Pepatah lama “mulutmu harimaumu” kini telah berevolusi seiring kemajuan zaman menjadi “jarimu harimaumu”. Perubahan frasa ini bukanlah sekadar permainan kata-kata, melainkan cerminan realitas yang ada saai ini dimana satu ketikan layer ponsel pintar sanggup menghancurkan seseorang secepat kilat, atau mampu membuat seseorang dikenal ribuan orang dengan cepat. Bahkan satu ketikan impulsif yang mampu membuat seseorang ke ranah pidana. Aktivitas-aktivitas kecil tersebut berisiko tinggi jika dilakukan secara tidak sadar (mindless), yang sering kali dipicu oleh kelelahan mental akibat gempuran informasi setiap harinya. Dalam kajian Estetika Humanisme, ketidakmampuan menahan impuls ini menunjukkan rentannya Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient/EQ) seseorang. Khususnya pada aspek pengelolaan emosi (self-management) sebagaimana digagas oleh Daniel Goleman dalam Teori Kecerdasan Emosional (1995), di mana individu cenderung bereaksi secara "autopilot" saat berada di bawah tekanan tanpa kesadaran akan perasaan diri sendiri (Goleman, 1995)
Sesaat setelah bangun tidur, kita langsung dijejali oleh ribuan informasi melalui notifikasi ponsel. Beranda sosial media tak henti-hentinya mencekoki kita dengan isu-isu yang viral, perdebatan pengguna internet yang memanas, hingga berita-berita yang siliih berganti dengan sangat cepat. Disinilah realitas kita saat ini: sebuah ekosistem digital yang direpresentasikan dengan frasa “Hot and Lots”.
Era "Hot and Lots" ini terasa begitu nyata di sekitar kita. Di satu sisi, semua kabar sengaja dibuat "panas" agar memancing rasa penasaran dan emosi kita. Di sisi lain, jumlahnya sangat "banyak" hingga membanjiri ruang digital kita. Akibatnya, kita sering kali mengalami kelelahan mental karena isi kepala yang sudah terlalu penuh sesak. Kita menjadi mudah cemas, panik, dan kewalahan di tengah banjir informasi ini. Saat pikiran sudah tidak menyisakan ruang untuk tenang, kita cenderung merespons segala hal dengan terburu-buru, hingga perlahan kita melupakan cara untuk saling memahami dan berempati.
Akibatnya, kita menjadi terbiasa membagikan tautan berita tanpa membaca isi lengkapnya, atau dengan mudahnya meninggalkan komentar bernada kebencian pada potongan video lima detik yang sudah dipotong dari konteks aslinya. Rasa cemas karena tertinggal tren (Fear of Missing Out / FOMO) semakin memperparah keadaan ini. Alih-alih melahirkan masyarakat berpengetahuan (knowledge society), laju informasi yang liar dan tak tersaring justru berpotensi besar mengikis nalar budi dan "rasa" kemanusiaan kita.
Mengambil Kendali Melalui Estetika Humanisme
Di sinilah pentingnya kita menengok kembali konsep Literasi Manusia. Seperti yang ditekankan dalam Kuliah Umum Universitas Siber Asia (UNSIA), literasi hari ini bukan lagi soal bisa membaca atau tidak. Lebih dari itu, tantangan kita adalah menjaga "literasi rasa". Kemampuan inilah yang membuat kita tetap waras, berempati, dan memanusiawikan sesama di tengah gempuran teknologi. Algoritma media sosial boleh saja terus menjebak kita lewat konten-konten yang memancing emosi demi mengejar interaksi. Namun, sebagai manusia yang berakal, kita memegang kendali penuh. Kita punya hak dan kekuatan untuk menolak tunduk pada sistem digital yang buta itu.
