan sekitarnya. Tetapi, di satu sisi juga, bagi masyarakat Surabaya, Gresik, Malang, dan sekitarnya kata ini menjelma sebagai penguat dan pemersatu bagi rasa persaudaraan, bahkan menjadi salah satu identitas komunitas.
Jawa Timur:
· Di Jawa Timur, terutama di wilayah Surabaya, Gresik, Malang, dan sekitarnya, kata “jancok” umumnya digunakan sebagai kata makian atau umpatan. Kata ini memiliki konotasi negatif dan dianggap kasar atau sarkas oleh masyarakat Jawa secara umum.
· Namun, bagi penduduk Surabaya, Gresik, dan Malang, kata “jancok” juga memiliki makna identitas komunitas. Penggunaan kata ini dalam konteks tertentu, seperti ungkapan keakraban atau guyonan, dapat diterima dan bahkan memperkuat rasa persaudaraan.
· Beberapa variasi penggunaan kata “jancok” yang umum digunakan di Jawa Timur antara lain “jancuk”,”dancuk”,”damput”,”diancuk”,”diampot”, hingga “hancuk”

Komentar 0