Lewati ke konten utama
Menu
Media Mahasiswa — Mahasiswa.co.id

Memaknai dengan positif kemajuan teknologi dalam upaya meningkatkan wawasan

Margaretha Desintha

Oleh: Margaretha Desintha K.H
Prodi : Administrasi Publik
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Diponegoro

Mahasiswa.co.id - Kehidupan manusia yang bermula dari kesederhanaan kini menjadi kehidupan yang bisa dikategorikan sangat modern. Di jaman yang semakin canggih adanya teknologi yang semakin berkembang, dapat diselesaikan dengan cara yang mudah. Teknologi informasi dan komunikasi adalah sesuatu yang bermanfaat untuk mempermudah semua aspek kehidupan manusia. Dunia informasi saat ini seakan tidak bisa terlepas dari teknologi.

Komunikasi yang dulunya memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya, kini dengan teknologi segalanya menjadi sangat cepat dan seakan tanpa jarak. Salah satunya seperti adanya smartphone dan internet, hal ini membuat manusia semakin meningkatkan cara komunikasinya. Berbagai macam media komunikasi pun hadir untuk memudahkan manusia berinteraksi. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi internet sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat, hal tersebut yang melahirkan adanya media sosial.

Media sosial merupakan aplikasi internet yang menggunakan internet, dimana para penggunanya bisa mengekspresikan diri, dan menggunakan sesuai dengan kebutuhannya. Kehadiran media sosial memberikan kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Tetapi salah satu sisinya penggunaan media sosial pada gawai juga memiliki dampak yang buruk seperti pada kesehatan mental dan emosional. Sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial hingga menyebabkan perasaan kurang puas. Menggunakan media sosial terlalu lama juga mengganggu kualitas jam tidur. Dampak buruk selanjutnya ada pada penurunan produktivitas dan interaksi sosial. Seperti notifikasi kabar terbaru dapat menjadi distraksi yang membuat sulit fokus pada pekerjaan atau tugas. Penggunaan gawai secara berlebihan dapat membuat orang-orang menjauh dari interaksi.

Ada salah satu fenomena dari kompas tv, perihal “Brain Rot” Mengintai Generasi Muda. Brain rot sendiri merupakan fenomena psikologis akibat terlalu sering menggunakan gawai yang menyebabkan gangguan pada otak. Hal ini disebabkan karena kurangnya memfilter penggunaan media sosial yang bijak. Selain itu brain rot juga berpengaruh pada psikologis, psikis hingga sosialisasi seseorang pada gangguan akibat terlalu sering menggunakan gawai.

Adapun efek buruk bagi pengguna gawai berlebihan menurut “Jajak Pendapat Litbang Kompas 21 – 24 April 2025”, yaitu 67,78% mengalami gangguan pada fisik. Menyebabkan mata merah, sakit punggung dan leher, malas gerak, dan pola makan terganggu. Selain itu 23,33% mengalami gangguan pada psikis, yang menyebabkan stress, susah berkonsentrasi, cemas, dan susah tidur. Efek buruk yang terakhir ada 8,8%, yang dimana manusia malas melakukan hal untuk bersosialisasi.

Sebanyak 84 persen menunjukkan bahwa anak muda mengalami gangguan pada psikis. Hal ini dipicu dengan faktor minimnya literasi digital dan lemahnya pola asuh yang membuat anak bebas mengakses gawai. Pemerintah harus menyadari adanya konten digital yang merusak kualitas ruang digital dan berdampak pada kesehatan. Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2025, tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak. Dengan ini meutya selaku Menteri Komunikasi dan Digital berharap dapat menciptakan ruang digital yang aman dan adil bagi anak dan remaja lewat pembatasan usia dan klasifikasi konten. Ruang digital harus menumbuhkan nalar, memperkuat empati dan karakter bangsa, bukan sebaliknya,” kata Meutya.

Membatasi penggunaan gawai yang baik seharusnya bisa memperluas wawasan dan mengasah kemampuan berpikir kritis masyarakat. Hanya dengan satu sentuhan layar, informasi dari seluruh dunia bisa diakses kapan pun dan di mana pun. Pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum kini dapat belajar secara mandiri melalui berbagai media online seperti video edukasi, e-book, hingga jurnal ilmiah digital. Akan tetapi, di balik kemudahan tersebut, Indonesia masih menghadapi kenyataan pahit seperti tingkat literasi membaca masyarakat yang sangat rendah.

Data UNESCO mencatat, minat baca masyarakat Indonesia hanya sekitar 0,001%, artinya dari 1.000 orang, hanya satu orang yang benar-benar gemar membaca. Hasil riset World’s Most Literate Nations Ranked tahun 2016 pun menunjukkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya unggul sedikit dari Botswana. Bahkan, survei BPS pada 2020 mengungkap bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku.

Kondisi ini tentu memprihatinkan. Di satu sisi, kita hidup di tengah arus informasi yang deras. Di sisi lain, kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan informasi secara kritis masih rendah. Banyak orang lebih memilih menghabiskan waktu dengan hiburan digital seperti media sosial, video pendek, atau permainan daring, daripada membaca dan memperdalam pengetahuan atau informasi. Rendahnya literasi ini tidak muncul begitu saja. Faktor penyebabnya beragam seperti halnya keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, ketimpangan kualitas pendidikan, hingga kurangnya dorongan budaya membaca di lingkungan keluarga dan sekolah. Padahal, jika dimaknai dengan bijak, kemajuan teknologi justru bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan literasi.

Teknologi menawarkan cara belajar yang lebih beragam. Dengan berpikir konkret, seseorang dapat memahami pengetahuan melalui tampilan visual seperti video atau gambar. Sementara dengan berpikir abstrak, individu bisa menafsirkan makna bacaan digital secara mendalam dan mengaitkannya dengan realitas di sekitarnya. Kombinasi keduanya dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis yang kuat.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat Indonesia untuk mengubah cara pandang terhadap teknologi. Gadget dan internet bukan sekadar alat hiburan, melainkan jembatan menuju pengetahuan. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga perlu bersama-sama menumbuhkan budaya membaca tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan ruang digital. Kemajuan teknologi seharusnya bukan alasan untuk meninggalkan buku, tetapi menjadi sarana baru untuk mencintai bacaan. Hanya dengan literasi yang kuat, bangsa ini bisa melangkah lebih jauh dan menghadapi tantangan global dengan kepala tegak.

Daftar Pustaka
Rafiq, A. (2020). DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL SUATU MASYARAKAT. ejournal.upnvj.ac.id. https://doi.org/10.33822/gk.v3i1.1704.
PP No. 17 Tahun 2025. (n.d.). Database Peraturan | JDIH BPK. https://peraturan.bpk.go.id/Details/316698/pp-no-17-tahun-2025
Wisanggeni, S. P. (2025, September 27). ”Brain Rot” mengintai generasi muda. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/brain-rot-mengintai-generasi-muda-2
Anisa Rizky Azmi, et al. (2021). Pengaruh Kurangnya Literasi serta Kemampuan dalam Berpikir Kritis yang Masih Rendah dalam Pendidikan di Indonesia. (2021). Dalam Penelitian Terkini dalam Pendidikan: Jurnal Seri Konferensi (Vol. 01, Edisi 01, hal. Makalah 006).
Indrasari, Yulia (2024, April 23). UNESCO Sebut Minat Baca Orang Indonesia Masih Rendah. https://rri.co.id/daerah/649261/unesco-sebut-minat-baca-orang-indonesia-masih-rendah

Ruang Pembaca

Komentar 0

Belum ada komentar Jadilah yang pertama menyampaikan pendapat.