Oleh: Azmi Iffatul Azizah Mahasiswa Pendidikan Teknik Boga, Universitas Negeri Yogyakarta
Mahasiswa.co.id - Program Makan Bergizi Gratis atau MBG merupakan program pemerintahan Presiden saat ini, yaitu Prabowo Subianto. Program MBG bertujuan untuk meningkatkan gizi masyarakat Indonesia dan mengurangi stunting. Kementerian Kesehatan dan Kemenko Pembangunan Manusia & Kebudayaan menunjukkan bahwa 41% siswa mengalami kelaparan yang berdampak pada menurunnya kualitas pendidikan. Target penerima MBG saat ini, lebih ditujukan pada balita dan anak-anak usia sekolah. Disamping itu, ibu hamil dan ibu menyusui juga diberikan MBG untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sejak dalam kandungan. Namun, seiring berjalannya Program MBG sampai sekarang, Program ini menuai banyak pro dan kontra dari Masyarakat Indonesia.
Program MBG benar untuk mensejahterakan bangsa, jika dilaksanakan dengan profesional, sungguh-sungguh, dan berpegang teguh dengan nilai Pancasila. Pelaksanaannya juga seharusnya dilakukan secara benar dan transparan. Tetapi pada pelaksanaannya, masih terdapat banyak kekeliruan dan tidak transparan. Anggaran biaya MBG perporsi adalah Rp15.000,00. Tetapi kenyataannya di lapangan, hidangan yang diberikan pada siswa tidak mencapai Rp15.000,00. Diharapkan kedepannya, MBG yang diberikan pada murid-murid sesuai dengan anggarannya dan standar gizi yang sudah ditetapkan.
Menu MBG saat ini sudah cukup bervariasi. Menu MBG diharapkan bisa mengenalkan makanan-makanan khas daerah lain di Indonesia. Mengenalkan kuliner yang berbeda-beda dan kaya akan rempah dari setiap daerah. Sehingga, anak-anak tidak hanya mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga menambah wawasan nusantara mengenai keberagaman makanan di Indonesia.
Jika ditinjau dengan Perspektif Pancasila, MBG lebih berkaitan pada Sila ke-2 dan ke-5. Sila ke-2 berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, sehingga memberikan makanan bergizi kepada anak-anak merupakan bentuk kepedulian terhadap hak dasar manusia. Terkhususnya dalam bidang pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Sila ke-5 yang berbunyi “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, berarti pemerataan dalam Program MBG. Mengonsumsi makanan bergizi merupakan hak setiap individu. Semua anak berhak mendapat makanan yang bergizi, sehat, dan layak dikonsumsi. Baik dari masyarakat bawah, menengah, maupun atas. MBG juga diharapkan tidak mengalami kesenjangan menu, baik menu MBG di desa terpencil maupun di kota.
Terkait “Keadilan” ini masih menuai beberapa kontra, karena banyak siswa yang tidak mampu dapat menempuh pendidikan. Manfaat MBG seharusnya dirasakan oleh semua anak yang membutuhkan, tanpa adanya diskriminasi pendidikan. Kontra lainnya yaitu mengenai gaji para pegawai MBG yang melebihi gaji guru honorer. Guru sebagai profesi yang mulia, mengajarkan dan mendidik murid-muridnya supaya menjadi lebih baik. Diharapkan kedepannya, diberlakukan keadilan dan kesetaraan dalam pemberian gaji.
Menurut saya, MBG dapat menjadi wujud nyata pengamalan sila ke-2 dan ke-5 Pancasila, jika dikelola secara setara, adil, dan baik. Terkait sila ke-5, diharapkan dapat dilakukan perluasan penerima MBG, sehingga penerima tidak hanya yang menempuh pendidikan formal. Peningkatan gaji guru honorer juga diperlukan supaya seluruh guru dan pegawai merasa dihargai atas profesinya masing-masing. Program MBG sebenarnya bertujuan mulia, memastikan generasi muda bergizi dan sehat. Jika anak-anak mendapatkan gizi yang cukup, diharapkan kualitas pendidikan dan masa depan bangsa dapat semakin meningkat. Diharapkan program ini berjalan dengan sebagaimana mestinya, supaya tetap sesuai dan sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Sumber Referensi Kiftiyah, A., Palestina, F.A., Abshar, F. U., Rofiah, K.(2025). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam perspektif keadilan sosial dan dinamika sosial-politik. PANCASILA: Jurnal Keindonesiaan, 5(1), 102. https://doi.org/10.52738/pjk.v5i1.726 Wikipedia. (2026). Makan Bergizi Gratis. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Diakses 26 Februari 2026, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Makan_Bergizi_Gratis
Ruang Pembaca
Komentar 0
Belum ada komentarJadilah yang pertama menyampaikan pendapat.
Komentar 0