Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Media Sosial sebagai Cermin Identitas: Antara Realita dan Representasi

Media Sosial

Oleh: Andreyna Noviola

Mahasiswa.co.id - Kita hidup di era di mana selfie lebih sering diedit daripada kata-kata di caption. Media sosial bukan lagi sekadar album foto digital namun berubah menjadi panggung sandiwara, di mana setiap orang berusaha memainkan peran terbaiknya. Tapi di balik filter dan highlight reels, ada pertanyaan yang menggelitik: "Inikah saya yang sebenarnya, atau hanya karakter yang diciptakan untuk dapat lebih banyak like?"

1. Like = Validasi? Ketika Otak Kita Tergantung pada Notifikasi
Setiap bunyi "ding!" notifikasi like di Instagram memicu dopamin yaitu zat kimia otak yang sama yang muncul saat kita menang lotre atau makan cokelat. Beberapa penelitian membuktikan bahwa otak remaja bereaksi terhadap like seperti orang kelaparan melihat makanan. Tapi inilah masalahnya adalah kita mulai mengukur harga diri bukan dari nilai intrinsik, tapi dari angka di layar.
Contoh nyata? Sebuah survei di Jakarta menunjukkan 65% milenial mengaku lebih bahagia saat foto mereka dapat 100+ like dibanding dapat pujian langsung dari teman. Ironis, bukan?

2. "Kenapa Aku Nggak Secantik Dia?" Merupakan Jebakan Perbandingan Sosial
Scroll Instagram 5 menit, dan Anda akan melihat travel ke Bali dengan pose sempurna, makanan aesthetically pleasing, tubuh langsing bak model, dan lain-lain.

Tapi tahukah Anda? 70% konten itu direncanakan 2 jam sebelumnya, difoto 50 kali, dan diedit pakai 5 aplikasi. Kita membandingkan "blooper reel" kehidupan nyata kita dengan "Oscar-winning scene" orang lain. Hasilnya? FOMO, rasa tidak cukup, dan kecemasan yang menggerogoti.

3. Dilema Anak Muda: Eksis atau Autentik?
Remaja zaman sekarang punya tantangan unik yaitu harus populer di TikTok tapi tetap diterima di lingkungan nyata. Seorang siswi SMA di Bandung bercerita: "Aku pakai hijab di sekolah, tapi di Instagram aku posting dance challenge pakai crop top. Khilaf? Iya. Tapi demi views, ya dikerjain."

Fenomena ini disebut "identity fragmentation" yaitu ketika identitas online dan offline bertolak belakang. Bahayanya? Lama-lama, kita sendiri bingung: "Yang mana sih aku yang beneran?"

4. Indonesia vs. Barat: Bedanya Cara Kita Pamer

Orang Barat di Instagram: "Look at my solo trip to Spain! #LivingMyBestLife" (Fokus pada individualitas)
Orang Indonesia? "Foto bareng temen kosan! #SquadGoals" (Lebih menonjolkan kebersamaan)
Tapi sama-sama punya motivasi terselubung: "Lihat dong, aku punya kehidupan yang keren!"

5. Tips Tetap Waras di Dunia Maya
Hindari mengikuti akun yang membuat Anda merasa tidak cukup. Ingat, sebagian besar konten di media sosial tidak sepenuhnya mencerminkan realita namun banyak yang sudah melalui proses kurasi dan editing. Batasi penggunaan maksimal 1 jam per hari, dan hindari membuka media sosial sebelum tidur. Jangan sungkan untuk berhenti mengikuti akun yang berdampak negatif bagi kesehatan mental Anda.
Media sosial seharusnya menjadi alat yang mendukung, bukan menguras emosi. Gunakan dengan cerdas!

Media sosial ibarat pisau bahwa bisa untuk memotong buah atau melukai diri sendiri. Tantangannya bukan pada teknologinya, tapi pada bagaimana kita memilih mencerminkan diri di dalamnya.

Referensi:
Ballara, N. B. (2023). The power of social validation: A literature review on how likes, comments, and shares shape user behavior on social media. International Journal of Research Publication and Reviews, 4(7), 3355–3367. https://doi.org/10.55248/gengpi.4.723.51227
Bergs, Y., Peters, P., Lub, X. D., & Blomme, R. J. (2023). Online identity work dynamics of Instagram micro influencers: An extreme case approach. Frontiers in Psychology, 14, 1306248. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1306248
Kurniawati, A., Fitri, M. R., & Kabelen, M. C. S. (2024). Media sosial Instagram sebagai media edukatif dalam bingkai sosiologi pendidikan. Resiprokal, 6(2).
Mark, J., Rice, L., Punyanunt-Carter, N. M., & Snidman, H. R. (2023). Motivations for Instagram use: Personal validation and enhancing close relationships. Online Journal of Communication and Media Technologies, 13(2), e202315. https://doi.org/10.30935/ojcmt/13014

Mocodompis, K., Runtu, C., Kotambunan, A., Bandjolu, C., Tulung, J., Sengkey, S. B., & Wantah, M. E. (2024). Pengaruh media sosial terhadap persepsi diri. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 2(12), 181–187.
Oktaviani, R., Permadi, D., & Suparto, D. (2023). Pengaruh intensitas penggunaan media sosial Instagram terhadap tingkat kepercayaan diri. TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial dan Humaniora, 1(1), 67–79. https://doi.org/10.47861/tuturan.v1i1
Pasenrigading, A. R., Nur, H., & Daud, M. (2025). Pengaruh media sosial terhadap persepsi diri dan pembentukan identitas remaja [The influence of social media on adolescent self- perception and identity formation]. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(9), 68–81. https://doi.org/10.5281/zenodo.15290940

Regita, E., Luthfiyyah, N., & Marsuki, N. R. (2024). Pengaruh media sosial terhadap persepsi diri dan pembentukan identitas remaja di Indonesia. Jurnal Kajian dan Penelitian Umum, 2(1), 46–52. https://doi.org/10.47861/jkpu-nalanda.v2i1.630
Ramadhani, S. (2024). Peran media sosial Instagram dalam pembentukan identitas remaja.
Triwikrama: Jurnal Multidisiplin Ilmu Sosial, 6(3).
Seibel, B. (2019). Insta-identity: The construction of identity through Instagram – An extended literature review (Undergraduate honors thesis, Portland State University). PDXScholar. https://pdxscholar.library.pdx.edu/honorstheses/701
Situmorang, W. R., & Hayati, R. (2023). Media sosial Instagram sebagai bentuk validasi dan representasi diri [Social media, Instagram, as a form of self-validation and representation]. Jurnal Sosiologi Nusantara, 9(1), 111–120. https://doi.org/10.33369/jsn.9.1.111-118

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.