Penulis: Selvy Dwi Machmuda
Jombang, Mahasiswa.co.id - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pencerahan (KKN-P) Kelompok 33 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menggelar psikoedukasi untuk siswa SMP Negeri 3 Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Kegiatan bertajuk “Cool Head, Happy Life: Kelola Emosi, Kendalikan Kenakalan Remaja” itu digelar di SMP Negeri 3 Wonosalam, Desa Jarak Tegal, Kecamatan Wonosalam, Kamis (30/7/2026).
Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya mengelola emosi sebagai salah satu langkah mencegah kenakalan remaja sejak dini.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala SMP Negeri 3 Wonosalam. Pihak sekolah mengapresiasi pelaksanaan program psikoedukasi yang dinilai sesuai dengan kebutuhan para siswa.
Ketua KKN-P Kelompok 33 UMSIDA, Faris, kemudian memperkenalkan rangkaian program kerja yang dilaksanakan mahasiswa di sekolah tersebut.
“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi adik-adik siswa agar mampu mengenali dan mengelola emosinya dengan baik, sehingga dapat terhindar dari berbagai perilaku negatif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain,” kata Faris.
Sebelum materi dimulai, para siswa mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mereka mengenai pengelolaan emosi dan kenakalan remaja.
Mahasiswa selanjutnya menyampaikan materi melalui presentasi, diskusi, tanya jawab, permainan edukatif, dan sesi ice breaking. Metode interaktif itu digunakan agar siswa lebih aktif dan mudah memahami materi yang diberikan.
Materi yang disampaikan meliputi pengenalan berbagai jenis emosi, cara mengenali emosi negatif, strategi mengelola emosi secara sehat, serta hubungan antara kontrol emosi dan pencegahan kenakalan remaja.
Para siswa juga diajak memahami pentingnya membangun kontrol diri, memilih lingkungan pergaulan yang positif, serta berani menolak ajakan yang dapat merugikan diri sendiri.
Bahas Merokok hingga Bullying
Dalam sesi berikutnya, mahasiswa membahas sejumlah bentuk kenakalan remaja yang masih kerap ditemukan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Beberapa di antaranya adalah kebiasaan merokok, perundungan atau bullying, serta penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan.
Salah seorang narasumber dari pihak sekolah, Bimantara, mengatakan kasus kenakalan remaja masih menjadi perhatian bersama.
“Contoh kenakalan remaja yang sering terjadi, biasanya saat jam istirahat ada beberapa siswa yang pergi ke warung untuk merokok. Selain itu, masih ada juga kasus perundungan, di mana siswa yang dianggap lemah sering menjadi sasaran teman-temannya,” kata Bimantara.
Menurutnya, beberapa pelaku perundungan terkadang menunjukkan reaksi marah ketika diberi teguran.
Di luar lingkungan sekolah, lanjut Bimantara, masih ditemukan remaja yang mengonsumsi minuman keras maupun menyalahgunakan obat-obatan.
“Di daerah ini, penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan menjadi bentuk kenakalan yang paling sering dijumpai, sedangkan tawuran tergolong jarang terjadi,” jelasnya.
Mahasiswa KKN-P menjelaskan bahwa kenakalan remaja umumnya tidak muncul secara tiba-tiba. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi lingkungan pergaulan, tekanan teman sebaya, rendahnya kontrol diri, serta kurangnya kemampuan mengelola emosi.
Karena itu, siswa didorong untuk berani menolak ajakan negatif, membangun pertemanan yang sehat, serta meminta bantuan kepada guru atau orang tua ketika menghadapi masalah.
Para siswa tampak antusias selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti diskusi, dan berbagi pengalaman mengenai kehidupan remaja.
Sekolah Sediakan Sistem Pelaporan Bullying
Guru SMP Negeri 3 Wonosalam, Taufik, mengatakan pihak sekolah telah melakukan sejumlah upaya untuk mencegah perundungan.
Salah satunya melalui pemasangan barcode di beberapa titik sekolah. Barcode tersebut dapat digunakan siswa untuk menyampaikan laporan kepada Tim Pengendalian Bullying Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang.
Siswa dapat membuat laporan secara anonim maupun menggunakan identitas yang jelas. Laporan yang masuk kemudian diteruskan kepada satuan tugas khusus agar dapat segera ditindaklanjuti.
Taufik mengapresiasi program psikoedukasi yang dilaksanakan mahasiswa KKN-P UMSIDA. Menurutnya, materi yang diberikan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak karena materi yang disampaikan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Penyampaiannya juga interaktif sehingga siswa lebih mudah memahami pentingnya mengelola emosi dan menghindari perilaku negatif,” ungkap Taufik.
Sebagai evaluasi, para peserta mengikuti post-test setelah seluruh materi selesai diberikan. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti kegiatan.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai pengelolaan emosi, pencegahan kenakalan remaja, dan pentingnya membangun lingkungan pergaulan yang sehat.
Bimantara berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan karena dinilai memberikan manfaat bagi perkembangan siswa.
“Harapannya, ke depan para remaja dapat menjadi lebih baik, mampu menghindari perilaku negatif, serta menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Faris juga berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai program sehari, tetapi menjadi bekal bagi siswa dalam mengelola emosi dan membangun perilaku positif.
“Kami berharap psikoedukasi ini tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari saja, tetapi dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengelola emosi dengan baik, membangun pergaulan yang sehat, serta menjadi pribadi yang berkarakter dan bertanggung jawab,” ujar Faris.
Ia berharap kolaborasi antara UMSIDA dan SMP Negeri 3 Wonosalam dapat terus dilanjutkan melalui berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui program “Cool Head, Happy Life”, mahasiswa KKN-P Kelompok 33 UMSIDA berupaya menerapkan ilmu psikologi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat karakter remaja, meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental, serta membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kenakalan remaja.
Komentar 0