Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Kewirausahaan Perempuan dalam Pemberdayaan Komunitas

Perempuan

Oleh: Ismayanti, Riska Zahra Tamira, Irma Riskiana, Aida Kamilah Syahidah, Rizky Ananda Maulana, Dr. Yusalina
Mahasiswa Program Studi Magister Sains Agribisnis, IPB University
Dosen Program Studi Sains Agribisnis, IPB University

Mahasiswa.co.id - Kemandirian pangan dan pemberdayaan masyarakat menjadi isu penting dalam pembangunan nasional. Di tengah tantangan ekonomi dan sosial yang kompleks, peran kelompok masyarakat khususnya perempuan, semakin diperlukan dalam menghadirkan solusi berbasis komunitas. Salah satu wujud nyata dapat dilihat pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Glowing Berseri Kota Bogor, yang dibentuk oleh 20 orang ibu rumah tangga. Berkat dukungan modal usaha dari pemerintah, KWT ini telah aktif lebih dari tiga tahun dalam mengembangkan beragam usaha produktif pada lahan seluas 200 m2, meliputi budidaya sayuran organik, ternak ikan nila, hingga produksi telur ayam. Keberhasilan KWT tersebut tidak hanya diukur dari hasil panen dan keuntungan, tetapi juga kontribusi sosial yang diberikan. Sebagian keuntungan disalurkan untuk membantu anak-anak penderita stunting di lingkungan tempat usaha, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan gerakan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

Dari perspektif sustainable entrepreneurship, KWT Glowing Berseri telah menerapkan prinsip keberlanjutan dalam praktik usahanya. Para anggota KWT memproduksi pupuk organik dan pestisida nabati memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan sisa aktivitas budidaya sayuran, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan kimia yang berpotensi merusak lingkungan. Selain itu, sebagian sampah organik juga dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan ikan. Model sirkular ini menciptakan sistem pertanian terpadu yang minim limbah dan ramah lingkungan. Dengan mengedepankan prinsip organik dan pemanfaatan sumber daya lokal, KWT Glowing Berseri tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk di mata konsumen.

Kisah KWT Glowing Berseri juga mencerminkan penerapan teori community entrepreneurship, yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga membawa dampak sosial bagi komunitas. Dalam praktiknya, usaha KWT berkembang karena adanya solidaritas dan partisipasi aktif antar anggota, serta dukungan dari masyarakat sekitar. Produk sayuran organik, telur ayam, maupun ikan nila dipasarkan langsung kepada ibu- ibu di lingkungan setempat, sehingga tercipta hubungan yang lebih erat antara produsen dan konsumen. Relasi ini bukan semata hubungan jual beli, melainkan ikatan sosial yang memperkuat loyalitas dan rasa saling percaya. Dengan demikian, KWT bukan hanya menjalankan bisnis, tetapi juga membangun ekosistem kewirausahaan berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Aspek human capital juga terlihat jelas dalam perjalanan bisnis KWT ini. Para anggotanya tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga sebagai pembelajar yang terus meningkatkan keterampilan, mulai dari teknik budidaya sayur organik, manajemen ternak, hingga pengelolaan keuangan sederhana. Proses pembelajaran ini berlangsung melalui pelatihan maupun pengalaman langsung. Peningkatan kapasitas tersebut membuat anggota Glowing Berseri semakin mandiri dan terampil dalam mengelola usaha. Disisi lain, penerapan teori jaringan sosial (social network theory) memberi ruang bagi KWT untuk responsif terhadap kebutuhan pasar. Misalnya, ketika konsumen meminta penyediaan bunga pepaya, anggota KWT segera menanam dan memproduksinya. Adaptabilitas ini lahir dari komunikasi intensif antara produsen dan konsumen, baik melalui interaksi sehari-hari maupun forum komunitas. Jaringan sosial yang kuat menjadikan usaha lebih inovatif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan pasar.

Di balik kesibukan mengurus rumah tangga, para ibu di KWT Glowing Berseri tetap konsisten berkarya. Peran ganda yang mereka jalani tidak menjadi penghalang, melainkan pendorong semangat untuk menciptakan manfaat yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa kewirausahaan perempuan memiliki nilai strategis, bukan hanya untuk peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan masyarakat.

Potret KWT Glowing Berseri sesungguhnya mencerminkan kondisi kewirausahaan perempuan di Indonesia secara lebih luas. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (2023), sekitar 64% Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia dikelola oleh perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan merupakan motor penggerak penting dalam perekonomian nasional. Namun, potensi besar tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses permodalan, kurangnya pelatihan manajerial, hingga minimnya perluasan jaringan pasar. Oleh karena itu, dukungan terhadap kewirausahaan perempuan menjadi kunci dalam upaya mendorong kesejahteraan dan pencapaian pembangunan berkelanjutan.

Pengalaman KWT Glowing Berseri memberikan pelajaran bahwa ketika perempuan diberi kesempatan, akses, dan dukungan, perubahan nyata bagi komunitas dapat tercapai. Upaya ini tidak hanya meningkatkan taraf hidup keluarga, tetapi juga membangun solidaritas sosial, memperkuat ekosistem wirausaha berbasis komunitas, dan memberikan kontribusi nyata terhadap permasalahan bangsa, seperti penurunan angka stunting. Dengan mengedepankan sustainable entrepreneurship serta nilai-nilai community entrepreneurship, kewirausahaan perempuan terbukti dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi sekaligus pembangunan sosial secara berkelanjutan.

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.